Asia, Backpacker, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Pasir Berbisik di Mui Ne Sands, Vietnam Selatan

 

Padang Pasir Muine untuk blog 1
Payahnya, batere kamera saya di detik-detik nyawa,, padahal banyak moment yang belum saya capture. Hanya beberapa foto termasuk matahari sebelum naik tinggi
Saya belum pernah ke wilayah padang pasir, makanya waktu tahu kalau di daftar itinerary selama 5 hari di Vietnam juga termasuk mengeksplore Padang Pasir Mui Ne, langsung excited banget. Ujuk-ujuk cussss buka youtube dan cari tahu lokasinya seperti apa….. rekaman video kan gambarnya terasa lebih nyata. Hmmmmm.

Ternyata nggak banyak yang posting soal Mui Ne di youtube maupun blog dan memang tempatnya jauh bermil-mil dari kota Saigon. Saya aja harus 6 jam menggunakan slepper bus, belum lagi mesti menyewa mobil Jeep sebab medannya yang cukup sulit, walau ada berkilo-kilo jalan beraspal setelahnya merupakan jalanan berdebu, berpasir, turunan, tanjakan, berbatu. Ini mirip dengan jalanan yang saya lewati ketika 6 jam melalui darat dari Phenom Phen ke Siem Riep, Kamboja…. debu dimana-mana.

Memang perginya kan ala backpacker, nggak nginep di hostel atau guest house (lagi tanggung juga, kan tujuan utamanya juga mau liat sunset). Slepper bus sampai di Muine sekitar jam 2 pagi. Ngapain coba??? untungnya batere handphone masih menyala, modal iseng pencarian wifi di tempat pemberhentian bus yang dekat restoran itu ternyata jaringan tanpa password. *langsung joget* nge-Path lah ketibaan di Mui Ne…. mondar-mandir sambil dengerin lagu. Sementara temen-temen (Ika, Wendra, Hatni, Prita) masih bisa tidur dalam kondisi duduk di perhentian bus Sinh Tourist. ZZZzz zZZZZzzz puk-puk-puk baru dijemput sama driver jam 4 subuh. Syalala banget.

Padang Pasir Muine untuk blog 2
Jalan di pasir memang butuh usaha lebih, lebih baik nyeker atau naik ini….. Zzzzz (backpacker nyeker aja)
Sambil nunggu, di pemberhentian bus yang ada restorannya ini (yang udah tutup) kita juga bisa numpang ke toilet, sekedar cuci muka (nggak mandi), ada satpamnya sih tapi aman nggak ditanya-tanya. Yang lebih seneng toiletnya bersih, terus gratis!!! huahaha *tawa pahlawan bertopeng*. Masih berasa lama, ada kejadian unik. Selama nunggu Jeep datang, beberapa kali bule lewat sambil ketawa cekikikan. Kirain di Mui Ne juga ada kunti…. ada lagi dua bule naik sepedahan, sambil ketawa-tawa, terus tiba-tiba jatoh. Kayanya dia mabokk deh,,, Zzzzzzzz.

Akhirnya Jeep tiba, langit masih gelap pas kita dijemput kendati jarak ke padang pasirnya sendiri lumayan. Nyatanya kita agak melewatkan moment sunrise, sebelum sampai di puncak padang pasir. Dari kejauhan nampak sekumpulan titik-titik kecil (tentu saja itu orang diatas gundukan pasir yang lagi menantikan sunrise) dan kami masih berada dekat danau. Yasudahlah, lanjut motret dulu moment kemunculan mataharinya yang bulat besar dari kejauhan.

Nggak lama kita sampai di gerbang, sedaratan sekitar lokasi ini memang terlihat tandus. Pepohonan yang tumbuh juga jenis yang mungkin hanya hidup di daerah bertipikal kering. Yellow Sands, mereka menyebutnya karena pasir cenderung berwarna kuning, bukan kecokelatan. Kalau dari dekat mirip pasir di pantai tapi yang ini kebangetan halusnya, lalu kalau diperhatikan baik-baik tampak bening.

Seketika saya membayangkan seperti apa padang pasir di Mesir, yang di baliknya ada Piramida dan Sphinx terkenal itu. Pasti yang membuat indah adalah background kedua bangunan bersejarah ini. Sementara Mui Ne hanya memiliki pemandangan lain berupa danau. Melihat sunrise di Mui Ne adalah satu rasa takjub yang lain. Beruntunglah mereka yang rajin bangun pagi. ūüôā

Padang Pasir Muine 1
Sisi lain diantara kumpulan pasir yang hidup pepohonan diatasnya
Pasir lalu berbisik, lewat hembusan.. kalau wilayah sejenis padang pasir dengan angin kencang, entah karena masih pagi, di Mui Ne anginnya tidak terlalu kencang. Sayang cuacanya juga agak mendung, potret yang saya dapat jadi terkesan melow. Nggak bagus juga….

Diatas sana, ngapain lagi kalau bukan selfie??? saya bertiga Prita dan Hatni jadi bahan tertawaan turis di ujung sana, yang ajaib dengan tongkat narsis. Pas dekat rombongan orang asing disebelah sana, mereka penasaran dari mana kami. Lagi-lagi kita dikira turis dari Malaysia. Dan mereka yang wajahnya mirip China kebanyakan adalah orang lokal di bagian Vietnam lain. Tak berapa lama, kita bisa melihat beberapa orang juga menyewa kendaraan khusus mengelilingi gundukan pasir. *Iri mode on*

Jadi inget masa kecil yang suka main-mainan di lapangan pasir, atau pas ketemu gundukan tanah. Silahkan disini kamu bebas main perosotan. (Kalau urat malunya nggak putus sih). Tadinya yang kebayang saya mau guling-gulingan di pasir *ehhhh….

DSCN0378
Jeep yang mogok, untungnya ini bukan Jeep yang mengantar kami ke Muine
Saya sudah merasa kesiangan untuk melihat sunrise, tapi ternyata ada gerombolan yang lebih telat datang. Kelihatannya bukan backpacker, soalnya penampilannya seperti turis.

Perjalanan lanjut ke site Yellow Sands lainnya, lalu ke Fisherman Village yang bagi saya mirip dengan kampung nelayan di Pantai Pangandaran. Seolah dekat dengan kehidupan masyarakat nelayan, hamparan perahu dipinggirannya itu jadi pemandangan cantik. Sambil numpang nge-cas batere handphone, saya perhatiin aja mereka bapak-bapak dan ibu muda yang lagi sibuk cari pengisi perut alias sarapan. Makanannya, saya nggak berani coba, aneh sih mirip serabi tapi dicelupin di kuah sayur, takut itu pork juga.

Fisherman Village
Fisherman Village mirip sama yang di Pangandaran, Jawa Barat ūüėÄ
Lalu yang anehnya dan nggak saya tahu sebelumnya kalau ada di itinerary kita juga melewati aliran air, yang kalau di Indonesia mirip luapan banjir ūüėÄ bernama fairy spring (kalo nggak salah itu namanya). Semacam aliran sungai yang diatasnya juga terdapat gundukan pasir merah.

Jalannya panjang banget, ada mungkin 2 kilo meter. Sebelum turun ke aliran airnya, yang melewati rumah warga (mirip di kampung-kampung) kita bakal dimintai retribusi tanpa karcis, 2 ribu Dhong sama ibu-ibu yang jaga. Lucunya penjaga di sini punya doggy lucu yang lagi mainan pasir.

Saya jadi tahu kenapa tidak banyak traveler yang mengulas soal Mui Ne. Soalnya untuk kesini butuh usaha yang lebih, waktu yang lebih. Biayanya juga ekstra, dengan menyewa Jeep $20 yang bisa patungan lalu sewa mobil untuk kembali ke Saigon yang harganya hampir Rp.1 juta (meski patungan ber-5). Tapi nggak rugi kok, sebelum ke Mesir yang keren dengan Piramida dan Sphinx-nya. Kapan ya bisa kesana??? *** TANYAKAN SAYA PADA PASIR, Hembusannya apakah mereka benar berbisik :’p


Advertisements
Cambodia - Asia Tenggara, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Menyusun Itinerary – Rencana Perjalanan Kamboja ke Vietnam

untuk blog passport
Itinerary udah siap, jangan lupa passport dibawa kalau jalan-jalannya bukan daerah domestik ūüôā

Sering kali saya ditanya, itinerary atau rencana perjalanan beserta total cost usai berpergian ke sebuah tempat. Sebelum pergi traveling, memang hal pertama dan paling penting untuk dilakukan seorang  traveler adalah menyusun itinerary.

How? kalau saya yang masih terbilang baru dan amatir kalau jalan-jalan sebenarnya belum jago membuat itinerary super lengkap. Dan beberapakali nge-trip biasanya suka gabung dengan itinerary teman, termasuk yang dibawah ini.

Pengalaman saya jalan-jalan belum sampai Timur Tengah dan Eropa sih seperti cita-cita traveling saya di masa mendatang. Tapi basically, itinerary dan cara menulisnya yang cukup dilengkapi beberapa komponen ini bisa jadi acuan. Misalnya point berikut¬†…..

1. Rincian dari awal memulai perjalanan dan waktunya (durasi)

2. Biaya transportasi

3. Harga tiket masuk ke suatu objek wisata

4. Biaya hotel

5. Biaya makan,… sampai oleh-oleh.

Rincian ini penting banget karena dengan adanya itinerary kita punya gambaran berapa biaya yang harus dihabiskan untuk sebuah trip, apalagi bagi traveler budget. Dari sini juga akan ketemu cara untuk menghemat anggaran dan seberapa efektif penggunaan waktu kita. Berhubung bagi sebagian orang termasuk saya mengajukan cuti di kantor merupakan sesuatu yang berharga, pastinya pergi dua hari pun harus efektif.

Riset, riset dan riset itu hal utama banget untuk tahu berapa cost dan tempat-tempat apa aja yang mungkin bisa kita kunjungi. Tanpa dasar pengetahuan dan riset  kita akan seperti pengelana tersesat. Jadi, jangan malas-malas searching internet dan merombak isi itinerary. Saya aja butuh menyusun ulang sampai ketemu jadwal penerbangan yang cocok. Saat ini makin banyak juga loh traveler yang menulis perjalanan mereka, social media, blog, bahkan grup Backpacker Dunia yang ada di Facebook bisa buat satu referensi pencarian.

Oke langsung saja, daripada susah dimengerti saya langsung kasih contoh itinerary waktu trip ke Kamboja dan Vietnam semi backpacker dengan lama pergi 1 minggu. Check this out…..

Hari 1 : (Total pengeluaran hari 1 : Rp 725.000)

– Pergi Minggu sore Pukul 5 sudah cek in di Bandara Soekarno-Hatta : Ongkos ke bandara : Rp. 50.000

– Pajak Bandara : Rp. 150.000

– Tiket Pesawat Jakarta – Singapura – Kamboja dengan maskapai Tiger Air Mandala : Rp. 500.000

– Makan malam dengan bekal yang dibawa di Jakarta (Roti sandwich dan susu beruang) : Rp. 20.000

РBiaya Hotel : Rp. 0 , karena bermalam di  Changi untuk penerbangan kembali di pagi hari

DSCN0189
di atas tuk-tuk di Phenom Phen

Hari 2 : (Total Pengeluaran hari 2 : Rp. 342.500)

РSarapan Laksa (sebaiknya jangan makan Laksa pagi-pagi) di kantin Bandara Changi, Singapura : $ Sing  4,5 atau sekitar setara Rp. 45.000

– Kalau haus minum aja air yang tersedia di bandara : Rp. 0

РKarena waktu terbatas saya nggak mau memaksakan ikut free tour Singapore 

– Pukul 12 siang cek in pagi untuk transfer pesawat di terminal 2 (sebelum boarding sebaiknya jamak solat zuhur dan ashar)

– Sampai bandara Phenom Phen pukul 4 sore Naik tuk-tuk ke shuttel bus : USD$ 7 atau setara Rp. 80.000

– Makan siang dari bekal yang dibawa, biskuit dan susu : Rp. 10.000

– pukul 5 sore naik bus menuju Siem Riep : USD$ 13 Rp. 150.000 (sekitar 6 jam perjalanan)

– Pukul 10 malam sampai di Siem Riep dan dijemput tuk-tuk sewaan yang akan mengantar besok ke Angkor Wat : Rp. 0 (gratis, bayarnya sekalian)

– Tidak makan malam karena saya keburu capek dan kepingin tidur.

– Menginap di Garden Guest House : USD $ 4 , setara Rp. 46.000

– Membeli air mineral : USD $ 1 , setara Rp. 11.500

Catatan : di Kamboja terdapat dua bandara, sebenarnya satu lagi letaknya dekat dengan Siem Riep yang merupakan lokasi Angkor Wat. Tapi berhubung tidak ada jadwal maskapai pesawat Mandala yang singgah di Siem Riep, saya harus ke Phenom Phen terlebih dahulu. Maskapai Air Asia memiliki rute ke bandara Siem Riep, tapi harga tiketnya jauh diatas Rp. 800.000 dan tidak transit di Singapura.

Hari 3 : (Total pengeluaran hari 3 : Rp. 615.000)

РTiket Masuk Angkor Wat untuk satu hari : USD$ 20, atau setara  Rp. 230.000

– Patungan Tuk-tuk : USD$ 6, atau setara Rp. 69.000

– Makan siang dengan menu Ayam Amok, nasi, teh tarik : USD$ 5 , setara Rp. 57.500

– Beli kartu pos dan perangko : USD$ 5 , Rp. 57.500

– Makan malam mie goreng : USD$ 3 , Rp. 34.500

– Beli Souvenir di Night Market : USD$ 2 , Rp. 23.000

РBeli air mineral 0,5 sen  atau Rp  6000

– Beli tiket sleeper bus untuk kembali ke Phenom Phen : USD$ 12 atau Rp. 138.000

DSCN0355
Menuju Padang Pasir Muine pukul 4 pagi

Hari 4 ( Total pengeluaran hari 4 : Rp. 373.500)

РSampai di Phenom Phen jam 7 pagi, cari toilet dan sewaan tuk-tuk ke 3 tempat : USD 5 , setara  Rp. 57.500

– Tiket masuk Killing Field : USD$ atau Rp. 23.000

– Tiket masuk Penjara Tuol Sleng : USD$ atau Rp. 23.000

РPukul 12 makan siang  dan minum bubble ice, snack : USD$ 6 atau Rp. 69.000

– Tiket Bus ke Ho Chi Minh City : USD$ 13 atau setara Rp. 150.000

– Sampai di Saigon, HCMC pukul 9 di Rabu malam, bus turun di sekitar Ben Than Market

– Lokasi Backpacker Hostel 2 cukup berjalan kaki. Biaya Hostel 1 malam USD 4 : Rp. 46.000

– Beli air mineral 1 liter : 8000 Dhong , atau Rp. 5000

Hari 5 (Total Pengeluaran hari 5 : Rp. 125.500)

РSarapan disediakan hostel berupa roti yang mirip roti Prancis yang gurih itu, Pisang, kopi susu (gratis)  Rp. 0

РSejak pagi jam 9 menuju terminal bus ke Chu Chi Tunnel transport ke Chu Chi  18.000 Dhong atau setara Rp. 10.000

– Jajan manisan mangga di bus 15.000 Dhong atau sekitar Rp. 7500

– Tiket masuk Chu Chi Tunnel 90.000 Dhong atau Rp. 50.000

– Makan siang burger king 40.000 Dhong atau sekitar Rp. 25.000

– Makan malam, dan mengunjungi Ben Thanh Market dan Night Market, suasana malam di HCMC, membeli cemilan sotong, kopi, dll Rp. 50.000 Dhong atau Rp. 30.000

– Membeli Air : 5000 Dhong atau Rp. 3000

DSCN0274
Suasana kota Saigon

Hari 6  (Total Pengeluaran hari 6 : Rp. 298.500 )

– Hostel Backpacker malam ke 6 : USD$ 4 atau Rp. 46.000

– Sarapan di hostel for free

– Eksplorasi sekitar Ho Chi Minh City sejak jam 9 pagi : ke museum reunification, kantor pos, dan Gereja Notre Dame, taman dll

– Makan siang buah : 15.000 Dhong, atau Rp. 7.500

– Membeli kartu pos dan perangko : 50.000 Dhong atau Rp. 25.000

– Menuju shuttle bus Sin Tourist jam 2 siang, cari oleh-oleh di sekitarnya

– Souvenir tempelan kulkas 85.000 Dhong atau Rp. 40.000 untuk 10 buah

– Tiket Sleeper Bus ke Padang Pasir Muine sekitar 230.000 Dhong atau Rp. 150.000

РMakan Malam USD$ : 45.000 Dhong berupa  pisang dan sandwich Rp 30.000

– Berangkat jam 9 malam ke Muine dari Saigon, tapi tas besar berisi baju kita tinggal dan titip ke Backpacker Hostel

Hari 7 ( Total Pengeluaran hari 7 : Rp. 456.000)

– Sampai Muine jam 2 dini hari (menunggu jemputan mobil jeep yang mengantar ke padang Muine jam 4 subuh)

– Biaya Jeep USD$ 8 per orang, total sewa USD$ 20 atau setara Rp. 92.000

– Makan Siang dan snack : 50.000 Dhong atau Rp 30.000

– Setelah ke Yellow Sand untuk Sunrise Tour kita juga mengunjungi Fisherman Village

– Sewa mobil untuk kembali ke Saigon : Rp. 253.000 per orang

– Sampai Saigon pukul 9 malam, kembali ke hostel backpacker.

– Sewa hostel malam terakhir USD$ 4 atau Rp. 46.000

– Makan malam sandwich tuna dan ayam 35.000 Dhong atau Rp. 20.000

– Teh Tarik Rp. 15.000

DSCN0319
Dekat Gereja Notre Dame

Hari 8 (Total Pengeluaran Rp. 1.178.500)

– Sarapan free dari hostel

– Tiket pesawat Saigon – Singapura – Jakarta : Rp 975.000

– Airport tax : Rp. O

РTransport ke bandara, pukul 10 sudah di terminal bus :  Rp. 3.500

– Sampai Changi jam 4 sore, makan bihun goreng+sayap ayam di Changi airport : Sing $ 4,5 atau Rp. 50.000

– Ongkos pulang dan biaya tol : Rp. 150.000

 

Total cost perjalanan 8 hari : Rp. 4.114.500 

 

 

Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Travel to Chu Chi Tunnels, Wisata Perang Vietnam

DSCN0246
Patung tentara wanita di masa perang Vietnam

Bagi kamu yang sudah sering traveling ke pantai atau gunung, saatnya mencoba sesuatu yang berbeda! kalau mengenal sejarah lewat museum itu terkesan konvensional, so…. wisata perang ke sebuah lokasi persembunyian markas perang Vietnam di tahun 1960-an ini akan menarik banget.

Berhubung saya berniat untuk menamatkan misi perjalanan traveling ke¬†Asia Tenggara, salah satu kota di Vietnam, Saigon, Ho Chi Minh City¬†sudah lama jadi incaran saya. Selama hampir 4 hari disana, saya sempat ke Chu Chi Tunnel sebuah banker persembunyian, lorong bawah tanah. Ini ceritanya,….

Lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota Saigon, jadi hiburan tersendiri. Enjoy banget, karena jauh dari kemacetan, polusi yang berlebihan, meski masih harus pergi ke terminal bus. Yang saya juga suka, sebagai traveler bisa berinteraksi dengan penduduk lokal, plus pemandangan asri seperti melihat sawah ladang disepanjang perjalanan bersama bus.

Di bus secara absurd saya merasa nyaman¬†walau sedang berada tempat asing, sambil ngedengerin lagu¬†dengan bahasa yang tidak saya kenal. Musisi di Indonesia tampaknya memang jauh¬†lebih baik dalam menciptakan nada-nada.¬†Musik disana mirip-mirip lagu mandarin ūüėÄ

Lubang kecil yang merupakan pintu masuk banker, pemandu kami yang jahil mengagetkan kami semua dengan bunyi ledakan ketika membuka banker
Lubang kecil yang merupakan pintu masuk banker, pemandu yang jahil mengagetkan kami semua dengan bunyi ledakan ketika membuka banker

Seperti apa Chu Chi Tunnels?

Terowongan sepanjang 75 mil (121 km) ini berhasil bikin saya takjub. Karena saya pun sebagai orang yang lahir di era pasca perang bisa merasakan seperti apa ketika itu tentara perang Vietnam mengalami masa-masa hidup di terowongan bawah tanah. Tinggi terowongan jelas setengah dari tinggi badan orang Asia rata-rata.

Saat berjalan disepanjangnya kita harus merunduk hingga pundak pastinya pegal-pegal. Belum lagi dengan gangguan serangga atau binatang seperti kekelawar, bahkan kata sang pemandu sempat terjadi wabah malaria ketika itu. Hmmm bisa dibayangkan, nyamuk malaria di tengah hutan Chu Chi dan di dalam terowongan sangat suka tempat gelap, minim penerangan dan lembab seperti ini.

Seorang bule¬†dengan postur¬†besar¬†tinggi agak kesulitan melewati terowongan itu, jelas aja. Tapi ajaibnya, si bule muat juga masuk ke dalam pintu banker yang ukurannya minimalis itu. Terus dengan iseng, pemandu kita ngagetin soalnya muncul di pintu banker lain, sekitar 100 meter jauhnya…. walah

Buat yang punya penyakit jantung atau takut kegelapan dan ruang sempit nggak diperbolehkan mengikuti tour ini. Saya merasakannya, itu memang akan berbahaya, soalnya keluar masuk terowongan itu melelahkan, nggak boleh kagetan juga kan pemandunya suka ngagetin kita. Beberapa kali kita teriak entah karena si pemandu pura-pura jadi patung atau ngilang dan muncul dengan bunyi ledakan. fuuuuiiih, kamu yang penakut jangan coba-coba.

Ohya sebelum menjalani tour dengan penjelasan dan keliling tempat-tempat di banker, kita akan diputarin sebuah film berdurasi 20 menit tentang kondisi perang Vietnam saat itu. Luar biasa bagi saya, bangsa Vietnam bisa membuat kuwalahan pasukan Amerika karena sistem banker yang mereka ciptakan ini.

Banker mereka canggih, jangan salah di lokasi hutan itu mereka buat sirkulasi udara supaya walau di dalam terowongan masih bisa ada oksigen masuk. Mereka punya ruangan senjata, ruang operasi seperti di rumah sakit, dapur umum untuk menyuplai makanan, bahkan terowongan ini juga terhubung dengan sumber air untuk mereka mandi dan memasak.

Seperti halnya perang, ada banyak ranjau dan jebakan yang disiapkan untuk musuh. Senjata mereka mungkin tidak secanggih Amerika, sama seperti Indonesia yang masih tradisional pakai bambu runcing, tapi ampuh. Dari sini kita jadi tahu, bangsa Vietnam cerdik juga dalam menghadapi musuh.

DSCN0244
Suasana hutan di Chu Chi

Hal yang lebih luar biasa lagi dari itu semua, menurut saya bangsa Vietnam secara unik mengemasnya menjadi wisata perang, yang buat orang-orang diseluruh dunia juga penasaran melihatnya. Ini catatan sejarah yang menarik, dari sini saya juga berpikir kalau orang Vietnam itu pemberani, bahkan para wanitanya juga ikut berperang.

Di akhir Tour, setelah pemandu berhasil membuat semua orang keringetan, kita diajak ke sebuah dapur. Di dekat dapur itu ada sistem pengairan tempat kita mencuci tangan. Disana kita juga diminta untuk mencicipi singkong rebus dengan bumbu kacang, taburan garam dan gula. Singkong rebus ternyata salah satu panganan mereka saat itu. Nyam-nyam, saya ketagihan nyobain singkongnya, karena laper habis ikutan perang a.k.a bersembunyi di dalam terowongan¬† ūüôā

How to get there?

1. Kalau kamu menginap di sekitar Ben Tahn Market, maka untuk sampai ke Chu Chi Tunnel bukan hal sulit. Terminal  bus yang dekat dari Ben Tanh Market (cek google maps) bisa ditempuh dengan berjalan kaki 10-15 menit. Pilih bus nomor 13 dengan tujuan Chu Chi, tarifnya 6000 Dong atau Rp.3500 dengan perjalanan sekitar 1 jam.

banker 1

Di salah satu banker yang merupakan tempat tentara Vietnam rapat. Patungnya seolah beneran ya?

2. Perhentian Bus akan sampai di sebuah terminal lain, lalu kita akan ganti menaiki bus bernomor 79 ke lokasi tunnels, tarifnya 4000 Dong saja (Jangan lupa kita bilang ke bapak kenek kalau mau ke Chu Chi Tunnel supaya diberhentikan di tempat yang tepat).

3. Yes, kita sampai di sebuah jalan besar. Dari jauh sudah kelihatan plang masuk kawasan Chu Chi Tunnel. Jalan sekitar 15 menit kita harus membeli tiket masuk seharga 90.000 Dong atau sekitar Rp.50.000.

By the way dari lokasi pembelian tiket, jalannya masih cukup jauh 500 meter masuk hutan yang pohonnya tinggi-tinggi menjulang ke langit. Untuk pulangnya ke Saigon Ho Chi Minh City, kita masih menggunakan bus yang sama, jadi nggak akan tersasar.

Terowongan yang gelap dengan bantuan penerangan senter
Terowongan yang gelap dengan bantuan penerangan senter. Karena sambil berjalan jadi shaging.
The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Capture Ho Chi Minh City

Traveling ke negara yang perekonomiannya di bawah Indonesia, sama sekali terlihat nggak keren? iya juga sih, tapi pandangan tiap orang soal destinasi itu sangat subjektif. Ketika aku bilang Singapura itu ngebosenin, teman yang lain akan bilang Singapura itu keren, bersih, rapih. Ya kan subjektif, makanya tidak bisa disama ratakan selera tiap traveler.

Makanya ada kutipan seperti ini…..

“Travel is very subjectif. What one person loves, another loathes.” Robin Leach

So, ini Ho Chi Minh City kota yang menurut saya tidak terlalu padat seperti Jakarta. Meski kendaraan didominasi oleh motor tapi udara disana masih bagus buat paru-paru saya. fufufufu tolong Jakarta banyak gedung-gedung tinggi, mall-mall bagus tapi udaranya fuck sekali dan diakui sebagai salah satu dari 10 kota yang dibenci. Presiden kita tahu nggak sih -__-”

Gambar
Terkenal banget sepeda motor di HCMC itu ganas-ganas, Jakarta masih kalah

Sekedar sharing aja, sama hobi fotografi saya yang belum canggih sebenarnya… pemandangan kota di Ho Chi Minh City, Vietnam Selatan

DSCN0316

Jadi kemana aja kalau kamu jalan-jalan ke HCMC?

1. Gereja Notre Dame, bangunannya memang unik. Saya aja suka,

2. Tepat disebelah Notre Dame ada kantor pos yang bangunannya dirancang oleh arsitek Menara Eifel, keren memang. Bangunan kuno berupa kantor pos yang sampai sekarang masih dipakai jadi lokasi wisata menarik dan para bule-bule suka. Saya sempat kirim postcard disini. Sementara sebelum menuju Notre Dame saya sempat lewat depan Museum Reunification, dari luar biasa-biasa aja mirip Museum Satria Mandala.

DSCN0336

Untuk keliling HCMC saya hanya berjalan kaki sambil merasakan betul atmosfer kota ini. Udaranya bersih, jadi walau tidak pakai masker nafas yang saya hirup adalah oksigen bukan asap kendaraan seperti di Jakarta.

DSCN0345

Dekat dari gereja Notre Dame ada sebuah taman besar dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, adem banget. Kalau di Jakarta mirip Taman Suropati yang di Menteng,…and FYI disini ada wifi gratis tanpa password meski nggak terlalu kenceng juga jaringannya. Bisa lah nge-twitt atau mainan instagram ūüėÄ

DSCN0304

Yang saya lihat juga penduduk lokal dan bagaimana mereka kesehariannya,…

DSCN0346

Lalu kendaraan yang lalu-lalang…. dan maaf foto-foto ini belum diedit sama sekali di photoshop jadi derajad kemiringannya masih asli, amatir :p

DSCN0347

Backpacker, Cambodia - Asia Tenggara, Vietnam - Asia Tenggara

Overland Cambodia to Vietnam. Ini Sleeper Bus atau Rumah Bordir?

 

Ketika pertama kali melewati perbatasan darat dua negara, apa yang terbayang? pasti berpikir, seperti apa kantor imigrasinya? gimana moda transportasinya? nah seperti itu juga yang saya pikirkan, moment yang jarang-jarang saya lewatin. Di negeri orang, pakai bus melewati perbatasan darat.

Dan sampai saat ini saya masih suka ketawa ngikik, kalau ingat perjalanan darat menggunakan sleeper bus dan night bus di perbatasan Vietnam dan Kamboja. Kenapa? soalnya orang lokal disana bisa kreatif banget ngada-ngadain fasilitas buat sleeper bus atau night bus mereka. Di Indonesia nggak ada loh, padahal kan kita juga punya banyak kota besar, orang kita suka mudik. Ini loh dicontoh kreatifnya orang Kamboja dan Vietnam.

Gambar
Sleeper bus dari travel agent The Sinh Tourist, Saigon menuju Muine, perjalanan 6 jam

Kalau naik bus malam itu sudah biasa, so’ sleeper bus akan bikin kamu melongo kaget. Yap! Setelah sehari penuh berada di Siem Riep untuk tour keliling Angkor Wat, heritage site UNESCO kita balik dong menuju Phenom Penh buat tour di Killing Field dan sisah-sisah kekejaman Khamer.

Dekat dengan Night Market lokasi sleeper bus kita, sambil belanja oleh-oleh kita nungguin bis jam 10 malam. Namanya juga sleeper bus, berangkatnya juga malam, dini hari masih ditengah jalan, terus sampai di lokasi pagi. Dari jauh kita udah merhatiin bus penuh lampu-lampu, kedap kedip ala disko. Sumpah norak banget, mungkin ini bus mirip sama angkot-angkot yang ada di Medan yang katanya banyak hiasan-hiasan gitu.

“Seriusan nih bus kita ya buat ke Phenom Phen,” kata saya dalam hati.

Eh betulan, saya sama tiga teman lainnya disuruh naik. Sebelum naik, kita diminta untuk lepas alas kaki, dikasih plastik buat bungkus sendal. Tiap orang udah ditentuin juga dimana nomor tempat tidurnya. Aiiiiih, beruntungnya saya kan pergi berempat, dan perempuan semua, soalnya sleeper bus ini satu tempat tidur untuk dua nomor yang berdekatan. Gimana ya kalau saat itu saya traveling sendiri seperti saat mau ke Siem Riep kemarin? LOL

Gambar
Ika dan Hatni di Sleeper bus yang mirip rumah bordir itu, banyak lampu warna-warni (bikin sakit mata)

Ika sama Hatni, yang barengan sama saya sibuk foto-foto, katanya ini sleeper bus mirip rumah bordir, gara-gara lampu diskonya. Huahahaa, beneran. Tapi saya keburu capek, begitu juga Prita yang batuk-batuk terus sepanjang hari. Beda dengan perjalanan saat menuju Siem Riep yang penuh jalanan berpasir dan rusak parah. Sleeper bus bebas melenggang di jalan raya dengan mulus. Sepertinya bus ini lewat rute berbeda. Soalnya sama sekali tidak terasa ¬†guncangan, seperti waktu saya loncat-loncatan di mini van. fufufufufu, malam itu kita tidur nyenyak. Walaupun kasur kita tipis, tapi kaki kita betul-betul selonjoran, diseberang tempat tidur lainnya cuma dibatasi hordeng. Kepala kita pakai bantal empuk dan dikasih selimut. Cuma AC -nya dingin banget pagi-pagi baru terasa kalau badan kita menggigil. Beruntung lagi saya bawa selimut cadangan ūüėÄ

Oya, di sleeper bus rumah bordir seharga 13 USD ini kita disediain tempat untuk men-charge batere ponsel, ada juga headset buat dengerin musik. Ya tapi jangan tanya deh, headset-nya nggak fungsi. Lagi pula kita udah kecapekan dan dengan pulas beranjak ke alam mimpi.

Kita nggak cuma sekali naik sleeper bus loh, waktu ke Muine buat tour sunset di padang pasir juga. Sleeper bus kali ini nggak se-norak waktu ke Phenom Phen, hehehe. Kita beli tiket via online di Sin Tourist. Kantor The Sinh Tourist deket banget di seputaran Saigon, deket sama Ben Thanh Market dan Terminal Bus. Tapi kita naik percisdi depan kantor The Sinh Tourist. Sebelum berangkat bisa gratis wifi-an disini, toiletnya juga bersih (maklum di negeri orang, maunya cari toilet bersih). Pelayanannya oke, harganya juga dari Saigon ke Muine tarifnya Rp. 132 ribu saja.

The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

16 Jam Solo Traveling itu rasanya,….

Tahun lalu saya pernah berencana untuk solo traveling karena ingin menguji sejauhmana kemampuan survive di sebuah tempat asing. Namun akhirnya niat untuk  mengembara sendirian di negeri orang harus saya batasi durasinya. Banyak pertimbangan, antara waktu, dana, termasuk keamanan. Oke tapi betul-betul kepingin sekali aja, seumur hidup saya punya pengalaman ini. Jadi saya buat rencana perjalanan ke Indochina kemarin dengan desain solo traveling yang dikombinasikan group backpacking. Seperti apa?

Minggu siang, sedang santai-santainya weekend. Stok berita saya seminggu kedepan selama cuti hampir beres, niatnya nanti di Changi sembari transit dan nunggu penerbangan pagi baru saya selesaiin. Bahan-bahannya sudah lengkap, foto-foto aman tinggal dijahit saja beritanya sih. Oke memang hidup saya nggak pernah jauh-jauh dari deadline menulis, meski itu di detik-detik liburan ūüėÄ

Untuk masalah keberangkatan ke bandara dan harus ribet dengan cek in tepat waktu, boarding pesawat,  mepet dengan jam orang sholat selalu bikin saya bener-bener panik. Karena suatu kali dulu pernah ketinggalan pesawat. Oh noooo, tolong jangan lagi. Jadi abaikan dulu hal-hal lain untuk urusan yang super ribet ini. Kalau udah boarding, baru lega rasanya hati ini. (alhamdulilah gak ketinggalan pesawat)

Gambar
Sendirian naik tuk-tuk tuh ya rasanya begini, cuma bisa fotoin drivernya.

Hari 1 :

Pk. 15.30 sampai Bandara Soeta, langsung cek in dan boardingnya 45 menit sebelum take off, on time banget maskapai Tiger Air Mandala. Saya perhatiin cuma saya yang traveler disini, mungkin karena tujuan Singapura jarang ada yang compang-camping perginya ūüėÄ

Pk. 18.00 Take off, isi pesawat ribut karena ada 3 cewe Rusia yang kalo ngobrol suaranya kenceng banget. Mereka pakai bahasa Rusia jadi dikira satu pesawat nggak ada yang ngerti. Annoying banget jadi susah tidur. beberapa bangku banyak kosong, termasuk bangku sebelah saya. Aduh nggak ada teman ngobrol itu rasanya, melelahkan ternyata.

Pk. 21.00 Sampai juga di Bandara Changi, lekas cari minum dan toilet. Lanjut aktifin wifi super kenceng Changi buat selancaran di internet. Rileks dulu, cari praying room dan tempat pewe buat nulis berita. Lanjut, cari makan?, saya bawa bekal biskuit dan susu cair jadi makan malam dengan ini dulu biar praktis. oke malam itu saya susah tidur, Changi dingin banget.

Hari 2 :

Pk.03.00 pagi sisah dua artikel saya beres. Sembari nungguin subuh, mainan internet di Changi. Apa aja ada sih disini, akhirnya nonton tayangan bola dengan layar super gede di salah satu sudut entertaintmen.

Pk. 05.30 praying room penuh sama malaysian dan Indonesian

Pk. 06.00 Niatnya mau ikut free tour Singapore tapi badan rasanya lelah akibat nggak tidur. Lagi pula tahun lalu udah pernah keliling Singapura dan Sentosa. Berasa laper saya cari makan di kantin lantai 2.

Pk. 07.00 Sarapan Laksa di warung yang penjualnya Indian gitu. Seriusan ini laksa lebih enak daripada yang pernah saya beli di Mall seputar Orchard Road. harganya sekitar $ Sing 5. Mahal ya? rata-rata kisaran ini harganya. Salah banget ya pagi-pagi makan Laksa, mirip makan lontong sayur kalau di Indonesia. tapi. so so lah.

Pk. 08.00 Kembali ke layar ukuran besar yang menyiarkan pertandingan bola. Soalnya bangkunya nyaman buat tidur. Akhirnya saya ketiduran sampai jam 10 pagi. Di bangku ada speaker di sebelah kuping kanan dan kiri kita yang bila kita menyender suara sang narator baru akan jelas terdengar. Rasanya seperti lagi didongengin. Berhasil bikin saya tidur ūüôā

Gambar
Cambodian ternyata ramah kok, ini driver kita selama di Siem Riep, Safy, ramah banget. Bahkan mau nganter juga ke kantor pos.

Pk. 11.00 Baru ke imigrasi dan pergi ke terminal 2 untuk transfer pesawat. Keliling Changi yang luas itu, dari terminal 1,2,3. Awas jangan nyasar naik MRT, Sky Train. nggak prepare buat beli itu tiket MRT. Jadi inget sama Anant, teman yang nganter saya sama Tiara waktu di Singapura. Sayang dia udah pindah ke Amerika buat sekolah. Disela-sela ini ngobrol lah sama ibu-ibu Indian yang katanya mau terbang ke Malaysia. Lucu ini ibu-ibu kenapa malah curhat soal rumah tangga nya ya -__-

Pk. 12. 30 Boarding, dan facial foam satu-satunya ditahan sama petugas bandara. Katanya ini ukuran botolnya lebih dari 100 ml, padahal udah tinggal 10 ml isinya. tetep loh ga boleh dibawa. i hate u makcik -__-

Pk. 15.00 touch down Cambodia, yeaaayy!!!! habis dari imigrasi, langsung panik.. lah kok jam 4 sore ya??? refleks tubuh buru-buru ke toilet buat pipis. Jaga-jaga nanti toiletnya nggak bersih selama melewati Phenom Penh. Panik takut telat naik bus ke Siem Riep (tempat keberadaan Angkor Wat) nggak pake mikir langsung sewa tuk tuk dan nggak sempet cari partner buat patungan.

Ada pasangan bule yang satu pesawat tadi ngeliatin. Soalnya mungkin saya ngomong bahasa Inggris ke petugas tuk-tuk, dikira tadi orang lokal kali. Wajah kita kan Indo sir. Indo china. Terpaksa harus merelakan $ 7 USD buat tuk-tuk ke stand bus. Soalnya info di internet terakhir jam 16.30 bus buat ke Siem Riep selain Night Bus yang berangkatnya baru jam 7 malam nanti. Sementara buat ikut tour sunrise, saya harus tiba sebelum jam 12 malam supaya bisa tidur dulu.

Aduh si bapak tuk-tuk nyupirnya lama, sambil merhatiin tata kota Phenom Penh, saya mikir ini seperti masih di Indonesia. Tapi di daerah mana gitu ya? Surabaya? soalnya mirip. Nggak sabar saya bilang lagi ke bapak tuk tuk. Sorry sir, can u drive more faster? 

Pk. 16.30-an Sampai di stand penjual tiket bus ke Siem Riep. Lah, lama dan jauh. Saya nggak menemukan bus yang saya ingin. Harga yang murah seperti informasi di internet sekitaran $ 9 USD. Ternyata hanya ada mini van seharga $ 15 USD tapi akan sampai lebih cepat ke Siem Riep.

Saat menunggu, saya baru sadar. Penunjuk waktu di handphone baru tersinkronisasi. Kepanikan tadi adalah ulah waktu Singapura yang lebih cepat 1 jam dari waktu Cambodia. -__-

Ini mungkin rasanya sendirian di negeri orang. Parno aja, sama kejahatan.Padahal sih, orang Kamboja masih terbilang ramah daripada orang Vietnam. Soalnya kan kamboja dulu punya sejarah membantai bangsa sendiri. hiiiiiiiii, apalagi satu mini van cuma saya yang orang asing, semuanya cambodian. Petugas agen bus ngasih saya nomor duduk 14, soalnya saya penumpang terakhir.

Sialnya, saya harus duduk dibelakang, ditengah pula. Sebelah kanannya pria dengan bobot overweight jadi kesempitan, nggak bisa tidur lagi sepanjang perjalanan. Lima jam lamanya di mini van, lapar, belum makan dari sore tadi, bongkar isi tas yang berisi biskuit sisah kemarin, Saya tawarin juga aja ke mereka, eh karena itu jadi nanya-nanya.

Gambar
Langit Kota Phenom Penh saat itu, cerah ūüôā

“Dari mana? …. “Indonesia,”

“Eh kok ke Kamboja pas perayaan Happy New Year Cambodia sih?

“Eh, Happy New Year, maksudnya independent day (Hari Kemerdekaan)? pantesan ya sepanjang jalan tadi ada beberapa tulisan ucapan Happy New Year. Tapi kan ini bukan 1 Januari. Lho????

“Iya independent day, ke berapa ya tahun ini? kemudian cowo Cambodia paruh baya itu nanya ke temen sebelahnya, ke berapa ya?

Huffffft, baru enak setelah ada temen ngobrol. Ditengah jalan, jam 10 malam, bus berhenti di warung makan, supirnya makan dulu ternyata. Saya nanya kan, ini udah di Siem Riep ya?? hiiiii dasar ternyata transit doang. Lalu ada satu perempuan muda nawarin saya permen karet, terus kita jadi ngobrol.

“Dari mana? …. “Indonesia”

“Sengaja dateng ke Siem Riep ya mau ke Angkor Wat. Wahhh kamu pasti seneng banget ke sana,”

“Iya nih, mau liat sunrise. You are student?¬†(saya nanya ini karena keliatannya dia masih muda banget)

“No, I’m working,” Lagi mau balik (istilahnya pulang kampung) ke Siem Riep, disini tempat tinggal gue. Nggak lama abis itu mini van berangkat lagi. huuuft lega, ternyata cambodian ramah-ramah loh, yang dibayangin soal Khamer itu mungkin DNA nya nggak menurun ke beberapa generasi ūüėÄ

Oya temen-temen group traveling kali ini udah sampai duluan ternyata di Guest House. Jadinya saya malah yang dijemput sama supir tuk-tuk. Lewat sms saya ngabarin salah satu teman dimana harus di jemput ketika sampai. Dan,… ternyata sampainya lebih cepat. Jalan berdebu antara Phenom Penh dan Siem Riep, goncangan, loncatan. Apa kabar itu mini van, pasti harus ekstra dirawat ke bengkel karena kondisi jalan yang sangat buruk.

Malam hari pula, saya memang berangkat sekitar pukul 17.00, jadi yang saya bisa lihat adalah pemandangan lahan gersang. Kadang ada rentetan pohon yang belum pernah saya lihat, entah apa namanya. Lalu selebihnya malam, cukup gelap untuk melihat sekitar. Satu mini van tertidur walau dengan banyak goncangan.

Akhirnya, tiba juga di Siem Riep, di stand bus. Tinggal tunggu Safy aja, driver tuk-tuk yang akan mengantar besok pagi ke sekeliling Siem Riep, utamanya Angkor Wat. Sampai di Guest House, alhamdulilah menginap di Guest House yang ada ruang tunggu, wifi super kenceng (cuma di lobi) dan dekat sama pohon-pohonan, ada ayunan juga, betul-betul asri.

Kesimpulannya, jadi solo traveling itu justru bikin saya boros. Naik tuk-tuk nggak bisa sharing cost, sewa kamar di Guest House juga. Tuk-tuk untuk keliling Siem Riep dan Angkor Wat seharian butuh sekitar $ 15-20 USD, kalau punya temen barengan pasti lebih murah. Kecuali mungkin kalau kamu punya waktu yang cukup lama buat traveling, tanpa agenda pasti. Cari partner dengan berkenalan dengan traveler lain tak akan terbentur mengejar bus dan agenda lain.

unnamed (4)
Pemandangan kota Phenom Penh

Kuliner, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Jajanan Halal di Saigon, Vietnam Selatan

 

Olahan ringan dari singkong, mirip getuk dan cenil yang ada di Yogyakarta, bisa kamu temukan di Night Market

Bukan traveling namanya kalau nggak mencoba hal-hal yang berbau lokal, termasuk di dalamnya soal makanan. Dan,… perjalanan teranyar saat awal bulan ini menyambangi Ho Chi Minh City atau biasa disingkat HCMC, pusat kota di Vietnam Selatan jadi satu pencarian kuliner yang cukup unik. So so lah masih seputar Asia Tenggara.

Tepatnya di Saigon, yang dekat dengan pusat pasar, terminal, dan jantung lain aktivitas penduduk lokal Vietnam. Ada Benh Thanh Market yang buka sejak pagi, tapi kalau malam jalan besar disebelahnya juga tiba-tiba berubah jadi Night Market. Di seputaran jalan inilah kita bisa menemukan pedagang makanan lokal. Berhubung pilah-pilih makanan yang halal, disini nggak semua makanan lokalnya bisa saya coba.

Hari pertama di Saigon, dan sejak menyebrang wilayah perbatasan Kamboja РVietnam di sekitaran terminal saya sudah melihat sandwich yang tampaknya menggiurkan. Rotinya lonjong besar, didalamnya ada mentimun, potongan daging, dan saus. Penduduk lokal menyebutnya Banh Mi Pate. Sayangnya kebanyakan juga memakai daging pork atau baccon alias babi. Tapi malam terakhir di Saigon, saya ketemu loh penjual Banh Mi berlabel halal.

Gambar
Penjual Sotong atau di HCMC disebut Muc Chien Nuoc Mam memakai sepedah berkeliling Saigon

Ketemunya nggak sengaja, setelah teman-teman makan malam di warung nasi Malaysia. Tak jauh dari gang Night Market yang mengarah pulang ke Hostel di jalan Le Lai, mata saya berkaca-kaca dengan tulisan halal di depan kios Banh Mi (Lebaii isshh). Si bapak penjual Banh Mi mengira saya Malaysian (nggak sudi dikira Malay mulu), abis itu dia berseloroh this chicken, halal oke? harganya sama dengan Banh Mi yang memakai daging pork, 35 ribu Dhong. Kalau dirupiahkan Rp. 21 ribu.

Rasanya enak, karena rotinya garing diluar, mirip roti baguette Prancis, terus sayuran didalamnya seperti ketimun dan letucce bikin segar. Si bapak nggak cuma ngasih chicken di dalam roti tapi juga ikan tuna. Bergizi banget deh makan malam terakhir di Saigon. Minumnya, saya beli teh tarik di warung Malaysia, dan rasanya kurang kental. Mungkin karena ini Vietnam bukan Malaysia.

Kuliner lain yang saya coba di seputaran Night Market adalah macam olahan singkong seperti kalau di Indonesia itu getuk, yang dicampur kacang hitam, taburan santan dan susu. Jadi inget kalau pulang ke Jogja, tapi ternyata di Vietnam olahan singkong itu sudah membudaya sejak zaman perang loh.

Waktu ke Chu Chi Tunnel, banker tempat persembunyian perang Vietnam dulu guide disana bilang singkong rebus yang ditaburi bumbu kacang, gula, dan garam sebagai panganan saat itu. Kita pun disediain disana, usai diajak masuk ke banker persembunyian. Hosh hosh,… cape cape¬†bersembunyi di banker cuma disediain singkong rebus.

Kulineran Vietnam memang masih mirip-mirip Indonesia dan Malaysia, kecuali olahan pork ya. Di Saigon saya nemuin juga cemilan Sotong, atau semacam cumi-cumi tapi ini besar ukurannya. Kalau di Malaysia Sotong dijual di supermarket dibumbui pedas atau manis. Nah di Saigon, Sotong lebih fresh karena baru diolah saat kita membelinya.

unnamed (2)
pedagang kembang tahu di Saigon

Muc Chien Nuoc Mam atau Sotong di Saigon pertama di bakar dulu, lalu digiling menggunakan alat penggiling, diserut, dan dibumbui dengan saus dan kecap. Rasanya enak buat cemilan iseng, lebih baik daripada beli Sotong yang ada di supermarket. Harga Sotong antara 30 ribu Dhong. Jenis makanan halal lainnya, semacam kembang tahu. Ini saya nggak sempat beli karena sudah kenyang, tapi teman-teman group backpacking saya nyobain. Katanya enak, murah lagi cuma 5 ribu Dhong atau sekitaran Rp. 3 ribu. Oya jangan lupa kalau menyebut nilai uang dengan pedagang lebih baik kalau pakai kalkulator, soalnya lafalz mereka suka nipu.

Beberapa jenis kuliner lain ada lagi yang unik, di Muine 8  jam perjalanan dari kota Saigon, saya ketemu makanan yang mirip Dim Sum. Kenapa saya sebut Sum? soalnya bahan dasar makanan itu dari sagu, tapi tidak digoreng melainkan direbus. Didalamnya ada bagian kuning telur dan udang. Penyajian ditempatkan didalam tupperware transparant dibumbui kecap asin, taburan bawang goreng beserta daun bawang. Rasanya? kenyal-kenyal dimulut, lalu saya sebel soalnya si penjual nggak mengupas kulit udang sebagai isiannya.

Lalu ketika pergi ke fisherman village, ketemu lagi sarapan orang setempat yang unik. Penampakannya terlihat seperti kue serabi yang suka kita temui di Indonesia, tapi kok ini ditaburi sama ayam cincang dan sayuran toge diatasnya? nggak cuma itu, penyajiannya pun dimasukan dalam kuah sambal, yang kelihatannya sangat pedas. Mau mual-mual saya ngeliatnya. Tadinya kepingin beli, tapi takut itu daging pork bukan ayam, meski kelihatannya seperti daging ayam yang putih. Selain itu sudah keburu kekenyangan dengan Dim Sum KW tadi.

DSCN0283
Sotong setelah dibumbui

Meski jauh dari ibu kotanya Hanoi yang terletak menjorok ke wilayah utara, Saigon yang di Selatan cukup ramai, apalagi turis-turisnya. Kan mata uang Vietnam jatoh dibawah kurs Dollar termasuk Rupiah. Satu Dhong (mata uang Vietnam) setara dengan 0,6 Rupiah. Surga buat budget traveler seperti saya. Tapi tetep aja, pengalaman walau uang Dhong murah, pedagangnya juga licik abissss.

Mereka ada yang menghargai dengan Dollar, juga naikin dua hingga tiga kali lipat dari harga aslinya. Bukan cuma itu, kebanyakan pedagang disana juga jutek dan sadis. Pertama mereka nggak paham Bahasa Inggris, tapi habis itu ditawar ngomel-ngomel nggak jelas. Bikin pembeli jadi kabur.

Coba perhatikan deh, kalau kamu ke Saigon. Penduduk lokalnya, nggak ingat weekday atau weekend. Mereka tetep loh kumpul-kumpul di warung kopi yang letaknya dekat jalan raya. Mereka duduk di bangku kecil, ditengahnya ada meja tempat menaruh makanan dan minuman mereka. Mereka asik mengobrol, baik itu keluarga maupun muda mudinya. Nggak cuma ngopi mereka juga membeli buah-buahan sebagai camilan, sambil menikmati keramaian kota Saigon penuh lalu lalang kendaraan bermotor.

???????????????????????????????
Ini yang saya bilang mirip Dim Sum, harganya 20 ribu Dhong

Masih ada banyak lagi kuliner di Saigon, tapi unsur tidak halal membatasi pencarian makanan lokal buat saya disini. Lainnya ada lumpia, Pho yang dengan kuah pork, ataupun macam olahan pork lain. Selebihnya, kalau lapar pilih aja buah. Di Night Market ada banyak macam buah yang dijual. Rentang harganya sekitaran 30 ribu Dhong untuk mangga, jeruk Bali, sampai Durian. Di bus ketika kamu mau pergi agak menjauh dari kota juga bisa ditemui pedagang camilan. Jangan lupa cobain juga kopi di Vietnam, sayang karena ada bawaan asam lambung saya nggak mencobanya.

unnamed (3)
Serabi, tapi kok ada togenya, bahkan ada taburan daging ayam juga?