culinary, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story

Mencoba Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura

Patty yang dibuat dari tanaman juga biji-bijian, tapi serius rasanya mirip daging kornet mentah

Yeahhh! Jalan-jalan lagi ke Singapura, diundang lagi untuk nyobain makanan-makanan enak 😜.. Siapa yang bakalan nolak? Kali ini tema besarnya “Sustainable Environment” yang mungkin kita nggak nyangka, nggak tahu, karena hanya melihat sisi modern Marina Bay Sands.

Aku penasaran juga saat diberikan background dan itinerary karena mereka menyebut Impossible Foods. Hmmm, apa itu? Boleh di klik dulu … jadi Impossible Foods ini semacam start up di Amerika sana yang project-nya mengerjakan olahan makanan dengan basis tanaman namun rasanya seperti daging. FYI katanya lagi booming banget untuk mengurangi konsumsi daging merah.

Sebutlah bentuknya patty, rasanya pun mirip seperti halnya sedang makan cincangan daging sapi. Tapi siapa yang bakal nyangka? Aku pun tidak, ternyata isian burger yang ada di restoran CUT by Wolfgang Puck salah satu restoran celebrity chef di Marina Bay Sands Singapura ini berbahan dasar sayuran dan biji-bijian, sama sekali tidak ada unsur daging di dalamnya. Wow. Very awesome!

Impossible food, sebuah kreasi terbaru di Marina Bay Sands Singapura untuk kulinernya bagian highlight program sustainability enviroment. Dengan tiga restoran celebrity chef kenamaan yang ada di tempat ikonik Singapura ini yaitu di Adrift by David Myers, Bread Street Kitchen milik Chef Gordon Ramsay, dan CUT by Wolfgang Puck. Para penikmat kuliner maupun traveler yang singgah di Singapura bisa mencoba sisi lain kelezatan Impossible Food ini. Penasaran banget kan?

Aku beruntung banget bisa coba! Impossible Foods dari tiga restoran yang pertama dari delapan restoran yang akan menggunakan Impossible Foods di Marina Bay Sands Singapura. Plant-based beef dari Impossible 2.0 ini tidak mengandung gluten, kolesterol, dan animal hormone maupun antibiotik. Impossible foods dibuat dari daging nabati yang bersertifikat halal serta protein dan rasa leghemoglobin protein kedelai, suatu molekul yang menghasilkan rasa “daging”, sehingga walaupun sama sekali tidak dibuat dari daging rasanya hampir tak bisa dibedakan dengan daging.

Pertama aku diajak untuk mencoba menu di restoran Bread Street Kitchen (BSK) by Gordon Ramsay. Executive Chef Sabrina Stillhart dari BSK membuat tiga menu salah satunya yaitu The Impossible Flatbreat yang seperti pizza ini menjadi makanan pembuka. Adonan pizza tipis diberi berbagai topping yang terasa seperti daging namun sebenarnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan.

“The Impossible Foods kita ciptakan sebagai tambahan untuk menu diet yang ditawarkan disini. Meski dibuat dari bahan dasar tanaman, rasanya tetap seperti daging yang kaya rasa dan tekstur yang tentu akan disuka para pecinta daging,” kata Chef Sabrina, sambil masak.

Tentu buat kamu yang sudah mengenal restoran ternama BSK by Gordon Ramsay, tahu dong kalau disini signature dishes yang terkenal adalah Beef Wellington. Nah, sajian ini kemudian dimodifikasi menggunakan daging patty dari Impossible Foods yang berbasis sayuran. Rasa daging di dalam adonan pastry renyah tetap terasa dalam tiap lapisnya, menu ini pun bisa jadi pilihan untuk vegetarian dan pecinta kuliner yang sedang mengurangi asupan daging merah. Disini ada juga kreasi The Impossible BSK Burger yang patty nya berbasis tanaman, dibandingkan dengan menu The Impossible Wellington tekstur dan rasanya sangat juicy seperti halnya menikmati burger berbasis olahan daging sapi.

The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food

Karena takut kekenyangan, aku hany makan dua slice saja hehehe.. lalu berlanjut ke restoran Adrift by David Myers yang membuat The Impossible Sausage Roll sebagai salah satu jenis favourite Aussie comfort food. Hidangan sausage roll meski memakai bahan berbasis tanaman tetap terasa enak, bahkan tidak akan ada yang menyangka kalau isiannya bukan dari cincangan daging.

Perpaduan rempah seperti bawang putih, bawang merah, bubuk pala, ikut memberi rasa sedap sausage roll terasa tradisional berpadu lapisan pastry yang dipanggang dengan sempurna. Ini sih menurutku yang bikin beda dibanding The Impossible Wellington di restoran BSK by Gordon Ramsay, rasanya lebih berempah ada harum rosemary bahkan yang bisa aku cium juga bawang putih.

Dipanggang dulu dong patty-nya

Belum kelar nih petualangan kuliner hari itu, lanjut lagi jalan ke restoran CUT by Wolfgang Puck, kamu bisa menemukan burger mini dari Chef Joshua Brown yang mengkreasikan The Impossible Sliders menjadi remake dari signature restoran ini sebelumnya yaitu Mini Kobe Beef Sliders. Tiap gigitan patty terasa lembut dengan rasa dan aroma habis dipanggang yang menggoda pecinta burger. Meski isianya hanya party berbasis tanaman, keju dan saus tomat sederhana tanpa sayuran rasanya tetap sempurna.

Rasanya penasaran dan langsung ingin coba tentunya? Langsung saja kunjungi Marina Bay Sands di Singapura untuk menjawab rasa penasaran kami. Harga tiap menu tadi bisa didapat mulai dari $ 14 – 25 Dollar Singapura.

Ini burger saat masih ditata, btw burgernya mini aja
Advertisements
Singapura - Asia Tenggara, Traveling

REVIEW – Rekomendasi 7 Restoran di Marina Bay Sands, Singapura

Pemandangan Malam di Singapura

Ikon kota Singapura, salah satunya yang harus traveler sambangi adalah Marina Bay Sands. Sebuah mall sekaligus hotel, juga ada kasino, dekat lokasi museum dan punya fasilitas lengkap dengan kesan luxurious. Aku mau kasih bocoran nih, rekomendasi setelah makan dan nyobain makanan disana jadi mau aku review di blog.

Ada beberapa restoran di Marina Bay Sands Hotel dan aku juga tulis yang harganya affordable di bagian Mall Marina Bay Sands, jadi walau kalian traveler misalnya tidak ingin menginap tetap boleh lho makan di salah satu restoran ini dan bisa dapetin view bagus dari lantai atasnya. Juga kalau hanya muter-muter disekitar mall bisa makan disini dengan lebih terjangkau. Hmm, apa aja restorannya dan gimana rasa makanannya yuk langsung disimak!

(1) Sarapan di Club 55, Lantai 55 Marina Bay Sands

Ada restoran Club 55 yang bisa jadi pilihan sarapan kamu di lantai 55 kalau lagi menginap di Marina Bay Sands. Buffet makanan disini terbilang lengkap, ada menu Asia sampai Barat, apalagi menu Jepang dan Cina seperti sushi, sup miso, dim sum, siomay, juga yogurt, aneka keju.

Pemandangan dari Club 55 sambil nyobain miso soup

Standart hotel bintang 5 lengkap dan rasanya jangan ditanya lagi. Sambil sarapan kamu bisa memandangi kota Singapura dari atas. Indah, saat hari cerah. Tapi seringnya Singapura agak kelabu langitnya. Aku saran kamu pilih Club 55 untuk tempat sarapan saat menginap di Marina Bay Sands.

(2) Brunch di Lavo Restaurant, Lantai 57 Marina Bay Sands Hotel

Biasanya traveler yang tidak menginap di Marina Bay Sands, memilih untuk makan di Lavo Restaurant supaya tidak bayar biaya masuk ke lantai Sky Park Marina Bay Sands. Jadi kamu bisa mendapatkan akses dengan makan di restoran itu. Jadi cukup bayar makanan kamu di Lavo Restaurant dan kamu bisa melihat pemandangan kota Singapura dari atas terus dapet background foto landscape ciamik!

Menu chicken and waffle juga enak, ada saus berkaramel yang manis, jadi agak ajaib tapi seru dipadu ayam goreng yang gurih

Fyi Lavo Restaurant merupakan restoran Italia. Kalau datang kesini bisa pada saat brunch, ada beberapa rekomendasi menu brunch yang aku sudah cobain seperti avocado toast dan 12 layers cake. Seporsi cukup besar jadi bisa buat berdua kalau kamu perempuan untuk avocado toast, tapi kalu 12 layers cake bisa buat ber-4 mungkin soalnya tinggi banget kuenya. Ohya makanan disini rata-rata harganya mirip di Jakarta kok kisaran $15 Singapura per porsi tapi porsi bule jadi banyak banget buat kita yang orang Asia bisa berdua. Jadi masih lumayan kok dikantong porsi besar harga segitu.

(3) Makan Siang di Rise Restaurant, Lantai 1 Marina Bay Sands

Kalau Makan Siang, enaknya buffet ya? Nah kalau kamu cari buffet yang super lengkap menunya dari Asia sampai Barat datang ke Rise Restaurant yang ada di dekat lobby Marina Bay Sands Hotel jadi pilihan bagus!

Seafood mentah pun ada! Lengkap dan enak semua

Aku dua kali makan disini dan rasanya tidak mengecewakan. Mulai dari menu Laksa, Kepiting yang menu khas Singapura dimasak dengan bumbu pedas, lalu ada berbagai menu Jepang dari Sashimi sampai Sushi dan Wakame. Nggak rugi sama sekali mencoba semua buffet disini. Termasuk menu makanan India dari Roti Naan, Kari, Ayam Tandoori, enak semua!

Kalau tidak mau terasa mahal jadinya saran aku reservasi saja hotelnya di Marina Bay Sands, kan jadi bisa sekalian dapat pilihan sarapan di Rise, bisa nge-Gym, bisa ke Infinity Pool di lantai 57, bisa ke Sky Park, bisa dapat diskon belanja di banyak gerai Mall Marina Bay Sands, jadi terhitung dapat banyak fasilitas sekali bayar. Coba cek berapa harga hotelnya yang mulai kisaran Rp 5 juta-an.

(4) Spago By Wolfgang Puck di Lantai 57 Marina Bay Sands Hotel

Disini buat sarapan, karena sebelumnya pernah nyobain ke Club 55. Meski konsepnya buffet makanannya tidak sebanyak di Rise Restaurant maupun Club 55. Tapi kalau makan disini kamu bakal dapet pemandangan ke luar sisi kolam renang. Suasananya juga kasual banget, cuma ya mungkin kesini lebih singkat makannya.

Egg Benedict yang porsinya kecil aja dan rasanya biasa, soalnya pernah nyobain yang lebih enak pas di Bali dan Jakarta

Cuma sedikit jenis salad aja, jenis dim sum juga hanya 3 macam, buffet untuk yogurt dan semacam granola tetap ada, makanan agak berat seperti mi, nasi goreng, kentang, sayur brokoli juga ada. Tapi menurutku rasanya kurang enak haha. Entah deh, yang aku rekomendasiin cuma yogurt sama granola aja disini. Aku coba Bee Hoon Soto juga rasanya nggak karuan. Bihunnya teksturnya agak lebih tebal dan kasar aku kurang suka, tapi kuahnya walau terlihat kecokelatan bening aja ada pedasnya, tauge besar mentah, ada bawang goreng dan irisan ayam. So so aja..

(5) Bread Street Chicken, Mall Marina Bay Sands

Ini lho ada restorannya Chef Gordon Ramsay yang terkenal itu, kamu sudah kesini belum? Akhirnya kemarin aku nyobain juga ke tempat ini dan yang terbaru kamu harus cobain menu The Impossible Wellington dibuat dari saus tomat, cabai, bawang merah, dan sayuran rocket pesto. Kamu pasti agak nggak percaya kalau itu sayur tapi rasanya daging hehehe. Jangan lupa makannya jangan berdua aja. Bakal nggak abis, bertiga cukup, atau berempat pesan satu menu The Impossible Flatbread yang juga tanpa daging tapi terasa daging.

Menu terbaru dari tanaman tapi terasa daging, Impossible Wellington

Tempat yang merupakan cabang keempat dari restoran kenamaan Gordon Ramsay, Bread Street Kitchen & Bar, mengikuti jejak kesuksesan restoran tersebut sebelumnya juga ada di London, Dubai, dan Hong Kong. BSK Singapura menyajikan menu Eropa Inggris klasik dengan pengaruh cita rasa lokal.

Restorannya dari depan, kapasitas 150 bangku

Signature dishes di Bread Street yang sudah terkenal itu Beef Wellington, tapi pas kebetulan lagi ada menu rasa daging tapi dari tanaman yang menjadi pengganti beef tapi terasa dagingnya kamu harus cobain. Kapasitas restoran ada 150 kursi, katanya sih rame terus, semoga kamu dapet slot buat makan disini. Ohya rata-rata harga makanan sekitar $ 20 Singapura.

(6) Black Tap, Mall Marina Bay Sands

Seriussss burger sama milkshake disini enak banget!

Penasaran sama burger dan milkshake ikonik dari Amerika? Nggak perlu jauh-jauh ke Negeri Paman Sam, kamu bisa jumpai gerainya di Mall Marina Bay Sands. Aku pikir masih rasionable juga makan disini dengan harga kisaran $12-$20 Singapura. Kamu bisa dapetin burger porsi besar, FYI bisa buat berdua termasuk milkshake yang juga ukuran jumbo bisa untuk berdua. Bukan pelit ya, tapi porsinya memang porsi makan orang Amerika!

(7) Toast Box, Mall Marina Bay Sands

Nah, kemarin Maret 2019 aku baru lihat juga gerainya ada di Mall Marina Bay Sands, padahal September 2018 belum ada. Yeay Toast Box yang terkenal sama kopi khas Nanyang dan Roti Panggang bisa kamu temui disini. Cocoknya buat sarapan ya kalau pesan roti panggang, btw mana kenyang?

Fyi Toast Box sih sebenernya sudah ada gerainya di Indonesia, di Kokas dan Gancit hehe, tapi pas ke Singapura kemarin aku juga nyobain yang ada di Marina Bay Sands Mall

Tapi kalau mau makan lebih kenyang bisa pesan Laksa, Mee Siam, dan makanan khas Singapura lainnya disini. Rata-rata harga makanannya mulai $7 Singapura. Jadi dibanding restoran lain yang sebelumnya aku sebut, Toast Box memang yang paling affordable harganya. Tapi aku khawatir sih kalau kamu jalan-jalan lama disini bakal cepat lapar lagi. Aku cobain kopi susu disini dan suka enak banget, mungkin ini yang dinamakan cita rasa dari Nanyang.

Singapura - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Spectra a Light & Water Show – Pertunjukan Menakjubkan di Teluk Marina Singapura

Ada apa nih kok rame banget? Oh ternyata lagi ngeliatin pesta kembang api. Eh.. tunggu dulu, bukan! Bukan kembang api tapi laser yang menari-nari.. hahaha teringat tahun lalu waktu lagi liputan di Marina Bay Sands, tanpa direncanakan saat mau balik ke kamar hotel melihat kerumunan ramai di depan teluk, dekat Louis Vuitton.

Takjub, norak iya. Seketika buka kamera hp dan merekam dari jauh dan juga jepret berkali-kali pakai mirrorless. Aku nggak menikmati pemandangan ini sedari awal, makanya waktu ke Singapura lagi awal Maret 2019 ini sengaja mantengin dari jam8.30 malam buat dapet spot di depan.

Hahaha! Alhasil jepretan kamera dan rekaman video aku lebih bangus dong. Aku sharing di blog supaya kalian traveler yang belum kesini bisa memasukan agenda melihat “Spectra a Light and Water Show” dalam itinerary. Soalnya dulu waktu 2013 dateng pertama kali ke Singapura belum ada atraksi ini lho.

Lokasinya di 2 Bayfront Ave, Marina Bay Sands (MBS), Singapura. Gampang banget dicarinya, terus bisa sekalian habis muter-muter Mall MBS dipenghujung malam nonton pertunjukan ini. Cuma 15 menit aja sih, tapi seru dan keren. Turis-turis aja nungguin padahal di negara mereka pasti ada yang lebih keren.

Buat yang backpacker-an tetap bisa nonton dan jangan khawatir karena tanpa tiket alias gratis aja. Pulang nonton Spectra a Light & Water Show kamu bisa pulang dengan MRT, kan deket banget stasiun MRT Bayfront di Marina Bay Sands.

Kalau memang berencana untuk melihat Spectra a Light & Water Show mesti tiba sekitar pukul 08.00 malam, soalnya jadwalnya kadang beda-beda. Ada yang mulai jam 08.00 atau jam 09.00 setiap hari, jadi akan lebih aman kamu sudah tiba sekitar jam 08.00. Kalau pas lagi hujan perlu payung, prepare payung dan lihat ramalan cuaca biar datang jauh-jauh kesini tidak kecewa.

Menurutku akan lebih baik membuat itinerary sehari untuk menjelajahi lokasi wisata sekitar Marina Bay Sands seperti Garden By The Bay, keliling mall Marina Bay Sands buat kulineran di restoran yang ada disini, sampai malam nonton Spectra a Light & Water Show. Jadi kamu nggak perlu capek mondar-mandir banyak lokasi.

Asia, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, Traveling

Menyambangi Art & Science Museum di Singapura

Pintu Masuk Art & Science Museum Future World, lokasinya hanya berapa meter saja berjalan dari Marina Bay Sands

Aku menyebutnya dunia yang futuristik, penggabungan antara seni interaktif dan sains. Future World yang membuatku terkesan saat memasuki dan mencoba berbaur dengan apa yang ada di dalam museum. Satu kesan yang berbeda untuk sebuah museum yang biasanya akan terasa membosankan ketika dikunjungi.

Art & Science Museum Future World yang ada di Marina Bay Sands menurutku sangat modern, seperti kesan yang didapat orang-orang kalau ke Kota Singapura. Aku seperti sedang memasuki dunia futuristik karya seni interaktif berteknologi tinggi Future World yang dibuat bekerja sama dengan teamLab, seni kolektif lintas disiplin yang terkenal. Pokoknya waktu masuk kamu bakalan terpesona dalam dunia seni, sains, sihir, dan metafora melalui koleksi instalasi digital mutakhir.

tiketnya kalau beli langsung di lokasi, harganya bisa di cek via website tapi rata-rata sekitar 15-40 $ Sing

Nah, mulai 1 September 2018, Future World ini diperbarui dengan sederetan lengkap karya seni baru yang menarik. Beruntung banget, aku berkesempatan buat mencobanya dan mengambil moment foto Instagramable di dalamnya.

FYI aja, Future World ini adalah pameran permanen. Instalasi akan berubah dan berkembang seiring waktu untuk menjaga pameran tetap segar dan relevan. Untuk memastikan semua pengunjung memiliki waktu yang cukup dan berkualitas untuk berinteraksi dengan setiap karya seni, waktu kunjungannya diatur. Yaitu pukul 10:00 AM, 11:30 AM, 1:00 PM, 2.30 PM, 4:00 PM dan 5:30 PM (entri terakhir). Aku saranin supaya membeli tiket secara online sebelum kunjungan. Selain Box Office Museum Art Science, tiket juga tersedia di Sands Theatre Box Office (B1, Marina Bay Sands).

Simak apa aja dunia futuristik dan moment Instagramable yang aku alami disana dengan berbagai tema ya…

Nature

Petualangan ku disini diawali dengan perjalanan imersif dan memesona seperti galeri alam yang menampilkan karya seni interaktif dan mendalam, menggunakan seni dan sains untuk membawa kamu ke dalam inti alam yang terdiri dari teknologi digital. Secara bersamaan dan ajaib menurut ku menghubungkan langsung ke dunia alam. Ada suasana ketika bunga-bunga berjatuhan dan kupu-kupu terbang kesana-kemari. Kita juga seperti diajak berinteraksi, waktu menyentuh si kupu-kupu.

Town, ini seperti area bermain untuk anak. Banyak banget sisi untuk cari moment foto yang Instagramable

Town

Perjalanan berlanjut ke sisi ruang lain. Wah tempat selanjutnya banyak diisi anak-anak dan balita yang seru bermain meluncur-luncur di perosotan. Tapi ini bukan Kota biasa, di desain seperti lanskap kota yang ramai dan hidup. Bahkan pengunjung bisa membangun dan mengisi kota-kota virtual. Anak-anak diajak menggambar dan hasil gambarnya bisa kita lihat di sebuah dinding. Pokoknya amazing sih, gambar mobil-mobilan ku bisa muncul danjalan-jalan di semacam video virtual. 

Balok-balok yang bisa jadi background foto Instagramable

Sanctuary

Jauh dari hiruk-pikuk kota, aku diajak untuk memasuki sebuah negeri impian yang untuk sesaat ketenangan. Sanctuary adalah oasis yang tenang di pusat Future World. Agak susah mengartikannya, aku nggak foto dan lama di ruangan ini.

Park

Beranjak dari kesibukan kota yang penuh hiruk pikuk, lalu kita diajak untuk mengunjungi taman rekreasi yang membangkitkan semangat. Pengunjung diundang untuk menghargai ‘permainan’ sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Pengunjung dari segala usia dapat belajar dan bermain menggunakan kombinasi aktivitas fisik dan teknologi digital.

Space

Masuki ke jantung Celestial Space menurutku ini ruangan yang paling seru. Ada lampu-lampu Kristal sebagai ending perjalanan di Future World. Siapa pun bakal terpesona sama keindahan dan besarnya kosmos dan sensasi melihat bentuk alam semesta digital yang dikemas monumental.

lampu-lampu kristal ini bisa berubah-ubah


Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Tujuh Cara Asik Menikmati Kota Singapura ala Turis

shop at marina bay sands
Dari hotel Marina Bay Sands, ada akses masuk untuk bisa langsung ke mall

Sekali-kali jadi turis saat ke Singapura, salah satu kota mahal di dunia. Kali ini aku pergi ala turis, soalnya bawa koper yang biasanya ya naik MRT ala rakyat jelata gendong tas backpack. Terus, menginap di hotel bintang lima dengan segala fasilitasnya yang jelas (belum) mampu aku bayar sendiri. 

Kadang suka khawatir jadi kurang bersyukur, kira-kira kalau sudah biasa ke tempat begini lalu aku jadi merasa biasa saja ketika ada di lingkungan yang sederhana. Ndak boleh nih, nggak boleh melihat ke atas. Justru lagi melatih banget berendah hati, nggak boleh kagum sama dunia. *lho curahan hati kok nih jadinya…

img_8885
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands

sekedar sharing pengalaman dari liputan 3 hari di Singapura yang bersponsor itu, ada banyak cara asik buat menikmati Kota Singapura. Apa aja??? Simak ya… jalan-jalan asik ala reporter lifestyle ibu kota yang lagi di endorse 🤣🤣✌🏻

(1) Menginap di Premier Room King Size, Marina Bay Sands

Marina Bay Sands kan salah satu ikon Kota Singapura, nggak salah dong kalau menginap disini menjadi begitu prestisius. Tapi ya, mungkin aku harus punya tabungan berapa dulu buat nginep disini? Sementara aku belum pernah pergi umroh, 😂😂 yang jelas pemandangan di Premier Room King Size beda dengan jenis kamar lainnya. Menghadap ke arah teluk dan Garden by The Bay, cantik dari kejauhan karena keapikan warna Anggrek dan Teratai, ikon bunga khas Singapura. Kamu juga bisa lihat matahari terbit dari balkon hotel. 

img_8882
Pemandangan dari Balkon Hotel kamar Premium

Menurutku kelas Premier Room King Size ini mirip sama hotel bintang 5 lain sekelas Raffles Hotel Singapura yang juga pernah aku cobain. Standart ruangnya ya, tapi yang buat spesial hanya karena pemandangan dari balkon kita aja yang buat harganya jadi kisaran Rp 5 juta per malam (di email bill tagihan harga kamar ini dua malam $ Sing 1224). Kasur, bath up, fasilitas hordeng dengan remote, TV, wifi, layanan kamar, dll standart hotel bintang 5 seperti halnya juga di Jakarta.

(2) Brunch seru di Lavo Restaurant, Lantai 57 Marina Bay Sands

Masih ingin memandangi Kota Singapura yang cantik dari ketinggian? Pas sekali kalau diselingi menikmati brunch hidangan Italia di Lavo Restaurant. Aku rekomendasiin kamu buat pesan menu Avocado Toast dan juga Chicken & Waffle. Disini juga ada namanya dessert 20 Layers Cake, yang jangan dimakan berdua aja tapi perlu satu keluarga karena tinggi banget cake-nya. Kamu bisa ke restoran ini walau tidak menginap, langsung saja naik ke lantai 57 dan bilang mau makan di Lavo Restaurant. 

Kota Singapura kan panas banget tuh, nggak kalah sama Jakarta. Jadi, kalau habis brunch matahari yang terik itu bisa buat hasil foto kamu yang background-nya pemandangan cantik Singapura makin bagus.

Lalu kamu bisa melihat dengam teropong, gedung-gedung diseberang sana. Restoran ini juga punya banyak sudut yang Instagramable, seperti di dekat tangga toilet juga sisi pertama ketika masuk ke dalam restoran. Jadi recomended banget buat kesini, harga makanannya rata-rata Sing $ 20-30 lah, masih bisa kebeli hehe. 

me at marina bay sands
di Lavo Restaurant bisa liat view Kota Singapura

(3) Berenang di Infinity Pool, Marina Bay Sands

Nah, di lantai 57 juga adalah tempat Infinity Pool buat memandangi dengan apik dari atas Kota Singapura sambil berenang. Cuma kalau mau berenang disini ya harus menginap di Marina Bay Sands, karena masuknya pun dengan akses kartu kamar hotel kita. Hmmm.. aku yang punya akses nggak menyempatkan berenang sih, soalnya nggak ada waktu. Tapi sempat masuk dan itu rame banget sama orang.. perhatiin aja kira-kira jam anti sibuk. Kan kurang nyaman juga kalau kolamnya penuh, apalagi kalau long weekend atau high season banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka berlibur.

invinity pool at marina bay sands singapore
invinity pool at Marina Bay Sands Singapore

(4) Mengunjungi Art and Science Museum Future World 

Tak perlu jauh-jauh mencari atraksi yang menarik sampai harus pergi ke Sentosa. Menurutku mengunjungi Art and Science Museum Future World yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki sebentar dari hotel yang punya akses langsung ke mall di Marina Bay Sands itu. Tiket masuknya kisaran Sing $ 20-40 tergantung mana yang mau dimasuki. 

Menurutku menarik sih isinya, apalagi Future World ini punya “wahana” yang baru. Cocok banget tempat ini untuk membawa anak liburan. Aku pun merasa amazing dengan tempat ini, antara teknologi dengan seni yang dikawinkan semuanya terasa indah dan menabjubkan mata serta indra sentuh kita yang lain.

img_9002
ini ruang pertama yang aku masuki di Art & Science Future World

(5) Jogging Pagi di Garden by The Bay

Aku suka banget jogging dan hampir selalu bawa sepatu lari kalau lagi liputan ke luar kota atau luar negeri. Pilihan tepat banget waktu kemarin bawa sepatu jogging, karena sangat beda rasanya pukul 07.00 pagi di Singapura dengan Jakarta. Epic! Waktu disini memang lebih dulu dibanding Jakarta dan jam 07.00 pagi itu masih agak gelap Singapura. 

Aku turun ke lobi lalu cari tahu dimana jalan masuk ke Garden by The Bay, butuh naik tangga dulu dan ternyata indah banget pemandangannya ketika orang-orang kebanyakan masih terlelap tidur tapi justru hawa dingin, segar udara, buat berbeda.. btw siap-siap jaket lari anti angin anti air ya. 

img_8898
pemandangan dari balkon hotel Marina Bay Sands kalau menginap di Premium King Size Room

(6) Naik Gondola ala Venice di Mall Marina Bay Sands

Kebanyakan orang pergi ke Singapura itu ya tujuannya untuk belanja. Terutama yang peminat brand kelas atas, cari ya di Mall Marina Bay Sands, karena di tempat ini koleksi maupun edisi khusus lebid dulu ada. Kalau nunggu di Indonesia koleksi tertentu brand terkenal rilisnya masih harus nunggu lebih lama.

Sekalian kalau memang berniat shopping saat pergi ke Singapura, cobalah atraksi yang satu ini. Sebelum ke Venice buat ngerasain naik gondola, ya cobain aja dulu yang ada di mall Marina Bay Sands hehe. Aku nggak tahu berapa sewanya sih ya, nggak sempat karena harus kesana kemari liputan. Jadi cuma bisa sekilas melihat ada bule atau turis naik gondola.

img_9056
ala ala Venice, ada gondola juga di Mall Marina Bay Sands

(7) Melihat Spectra A Light & Water Show di depan Marina Bay Sands

Kalau malam sekitar jm 20.00-21.00 di Teluk Marina selalu ada pertunjukan bagai di negeri dongeng. Sinar lampu dari laser, permainan warna, mirip kembang api tapi bukan. Yang makin menunjang suasananya adalah musik pengiring dan latar dari kapal-kapal yang lalu lalang di dekat Teluk ini. Aku juga lihat banyak sekali orang dan turis yang berkumpul untuk melihat ini. Tak berbayar sih, cuma kalau harus pulang malam ya enak pas nginep di Marina Bay Sands dong. Nggak perlu lagi cari MRT, agak jauh turun naik tangga dan ke stasiun.

Melihat pertunjukan ini saya jadi teringat saat menonton “Song of The Sea” di Universal Studio, saat ke Sentosa (bagian lain Singapura). Kamu nggak perlu jauh-jauh menikmati itu, cukup ke Marina Bay Sand aja.

futuristik at marina bay sands
Spectacular performance for me, tiap jam 21.00 malam di Marina Bay

Liputan, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Random Walking Singapore – Arab Street dan Haji Lane

Awal September 2018 kemarin karena kesempatan tugas liputan di Singapura, aku menyempatkan waktu mengeksplore beberapa lokasi buat berwisata singkat sebelum balik ke bandara Changi. Beberapa hal random berikut ini mungkin bisa jadi inspirasi mengisi waktu sebelum malamnya jadwal terbang kembali ke Indonesia, yuk guys simak apa aja?

(1) Nemenin Travelmate yang Belum Pernah Coba Naik MRT

Punya waktu hanya selepas jam makan siang hingga sore pukul 5, jadilah aku bareng teman trip media kali ini, Elang dari Metro TV News, random walking ke beberapa site turis yang lagi hits. Mumpung banget dikasih free time, lalu aku ajakin travelmate kali ini untuk cari foto-foto yang Instagramable. Elang yang belum pernah nyobain moda transportasi MRT langsung aku suggest buat coba, eh dia nurut, hehe.

MRT card
MRT tiket sekali jalan

Hotel tempat kita menginap di Marina Bay Sands, jadi lokasi stasiun MRT yang terdekat adalah Bayfront. Lalu dari google kami dapat petunjuk untuk turun di Stasiun Bugis yang cuma berjarak 2 stasiun saja, sebagai tempat terdekat menuju Haji Lane Street. Tarifnya sekitar $ SGD 3 untuk perjalanan bolak balik.

biar tidak pusing naik MRT ya kita hanya perlu mengikuti garis lajur warna yang sesuai aja. Aku sih saran lebih baik jalan kaki daripada naik MRT kalau jaraknya hanya 2 stasiun hehe.. jauhan gitu mestinya jadi terasa lama.

(2) Nyasar Ke Arab Street, Sholat di Masjid Sultan

Perjalanan ke Haji Lane Street ternyata membuat kita sedikit berputar-putar dan justru malah kita menemukan kampung Arab atau Arab Street dan Masjid Sultan yang bisa jadi ide menghabiskan waktu berkuliner asik atau sekedar mampir untuk solat zuhur sejenak. Dengan kota Singapura yang terik mataharinya ketika itu di atas 30 derajat, seketika usapan air wudhu menjadi kesejukan yang didamba-dambakan.

Sultan Masjid di Singapura
Masjid Sultan di seputaran Arab Street

Sempat khawatir tidak boleh masuk masjid, karena aku tidak berkerudung dan saat itu bajuku lengan pendek. Tapi ternyata kali ini tidak ada ibu-ibu India yang ngomel-ngomel nyuruh aku pakai hijab seperti waktu aku ke Malaysia 2013 silam. Justru Masjid sedang ramai-ramainya dengan turis, bahkan juga yang bule.

Mungkin sudah terbiasa kedatangan turis, justru Masjid Sultan di Singapura ini jadi tempat edukatif untuk mengenalkan Islam kepada turis yang non muslim juga. Tahu sendiri kan gimana pakaian ala turis. Disini disediakan jubah gitu lalu malahan masjid ini jadi tempat mereka berfoto-foto.

Alhamdulilah bisa kesempatan solat disini dan ternyata ketemu dengan banyak orang Indonesia lainnya yang memang statusnya kerja di Singapura. Lalu aku tegur setelah dengar percakapan mereka dengan sesama teman. Indonesia yes? Dari daerah mana? Rasanya senang bisa bertemu teman sebangsa saat ada di luar.

(2) Belanja Pasmina di Arab Street

Karena saat berangkat sudah makan siang dalam versi buffet di Rise, Marina Bay Sands sudah bisa ditebak, nggak kuat lagi kalau harus kulineran. Walaupun agak kesel karena sepanjang jalan di Arab Street itu ada banyak kios dan restoran yang menyediakan makanan ala Arab gitu. Sudahlah… elus-elus perut, kepiting Singapore sama mantau sudah dicerna disana, juga cappucino, beserta buntut sapi, menu makan siang tadi.

Akhirnya aku malah tertarik belanja pasmina, niat beliin nyokap aja biar senang hatinya. Banyak pilihan, tapi beberapa yang dijual mirip dengan yang ada di Tanah Abang. Harganya variatif, yang bahannya bagus tentu lebih mahal di atas $ SGD 10. Eh tapi aku menemukan toko yang sedang diskon. Kualitas dan motif pasmina-nya lumayan dan bisa didapat dengan harga $ SGD 3 saja.

(4) Membayar Rasa Penasaran ke Haji Lane Street

Ini tujuan awal kami, buat foto-foto seru disini, eh tapi justru setelah sampai sini males.. hahaha habis orang-orang ngantri buat foto. Saking sudah terkenalnya kawasan ini buat foto Instagramable ya jadi antri buat foto aja 😂🤣.

Sebenarnya Haji Lane hanyalah sebuah gang sempit yang disana ada banyak kafe maupun restoran dan toko. Namun karena ada banyak mural di dinding restoran dan tiap venue ya jadi lucu buat tempat foto-foto. Ada banyak orang kesini sepertinya memang hanya niat untuk foto. Saranku sih mending dateng pas lagi sepi, pagi-pagi. Kalau siang toko dan cafe sudah buka, agak ramai. Setelah dicek lagi, harga barang dan makanan disini juga jadi lebih mahal dibandingkan gang sebelah 😂. So, kalau sudah tahu begini apa kamu masih mau berniat untuk ke Haji Lane?

Asia, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Liputan, overland by train, Singapura - Asia Tenggara, story, Thailand - Asia Tenggara, The Journey, Train, Traveling

River Kwai Bridge – Wisata Sejarah Thailand Burma Railway

di Death Railway Museum dok dyah ayu pamela.JPG
Pintu masuk Death Railway Museum

Sebenarnya agak aneh, ketika saya pergi traveling dan itu pada masa penugasan liputan (diluar extand). Soalnya semuanya sudah disiapkan panitia dari transportasi, hotel, makan, dan ke mana-mana mengikuti jadwal. Gregetnya beda dengan traveling tapi menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Hufffft! Kabar baiknya saya memang fokus buat report perjalanannya itu, walau disisi lain jadi  serasa ikut open trip yang sudah di atur ini itu. Enaknya semuanya santai karena tanpa bawa backpack super gede dan nggak terlibat susah payah meng-arrange itinerary. Nah ini kejadian saat liputan perjalanan kereta melintasi Singapura – Malaysia – Thailand.

Tiga negara dalam perjalanan 3 hari dan saat menuliskannya seperti terbawa langsung perjalanan ketika itu. Ngebayangin bagaimana saya tidur di kereta Eastern & Oriental Express Luxury.(Kalau cerita itu sudah pernah di post, bisa dibaca-baca dulu) di link ini https://dyahpamelablog.wordpress.com/2015/08/18/overland-singapura-bangkok-by-train-perjalanan-dengan-kereta-mewah-eo-express/

River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
River Kwai Bridge, berapa biayanya ke situs ini? saya lupa bertanya

Kalau bukan karena undangan media mana mungkinlah orang biasa-biasa saja seperti saya bisa naik kereta mewah ini. Iya mewah soalnya kamu harus mengeluarkan budget sekitar U$D 2000 untuk perjalanan ini. Kereta serupa juga ada yang beroperasi di Eropa. Mirip-mirip kereta yang ada di film Harry Potter. Klasik banget.

Rangkaiannya trip ini ada panjang sekali karena itu wajar kalau harganya mahal. Tiap negara mengunjungi destinasi wisatanya. Pelayanan kelas luxury, gerbong kamu private dengan kamar mandi shower dan sofa empuk yang kalau malam bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman selayaknya di hotel berbintang 4. Tiap pagi sarapan diantar, sama pelayannya yang kebanyakan orang berwarga negara Thailand. Lunch maupun dinner sepenuhnya fine dining di salah satu gerbong kereta khusus sebagai restorannya.

Ah sudahlah ini kan cerita soal Burma Railway…. kembali fokus ke cerita apa itu Burma Railway? Burma Railway atau juga dikenal sebagai Death Railway, Burma-Siam Railway, Thailand-Burma Railway merupakan jalur kereta api sepanjang 415 kilometer (258 mil) antara wilayah Ban Pong, Thailand, dan Thanbyuzayat, Burma, yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang pada tahun 1943 untuk mendukung pasukan dalam kampanye Burma di Perang Dunia II.

Perjalanan menuju River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
bus tingkat yang membawa saya dari stasiun ke kota Kanchanaburi

Saya melakukan perjalanan ke River Kwai Bridge di hari ke 3 sebelum sampai di kota Bangkok. Sampailah di sebuah stasiun menuju salah satu kota di Thailand, namanya Kanchanaburi. Menuju River Kwai Bridge menempuh waktu sekitar satu jam menggunakan bus tingkat yang disediakan panitia.

Burma Railway sebagai jalur kereta api pada saat itu berhasil selesai hingga dapat menghubungkan antara Bangkok, Thailand dan Rangoon, Burma (sekarang Yangon). Jalur ini ditutup pada 1947, tetapi bagian antara Nong Pla Duk dan Nam Tok dibuka kembali sepuluh tahun kemudian pada 1957.

Kerja paksa digunakan dalam membangun konstruksi. Lebih dari sekitar 180.000 lebih atau mungkin banyak buruh sipil Asia dilibatkan dalam kerja paksa atau Romusha ini dan ada sejumlah 60.000 tawanan perang Sekutu (POW) bekerja pada rel kereta api.

Dari jumlah tersebut, perkiraan kematian akibat Romusha ini sekitar 90.000 orang meninggal. Sebanyak 12.621 orang dari Sekutu POW meninggal selama konstruksi. POW mati termasuk 6.904 personel British, 2.802 warga Australia , 2.782 Belanda, dan 133 orang Amerika.

IMG_6867.JPG
rombongan bersama Jonathan Phang baru menyebrang dari River Kwai Bridge

Makanya di dekat museum setelah mengunjunginya ada lahan yang merupakan kuburan dari korban pembangunan jalur kereta ini. Beruntungnya ya bukan kuburan massal seperti yang ada di Phenom Phen 😀 jadi nggak serem.

Ketika melewati River Kwai Bridge dengan perahu penumpang sepanjang perjalanan, turis yang kebanyakan para bule diberi penjelasan sejarah River Kwai Bridge dan Burma Railway.

Kami termasuk ada 4 media dari Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filifina dengan sisanya yang satu rombongan bersama saya adalah pemenang kuis acara Asian Food Chanel Gourmet with Jonathan Phang. Semuanya skitar 20 orang bersama Public Relation yang mengurus acara, termasuk Jonathan Phang yang ramah luar biasa diajak ngobrol.

Sampai diujung sana, menuju sebuah daratan lagi kami mendapati kuil budha dan anak-anak sekolah Thailand yang lagi piknik. Nggak lama kami naik bus lagi menuju Museum Burma Railway.

IMG_6882.JPG
Celementary yang merupakan kuburan dari korban pembangunan Burma Railway

Ini sebenarnya nggak enaknya ikut trip yang itinerary-nya dibuat orang, kurang leluasa mau ngobrol-ngobrol dulu sama penduduk sekitar.

Pembangunan rel kereta api ini telah menjadi subyek dari sebuah novel dan film pemenang penghargaan, The Bridge at River Kwai yang juga diambil dari novel, The Narrow Road to Deep North oleh Richard Flanagan ditambah sejumlah besar pengalaman pribadi tawanan perang Sekutu.

Baru-baru ini, gambar bergerak The Railway Man (berdasarkan novel dengan nama yang sama) juga memberikan pengetahuan tentang kondisi barbar dan penderitaan yang menimpa para pekerja yang membangun rel kereta api.

Semua keterangan ini ada di dalam museum. Sayangnya saya tidak diperbolehkan memotret ketika di dalam. Saya cuma bisa bilang ini museumnya keren banget, mungkin kamu bisa kesana dengan cara backpacker lewat darat ke kota Kanchanaburi. Ah seru, selain masih ada banyak lagi atraksi di kota Kanchanaburi.

melintasi River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
Nah selama di kapal turis diberi penjelasan soal sejarah pembangunan Thailand – Burma Railway

Ini tak kalah keren dari apa yang dibuat oleh Kamboja dan vietnam untuk wisata perang mereka. Bisa jadi referensi banget. Sebab di dalamnya ada edukasi soal sejarah pembuatan rel kereta api di masa itu, kenapa dibuat, kenapa ada korban jiwa, ada wabah penyakit juga, lalu betapa kurusnya pekerja paksa saat itu, bahkan ada kejadian semacam busung lapar. Ini terjadi di masa Jepang sedang berkuasa dan Sekutu menjadi tawanan perang.

Di museum juga akan diceritakan bahwa proyek Burma Railway merupakan sebuah prestasi mengesankan. Sebagai seorang insinyur Amerika mengatakan setelah melihat proyek, apa yang membuat teknik yang digunakan saat itu sebagai totalitas dilihat dari akumulasi faktor.

IMG_6885.JPG
kuburan korban pembangunan Burma Railway

Total panjang mil, jumlah total jembatan – lebih dari 600 buah, termasuk enam sampai delapan jembatan bentang panjang – jumlah orang yang terlibat (satu-seperempat juta), waktu yang sangat singkat di mana mereka berhasil mencapainya, dan kondisi ekstrim mereka capai di bawah.

Mereka para pekerja juga memiliki sangat sedikit transportasi untuk mendapatkan barang-barang ke dan dari pekerja, mereka hampir tidak ada obat, mereka tidak bisa mendapatkan makanan membiarkan bahan saja.

Mereka tidak memiliki alat untuk bekerja dengan kecuali untuk hal-hal dasar seperti sekop dan palu, dan mereka bekerja di kondisi yang sangat sulit – di hutan dengan panas dan kelembaban. Semua itu membuat kereta api ini merupakan prestasi yang luar biasa.

IMG_6870.JPG
Anak sekolah di Thailand lagi piknik, sayang ya bukan piknik di gunung 😀