LIFE, story, The Journey, Traveling

Refleksi Traveling 2016

Tiba di penghujung tahun…. akhirnya! Saya suka moment ini soalnya berganti kalender biasanya akan ada resolusi baru dan semangat baru. Betul kan? Daripada memikirkan hal-hal yang ternyata tidak tercapai sementara semuanya harus lewat saja.

Semakin kesini-sini, bertambah dewasa karena pengalaman dan usia, semakin banyak kesalahan yang dibuat jadi makin mengerti hidup kan? Seperti kata Paulo Coelho di salah satu kutipan novel berjudul Brida “Tak ada yang benar-benar salah. Bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam sehari,”.

Intinya “Take a risk, make mistake . . Be brave,” ini kesimpulan saya pribadi. Di novel lainnya berjudul Eleven Minutes, Coelho juga punya pesan yang sama, untuk tidak takut mencoba. Berani mengambil resiko hidup dan belajar, ya mungkin disitulah jalan untuk menemukan setiap makna .. Jalan yang diberi Tuhan mengenal diri dan belajar kehidupan. Selagi masih muda, wajar jika melakukan kesalahan, asal jangan dibawa-bawa lagi saat tua. (NOTE)

Oke ini panjang kali lebar sekali, soalnya traveling bagi saya bukan sekedar jalan-jalan, menghilangkan suntuk kerja (ah serius saya hampir tidak pernah merasa suntuk kalau kerja, saya suka kerjaan yang sudah sesuai cita-cita ini). Tapi traveling buat saya pribadi itu lebih ke pencarian jati diri, mengenal ke-Maha Kuasa-an Allah, soalnya di saat-saat traveling justru ada banyak perenungan dalam diri, belajar mensyuri nikmat Ilahi, dari tempat-tempat dan orang-orang yang ditemui.

Di Rumah Radank, Pontianak

Yuk ah cek, tahun 2016 sudah jalan kemana saja? Terus apa yang dipelajari dari perjalanan itu??? Disini bulan Januari dan Desember kosong alias nggak pergi kemana pun, soalnya bulan itu memang masa-masa rehat. Lalu Juni, berhubung bulan puasan dan Lebaran, jadi fokus ibadah.

(1) Februari 2016 : Pontianak , Kalimantan

Perjalanan ke Pontianak itu karena pekerjaan. Tapi tetep bisa piknik colongan ke Rumah Radank di dekat pusat kota Pontianak. Selain bisa mampir satu jam buat belanja cari kain khas dari Kalimantan buat kenang-kenangan.

Pontianak secara culture memang banyak juga etnis Tiongkok, makanya tradisi Imlek maupun Cap Gomeh disini lumayan ramai dirayakan. Pas saat Tahun Baru China itulah saya kesana dengan misi liputan event.

(2) Maret 2016 : Gunung Ciremai, Jawa Barat

Ini pertama kalinya saya pergi mandiri ke sebuah gunung, tanpa ikut open trip. Nekat juga, perginya bertiga dengan dua teman wanita. Pelajarannya, ketika mau naik gunung itu kamu bukan sekedar cari temen buat barengan naik gunung. Hal penting lain sebelumnya kenal dulu sama temen barengan supaya tidak terjadi hal-hal membahayakan.

FYI naik gunung itu butuh fisik dan stamina oke, tapi kedua teman saya betul-betul ternyata harus sangat di “tungguin”. So, naik gunung jangan musim hujan juga, kemungkinan buat sampai puncak juga bakal mungkin kalau kamu punya partner yang oke. Disini saya belajar menjadi sabar dan lebih mau mengalah tidak egois dengan diri sendiri.

(3) April 2016 : Gunung Gede, Jawa Barat

Ternyata akan lebih menyenangkan kalau pergi dengan orang yang memang klop sama kita. Destinasi seperti apapun atau suasana lelah bagaimana akan tetap fun!.. Ini saya rasain waktu pergi bareng Esti, Bonar, dan Uyung. Kita semua kalem tapi masih bisa lucu-lucuan.

Dari sini saya belajar, untuk lebih pilih-pilih teman buat naik bareng. Hanya ikut-ikutan atau memang pecinta alam?

(4) Mei 2016 : Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur

Tidak disangka, saya dapat kesempatan buat ke Derawan gratis lewat sayembara di Instagram yang diumumkan sejak April. Dari iseng-iseng ikutan repost flyer Derawan Fisheries. Dari sini makin semangat nge-blog, terus mencoba keluar kotak.

Pertama kali juga saya nyoba scuba diving. Di 2016 memang saya banyak sekali belajar mengenal laut, contohnya sampai mau les renang. Walaupun itu hanya bertahan 3-4 kali pertemuan dan tetep lebih menemukan feel traveling yang enjoy di gunung.

(5) Juli 2016 : Gunung Kerinci, Jambi, Sumatera Selatan.

Yeah! Di bulan Juli saya akhirnya bisa cek list salah satu resolusi penting yaitu ke puncak gunung api tertinggi, Gunung Kerinci. Dibalik perjalanan kesana saya merasakan banget ada “tangan Tuhan” yang menolong saat pendakian. SubhanaAllah tak bisa dilupakan dan jadi satu jalan bersyukur lebih dalam kepada Yang Maha Kuasa.

Meski entah saya yang terlalu fokus sama keinginan mencapai Kerinci, justru harus kehilangan peluang lain yang buat sedih di tahun ini… 😶. Entahlah atau memang takdir bukan rezeki saya bersanding dengan jodoh saya di tahun ini. (Masih sedih kakak) 

(6) Agustus 2016 : Gunung Prau dan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah

Di Gunung Prau dan saat perjalanan ke Dieng adalah bentuk lain kekuasaan Allah dengan mengirim pertolongan-Nya. Disini rasa makin bersyukur memaknai perjalanan dan makin belajar bahwa segala sesuatunya memang atas izin Allah.

(7) September 2016 : Bangka, Kepulauan Bangka Belitung

Nah! Selang sebulan kemudian, saya kembali tugas liputan luar kota. Masih dekat, cuma sejam dari Jakarta dan nyebrang pulau sebentar ke Bangka. Disini perjalanan kuliner luar biasa menyenangkan. Kilat semuanya, Alhamdulillah ya syukur lagi bisa mampir ke Bangka untuk kedua kalinya.

(8) Oktober 2016 : Yogyakarta dan Kediri

Bulan berikutnya saya izin cuti buat liburan keluarga, sebelum adik saya menikah sebulan setelahnya. Sekalian liburan keluarga ada perjalanan spiritual juga ke Kediri. 

Saya jadi berfikir bahwa liburan keluarga memang sangat perlu. Entah walau hanya ke taman safari pun, itu perlu buat lebih saling bersyukur. Kan tidak semua orang dilahirkan punya keluarga lengkap dan rukun. Makin banyak bersyukur, betapa berartinya keluarga. I love you mom and dad 😘.

(9) November 2016 : Banda Naira, Maluku Tenggara

Ini perjalanan tak disangka-sangka. Liputan yang lumayan jauh setelah sekian lama tidak ke Indonesia bagian Timur. Dulu terakhir banget ke Papua, Raja Ampat tahun 2011. 

Maluku itu salah satu kepulauan yang memang masuk wish list. Karena sudah semua pulau touch down. Jawa,Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Lombok, Bangka Belitung, Bali, tapi Maluku belum sama sekali. So, perjalanan ini berharga sekali terlebih Banda Naira, kepulauan yang saya datangi ini penuh cerita sejarah. Mencapainya juga cukup sulit, perjalanan darat, laut, udara dengan biaya yang tak sedikit. So, ini bagian dari izin dan rezeki juga dari Allah. 😀

Advertisements
culinary, Kuliner, Liputan, MALUKU - Indonesia, story

Maluku dan Cerita Kuliner Khasnya

 

img_20161130_165847
Pisang Goreng di Maluku, Ambon… bedaaa

Sepanjang liputan di Banda Naira, Maluku, hampir tiap hari ketemu segala macam seafood. Berhubung dekat laut, harga ikan dan kawan-kawanan laut juga lebih murah. Pagi sekali begitu tiba di Bandara Patimura Ambon, mobil jemputan pun cussss cari sarapan di pinggir jalan sebelum sampai Pelabuhan Tulehu.

Tak sekedar ikan saja, disini yang beda adalah ketika makan bersama nasi kelapa. Mirip nasi uduk tapi beda rasa gurihnya, dilengkapi sambal colo colo yang khas Maluku. Sambalnya asam pedas, karena memakai perasan jeruk nipis, potongan tomat dan cabai.

Ikan yang begitu saja dibakar tadi karena masih segar terasa manis dagingnya. Sudah pas pokoknya bila dipadu sambal colo colo yang asam pedas. Semua terasa segar, walau sebenarnya kalau sarapan menu lengkap seperti ini terlalu kebanyakan buat saya.

img_20161126_070800
Ikan batu batu yang cuma dibakar, lalu ada nasi kelapa dengan tambahan potongan ikan tongkol dan bakwan, yang segar juga sambal colo colo dengan tambahan daun kemangi.

Kuliner yang buat saya mikir saat memakannya adalah kue Suami. Mikir aja, ketika tahu itu namanya suami. Kenapa juga ya dikasih nama itu. Unik memang namanya,  makanan ini dibuat dengan bahan dasar kasbi (singkong) yang dicampur dan diolah dengan bumbu-bumbu khas lainnya.

Saya mencicipi saat mampir ke Pulau Banda Besar, di Desa Waer (disini nggak ada sinyal sama sekali) yang untuk kesana perlu naik speed boat 30 menit dari Pulau Naira. Buatnya unik, bukan sekedar singkong tapi ketika memeras airnya dengan cara manual di tindih batu kali.

Selain suami, yang buat saya meleleh sampai sekarang adalah waktu mencicipi kue Cara waktu sarapan di hotel. Nambah dong, nggak ngambil hanya satu. Tapi makan 2 saja sudah kenyang.

Kue Cara ini seperti kue talam atau kue lumpur menurutku, versi gurih tapi. Rasanya perpaduan gurih santan dan taburan ikan tongkol di atasnya yang buat enak. Karena memakai tambahan irisan cabai, kue ini seperti nyelekit pedas walau sebentaran.

img_20161130_165553
Rujak Natsepa, rujaknya beda bumbu kacangnya lebih banyak dan dominan 🙂
img_20161128_142617_1480332241514
Kue suami, yang warna putih. Jadi kalau ditanya kapan punya suami? jejelin aja ini kue ke yang nanya 🙂

Lalu pisang goreng di Ambon juga beda sama pisang yang ada di Jakarta. Rasanya manis matang di pohon dan besar-besar ukurannya. Coba aja kalau lagi di Ambon atau Banda Naira, pisang ambon disini digoreng tepungnya juga seperti dibalut gula jawa, padahal nggak sama sekali. Metode masak orang Maluku yang membuat rasa sama warnanya jadi beda.

Tapi kalau spesialnya, Maluku itu terkenal dengan buah Pala, bahkan sumber penghasil Pala di abad ke-16. Terutama di Kepulauan Banda Naira. Jadi kalau ke Maluku terlebih mengunjungi Banda Naira, harus banget nyicipi aneka olahan buah Pala.

Meski di Pulau Jawa kita biasa menemukan manisan buah pala. Masih banyak olahan Pala, seperti selai Pala, sirup Pala. Kalau di cafe sekitar pulau Naira kamu bisa menemukan yang menjual pancake nutmeg (nutmeg bahasa Inggris Pala). Rasanya beda, ada asam dan aroma pala.

Dan yang terakhir saya coba sebelum take off ke Jakarta .. Rujak Natsepa. Ini rujak buah-buahan sebenarnya, namanya menjadi Natsepa karena dijual di pinggir Pantai Natsepa. Yang membuat rujak ini beda, bumbunya diuleg bersama kacang yang mendominasi bikin gurih. Jadi bayangkan saja, saat panas cocok banget makan Rujak Natsepa ini sambil kepedasan.

kue-cara
Kue Cara, rasanya gurih enak dari kelapa dan taburan ikan tongkol, ada pedas cabenya pula 🙂

MALUKU - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Terusik Cerita Hantu di Benteng Belgica – Banda Naira

Sejak awal saya tak terlalu mendengarkan celotehan Pak Hamim Wiro, warga lokal Banda Naira yang menjaga Benteng Belgica. Tapi makin panjang bercerita beliau makin banyak membagi kisah mistis yang membuat bulu kuduk kami serombongan merinding berdiri.

Tak terlalu menganggap kata-katanya sebagai sesuatu yang serius. Saya hanya membalas dengan kata-kata santai, selagi melihat teman-teman yang lain justru penasaran bertanya lebih lanjut.

“Haduh nanti dari liputan6.com bakal keluar judul berita cerita mistis di Benteng Peninggalan Belanda ini,” kata saya spontan.

Tapi Pak Hamim justru makin membuat yang lain takut, termasuk saya dengan bercerita sosok-sosok yang sering terlihat di Benteng yang dibangun pada abad ke-16 ini.

Bahkan dia nyemperin saya dan bilang pernah ketemu sesosok perempuan berambut panjang yang postur tubuhnya mirip saya lagi nangis darah. Hiiiiiiiiii (oh sialnya kenapa disamakan dengan saya sih).

Ketika sore sebelum magrib, masih sekitar pukul 17.00 WIT dan langit masih dengan keganasannya yang terik. Berhubung agenda keliling pulau mengitari sekitar Banda Naira tak jadi sebab tak kedapatan bensin, rombongan liputan dari Bintang Nutricia memutuskan mengunjungi Benteng Belgica. Letaknya tak jauh dari hotel kami menginap, Hotel Maulana. Cukup berjalan 500 meter hingga 1 KM jauhnya. Jalan kaki, bisa cukup nyaman dengan bersendal jepit.

Itinerary peliputan yang cukup tentatif membuat saya agak bingung mengatur wardrobe. Kan harus disesuaikan, kalau ke pantai pakai sesuatu yang mudah kering saat harus kena basah. Kalau hanya jalan-jalan di sekitar pulau cukup dengan jeans dan outer . Selain biar cocok sama suasana, di setting pengambilan gambar. Anak Instagram banget ya.

Oke balik lagi ke cerita hantunya. Jadi Pak Hamim yang sudah menjaga benteng selama 26 tahun itu nggak berhenti ngoceh soal penampakan-penampakan yang dia lihat. Makin banyak diceritain, katanya ada bule yang datang ke benteng saat malam hari.

Bener-bener deh, mau uji nyali atau apa dateng ke Benteng tanpa penerangan pas gelap gitu? Mungkin hanya drakula yang buat si bule bakal takut.

Kuping rasanya makin panas karena ceritanya makin ke arah mistis. Saya jadi takut sendirian buat ke bagian atas benteng. Sambil membujuk beberapa teman buat naik melihat bagian atas, maksudnya supaya menjauh dari Pak Hamim yang nggak berhenti buat memberitahu penampakan apa saja yang sudah dia lihat.

Istighfar aja yang banyak dalam hati, jangan sampai itu penampakan ikut kepotret di kamera saya. Fuiiihhhh…… Beberapa sudut yang gelap di Benteng Belgica memang terlihat suram. Termasuk pada bagian tengah yang ada lubang seperti banker persembunyian dan untuk menurunkan orang dari atas.

Katanya lubang juga pernah dipakai sebagai tiang gantungan dulunya. Zzzzzzz…Sudut-sudut yang gelap sebaiknya jangan didekati, saya memilih untuk langsung naik tangga ke atas, penasaran dengan pemandangan dari atas Benteng.

Namun ketika sudah di atas Benteng, Pak Hamim masih saja mengumbar cerita penampakan. Ya Allah….Saya sibuk foto saja pokoknya. Dan memang pemandangan dari atas luar biasa. Ada penampakan Gunung Api yang megah, dibaliknya matahari terbenam bersiap memberikan pertunjukan sore keemasan.

Selain gunung, dari  Benteng Belgica yang berbentuk persegi lima dengan lima menara ini juga punya pemandangan laut lepas sekitar Banda Naira yang menawan. Pantas ya kalau tempat ini sejak 1995 silam dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Menurut Pak Hamim, sudah dua kali terjadi pemugaran yaitu di tahun 1935 dan 1991. Berubahnya tembok rusak biasanya diperbaiki dengan cara ditembel.

Tak sia-sia Pak Hamim menjaga benteng peninggalan ini karena dia pun digaji Rp. 1 juta per bulan oleh Balai Pelestarian Benda Purbakala Ternate. Gajinya sama dengan penjaga rumah pengasingan Bung Hatta.

Menurut situs Wikipedia, awalnya Benteng Belgica adalah sebuah benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad 16 di Pulau Neira, Maluku. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC di tahun 1611.

Benteng diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.

Pintu masuk ke dalam Benteng Belgica

Pertengahan tahun 1662, benteng ini selesai diperbaiki dan diperbesar sehingga mampu menampung 30 – 40 serdadu yang bertugas untuk menjaga benteng tersebut. Namun di 1669, benteng yang telah diperbaiki tersebut dirobohkan dan sebagian bahan bangunannya digunakan untuk membangun kembali sebuah benteng di lokasi yang sama dan selesai pada tahun 1672.

Sepulang dari Benteng Belgica, sembari becandaan teman-teman seperjalanan kadang masih mengumbar cerita hantu dan itu apalagi postur saya dibilang mirip penampakan hantu. “Hayo siapa yang sekamar bareng,” olok-olok meresahkan.

Masih loh, rasanya ada ngeri. Apalagi di saat malam kami harus ke Hotel Cilu Bintang buat dinner. Hotelnya tepat percis di depan Benteng Belgica. Yang ada memang tunggu-tungguan, siapa yang mau jalan di depan. Takut diikutin sampai ke hotel. Alhasil memang semalam itu saya agak kesulitan tidur, antara kedinginan AC dan takut sampai harus tutupan selimut.

Liputan, MALUKU - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Banda Naira – Jejak Sejarah di Pulau Pengasingan

Panas terik hampir 39 derajat, Indonesia bagian Timur. Di Pelabuhan Tulehu, Kota Ambon terasa makin panas saja seolah terik ikut memantul di riak-riak air pinggir dermaga tempat beberapa kapal besar berlabuh.

Antrian tak karuan di loket tiket kapal Express Bahari yang hanya ada seminggu 2 kali menuju Banda Naira itu pun terlihat sibuk. Turis asing perempuan berambut pirang agak tua ada diantrian depan, dengan berlembar uang ratusan ribu ditangannya.

Semua orang seperti ingin bergegas naik kapal, melepas lelah karena semalaman tak kedapatan tidur di pesawat. Perjalanan 6 jam di atas kapal cepat ini bisa jadi kesempatan meringkuk karena sepanjang itu dimana-mana hanya akan ada genangan air, seperti laut tanpa berujung.

Perbedaan waktu 2 jam dengan Jakarta membuat penerbangan dini hari jadi incaran. Agar sesampainya di Kota Ambon bisa pagi betul di Pelabuhan Tulehu ini. Tepat beberapa jam sebelum kapal cepat berangkat, pukul 09.00 pagi.

jalan-di-banda-naira
suasana di Banda Naira dengan jejak peninggalan sejarahnya

Setelah Agustus lalu berkesempatan liputan ke Bangka, pulau Pengasingan Bung Karno. Tak menyangka akhir November 2016 kemarin saya melengkapinya dengan mengunjungi Banda Naira, pulau pengasingan Bung Hatta.

Dan, Banda Naira bukan cuma tempat pengasingan Bung Hatta saja, ada tokoh-tokoh era sebelum kemerdekaan lain seperti Sjahrir dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang ikut diasingkan di pulau ini. Sehingga Banda Naira tak sekedar punya jejak sejarah mendalam karena pernah menjadi pusat dagang  VOC. Banda Naira bisa dibilang pulau pengasingan bagi saya pribadi.

Saya tidak menyangka kalau perjalanan akan semenarik ini. Melewati jalan-jalan dan rumah warga rasanya seperti ditarik mundur ke masa lampau. Tak jauh dari Pelabuhan Banda Naira di depan saya terlihat masjid Hatta-Sjahrir, di sebelah kanan juga berdiri Sekolah Tinggi Perikanan Hatta – Sjahrir dan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Hatta – Sjahrir. Jangan membayangkan universitas yang besar, di daerah seperti ini sekolah tinggi atau setara Universitas itu bangunannya tak semegah kampus di Jakarta.

rumah-budaya-banda-naira
rumah budaya, tapi berhubung agenda saya meliput masih padat saya tak masuk ke dalamnya. In frame : Dwina dari Koran Republika.

Lalu mengikuti jalan besar ada rumah budaya Banda Naira semakin lurus ke sana masih berdekatan ada Rumah Pengasingan Sjahrir, dan House of Captain Christopher Cole dari British Marines. Deretan rumah peninggalan dengan jejak sejarahnya ini masih dirawat dan dijaga bagus.

Pulau Naira yang disebut Banda Naira ini bisa dikatakan pulau utama dari 11 pulau yang ada di kawasan kepulauan Banda Naira ini. Satu lagi pulau yang cukup banyak penduduknya, Banda Besar harus digapai dengan perahu motor sekitar 20-30 menit.

Adapun mengelilingi daratan Pulau Banda Naira hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau menyewa motor. Berjalan kaki pun hanya sekitar 4 kilometer jalan memutar, melewati Benteng Belgica, kemudian mengarah memutar bisa ditemui Istana Mini, Rumah Gubernur Belanda yang sempat tinggal saat masih menjajah dan menjadikan Banda Naira pusat kekuasaan, Rumah Pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo beserta keluarganya, dan terakhir Rumah Pengasingan Bung Hatta.

rumah-pengasingan-bung-sjahrir
Rumah Pengasingan Sjahrir

Sayang rasanya jika tak singgah atau masuk ke dalam melihat-lihat. Namun untuk bisa masuk, silahkan bertanya penduduk setempat. Tiap rumah ada penjaga yang merawat dan memegang kunci rumah.

Rasa penasaran saya akan pulau tempat Belanda melabuhkan kapal dan mencari rempah-rempah diawali dari Istana Mini, karena ketika pergi kesana sedang berlangsung juga acara Festival Dongeng Maluku 2016. Berada disebelah kiri dari Istana Mini, masuk melalui pagar kayu tinggi kamu pun bisa menemui rumah Deputy Gubernur VOC. Di halaman rumah patung gubernur Belanda yang diceritakan paling kejam di masanya (Abad ke-16) ada disini.

Tak mengherankan jika ditemukan banyak bangunan usang bekas pemerintahan Kerajaan Belanda. Tapi pulau ini dulunya merupakan jajahan rebutan bagi Spanyol, Inggris, bahkan ada satu pulau (Pulau Rhun) yang katanya ditukar dengan Kota Manhattan di Amerika sana. Cuma karena berebut Pala seriusssss, Pulau Rhun dianggap lebih berharga dibanding Kota Manhattan.

img_20161127_095647
Gubernur VOC paling kejam yang dibuat patung besinya

Banda Neira pernah menjadi pusat perdagangan pala dan fuli pala (bunga pala) di dunia, karena Kepulauan Banda adalah satu-satunya sumber rempah-rempah yang bernilai tinggi hingga pertengahan abad ke-19. Namun menurut salah satu teman yang asli dari Pulau Banda, harga pala saat ini sedang turun.

Kota modernnya didirikan oleh anggota VOC, yang membantai penduduk Banda untuk mendapatkan pala pada tahun 1621 dan membawa yang tersisa ke Batavia (kini Jakarta) untuk dijadikan budak.

Mungkin karena jejak sejarah yang begitu terukir berabad-abad di pulau ini. Turis-turis yang datang pun kebanyakan orang asing. Mereka datang dari Eropa, bahkan perawakannya terlihat seperti kompeni jaman penjajahan. Bayangkan, Belanda itu menjajah Indonesia 3,5 abad atau terhitung 350 tahun atau sepanjang 7 generasi. Ingin nostalgia ke negara jajahan bisa jadi?

rumah-pengasingan-dr-tjipto
Rumah Pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo

Banda Naira tetap menarik bagi turis walau untuk menggapainya harus menempuh perjalanan udara dan laut yang tak bisa dibilang singkat. Memang dengan kurs mata uang Dollar arau Euro harga tiket pesawat maupun kapal cepat terbilang masih sangat murah.

Dan nampaknya untuk jenis kapal cepat Express Bahari yang lengkap dengan AC, bagi turis asing ini masih terbilang nyaman. Banda Naira maupun Kota Ambon juga tak seramai ibu kota Jakarta, kemacetan meski lengkap bersama bangunan-bangunan megah.

Kamu yang ingin ke Banda Naira, menurut saya tak ada ruginya. Disini begitu lengkap ada wisata sejarah, bisa jelajah ke gunung api, berkunjung ke Benteng peninggalan Belanda, serta wisata pantai, harus banget diving disini. Siapkan aja dana sekitar Rp. 8- 10 juta kalau mau sekalian diving. Saya nanti buat rekomendasi hotel yang sekaligus tempat diving dan buat license sekaligus 5 hari. Yuk,… cari tiket ke Ambon, di tulisan selanjutnya saya juga akan share informasi seputar transportasi ke Banda Naira. 🙂

rumah-pengasingan-bung-hatta
Rumah Pengasingan Bung Hatta, tentang rumah pengasingan ini akan ditulis pada bagian terpisah (khusus).