Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, story, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Menyebrang Selat Alas, Mencapai Kenawa – Sumbawa

IMG_6395
Bukit Kenawa, coba perhatikan rumputnya… photo by : Dyah Ayu Pamela

Setelah pendakian Rinjani yang memakan waktu 4 hari, saya bersama tiga teman nge-trip kali ini ikut menyambangi Sumbawa. Menyebrang Selat Alas, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Kahyangan, di Lombok dengan kapal Fery.

Tarifnya Rp. 30 ribu, menurut petugas pelabuhan kapal ini ada setiap 45 menit-an sekali. Saya agak ragu tentang durasi jadwalnya, namun hampir cukup sering kapal ini pulang dan kembali, bila tertinggal masih ada kapal Fery lainnya yang akan menunggu.

Dua jam di dalam kapal jadi waktu yang singkat, soalnya sambil nonton film sih (di kapal fery ada fasilitas DVD plus Tv dan karaoke lhooo). Pas lagi tayang film lucu “Cinta Brontosaurus” dari novelnya si kocak Raditya Dikka, alhasil saya senyum dan ngakak-ngakak sepanjang perjalanan. 😀 😀 what’s a life? tercabik-cabik juga nontonnya, termasuk sama pesan di film ini, dulu saya sih sudah pernah nonton. (Lho kok jadi ngomongin film ya?)

Ya kan, nggak terasa…. akhirnya sampai di Pelabuhan Pato Tano, Sumbawa. Saya jadi lupa untuk merhatiin pemandangan sepanjang laut, banyak pulau-pulau kecil dari kejauhan, ekosistem yang mirip dengan yang saya lihat di video youtube kalau di Flores dan Pulau Komodo. Tapi ini Sumba ya… 🙂 🙂 🙂

Sepi,… itu kata pertama yang muncul di otak saya. Mungkin karena terbiasa dengan Jakarta yang crowded. Seneng banget bisa sepi kayak gini, serasa cuma ada berapa ratus orang saja yang hidup disini. Beda sama Jakarta yang berkumpul 15 juta penduduk (kalau hari kerja), sumpek-sumpek-an di kereta, atau geser-geseran di angkot. Ya beda lah ini liburan, getaway!!!

SONY DSC
Cuma kami yang kemping di Kenawa, pulau tanpa penghuni yang di atasnya tumbuh subur rumput dan kalau diperhatikan tumbuhnya rumput ini rapih. (Debi, jadi model kali ini)

Kembali takjub. Saya juga terkesima sama pinggir pelabuhan yang masih cukup bening air-nya…. wihhhhh bahagia banget para ikan dan biota laut yang hidup disini pasti. Karang-karangnya pun masih terlihat jelas dengan telanjang mata. Nggak salah tempat lah saya pilih Sumbawa buat pelarian setelah ke Rinjani. *Ehem*

Dari Pelabuhan Pato Tano kamu harus menyewa kapal nelayan untuk menyebrang. Range harga sewa sekitar Rp. 250-300 ribu, cobalah tawar-menawar harga. Pulangnya jangan lupa janjian untuk minta dijemput balik ke Pato Tano, minta nomor Hp jangan sampai nggak bisa pulang karena keasikan nginep di Kenawa. 😀

Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya) foto by : Harry Iswahyudi
Terumbu karang di sekitar Kenawa dan disana dekat awan ada pemandangan Gunung Rinjani (bagusnya)

Karena pulau tanpa penghuni, pilihan kami untuk tidur ya di tenda…. nenda lagi, kan hemat, tapi baru ngeh kalau Kenawa yang jarang pohon ini ternyata membuat hawa di dalam tenda menjadi panas. Panasnya mirip kalau kamu lagi di dalam bis kota yang sesak sama penumpang. Anggap saja lagi sauna, sehat kan ngeluarin keringat.

Dan orang-orang sudah kapok nanya soal panas atau dingin ke saya, soalnya pas malam terakhir di Rinjani yang cuacanya menurut yang lain dingin, bagi saya nggak dan saya tidur tanpa pakai jaket dan kaos kaki.

Sibuk mencari angle sunrise :) photo by : Harry Iswahyudi
Sibuk mencari angle sunrise … another sunrise when we travel, beauty as always 🙂 

Ngapain aja di Kenawa?

Sore menjelang sunset kami tiba di Kenawa, di pinggir dermaga sudah ada kapal yang merapat dan itu kapal mereka yang melakukan trip menuju Labuan Bajo dan Pulau Komodo kemudian singgah sebentar di Kenawa. Karena hampir malam buru-burulah mencari tempat untuk kemping, cari kayu bakar untuk api unggun karena kabarnya disini suka ada ular, sekedar untuk awarness saja. Tapi api unggun bukan biar mereka kabur sih, kami juga bawa garam, terus wanti-wanti supaya tenda nggak kemasukan serangga dan ular tadi, tenda selalu ditutup.

Pagi saat matahari terbit adalah saat-saat bagus penggambilan gambar (seperti biasanya), naik ke atas bukit kalau tak terhalang dengan awan dari kejauhan juga terlihat Gunung Rinjani (dari bawah bukit juga kelihatan, dari pantai juga kelihatan). Nggak nyangka kalau kami beberapa hari sebelumnya ada di atas sana dan sekarang kami main ke laut, menyebrangi selat Alas, ada di Sumbawa dan kemping di Kenawa.

Dari atas bukit di Kenawa
Dari atas bukit di Kenawa, belum pada mandi (yaiyalah sejak kapan kita liburan dari gunung ke pantai mandi??) 😀

Sebelum panas matahari makin tinggi buru-buru kami membereskan tenda dan barang-barang, sebab setelah jam 09.00 adalah snorkling time!!!! By the way kaki saya masih babak belur, perih-perih karena melentung disana sini agak lambat kan jadinya naik turun bukit, ini ditambah pula kena karang pas snorkling. Lengkapppp, terima kasih kaki kamu sudah membawaku sejauh ini, terima kasih pengorbananmu, rasa perih ini nggak ada apa-apanya kok dengan keindahan yang aku lihat. (menghibur diri)

Saya heran kenapa di Pulau Kenawa banyak sampah, padahal nggak ada penghuni, ini nih salahnya sebagai traveler, suka buang sampah sembarangan. Kan sayang, tempat indah kalau terkotori dengan plastik dan bungkus makanan. Kamu jangan ya, kalau punya sampah bawa pulang lagi dan buang di pelabuhan.

Terus gimana tentang keindahan bawah laut di seputar Kenawa? ikannya variatif, warna-warni, karangnya juga banyak yang warnanya pink, tapi saya cuma sebentar snorkling berhubung nggak pinter berenang dan kaki lagi perih-perih. Nikmatin aja masa liburan ini dengan santai-santai di bawah pohon, nikmatin hari dimana saya bebas listing berita atau harus mikirin nulis apa besok. 😀

Advertisements
JAVA - Indonesia

Pendaki,… Jangan Remehkan Lembu!!!

IMG_5983
View from Lembu mountain, not the best sunrise

Judul tulisan blog saya kali ini terilhami oleh celotehan salah seorang teman. “Jangan remehkan Lembu, cuma 2-4 jam sih, tapi nanjaknya itu loh,” gerutu Ika ke temen-temen yang lain. Dan kita semua serombongan sepakat bahwa Gunung Lembu yang berdekatan dengan Waduk Jati Luhur ini memang nggak bisa diremehin. Hoshh…hosh…hoshhhh :’p

Ketinggian Gunung Lembu memang kurang dari 1.000 mdpl, tapi karena jalur yang dilewati cukup terjal, terutama gradien drajat kemiringan yang tajam hingga membuat dengkul ketemu dengkul, lumayan menguras tenaga. Dan menurut saya pendakian di sini akan bahaya kalau kondisinya hujan, jalanan sangat licin.

Nah, pas perjalanan turun keesok paginya, sisa hujan semalam membuat tanah di Lembu becek. Nyaris serombongan nggak satu pun yang tak terjatuh, kepeleset saking licinnya. Tapi adegan terjatuh kenapa justru jadi cerita lucu ya? (ingat masa kecil main perosotan). Mending kalau jatuhnya itu cuma sekali, berkali-kali lhoo… turunnya itu kaki saya terasa gemetaran, sampai berfikir gimana caranya supaya nggak terjatuh. Cari jalan baru dimana tanahnya belum basah atau yang tanahnya masih banyak rumput atau pegangan pohon di sepanjang jalan. Terus ada rombongan lain yang justru sengaja merosot jalannya terlihat sudah ahli kepeleset.

Kami pergi sekitar ber-14 orang dengan menyewa dua mobil. Agak rusuh ini kalau pergi beda mobil, soalnya kita jadi tunggu-tungguan di perhentian kilometer tertentu supaya bisa bareng.. Lain lagi soal rombongan mobil yang satu kepingin makan di sini, rombongan satunya mau makan disana.

IMG_5991
Sebagian yang ikut Trip Lembu

Saya jadi mahfum kenapa ada nara sumber yang sempat bilang kalo dia lebih suka pergi traveling sendiri atau maksimal cuma pergi ber-3. Rempong yes (tergantung sudut pandang)…. bagi yang suka rame atau berisik nampak tidak masalah. Karena traveling itu seharusnya kan quality time buat tiap orang dan harus dinikmati, ya kalau ternyata traveling yang agak rusuh adalah sisi menyenangkan bagi seseorang itu bukan sesuatu yang salah.

Never mind, saya lagi nggak fokus sama hal itu tapi saya bete kalau di hari Sabtu saya pergi nge-trip masih menyisahkan sedikit lagi pekerjaan. Lalu mood akan hilang seketika, tidur yang kurang diganti saat perjalanan di mobil. Dan kepergian ke Lembu ini sekedar hanya latihan fisik aja ya sebelum perjalanan ke Lombok, Rinjani.

By the way, Gunung Lembu bukan tujuan awal kemping di pelarian weekend kali ini. Rencana awal kami itu ke Gunung Gede, tapi karena memang belum izin-Nya kesana kan, sampai penghujung hari H keberangkatan ke Gede pun diundur karena event maraton, terus bulan puasa kan udah deket, jadi nggak memungkinkan.

Menurut saya dari segi keindahan Lembu itu biasa aja, sepanjang hutan, sama bukit (minta ditimpuk banget karena ngebandingin sama Rinjani). Tapi bisa menghirup udara segarnya bagi kaum urban yang kesehariannya kena polusi di Jakarta itu jadi kebahagiaan sederhana. Sekalian lah bisa latihan fisik dan mental, mengenal medan gunung yang berbeda untuk ditaklukan. Cukup pergi Sabtu pagi dari Jakarta, kemping semalam dan hari Minggu siang kamu bisa pulang. (Kemping Ceria)

Masih penasaran nggak sama nama Lembu? waktu disana sih cuma menemukan beberapa Lembu (Sapi), tapi kotoran sapinya lebih banyak, katanya itu yang membuat tempat ini disebut sebagai Gunung Lembu.

IMG_5935
Sampai di lokasi sumber air, view Waduk Jati Luhur-nya udah terlihat
JAVA - Indonesia

Good Morning Bandung – Dusun Bambu

DSCN4006
Pemandangan sawah seperti di desa, pagi yang masih berkabut di Dusun Bambu

Hanya tiga jam dari kota Jakarta, Bandung sering menjadi tempat pelarian melepas penat. Weekend di Bandung sudah pasti macet, itu resiko. Melawan kantuk dan rasa lelah, pagi itu sekitar pukul 7 sampai juga kami di sekitaran Bandung atas. Melewati jalan meliuk-liuk yang saya tak hafal rute-nya, here we are Dusun Bambu….

Dusun Bambu punya banyak pemandangan pohon, menjulang tinggi. Disini kamu juga bisa melihat restoran dengan konsep unik, yang romantis buat dinner. Kantinnya seperti halnya kalau lagi ke Eat and Eat di Mall Jakarta, tapi mereka punya mata uang sendiri yang bisa ditukarkan. Makan di kantin ini harus nunggu jam 10 pagi dulu baru buka 🙂 🙂 secara aku dan kawan-kawan datang kepagian jadi kami foto-foto dulu.

ini restonya yang tersendiri dan harus pesan tempat dulu... unik
ini restonya yang tersendiri dan harus pesan tempat dulu… unik

Sambil menikmati hawa dingin Bandung bagian atas, ngopi-ngopi cantik, cobain kulinerannya yang beragam dari makanan tradisional sampai ice cream Singapura (ngapain jauh-jauh ke Bandung nyobain ice cream uncle)…Cobain makanan khas Betawi seperti kerak telor atau Mie Kocok Bandung.

SONY DSC
Ini yang kubilang semacam bungalo untuk dinner itu…

Sedapppp….. mereka sudah punya standart rasa enak yang sama, jadi nggak khawatir soal rasa ya…. Kuliner memang nggak ada matinya, tapi entah mengapa saya lebih tertarik dengan street food di jalan-jalan seputaran Bandung.

Batagor atau ketupat tahu, yang kalau tanya ke lambung mereka pasti teriak kalau nggak muat semua itu untuk dicerna dalam sekejap. Di mobil aja saya sama Ika (salah satu temen barengan trip kali ini), sudah janjian mau nyobain ini itu, tapi karena berdua makan-nya sedikit kita sepakat untuk ngabisi sepiring berdua aja 😀

Di Dusun Bambu kamu juga bisa beli oleh-oleh khas Bandung… (kalau saya lagi nggak mood beli) dan lebih sibuk dengan pemandangan taman bunga-bunga ….. zzzZzZzzzzzz terus ngopi-ngopi sambil bengong duduk.

Bunga-bunganya bagus
Bunga-bunganya bagus

Sambil ngantuk juga soalnya semalaman nggak tidur… mata sembab banget. Bandung walau bagaimanapun selalu jadi tempat pelarian yang tak membosankan, sekedar tancap gas aja lewat Tol Cipularang.

Kalau saya bilang Dusun Bambu ini cocoknya dikunjungi untuk family gathering, karena fasilitasnya ada taman-taman dan area permainan bagi anak. Mungkin cuma area bungalow untuk dinner yang pas buat acara makan malam romantis…. (lalu jadi kepingin)

How to Get There??? Konsentrasi saya kabur. Jalan ke Dusun Bambu cukup ditempuh sekitar 30 menit dari pintu Tol keluar. rutenya….. lupa…. bisa googling mungkin. (Lalu ditimpuk pembaca. hehehe :D).

Tapi kamu yang betul-betul mau kesini merasakan udara segar Bandung patut bela-belain… googling ya, pakai aplikasi Waze buat instruksi mencapai tempat itu, rute-nya akan mudah.

Taman bunga-bunga dimana-mana, kesini lagi yuk ……..