Singapura - Asia Tenggara, The Journey, Traveling

Spectra a Light & Water Show – Pertunjukan Menakjubkan di Teluk Marina Singapura

Ada apa nih kok rame banget? Oh ternyata lagi ngeliatin pesta kembang api. Eh.. tunggu dulu, bukan! Bukan kembang api tapi laser yang menari-nari.. hahaha teringat tahun lalu waktu lagi liputan di Marina Bay Sands, tanpa direncanakan saat mau balik ke kamar hotel melihat kerumunan ramai di depan teluk, dekat Louis Vuitton.

Takjub, norak iya. Seketika buka kamera hp dan merekam dari jauh dan juga jepret berkali-kali pakai mirrorless. Aku nggak menikmati pemandangan ini sedari awal, makanya waktu ke Singapura lagi awal Maret 2019 ini sengaja mantengin dari jam8.30 malam buat dapet spot di depan.

Hahaha! Alhasil jepretan kamera dan rekaman video aku lebih bangus dong. Aku sharing di blog supaya kalian traveler yang belum kesini bisa memasukan agenda melihat “Spectra a Light and Water Show” dalam itinerary. Soalnya dulu waktu 2013 dateng pertama kali ke Singapura belum ada atraksi ini lho.

Lokasinya di 2 Bayfront Ave, Marina Bay Sands (MBS), Singapura. Gampang banget dicarinya, terus bisa sekalian habis muter-muter Mall MBS dipenghujung malam nonton pertunjukan ini. Cuma 15 menit aja sih, tapi seru dan keren. Turis-turis aja nungguin padahal di negara mereka pasti ada yang lebih keren.

Buat yang backpacker-an tetap bisa nonton dan jangan khawatir karena tanpa tiket alias gratis aja. Pulang nonton Spectra a Light & Water Show kamu bisa pulang dengan MRT, kan deket banget stasiun MRT Bayfront di Marina Bay Sands.

Kalau memang berencana untuk melihat Spectra a Light & Water Show mesti tiba sekitar pukul 08.00 malam, soalnya jadwalnya kadang beda-beda. Ada yang mulai jam 08.00 atau jam 09.00 setiap hari, jadi akan lebih aman kamu sudah tiba sekitar jam 08.00. Kalau pas lagi hujan perlu payung, prepare payung dan lihat ramalan cuaca biar datang jauh-jauh kesini tidak kecewa.

Menurutku akan lebih baik membuat itinerary sehari untuk menjelajahi lokasi wisata sekitar Marina Bay Sands seperti Garden By The Bay, keliling mall Marina Bay Sands buat kulineran di restoran yang ada disini, sampai malam nonton Spectra a Light & Water Show. Jadi kamu nggak perlu capek mondar-mandir banyak lokasi.

Advertisements
Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Philosophy of Mt. Gede

 

SONY DSC
Ini bukan panorama Gunung Gede sih, tapi di Kali Mati Gunung Semeru. Suka aja gradasi langitnya.  Semua gunung itu bikin belajar! Mulai dari Rinjani, Semeru aku selalu ketemu filosofi yang berbeda dari perjalanannya 🙂

Ada banyak hal yang membuatku berubah. Lewat gunung dan kisah-kisah perjalanannya. Dimana seolah Tuhan ikut berbicara lewat apa yang ku alami disana. Tuhan, ikut andil dalam kisah. Aku sangat percaya. Bahkan semakin percaya setelah mengalami semuanya.

“Percayalah. Setiap perjalanan adalah perjalanan hati. Sebagaimana hati hampir selalu menyertai iringan langkah kaki,” kutipan dari seorang teman. Heheh baru kenal, seorang pendaki perempuan yang juga suka mendaki seperti saya.

Walau awalnya, bila perjalanan itu bukan hanya karena hati yang ingin tapi sebuah ajakan. Lambat laut hati pun tetap akan menyertai disana. Sebab mana mungkin kepergian itu bisa terjadi tanpa panggilan hati dan keinginan yang timbul karena bisikan-Nya.

Ketika tuts keyboard hadir dalam wujud huruf ini bukan sebagai memori yang akan diingat saja. Ada satu makna bahwa saat kita meninggalkan satu dimensi waktu kejadian lampau dan bergerak ke pembaharuan waktu, disitu selalu ada pengertian baru. Bahwa Tuhan lebih memahami kita dari siapapun juga di dunia ini.

Kala itu di Gede. Aku membaca, hingga sampai pada memahaminya lewat perjalanan itu. Kemudian aku belajar.. Karena kuasa-Nya aku bisa sampai, sejejak.. dua jejak ketika lelah aku berhenti. Disana aku melihat dan merasakan sejuk dari waktu beristirahat.

Tapi berhenti sejenak tentu takan lama, kaki tetap harus melangkah dan kembali merasakan perjuangannya. Meski rasanya memang ingin sekali terus menikmati kenyamanan ini. Duduk di bawah pohon rindang. Etalase alam.

DSCN8352
Di Gunung Gede itu banyak banget mebel alias furnitur alam yang enak buat duduk, hehehe betah duduk tiduran istirahat mangkanya 🙂

Perjalanan itu harus ada titik temunya, sebuah tempat tujuan. Karena tak pernah lewat jalan itu sebelumnya, tentu kita tidak tahu seberapa jauh lagi, berapa lama lagi. Hanya ada petunjuk jika telah sampai di pos ke 4 tempat berkemah sudah dekat. Petunjuk lain, bertanya teman pendaki yang ingin balik turun lewat jalur kami naik. Ya, itu tapi hanya jadi perkiraan saja, tak sepenuhnya tepat.

Bukan itu intinya, bukan hanya karena tujuan ingin sampai. Tapi sebuah proses.. ketika dalam perjalanan itu kita menikmatinya, bukan terburu-buru ingin sampai. Sesekali berhenti untuk memandangi warna hijau daun tak pernah salah. Sesekali mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak pun itu kenikmatan. Bukan ingin berhenti, tapi rehat sejenak dan membaca perjalanan itu. Biarpun tetap ada batas sampai kapan memulai lagi.

Perjalanan seringan atau seberat apapun itu yang kubutuhkan adalah terus melakukan perjalanan itu sendiri. Bukan berbalik badan untuk menyerah. Juga tak terlalu lama tergiur dengan kenyamanan atau terlalu lama beristirahat.  Agar ku bisa sampai pada satu titik telah berada di tujuan. Semua rasa lelah kaki mu pun terbayarkan. Ya,… aku menang Tuhan. Menang dari pertempuran ego diriku sendiri.

(FYI sededar kiasan saja)

 

Backpacker, Indonesia, KALIMANTAN - Indonesia, The Journey

Preparing, Derawan Project 2016!

foto 2
Instagram saya bakal diwarnai oleh biru langitnya Derawan! Amiiin, InsyaAllah.

Alhamdulilah,… keisengan berbuah rejeki. Akhir Maret 2016 silam, namanya juga anak Instagrames banget. Dikit-dikit buka Instagram, tahu info acara apa dari Instagram.

Nah saya jadinya ikutan semacam kontes pemilihan peserta ajang namanya Meet & Trip yang tahun ini diadakan oleh @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise.

Tanpa menunggu lama, dua jam setelah kirim email ke panitia saya dihubungi sebagai salah satu yang berkesempatan ke Derawan, yeayyy! Ini rasanya murni keberuntungan banget, karena syarat-syaratnya cukup bisa saya jangkau.

Hanya dengan me-repost flyer acara Meet & Trip, harus punya blog karena nanti perjalanan mesti ditulis, dan mention 3 teman di Instagram buat ikutan, nggak lupa follow ketiga akun @derawanfisheries, @fisheries.eco dan @indonesia_paradise yang merupakan sponsor acara. Hehehe

Saking kesenengannya, langsung googling dan berspekulasi. Di dekat Derawan atau di Kota Berau ada gunung yang bisa di daki nggak ya? atau ada tempat bagus lainnya yang bisa sekalian disambangi. Kan lumayan tiket Jakarta-Berau-Jakarta PP yang saya beli hampir Rp. 2 juta.

foto (1)
Di dekat Derawan ada berbagai pulau untuk tujuan snorkling dan diving. Nah salah satunya di Maratua…. kamu bisa pose begini…  foto by Instagram.

Biar efektif perginya bahkan kepingin mampir dulu ke Balikpapan sekalian nunggu transit pesawat menuju Berau. Sayangnya di Balikpapan, sebuah tempat seperti hutan yang kelihatannya menarik letaknya cukup jauh. Biaya sewa mobil kalau sendiri juga bisa berat banget.

Kepingin yang dekat dari kota, tapi kok kurang menarik ya setelah di cari tahu foto-fotonya. Taman Mangrove Margo Mulyo, yang di Jakarta Pantai Indah Kapuk aja belum pernah… hehehe, lalu ada Kampung Air Margasari, eh tapi kok rasanya biasa saja di foto-foto yang saya temukan.

Sampai akhirnya berfikir, ya kalau nanti bisa ke Borneo lagi, sekalian aja agak lama. Trip kali ini memang daerah Berau Kalimantan Timur saja, nekad pun akhirnya memilih Labuan Cermin sebagai destinasi tambahan.

foto (6)

FYI buat ke Labuan Cermin itu ternyata jauhhnya… 8 jam lho dari bandara Berau dan ongkos sewa mobil disana nggak nyantai banget bisa hampir Rp. 1 juta PP hehehe.

Satu frekuensi sama saya, beberapa rekan yang kepilih traveling bareng Meet & Trip juga punya tujuan sama, ke Labuan Cermin.

Yesss! ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. Sudah ada 6 orang fix ke Labuan Cermin, tapi ternyata panitia Meet & Trip nawarin extand ke Labuan cermin, so….. kami nggak jadi sewa mobil sendiri hehehe semuanya free 🙂

Fasilitas apa saja yang bakal di dapat selama trip ke Derawan 4 hari 3 malam itu???

  1. Liburan gratis 4 hari 3 malam
  2. Mobil transfer Bandara PP
  3. Speedboat selama tour
  4. Mengikuti discovery diving
  5. Makan selama trip
  6. Menginap selama 3 malam di watervilla
  7. Explore Pulau (Kakaban, Maratua, Sangalaki) + Whaleshark point

Lumayan kan guys. Kalau bisa ya,… sampai Danau Labuan cermin,  siangnya bisa menikmati pantai-pantai di sepanjang Biduk-biduk atau menuju Teluk Sulaiman. Hehehehe marukkk 😀

 

Asia, Backpacker, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)
foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.
foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂

Backpacker, Traveling

Country That I Wanted to Visit

foto (8)
The description land og Egypt. There a desert and camels.

Sunday morning, ohhhhh I like Sunday morning …. and on the last day of February it’s a rainy day.  I want fantasizing first. Delusional can travel the world and go into these countries, hihihihi 🙂 *Laughing*

India
Steeped in culture, I think India is a unique country with religious diversity in it like Indonesia. Dominant with a population of Hindus, many things that make India as an attractive country for me personally.

Indian people or their descendants can be found everywhere as Chinese people. Even in Indonesia, the owner of film production houses are also of Indian descent. Do you know the the Ram Punjabi ?? hehehe

But I am interested to enter the valley of the Gangga river, Taj Mahal as a famous and iconic in the world, then I want to know the original Indian food like what ?, also about Yoga, things spiritual smelled of India.

Japan
Japan as well as the rich Indian culture. Maybe it’s because I was mostly watching Japanese dramas huh? but the country is indeed a fascinating country, especially if we go to Japan, I’d love to climb Mount Fuji. One purpose only,  Mount Fuji beside Tokyo city.

 

china-yunnan-province-mapEgypt
Egypt is famous for its civilization, in history books, even the history of the prophet, of the Pharaohs, the Pyramids, the desert, traveling by camel there, the Nile, and what the atmosphere of this country that is portrayed in the movies. Also want to try different culinary.

China
China was spacious, but I want to visit  Yunnan, the highlands or mountain area with a lot of hills. reportedly there is also a set of Muslim population. Besides Yunan, I want going to Beijing which is part of the town of magnitude, to be really into the famous Great Wall of China.

yunnan
Louping, Yunnan Province, China

Saudi Arabia
Why Saudi Arabia? because I wanted to have a spiritual experience. Umrah or Hajj apart from one command when we’ve been able to.

Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Pendakian Semeru – Dangdutan Pagi, Pakde Angkat dan Semangka Dingin

 

 

IMG_7518
Pemandangan di depan Danau Ranu Kumbolo (dari samping). Berkabut, masih pagi sekitar pukul 07.00 waktu Malang.

Betapa jarangnya pemandangan saat-saat piknik ke gunung. Membawa tas carrier yang menggunung tinggi melewati pundak. Seperti apa orang yang tetap merasa gembira dengan lelahnya membawa beban sambil mendaki? Lalu kesenangan apa yang kerap datang dan membuat diri selalu rindu untuk kembali?

Kereta Ekonomi jurusan Jakarta – Malang baru saja tiba di stasiun sekitar pukul 01.00 dini hari. Hampir hening, tak banyak orang hingga kami rombongan trip ke Gunung Semeru (Gw, Esti, Vivi, Bonar) nggak begitu sempat memperhatikan sekeliling. Kami keluar stasiun, jalan mengekor sampai berhenti di satu sudut trotoar dan menunggu jemputan Angkot.

Menaruh barang bawaan, peralatan semacam trekking pole, bahan makanan dan bla-bla-bla. Ketawa-tawa sama kelakuan diri sendiri bawa tas carrier segede itu. Di dalam angkot, kami mulai ngobrol. Sambil melawan kantuk.

Nggak kebayang kalo kita perginya jadi ber-8 orang seperti di rencana awal ya, sempit banget angkot-nya ini pasti,” ujar Esti sambil ketawa-tawa.

IMG_7559
Istirahat sebentar, Bonar sama Vivi teman seperjalanan ke Gunung Semeru.

lalu celotehan Esti tadi disambut tertawaan oleh kawan yang lain. Jelas sekali seperti apa jadinya kalau kami berdelapan. Berempat saja dengan tas carrier setengah ukuran badan, rata-rata 50 Liter sudah bikin penuh. Bisa jadi tas carrier kami diikat di atas angkot sih, baru muat penumpangnya duduk di dalam kalau perginya berdelapan.

Hahaha, kebayang kalau ada Irol, Mbak Nana, dan Kaput yang akhirnya nggak jadi ikut, setelah satu penundaan. Berkat insiden pendaki hilang tepat sehari sebelum jadwal kereta berangkat. Gagal berangkat di bulan Agustus, tapi setengah rombongan kekeuh berangkat dan re-schedule pendakian di pertengahan September (2015).

Pagi buta, cukup dingin untuk orang Jakarta seperti kami yang lumayan kaget dengan perkiraan cuaca sejuk di Malang. Sekitar 25 menit kemudian sampai juga sewaan angkot di depan guesthouse, rumah tinggal warga sebagai tempat istirahat sebelum mulai mendaki.

Kepalang tanggung, hampir jam 02.00, tapi lumayan kalau sekejap pun dipakai tidur supaya badan lebih fit sebelum pendakian. Rencananya jam 09.00 setelah sarapan, kami dijemput mobil jeep menuju desa Ranupani. Tempat start mendaki, tapi seperti Tuhan tak kehilangan skenario menarik.

Malang itu cuaca dinginnya bikin beku, padahal ini sudah di dalam rumah lho… Esti sama gw berusaha tidur tapi nggak bisa-bisa karena dinginnya nusuk. Ganti posisi tidur menghadap ke samping, sambil ada adegan menggigil seperti orang kena meriang. Terus gw udah buka sleeping bag sama pake selimut tetep aja DINGIN. Hampir setengah jam rasanya bisa tidur lalu kebangun lagi, menggigil.

SONY DSC
Luaaaaaaasss banget Semeru 

Lah yang lain kemana? ternyata mereka ada di ruang tamu depan, tidur di bangku yang suhunya lebih hangat. Kita berdua ikutan pindah tidur disaat-saat adzan subuh sudah lewat (jam 4). Vivi, Bonar nyenyak banget tidurnya sampai tiba-tiba ada suara dangdutan keras banget. Jam 5 pagi, ada apa ini? mencari tahu, semuanya penasaran dan berhamburan keluar.

Jam 05.00-an lho ini tapi langitnya sudah agak terang, ohya ini kan Indonesia bagian tengah. Dan memang di samping ada tenda kawinan. Asoyyyyy…. gagal melanjutkan tidur sebelum pendakian gara-gara dangdutan pagi. Kita ber-lima ketawa-tawa aja terusnya sibuk packing dan ngantri mandi. Daripada kan,… nggak bisa tidur juga gara-gara suara keras dangdutan pagi 😀

Si bapak supir sepertinya memang nggak ingin kami sarapan di tempat yang biasa-biasa saja. Makanya setelah kemas barang bawaan dan jeep datang niat sarapan di warung dekat guesthouse malah keterusan hampir berkilo-kilo jauhnya.

IMG_7516.JPG
Ranu Kombolo, kepingin kesini lagi. Entah kapan tapi mau sampai ke puncak Mahameru.

“Pak ini kita nggak apa-apa sarapan yang deket aja soalnya jam 10 harus sampai Ranupani,” kata salah seorang dari kami, pake penekanan ngomongnya.

Tapi tetep aja lho, si bapak supir ngajak kami sarapannya jauh. Disebuah warung sederhana yang jualan pecel kami berhenti. Huffttt akhirnya, setelah naik turun, lewat sawah, ya … lumayan sih jadi banyak pemandanganya pagi-pagi. Sekalian menghemat waktu akhirnya pesan makanan buat lunch nanti, nasi pecel juga dengan telur dan sambal. Dibungkus.

Acara piknik ke gunung itu selalu ada aja adegan yang tak terduga sebelumnya. Sebetulnya bukan kalo ke gunung aja, traveling kemana pun juga. Bikin ketawa, padahal sebenernya diantara kami berlima yang pergi semuanya itu pembawaannya kalem-kalem. Kali ini kejadian saat tidur kita diganggu dangdutan pagi, terus sepanjang perjalanan bikin kita akrab sama potter dan akhirnya jadi kita panggil “Pakde” hahaha Pakde angkat ini, sampai nama aslinya juga lupa.

IMG_7572.JPG
Lihatlah segede apa tas yang kami bawa 😀

Pakde supperrrr, soalnya sering banget sampai duluan, terus dia naruh barang bawaannya dan balik buat bawain tas gw atau Esti ganti-gantian. Hahahaha. Saking baiknya juga, selesai dari pendakian pas makan malem sama sarapan sebelum pulang ke Jakarta kita masih dimasakin. Padahal udah bukan tanggung jawab dia masakin.

Kita diajak main ke rumahnya, terus nyobain menu gulai kambing (pas banget kan, kami ke Semeru saat libur tanggal merah Idul Adha). Makan di rumah penduduk dan bisa akrab layaknya saudara sendiri yang seperti ini bikin acara traveling lebih berkesan. Beda banget pastinya kalau nginap di hotel. (Nggak cocok juga Pam, naik gunung kok nginep di hotel). Hahahaha 😀

Dan ternyata ya di Semeru itu ada tukang jualan juga, bahkan buah semangka disana dinginnya bukan dari kulkas tapi mengejutkan segar dinginnya karena cuaca pegunungan. Ini jadi tak terlupakan, saat istirahat dari Oro-Oro Ombo terus dibawah pohon kita makan semangka dingin. Berhenti di Jambangan, juga ada mas-mas yang jualan Semangka dan gorengan. Jajan lagi…. untungnya bawa uang recehan di kantong Rp. 5000 dapet dua semangka. Segeeeerrr!!!

Hampir tiap pos pemberhentian pas jalan pulang pun selalu ada yang jual semangka. Tetep dengan rasa dingin pegunungan, jadi kalau haus beli semangka. Kalo laper beli tahu goreng, berkah banget buat penduduk sekitar. Tapi jualan di gunung, datang dan kembalinya jauhnya dari rumah penduduk di sekitar desa Ranupani. Ini mirip dengan pedagang di Gunung Papandayan yang susah payah jualan harus lewatin jalan seperti halnya para pendaki.

IMG_7437
Esti menikmati banget sesi merhatiin embun lebih dekat. Berasa semesta ini cuma milik kami, Semeru di bulan September pas banget lagi sepi.

 

Backpacker, Indonesia, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, SUMBAWA - Indonesia, The Journey, Traveling

Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

IMG_6500
Penampakan Istana Dalam Loka, bangunan ini sudah direkonstruksi menjadi lebih baik. Di dalam kita bisa melihat foto-foto raja Sumbawa dulu dan aslinya Istana Dalam Loka dahulu kala.

Istana Dalam Loka sebenarnya tidak ada dalam deretan destinasi yang niat buat dikunjungi saat ke Sumbawa Besar. Tapi ini jadi bonus aja, perjalanan hari terakhir di Sumbawa Besar, sehabis nyebrang dari Pulau Moyo.

Niatnya hanya keliling kota Sumbawa Besar buat beli oleh-oleh macam madu dan kopi. Bang Ian, penduduk asli sana yang secara kebetulan jadi guide dadakan kami (baru kenal 2 hari) bilang bisa mampir sebentar ke Istana Dalam Loka. Ah,… beruntungnya ketemu Bang Ian terus diantar kesana-kesini. Eh kamu bisa contact dia juga kalau mau ke Sumbawa, nanti kukasih info contact-nya pm aja ya.

Dibangun tahun 1885, Istana Dalam Loka dulu merupakan tempat tinggalnya Raja di era kesultanan. Berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2, Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

IMG_6496.JPG
Istana Dalam Loka tampak samping, panas banget lho di Sumbawa itu. Mataharinya ada 5 saudara-saudara, tapi alhamdulilah ya langit cerah awan-nya pun bagus  🙂

Kabarnya Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389).

Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597).

Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan. Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang. Pernikahan silang antar kerajaan ini dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antar kerajaan Goa dengan kerajaan Sumbawa.

Ini keterangan yang saya ambil di situs sultansumbawa.com, berhubung di dalam bangunannya banyak juga dijelaskan informasi yang hampir sama. Jadi kalau kamu kesini, pastinya mirip kalau lagi ke museum yang ada foto-foto raja dan silsilah keluarganya. Nambah pengetahuan, tentang kesultanan yang ternyata sempat ada di Sumbawa.

IMG_6498.JPG
Anak-anak Sumbawa, diluar pintu masuk bangunan Istana Dalam Loka. Masuk ke dalam harus membuka alas kaki, karena lantainya parkit alias kayu bukan ubin keramik.

Adapun Raja Sumbawa yang berkaitan langsung dengan pembangunan Istana Dalam Loka adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (1883-1931), yang merupakan Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III ini mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Lokasi Istana Dalam Loka padas saat ini terletak di dalam Kota Sumbawa Besar, menunjukkan bahwa kota ini memang sejak dahulu kala merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Kerajaan Sumbawa telah beberapaa kali berganti istana, antara lain pernah dikenal “Istana Gunung Setia,” “Istana Bala Balong dan Istana Bala Sawo”.

IMG_6497
Bangunannya sudah banyak yang diperbaiki, termasuk pondasi.

Bala Rea (Graha Besar) yang terletak di dalam komplek istana “Dalam loka” berbentuk rumah panggung kembar, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan lurus kedepan alun-alun, ke arah bukit Sampar yang merupakan situs makam para leluhur. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid kerajaan, Masjid Nurul Huda yang masih berdiri hingga sekarang, dan di sebelah timur komplek isatana megalir sungai Brang Bara ( sungai di sekitar kandang kuda istana).

Bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung, sedangkan atapnya yang terbuat dari seng didatangkan dari Singapura.