LIFE, story

Yang Paling Baik Prasangkanya Kepada-Ku

Ada sebuah kutipan cerita yang menurut saya dalam sekali maknanya dan itu seketika membuat saya berfikir kemudian makin memahami apa yang perlu dilakukan sebagai hamba dikeseharian. Seperti mendapati pemahaman baru yang makin menguatkan mental spiritual daripada lupa jadi aku tulis di blog hehe, siapa tahu berguna bagi yang membacanya ๐Ÿ™‚๐Ÿ™๐Ÿป.

Sumber foto by google

Dari Buku Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi

Nabi Isa As banyak tertawa, sementara Nabi Yahya As banyak menangis. Yahya kemudian berkata kepada Nabi Isa..

“Kau percaya pada semua tipu muslihat halus ini sehingga kau banyak tertawa?

Isa menjawab..

“Sementara kau telah menutup matamu dari pertolongan dan cinta kasih Tuhan yang subtil, misterius dan agung, sehingga kau banyak menangis?

Seorang wali Allah hadir dalam percakapan tersebut. Ia kemudian bertanya kepada Allah :

“Di antara keduanya, manakah yang memiliki martabat paling tinggi?”

Allah menjawab :

“Yang paling baik prasangkanya kepada-Ku”

ARTINYA :

Aku menurut prasangka hamba-Ku terhadap Ku. Semua hamba memiliki imajinasi dan gambarab tentang diri-Ku. Dalam bentuk apapun dia mengimajinasikan-Ku, Aku tepat sesuai bentuk itu.

AKU BERKESIMPULAN :

Apapun yang dialami, apakah itu mendapati kesenangan atau kesedihan semuanya akan kembali lagi pada hati dan pikiran kita yang terus berprasangka baik ke Allah. Makin yakin karena pengalaman-pengalaman yang sebelumnya juga, pasti ada sesuatu yang baik di balik rasa sedih. Juga ada sebuah ujian dari tidak lupa maupun ujub dari kesenangan yang Allah beri. Intinya selalu berbaik sangka. Aku makin yakin segala yang didapati hari ini adalah yang terbaik, sesuai kesanggupan dan sejauh ini dari apa-apa yang di datangkan Allah itu memang sesuai kapasitas. Mungkin tidak diketahui hari ini saat tengah merasa senang atau berduka, tapi selalu jawabannya adalah hikmah yang baik.

Aku tambahkan hadist untuk memperkaya wawasan. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ : ุฃูŽู†ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุธูŽู†ู‘ู ุนูŽุจู’ุฏููŠ ุจููŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ูููŠ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู†ููŠ ูููŠ ู…ูŽู„ุฃู ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชูู‡ู ูููŠ ู…ูŽู„ุฃู ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุจูุดูุจู’ุฑู ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽู‰ู‘ูŽ ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุชูŽุงู†ููŠ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูู‡ู ู‡ูŽุฑู’ูˆูŽู„ูŽุฉู‹ย  (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠุŒ ุฑู‚ู…ย  7405 ูˆู…ุณู„ู… ุŒ ุฑู‚ู… 2675 )

โ€œAllah Taโ€™ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu.

Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta.

Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Advertisements
Asia, Backpacker, SUMBAWA - Indonesia

Sehari Semalam, Pulau Moyo – Sumbawa

Sunset terakhir di Pulau Moyo, itu yang kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo.
Sunset terakhir di Pulau Moyo, Sabtu (16/5/15). Perahu kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo. Bang Jun, yang jadi nahkodanya menjauh dari daratan supaya kapal nggak karam. I’m sorry… this picture, maybe not the best capture sunset from me… zzzzzz

Bonus dari perjalanan saya bersama 3 rekan mendaki Gunung Rinjani selain bisa mampir ke Pulau Kenawa adalah menyambangi Pulau Moyo. Sehari semalam lamanya, terkesan waktu yang singkat di penghujung liburan yang full satu minggu. Dear God, thank u so much…. secara keseluruhan ini quality trip banget buat saya di tahun ini ๐Ÿ™‚

Teringat dulu, waktu kunjungan saya ke Lombok yang ke-2 di tahun 2011, penduduk lokal sana kasih rekomendasi, bocoran soal Pulau Moyo. Tahun itu adalah saat dimana lagi heboh-hebohnya kabar Duchess of Cambridge a.k.a Kate Middleton sama Pangeran Wiliams bulan madu di pulau itu. Pulau Moyo yang juga pulau bulan madunya Pangeran Charles dan Alm. Putri Diana (mama papanya).

Disana ikut terkenal air terjun Lady Di, tempat Putri Diana pernah private shower time. Setahu saya Pangeran Charles sama Puteri Diana itu menikah di tahun 1983-an, tentunya beda kondisi Air Terjun Mata Jitu saat itu dengan yang saya kunjungi sekarang di tahun 2015. Mungkin nggak ada jalan bersemen tempat motor kami lewat, mungkin masih sangat sepi dari rumah penduduk dan belum ada ojek motor tentunya. Hahhaaha ๐Ÿ˜€

Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi... mooooo photo by : Harry Iswahyudi
Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi… mooooo

Sebenarnya cerita ajaibnya ke Moyo, yang tak direncana, diluar dari skenario itinerary itu, rejeki kami untuk ketemu teman-teman baru.

Yup! jadi setelah exsplore Pulau Kenawa dan kembali ke Pelabuhan Pato Tano di Sumbawa dan lagi kepusingan untuk cari sewa mobil untuk ke Sumbawa Besar, kami justru ketemu kenalan orang lokal.

Lagi nunggu mobil sewaan, terus ternyata nggak cocok harga dan nggak ber-AC, sampai akhirnya nunggu bus buat ke Sumbawa Besar. Sambil makan ice cream, ngemil chitato di depan Indomaret … disapa duluan sama Bang Rio yang juga lagi mampir beli sesuatu, terus kami dikasih nomor temannya Bang Ian dan Esthy di Sumbawa.

“Hubungin aja nih nomor ini,” katanya…. wahhh… asik lega abis itu, karena sesampainya di terminal bus kami dijemput mbak Esty pakai motor terus diarahin untuk sewa motor aja ke Hostel tempat menginap.

Sebelumnya dengan durasi sekitar 2 jam perjalanan, kami baru ngeh kalau untuk ke Sumbawa Besar memang idealnya memakai bus sedang bertarif Rp. 30 ribu ini. Yang kalo kamu perhatiin di atas bus pasti penuh barang bawaan penumpangnya, pemandangan yang jarang banget ada di kota, hahaha saya lagi di pedalaman, rasanya gimana ya …unik lihat perilaku yang nggak biasa ini.

2110062
Di sekitaran perairan Pulau Moyo, kami mampir ke Takasigili. Sebuah gundukan karang-karang yang kadang surut dan pasang di waktu tertentu. Capture foto : by Nahkoda Kapal Nelayan kami, enak nih nahkodanya kalo disuruh juga inisiatif ๐Ÿ™‚

Pantes juga kalau untuk rental mobil agak jarang, bus menuju Sumbawa Besar ada banyak dan sering. Backpacker-an di Sumbawa jangan takut, karena ada banyak bus murah atau ojek kalo nggak bisa rental mobil.

Untuk mencapai Pulau Moyo, dari Sumbawa Besar kita harus ke Ai Bari yang merupakan pelabuhan kecil. Atas rekomendasi Bang Ian kami akhirnya sewa kapal nelayan kecil yang memang sih akan lebih lama sampainya sekitar 3-4 jam untuk ke perairan Moyo (tergantung cuaca dan ombak). Kita di atas kapal sampai bosan.

Tiga puluh menit pertama berlalu,…… satu jam pertama masih terlihat bersemangat,….. lalu dua jam berikutnya kepanasan… hahaha. Dari pakai body lotion, ngabisin buah sama camilan, terus daripada kejemur matahari Sumbawa yang ada sembilan akhirnya pakai tutupan kain Bali. Disini hidung dan wajah sudah mulai gosong… zZzZzzzZZZzzz.

Sampai juga di Takasigili, disekitarannya kami snorkling…memang jauh tempatnya dengan perahu kecil yang melawan ombak lautan jelas butuh 3 jam itu sangat wajar. Dalam laut Sumbawa memang unik, bagi saya pribadi karangnya terbilang masih terjaga.

Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo, photo by : Harry Iswahyudi
Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo

Masih banyak karang yang baru tumbuh, ikan-ikan yang variatif…. cuma berhubung ombak dan arus laut yang besar (padahal masih jam 12-an siang), saya ngeri. Perasaan sih udah berenang jauh, tapi nggak sampai-sampai sama kejadiannya seperti di Kepulauan Seribu, enaknya temen-temen yang jago berenang, tanpa pelampung.

Di Takasigili, gundukan karang kasar yang sudah mati itu bisa surut bisa pasang, tergantung, nah ini uniknya… Lalu sehabis dari Takasigili sekalian makan siang, sekalian memang akan bermalam di Pulau Moyo kami cari penginapan.

Tinggal di rumah penduduk, feels like home terutama ibu yang punya rumah ramah banget seperti ibu sendiri. Dia nggak cuek, kamar kami aja dikasih kelambu biar nggak ada nyamuk, terus digembok.

IMG_6410.JPG
Moyo, aliran air dari Mata Jitu…. asli warnanya nggak di edit fotoshop.

Cuma sayang banget ya, di desa sekitar Pulau Moyo rumah-rumah baru yang dibangun, termasuk homestay tempat kami menginap cenderung modern, bukan rumah panggung asli Sumbawa yang kalau mau masuk ada tangga kayunya. Hmmm suasana homey tapi belum mendukung environment yang lokal sekali.

Makan siang disekitaran guesthouse juga mirip kalau lagi makan di rumah sendiri, makanan rumahan mirip banget sama masakan nyokap di rumah, ayam cabe rica-rica.

Tambahannya, pesen juga es campur di siang hari bolong yang panas…. abis naik gunung maklum, di gunung nggak ada tukang es. ๐Ÿ˜€ Jadi makanan asli sini apa ya??? *nggak kepikiran lagi, yang penting kenyang*

Info dari ibu pemilik guest house, kami sewa motor buat ke Mata Jitu atau Air Terjun Lady Di. Kelihatannya nggak masuk akal, sekali sewa per motor dengan abang ojeknya Rp. 100 ribu.

Tapi…. ternyata ini memang avordable dibanding jalan kaki dan melihat medan pencapaian dengan berkendara motor disana saya saranin memang menyewa ojek. Apalagi saya sama temen-temen kan habis capek naik turun gunung, terus kita mengejar waktu. Gapapa ya backpacker hedon dikit ๐Ÿ˜€

Meski memang beberapa pengunjung lain ada yang trekking, saya sih suka jalan, cuma berhubung mengejar waktu kan. Luar biasanya itu ojek motor kami menembus air luapan, nyebrang sungai, kirain cuma mencapai Mata Jitu aja yang jalanannya banyak rusak meski beberapa ratus meter dengan cor dan semen, nggak kebayang melewati jalan-jalan itu kalau harus nyetir sendiri.

SONY DSC
Walau cuma sebentaran nyebur disini. . . Bonusnya tempat ini sepi, pas kami datang pengunjung lain pulang, terus kami pulang pengunjung lain datang.

Air terjun Mata Jitu ternyata memang bening dan berwarna hijau kebiruan, airnya juga segar, beruntung bisa sebentar menyeburkan diri disana. Oke jadi rasa penasaran saya sudah kejawab, ke Pulau Moyo dan mampir ke air terjun Lady Di. Pulau Moyo yang relatif sepi, seketemunya pengunjung lain juga penduduk dari Sumbawa Besar.

Menghemat waktu kami ke lokasi air terjun lainnya, dan saya lupa namanya apa, tapi ini air terjun rame banget karena ada ayunan buat mainan. Terus menjelang peradaban matahari jatuh, kembali ke laut kami cari sunset…. nggak ke Takasagili sesuai rencana semula, tapi mampir ke sebuah pantai sekitaran Pulau Moyo yang punya butiran pasir unik campuran warna hitam seperti biji wijen dan pasir putih.

 https://www.instagram.com/p/41jHV7EC1q/

Malam itu waktu kami nginap di Moyo juga unik, soalnya pas banget lagi ada undangan kendurian nikahan penduduk setempat.

Anehnya lagi kendurian di Sumbawa bukan pengantinnya yang nungguin tamu, tapi ini tamu nungguin mereka. Terus semua pedagang kumpul di sebuah lapangan tempat pengantin menghelat pesta, pedagangnya…mereka jualan.

Jadi makan malam kami saat itu adalah bakso dengan kuah saos yang kalo diteliti sama BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) itu pasti nggak lulus tes warna alias ada kandungan rodamin. Baksonya juga aneh nih, pakai telor ๐Ÿ˜€ tapi so so lah daripada laper.

How to get there ?????

1. Dari Lombok kamu bisa menyebrang ke Sumbawa melalui Pelabuhan Kahyangan menuju Pelabuhan Pato Tano dengan kapal fery yang sekitar 1 jam sekali jalan, harga tiket sekitar Rp. 30.000

2. Setelah sampai di Pelabuhan Pato Tano ada bus sedang yang bisa membawa kamu menuju Sumbawa Besar, perjalanan sekitar 2 jam. Ongkos bus Rp. 30.000 per orang

3. Dari Sumbawa Besar kamu harus ke Ai Bari tempat menyebrang ke pulau Moyo dan Satonda. Jaraknya cukup jauh dari Sumbawa Besar sekitar 1 jam, kamu bisa menyewa mobil (tapi agak susah ya, harus kenal orang lokal). Alternatif lain adalah menyewa sepeda motor.

IMG_6455
Sebuat site di pulau Moyo yang bagus banget untuk foto. Di sebelah pagar-pagar tanaman ini hewan ternak sapi lagi sibuk mooooo….

Bolehlah contact teman kenalan disana Bang Ian 085238575444 yang bisa bantu info tentang Sumbawa. Ohya dia juga aktif di komunitas Adventurous Sumbawa yang lagi bergerak mengenalkan keindahan pariwisata Sumbawa, pasti senang bisa bantu.

4. Menyebrang ke Pulau Moyo dari Ai Bari memerlukan transportasi perahu nelayan. Dengan jarak tempuh sekitar 3 jam biaya sewa kapal sederhana yang hanya muat 5 awak penumpang (termasuk nahkoda) itu memerlukan biaya sekitar Rp.700.000 (pulang pergi).

5. Sesampainya di Pulau Moyo, tentu saja perlu menginap. Pilihannya adalah guest house, rata-rata bertarif Rp. 200.000 per kamar untuk 2 orang. Menginap di rumah penduduk rasanyanya lebih seperti di rumah sendiri apalagi kalau ibu yang punya rumah baik banget.

Kalau mau ke Moyo kamu bisa contact Pak Mahendra 085339932815 (ini rekomendasi teman di Sumbawa) untuk sewa guest house-nya. Tapi ketika sampai Moyo nggak ada lagi kamar, masyarakat disana menawarkan untuk bisa menginap di rumah warga lainnya yang disewakan.

6. Untuk ke Air Terjun Lady Di atau yang sebenarnya disebut Air Terjun Mata Jitu, kita bisa melakukan sesi trekking selama 1 jam lebih. Tapi berhubung menghemat waktu saya sama ketiga teman lain harus menyewa sepeda motor. Sewa motor Rp. 100.000 per orang. (Saya saranin untuk sewa motor aja, karena jauhhh bangets)

 

IMG_6433
Di lokasi air terjun berikutnya, ternyata ramai bangettttt terus nggak begitu bening … jadi kamu cuma nontonin anak-anak yang lagi menikmati masa kecil main ayunan terus nyebur.
Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia

Traveling With My Soul – Rinjani!

Sampai juga di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.
Di perhentian gerbang pintu Senaru. Setelah masa kritis semalaman hingga sekitar jam 02.00 dini hari baru bisa tidur di sebuah balai bambu terbuka.

Teaser :

Terbangun sebelum alarm berbunyi adalah kebiasaan baru, dengan refleks pertama bergegas melihat jam yang melekat di pergelangan kanan tanganku (jam tangan yang tak pernah kulepas sejak hari pertama di Rinjani). ย Aku beringsutan, melawan kantuk dan hanya mampu tersadar bahwa ini waktu untuk kembali mendaki. Detik itu pendakian yang sebenarnya dimulai…

Ketika itu hari masih gelap, walau sebenarnya terang karena dihiasi cahaya bintang-bintang yang jarang sekali bisa kulihat.ย Hampir pukul 01.00 dini hari meski dengan cuaca yang tak terlalu dingin buatku (sekitar dibawah 20 derajat Celcius). Mungkin tak menjadi dingin karena dua lapis baju beserta jaket outer, tiga lapis kaos kaki, dan dua lapis kaos tangan yang ku kenakan.

Ini bukan pendakian biasa pikirku waktu itu. Sebelum berangkat di hari H, banyak rekan yang berujar, tentang medan pendakian,ย membagi pengetahuannya tentang gunung yang menurut masyarakat Lombok setempat dan penganut Hindu Budha merupakan tempat suci. Satu dari tiga gunung yang disucikan. Pengetahuan yang baru kudapat sebelum beberapa jam take off penerbangan kembali ke Jakarta.

Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana :D :)
Di perhentian Pos 1 Gerbang Sembalun, jalan cukup jauh 3 jam lebih tapi banyak istirahatnya. Inilah pemandangan pertama setelah sempat melewati hutan, rerumputan dan savana ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ™‚

——————————————————————————-

Bisa mencapai Gunung Rinjani itu seperti sebuah mimpi yang jadi nyata. Sebab hasrat untuk bisa kesana sebetulnya telah ada sejak masih kuliah dulu. Semuanya terpengaruh karena tayangan Tv apalah namanya Jejak Petualang (tahun 2004-an). Siapa sih presenternya, 2006 udah bukan Riyani Djangkaru sih….ย Ah,… keren banget ini presenter Tv dan keren banget ini pemandangannya, gunung berapi tertinggi ke-2 di Indonesiaย (3726 mdpl)

Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus.... and at the time i think it's never ending
Bukit-bukit yang terlihat dari kejauhan, hari ke-2 pendakian melewati bukit penyesalan. Nanjak terus…. and at the time i think it’s never ending. photo By: Dyah Ayu Pamela

Saya bukan anak gunung, nggak paham soal gunung, bahkan waktu itu sama sekali nggak kebayang seperti apa peralatan orang naik gunung, tapi bisa-bisanya punya keinginan susah macam begini (lalu pegang kening). Dan masih ingat banget tahun 2012 saya udah nanya-nanya ke Backpacker Store via twitter, via email dapet itinerary juga buat ikutan trip-nya, tapi kemudian masih pikir-pikir. Sibuk liputan sana-sini di desk lama dan nggak sempat cuti juga, saya melupakan keinginan itu…

Dan kalau diceritain bagaimana saya bisa kenal ketiga partner buat pergi ke Rinjani ini bakal lebih panjang lagi ceritanya. Tapi semuanya berjalan mengalir begitu aja (and i know, everything in life is pre written) mulai dari kepergian ke Pahawang, gunung Papandayan dan traveling ke tempat-tempat sebelumnya. Lalu jadi teringat kutipan salah satu penulis favorit saya.

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it,” Paulo Coeho – The Alchemist.

Plawangan Sembalun, lihat bukitnya..... amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu.
Plawangan Sembalun, lihat bukitnya….. amazing, saya kecil banget, hanya sebuah titik dibanding pemandangan bukit dan gunung itu. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 1 :

Kami berempat pergi dengan pesawat yang take off jam 05.00 pagi, Sabtu (9/5) 2015, supaya siang harinya bisa langsung trekking pendakian. Start sekitar jam 12.30 selepas Zuhur, perjalanan dimulai dari Gerbang Sembalun, melewati pemukiman warga, sawah dan ladang. Setelah tentunya melakukan pendaftaran, Zuhur-an, membeli makan siang,ย packing ulang tas carrier, welfie, dan ngabisin seloyang browniesย :D. Ohya masing-masingย ย membawa 3 liter air untuk persediaan.

Rute-nya masih datar, ada jalan menurun dan naik sedikit, lalu baru 40 menit jalan kami istirahat di bawah pohon. Sempat melewati hutan tapi sebentar, jalur Sembalun ini memiliki hamparan landscapeย rumput hijau kuning memerah, padang savana, bukit-bukit, pohon dan ada sungai dengan jembatan.

Menjelang sore, sampai juga di Pos 1 kembali istirahat (banyak istirahatnya ya) yang belum makan kemudian makan, terus foto-foto lagi ๐Ÿ˜€ habis landscape-nya nggak ada yang nggak bagus, semuanya bagus….. mengejar sunset pendakian pun dipercepat tanpa banyak berhenti. Sepertinya kami sudah mulai terbiasa mendaki di tahap ini.

Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. :)
Beruntungnya, langit malam itu cerah. Kami dapat hadiah hamparan bintang-bintang yang tak terhalang gedung-gedung tinggi ataupun pepohonan. Aslinya lebih amazing dan nggak seperti ketombe, hehehe ๐Ÿ™‚ Photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 2 :

Pukul 09.00 pagi setelah beres-beres tenda, mengambil persediaan air di pos 2 (yang tak terlalu banyak di sumber airnya) kami kembali mengemas carrier, bergegas. Ohhh… ini menjadi hari yang panjang. Pendakian harus dilalui selama hampir 7 jam. Sepanjang perjalanan dan tetep ya banyak berenti untuk mengabadikan landscape, hamparan gunung, pohon-pohon, semua suguhan alam yang buat pandangan mata saya nggak berhenti terpesona. Asli saya beruntung banget bisa sampai Rinjani.

Tapi mendaki Rinjani bukan soal keindahannya saja. Di gunung itu kami harus memperkirakan waktu, kami mengejar agar jangan sampai melakukan perjalanan ketika hari gelap (sebisa mungkin) untuk keamanan. Juga mengejar waktu sesuai jadwal dan target traveling lanjutan kami ke Sumbawa juga sih sebenarnya. Dan hari ke-2 itu setelah magrib dan makan malam seharusnya kami langsung tidur untuk persiapan summit esok harinya (sebab penting banget buat jaga stamina).

Ahhh nice, bentuk pohon di dekat jembatan ini
Ahhh nice, kira-kira hampir seringan melihat bentuk pohon seperti di dekat jembatan ini. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Kami harus bangun sebelum jam 01.00 pagi dan mendaki sekitar 4 jam lebih mencapai titik tertinggi Gunung Rinjani. Sayangnya, ada something happend di pencarian lokasi kemping saat mencapai Pelawangan Sembalun. Tempat-tempat strategis ternyata sudah di tag sama para potter. Jadi potter itu sudah sampai sebelum pendakinya, terus mereka siapin makan dan tenda hingga si pendaki sampai, semua sudah siap.

Beda dengan kami ber-4 yang tanpa potter, semua dikerjakan sendiri. Mencari sumber air, menggangkat barang bawaan, bongkar pasang tenda dan memasak, termasuk jadi harus speak-speak dengan rekan seperjalanan a.k.a tetangga kemping. Tapi ini jadi betul-betul pengalaman naik gunung yang sebenarnya. Hebat ya kami bisa survive.

Saya sih cuma ngiler dan wow banget di Pelawangan Sembalun ini. Lihat tenda besar dimana potter lagi goreng tempe dan bakwan (sumpah niat banget ya ini, bawa penggorengan besar, bawa kompor gas). Lalu di jalan sempit yang hanya muat satu tenda pun, lokasi yang pas buat melihat sunset dan sunrise disitu para bule dan pendaki yang wisman lagi enak duduk dibangku sambil menyantap makanan… early dinner buat mereka sambil memandangi sunset cantik Rinjani sebelum summit besok subuh.

Sementara kami lagi jalan nyari tempat buat dirikan tenda.ย Cari lokasi buat berkemah, supaya dekat dengan sumber air kami pindah. Padahal tenda sudah jadi. Debi ketemu lokasi yang lebih strategis, lalu kami jadi tetanggan sama teman sekotanya, Semarang. (Gara-gara satu kota aja bisa akrab begini. Oke… dan memang kesamaan selalu punya cara untuk mendekatkan).ย 

Hufffttt. Lama di tempat tetangga, sambil sharing perbekalan, ngeteh, ngobrol dsb, kami agak khawatir, karena Harry nggak muncul-muncul juga bawa tenda. Tadi masih belum gelap, apa bawa headlamp atau nggak kami bertiga yang menunggu juga nggak tahu,… Akhirnya Debi menyusul. Kita khawatir juga karena kelihatannya tadi sore dia sangat lelah. (Disini saya mikir, kalau kami berempat ini satu tim. Kalau salah satunya ada yang bermasalah yang lain pasti mikirin)

Day 3 :

Berbekal penerangan headlamp, pukul 01.00 dini hari pendakian yang sebenarnya dimulai. Sehari sebelumnya dijalan banyak pendaki yang mengingatkan untuk berjaga-jaga dengan tenda, perbekalan, barang bawaan ketika ditinggal untuk summit Rinjani. Karena kan nggak memungkinkan membawa carrier, hanya kamera saja serta bekal air minum secukupnya. Sementara beberapa kasus pernah ada rombongan pendaki yang kehilangan barang bawaan bahkan persediaan makanan yang dicuri. Kalau tim kami sih lucu, persediaan gula justru dicuri sama monyet liar di Plawangan Sembalun saat siang bolong yang ternyata jumlahnya ada sekawanan.

“Sampai sekarang kita belum tahu siapa pelakunya, tapi saya saranin untuk tidak meninggalkan barang berharganya. Saya prihatin kenapa hal seperti ini bisa kejadian di gunung,” kata seorang pendaki yang ngajak ngobrol duluan.

Medan yang ditemui setelah Pelawangan Sembalun adalah pasir, bebatuan, tanah, dan memang lengkap dengan kanan kiri jurang. Kondisi gelap pendakian dini hari membuat semua itu nggak terlihat, tapi saya merasakannya, kaki kami terperosok, harus melangkah lagi. Tapi medan terjal ini katanya terbilang lebih mudah dibanding menaklukan gunung Semeru yang dua langkah mundur satu.

Di perjalanan kami sesekali berhenti untuk istirahat dan minum. Debu pasir agak masuk ke sistem pernafasan, kembali saya merasakannya.ย Sejak pertama di Rinjani sih, tapi memang disini saya yang paling amatir dalam pendakian.

Gimana rasanya summit Rinjani??? sejujurnya pertama kali sampai atas sana saya cuma bengong. Semua tampak tidak nyata, hanya nggak percaya bisa sampai sejauh ini, nggak kepikiran dan surprise. Mau nangis nggak bisa (serius udah lama nggak bisa nangis) mau meluk temen-temen saya yang barengan dari Jakarta berjuang, tapi muhrim saya cuma Kak Put. Hehehe yaudah habis itu sibuk foto-foto….. gantian sama pendaki lain yang juga antri foto.

Setelah sunrise Rinjani yang amaze, saya baru “ngeh” lagi, kalau jalan menurun itu juga perlu perjuangan. Bahkan lebih harus berhati-hati. Disini karena langitnya sudah terang dan matahari rasanya dekatย di atas saya jadi,,,,, hangat di jam 6-7 an lalu jadi panas. Takย menyangka juga, kalau jalur yang saya lalui dini hari tadi di kegelapan sebenarnya amat sangat panjang dan sulit. Ckckckckckckck masih surpriseย turun pun sedikit ngedumel kok nggak nyampe-nyampe.

“Mengingat lagi detik-detik di saat summit Rinjani, dalam kondisi gelap dini hari untuk meraih matahari terbit yang pertama. Hanya dengan penerangan headlamp saja, hanyalah satu tujuan saat itu,…untuk bisa sampai di atas puncak sana. Tak peduli bagaimana kondisi jalanan saat itu, dengan batu-batu, kerikil, terjal, berpasir atau di kiri kanannya ada jurang yang bisa membuatku terperosok atau terjatuh. Yang kutahu saat itu aku tetap harus melangkah dan mencapai tujuan itu (puncak Rinjani).

Dan di kenyataan, sama seperti menjalani kehidupan, yang ketika kamu merasa dalam kondisi gelap.. bimbang, ragu, atau takut. Sebenarnya ada satu cahaya terang seperti headlamp tadi yaitu hati. Jadi ikuti kata hati melangkah dalam hal apapun, ikuti insting dan kecenderungan hati nurani karena biasanya disitulah ada Allah yang memberiย penerangan dan petunjuk untuk melangkah ke tujuan,”

*seperti quotation favorit saya juga : “Remember, wherever your heart is, you’ll find your treasure,” Paulo Coelho – The Alchemist

Kerikil, batu-batu kasar, debu, pasir, jalan bertanah, bekas-bekas material vulkanik letusan dulu dan tentunya kanan kiri jurang, semuanya ada…. lalu turis pendaki bule yang lebih dahulu sampai, yang padahal beberapa cuma pakai legging tipis saat pendakian, asik memainkan ritme kaki, turun dengan cara merosot-merosot. Ini tuh layaknya taman bermain buat mereka.

Medan menurun sulit, sekaligus menjadi uji kemampuan sepatu gunung yang ternyata paten banget, walau tetap kaki bagian depan ikut sakit karena terlalu menekan dan bagian kaki yang melentung semakin menjadi-jadi. Disini moment yang paling lucu justru waktu minta bantuan para pendaki buat motretin saya, ganti berbagai pose sampai minta tolong tiga pendaki ๐Ÿ˜€ . Saya udah asik tinggal turun tapi malah ngerepotin yang lagi berjuang sampai puncak, ngegemesin.. tapi anak gunung kan terkenal dengan sikap penolongnya ya … ๐Ÿ™‚

Medan terjal bebatuan halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit
Medan terjal bebatuan, kerikil dan pasir halus yang harus dilalui pendaki menjelang summit. Photo by : Dyah Ayu Pamela

Dibawah,… setelah terpisah jauh ketemu juga dengan dua temen lain, berjuang sama-sama untuk turun sampai Plawangan Sembalun. Merosot dan merosot adalah acara paling gampang dan Debi yang jago dalam hal ini sudah duluan sampai.

Ngantuk….Zzzzz.zzzzzz tak terelakan, cuma cuacanya panas nauzubillah apalagi di dalam tenda, tetep aja itu nggak terlalu memengaruhi (saya), sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak, saya sempat tidur sekitar 30 menit. Ganti tidur semalam yang cuma sekitar 2 jam. I’m a zombie at the moment,… gara-gara goreng bakwan, yang lama matengnya (api gas dan hawa panasnya redup sama angin di gunung) ๐Ÿ˜ฆ Bayangin dengan kondisi tidur yang demikian kami harus kembali trekking yang walau menurun tapi ini nggak bisa diremehin lho.

Start trekking ke Danau Segara Anak sekitar pukul 2 siang. Sekedar pemberitahuanย ya di hari ke-3 ini saya belum juga BAB. Di Plawangan Sembalun padahal bisa keramas dan BAB karena dekat dengan sumber air. Dan teman kita yang berkarakter sanguinis a.k.a Debi dengan cueknya info “Aku udah keramas dan BAB loh,” ….. terus pas udah sampai di Segara Anak dan mandi di air terjun, Debi juga dengan cueknya info “Tadi tuh BAB paling dan paling……. buatku,” sambil pasang muka nggak bersalah ngomongnya. ๐Ÿ˜

Kak Put mungkin yang paling beda ya, hari ke-4 sesampai di Plawangan Senaru nggak juga BAB, kata dokternya sih ritme BAB-nya yang nggak setiap hari itu normal dengan pola makan versi dia. (iyain aja deh)

Hari ke-2 Minggu (10/5/15) pendakian Rinjani, agak ramai. Tapi seramai-ramainya Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya.
Seramai-ramainya pendakian di Rinjani ya masih puluhan aja jumlahnya…. photo by : Dyah Ayu Pamela

Day 4 :<
idur yang lumayan cukup terbayar, sampai di Segara Anak sekitar jam 8 malam, ternyata kami kembali berjodoh dengan tetangga kemping yang di Plawangan Sembalun, tenda kita deketan lagi. Masak air, makan secukupnya, beres-beres tenda dan persiapan tidur jam 10 malam terbangun subuh dan jam 6 walau masih di dalam tenda kami agak santai. Dan seperti biasa yang tidurnya bunyi terus (ngorok) dan paling susah bangun adalah Cadas (cah dangdut Semarang) a.k.a Debi. ๐Ÿ˜€

Di gunung saya belajar kalau tipikal pendaki itu mau direpotin dan care sama pendaki lain, jadi kalau minta apa-apa insa Allah dibantu, setiap kali ketemu di jalan padahal nggak kenal ya sapa aja. Nah kamu kalau lewat tenda dan kehausan, coba nanya-nanya aja mereka pasti nawarin air teh manis hangat. Kak Put….. tau banget, sembari nanya dapet info terus ditawarin teh… iya ternyata berbaur dengan pendaki lain itu harus. Cuma bagi orang yang independent itu gimana ya…. (tetep harus)

IMG_6090
Ini pendaki dari mancanegara (yang lagi natap puncak). Mereka aja sudah sesepuh gitu masih mau naik Rinjani, saya juga mau punya semangat yang sama sampai tua nanti. Tapi bawa porter lah ya, kan doanya udah tajir nti ๐Ÿ˜€ Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

i dekat Danau Segara Anak, ada sumber air yang untuk ke tempat itu jalan sekitar 1 KM. Lewat semak-semak, rumput tinggi, genangan air, dan tolong lihat-lihat ke bawah kalau jalan karena suka ada ranjau darat. Nggak jauh dari sini kami ketemu yang namanya air terjun, akhirnya bisa mandi dan keramas… yeayyyyy airnya juga hangat, terus tempatnya sepi.

Hari ke-4 adalah perjalanan turun melewati jalur Senaru. Ini memang perjalanan menurun, tapi trekking yang kami hadapi tetap nanjak… bahkan kaki ketemu kepala, bukan dengkul ketemu kaki lagi dan ini hampir tiada henti. Perjalanan hampir lebih 10 jam lebih setelah keliling pemandangan danau, lihat orang mancing (di Segara Anak kamu bisa mancing terus goreng ikan-nya). Ada pemandangan turis yang lagi duduk dibangku sambil menikmati brunch yang dibuatin sama sang potter. Mungkin itu brunch paling sedap karena sambil menikmati pemandangan indah Danau Segara Anak dengan landscape gunung Barujari (anak gunung Rinjani, hasil letusan vulkanik sebelumnya). Sambil sering awan dan kabut menghalangi.

IMG_6278
Di dekat air terjun, sumber air panas tempat saya mandi…. enak mandi disini sepi ๐Ÿ™‚ Photo by : Dyah Ayu Pamela

<

erjalanan yang paling mendebarkan justru bukan detik-detik summit tapi ketika turun di malam gelap. Lepas dari Plawangan Senaru, hampir jam 5 sore,… bergegas kami ke Pos 3, oke jalannya betul-betul menurun sekarang. Disini lagi-lagi ketemu bule yang lagi nyari sunset, bolak balik layaknya rumah sendiri nggak ada beban untuk naik turun gunung, lari-larian (jelas aja mereka cuma gemblok tas enteng) semua peralatan dibawa porter.

Lagi-lagi jalan harus terhenti, karena view sunset yang tentu saja nggak ingin terlewat (foto-foto lagi). Singkat cerita menuju pos 3 banyak jalanan berpasir dan krikil yang justru buat perjalanan saya melambat. Sementara yang lain justru trek ini dianggap lebih mudah. Hari mulai gelap kan, seperti dugaan kami hanya punya pilihan kembali melanjutkan perjalanan jika ada tim rombongan lain yang ikut turun. Atau kami istirahat bermalam dan baru pagi besok melanjutkan perjalanan.

Kebetulan ada dua rombongan lain yang juga berniat turun, (dan….berjodoh lagi sama tetangga kemping Semarang) jadi kami lanjutkan sisah-sisa lelah hari iitu. Ahhhh…. ini bukan cuma lelah tapi juga kantuk, tapi keputusannya kami ikut dalam rombongan melewati perjalanan malam lebih dari 4 jam menuju pintu gerbang Senaru. Rombongan berjumlah sekitar ber-15, dimana hanya ada saya dan Kak Put yang perempuan. Satu pelajaran lagi yang di dapat ketika di gunung. Disamping melihat diri sendiri, kali ย ini kita sedang ber-tim lawan segala hal individualisย dan meski sesakit apapun kaki rasanya saat itu, masih bisa jalan kan???

Apakah kamu akan memperlambat tim? sekali lagi, tak hanya soal mencapai summit, mengalahkan diri sendiri ternyata berlaku juga dalam perjalanan turun. Dan aneh rasanya, tak ada lagi beban, seperti ada perasaan lega ketika semua itu terlewati. Perih-perih yang terlupakan, yang ada hanya seutas senyum dan sapa hangat di pagi hari, sepanjang melewati gerbang Senaru dan bertemu dengan mereka yang baru akan mendaki lewat jalur ini. ThanksGod. ๐Ÿ™‚

Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat.
Di perjalanan mencari sumber air. Hati-hati kalau jalan, karena banyak ranjau darat. (Kali ini modelnya Kak Put dan Debi) Photo by : Dyah Ayu Pamela

NOTE :<
aat akan menuliskan cerita ini, saya sempat wawancara dengan travelerย untuk sebuah artikel “Traveling With Style”. Ngobrol panjang lebar, si mbak Khairiyyah Sari yang jadi nara sumber saya ini ternyata punya kesamaan pemikiran tentang “Traveling With My Soul” hingga akhirnya saya jadikan judul. Hehe ๐Ÿ˜€

“Kalau saya traveling tuh bukan buat pamer atau gaya-gaya tapi lebih ke traveling untuk jiwa saya, dengan jiwa saya,” kata mbak Sari yang sekarang berprofesi sebagai Style Consultan ini.

Traveling with my soul ini saya diartikan bahwa kita belajar dari perjalanan itu, misalnya membaur dengan sesama pejalan, dengan orang lokal, belajar toleransi dengan teman yang barengan sama kita dan banyak hal lain yang bisa dipelajari hingga kamu lebih mengenal diri sendiri dan menemukan jati diri yang asli. Ketemu ilham baru, inspirasi baru serta memaknai kehidupan lebih dalam lagi.

Terlebih di Rinjani kemarin, secara naik gunung itu bukan hal yang semua orang bisa dan mau lakukan. Pengalaman yang tidak semua orang bisa punyai. Dengan medan yang berat (i think Rinjani it’s difficult battlefield). Menurut saya ini perjalanan yang harus dengan jiwa dan keinginan. Niat yang baik, entah karena panggilan jiwa petualang kamu. Dan itu bukan karena ikut-ikutan tren naik gunung.

Ohya buat menambah referensi kamu bisa lihat-lihat cerita traveling mbak Sari di situs http://www.thestyletravelista.com tapi kalau mbak Sari gaya traveling-nya bukan backpacker atau semi backpacker seperti saya.

Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari
Danau Segara Anak dan pemandangan Gunung Barujari photo by : Dyah Ayu Pamela

<

B : Disini saya sertain foto-foto indahnya aja ya, trekkingย yang kepala ketemu kaki disimpan aja supaya nggak bikin parno buat ke Rinjani. Mungkin yang saya tulis juga tidak begitu detail tapi kamu bisa buka link iniย FYI Rinjani dari Wikipedia

love, story

Cerita Si Oby, An Amazing Cutie Cat

Oby adalah kucing paling aneh yang ada di rumahku. Dari empat sekawan miau yang ada, Oby juga termasuk yang paling ngegemesin, meski dia bukan keturunan asli Nene (ibu kucing persia yang udah lama banget hilang diculik entah kemana).

Tingkah Oby macam-macam. Dia suka banget nungguin aku di depan pintu kamar mandi saat aku di dalam. Dia suka nungguin aku pulang kerja, bahkan dulu waktu masih mengendarai sepedah motor dia hapal betul lengkingan suara bisingnya.

Oby juga paling semangat kalau nungguin aku makan. Tanggannya pasti nyolek-nyolek minta tulang atau kepala ikan. Kelakuan aneh lainnya, Oby juga suka bangunin orang-orang yang ada di rumah. Dengan cakar kukunya dia mengais-ngais rambut ibuku, ayahku tanda dia minta sarapan. Kesana-kemari tingkah Oby tiada duanya, furniturku di rumah juga habis dicakar-cakar olehnya.

Oby

Wajah Oby bulat, bulunya hitam legam, benar-benar hitam dan beda dengan Donna yang berbulu hitam tapi mirip rambut anak laki-laki yang bandel kebanyakan main layangan. Kalau manusia, Oby diibaratkan memiliki tubuh gempal.

Oby si kucing ajaib selalu lapar, berisik, mengaung-ngaung miau, apalagi kalau dipanggil mpus pus, makin menjadi-jadi manjanya. Kelakuan Oby memang tiada bandingannya. Dia tidur di lantai, dimana-mana. Oby si pengacau meski dengan kelakuannya itu tapi orang-orang akan selalu rindu padanya bila dia tidak pulang ke rumah. Pernah suatu kali dia menghilang dari rumah. Saat pulang tahu-tahu dia sakit, mulutnya berair terus-menerus. Kalau sudah begitu Oby tidak mau makan. Dia hanya perlu obat, obat mujarab rahasia ayahku, akar kucing.