Indonesia, JAVA - Indonesia, story, Traveling

Walking Tour China Town, Glodok Jakarta

Mulanya iseng-iseng aja, lagi scrolling Instagram stories temen jurnalis food & travel dan menemukan posting-an dia yang menarik. Walking tour di Jakarta! Waw, Jakarta nih. Lalu tanpa mikir lagi langsung follow akun jalan-jalan yang di tag si temen, buka website dan lihat schedule tour-nya.

Ada banyak pilihan walking tour. China Town, Pasar Senen, Kota Tua, dan masih beberapa lagi. Karena deket sama Imlek dan aku lagi butuh banget bahan berita kuliner, jadilah pilih untuk ikutan tour yang China Town. Terus aku ngajak Sarah, temen sekantor tempatku freelance sekalian buat perpisahan karena kita selama 8 bulan ber-partner belum pernah trip bareng.

Anyway! Kawasan pecinaan di seluruh dunia selalu menarik, ya nggak sih? Waktu ke kota Palembang, Semarang, bahkan kalo juga saat ke Singapura dan Malaysia kawasan pecinaan itu punya semacam magnet dari simbol bangunannya sama kulinernya. Rasanya kepingin aja tahu seperti apa etnis yang jumlahnya paling banyak di dunia ini menjalani keseharian. Salah satunya dari sisi kehidupan Cina Muslim yang sepertinya jarang ditemui, yang kerasa amazing aja waktu di Chinatown Singapura aku juga bisa menemukan masjid dan sempat sholat magrib disana.

Mampir sebentar buat nyobain teh gratisan di Pantjoran Tea House

Jadi aku bela-belain Sabtu pagi jam 09.00 teng sudah ada di Hotel Novotel Glodok, sebagai meeting point memulai tour. Pagi itu anginnya kenceng banget, tapi Alhamdulilah tetap cerah Jakarta. Dari sini dimulailah walking tour, baru tahu ternyata di belakang Hotel Novotel ini ada rumah bergaya pecinaan yang nyempil di antara coffee shop Kopi Oey.

Lalu masuklah aku ke bangunan Chandranaya itu bareng rombongan tour yang ternyata lumayan banyak dibagi dalam 3 group masing-masing sepuluh orang dengan satu guide. Kita dibawa masuk ke rumah saudagar Cina Khouw Kim An yang kala itu pada masanya tahun 1867 adalah kapiten atau semacam jabatan lurah. Rumah ini sempat nggak keurus, tapi direnovasi dan dirawal lagi tahun 2012, sehingga bisa jadi tempat pameran dan cagar budaya.

Mulai cerita deh guide-nya, tentang arsitektur Cina zaman dulu yang punya status sosial tinggi rumahnya tuh beda dari rumah lain ada banyak ornamennya macam ayam, ikan, udang di genteng. Dulunya tempat yang sekarang jadi Candranaya ini ada di bawah Xinming Association, perkumpulan etnis Tionghoa yang kegiatannya ada badminton, kelas bahasa mandarin, dll. Cuma karena peristiwa 1998 bangunan sempat rusak dan dibakar. Sedih jadinya, keinget waktu itu aku masih SD dan rusuh banget Jakarta saat itu.

Dari Chandranaya, kita lalu diajak jalan ke arah Glodok. Di depan Pasar Glodok yang deket kali kita berhenti dan diceritain kisah pembantaian etnis Cina oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1740-an.Sekitar 5000 – 10.000 orang dibantai pada kejadian yang berlangsung 3 hari itu, mayatnya dibuang di sungai rawa Jakarta. Makanya juga ada daerah dikenal dengan nama Gunung Sahari, itu plesetan dari gunung dalam sehari (mayat etnis Cina yang dibantai) waktu itu katanya darah dan mayat dimana-mana.

“Populasi etnis Cina banyak banget, makanya dibantai, bahkan ada yang dimigrasi ke Srilanka,” kata Guide kami.

Yang lagi ibadah, di Klenteng Dharma Bhakti

Lanjut cerita tadi, kita diajak jalan lagi dan berhenti di sebuah kedai teh di Jalan Pantjoran. Jadi ini kedai teh udah lama banget katanya, sejak zaman Belanda dulu ada dan sekarang tetap jadi kedai teh dan restoran chinese food gitu.

Pantjoran tea house, namanya diambil dari kali dari kata pancuran. Kenapa kita dibawa kesini? Ada sejarahnya nih, kedai teh ini memang unik. Jadi si pemiliknya kapitan dan sang istri selalu menyediakan teh gratis dari pagi hingga sore di depan kedainya. Zaman dulu kan orang sudah mencari minuman, ide si pemilik untuk berbagi teh sampai sekarang juga masih diterusin.

Nggak jauh dari Pantjoran Tea House kita belok ke arah Jalan Petak Sembilan. Dulu katanya disini memang hanya ada rumah besar sembilan petak, makanya dinamakan Petak Sembilan, tapi ya kalau sekarang sih sudah bukan sembilan lagi. Hehehe.. dari situ kita masuk ke pasar dan tujuan perhentian selanjutnya adalah Klenteng Dharma Bakti, salah satu klenteng tertua di Jakarta yang sudah ada sejak 1650. Berkali-kali klenteng juga rusak karena kebakaran, tapi direnovasi lagi. Nah, setiap klenteng biasanya ada dewa sebagai tuan rumahnya, kalau di Dharma Bakti ini Dewi Kwan In, yang nonton Song Go Kong pasti tahu dong.

Serombongan foto di klenteng

Nggak cuma ada satu klenteng di kawasan pecinaan Glodok, makanya kita juga diajak ke Klenteng Cheng Goan Cheng Kun sebelum lewatin Gang kalimati dan Gang Gloria buat kulineran. Disini nih kamu bisa ngocok ramalan yang pakai nomor berhuruf Cina. Cuma bakal bisa dibaca sama Bapak yang nunggu di depan klenteng. Eh, Sarah nyoba dia buat ngocok ramalan. Antara percaya nggak percaya ada cerita aneh disini yang kalau dipikir agak mistis.

Si Sarah agak ragu, mau ngocok atau nggak. Terus katanya sih dia mikir.

Sarah : “ini serius bisa keluar kocokan segitu banyak terus keluar satu? Celoteh si Sarah. Lalu keluar semua dong itu batang kayu yang ada nomornya.

Kakak Guide nya bilang: “harus yakin, sabar dan mau berproses. Emang gitu berproses nggak enak,” komentarnya. Gara-gara kocokan Sarah jatuh semua.Hahahaha.

Dengerin instruksinya si kakak guide terus si Sarah jadi ngocok dengan lebih yakin dari sebelumnya dan keluar deh itu satu kayu dengan nomor bahasa Mandarin. Hehehe.

Ngelewatin pasar, kanan kiri pemandangannya ada babi gelantungan

Singkat cerita jadinya mistis deh, katanya dari awal dia udah liat itu nomor tapi pakai huruf abjad pas belum nanya sama si bapak Cina. Terus pas mau moto si kayu biar diterjemahin nomor berapa masa ga bisa difoto pakai kamera hp selain punyanya si Sarah. Pas kita selesai makan di Kari Lam dan nanya apa arti tulisannya si bapak juga nyebut nomor yang sama dengan yang dilihat Sarah sebelumnya. Jadi, katanya sih nggak boleh dikasih tau temen nomor berapa dan apa isi ramalannya. Lagi pula itu ramalan juga ditulis dalam bahasa kiasan.

Ya begitulah akhir dari walking tour China Town di Glodok. Sebelumnya kita juga ke Gereja Katolik dengan bentuk bangunan Cina juga. Diakhir tour aku agak penasaran sama isi ramalannya Sarah sih, soalnya dia baru resign kerja di awal tahun ini. Kalo aku sengaja nggak mau ikutan ramal-ramal gitu karena khawatir malah terpengaruh sama isi ramalannya. Ya kalau baik, gimana kalau sebaliknya? Dah, percaya aja sama apa yang direncana Allah nantinya.

Advertisements