Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Advertisements
Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Hikmah-Hikmah Selepas Perjalanan ke Himalaya

Kali ini saya mau cerita.. tentang perjalanan jiwa saya setelah kepergian ke Himalaya. Kalau sudah baca blog saya ditulisan sebelumnya kamu juga pasti tahu cerita naik gunung yang bukan sekedar traveling biasa, . . Bahkan tiap gunung yang saya jelajahi di perjalanannya ada filosofi tersendiri.

Begitu juga perjalanan ke Everest Base Camp (EBC).. nggak kan kelupa dan ada banyak rasa syukur yang saya dapat ketika dan sepulang dari sana. Dalam hati juga saya janji beberapa hal sama diri sendiri, semuanya membuat saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

(1) Lebih Bersyukur Karena Tinggal di Negara Tropis

Namanya gunung pasti dingin! Indonesia yang negara tropis aja gunungnya juga dingin, ya iya lah di atas ketinggian 2500 mdpl. Angin gunung yang kencang di atas Rinjani padahal baru 3470 mdpl-an itu bukan apa-apa deh, waktu sampai Dingboche di EBC yang mulai 4900 mdpl badan saya mulai goyah. Angin bukan cuma nampar-nampar pipi, leher bahkan kepala badan rasanya bisa terbang 😂✌🏻.

Sedingin-dinginya Indonesia yang saya rasakan itu ya paling 13 derajat waktu ke Bromo. Tapi di Himalaya? Ibu Kota Kathmandu saja pada musim dingin suhunya paling tidak 5-7 derajat. Lalu masuk ke ketinggian 2500 mdpl mulai 1 derajat. Manusia tropis mana yang tahan? Panas terik tapi dingin dan anginnya nggak nahan. Saya lihat pegawai bank di Lukla pun pakai down jacket saat berkantor.

Percaya sama saya, lebih enak tinggal di negara tropis seperti di Indonesia. Nggak perlu pakai jaket tebal, nggak perlu jadi males solat karena air dingin banget buat wudhu, bahkan karena dingin saya nggak bisa lama-lama banget mau doa mau khusyuk, dingin banget itu nggak enak banget. Mau lama-lama duduk di restoran lodge liat pemandangan dari jendela pun masih kedinginan banget. Yang ada selimutan bed cover di kamar mulu kakak 😭. Mungkin karena ini desa tidak ada penghangat ruangan modern. Untuk merasa terus hangat saya mesti ke ruang tengah restoran dan duduk di perapian.

Ditengah meringkuk selimutan di kamar terus saya berguman dalam hati. “Janji kalau sampai rumah mau lebih khusyuk solatnya, disini nggak konsen banget kedinginan”. Di Jakarta sesekali mungkin kita pernah ngeluh, panas banget. Alhamdulilah sampai di Jakarta rasanya tuh saya benar-benar diberkahi, cinta banget sama cuaca Jakarta yang jadinya kerasa justru hangat, bukan panas lagi ☺️.

(2) Makin Percaya, Semua Hal Terbaik Sudah Allah yang Mengaturnya, Tenang dan Santai Saja. Jadilah Pasrah dan Lebih Ikhlas Menerima 🙏🏻

Mungkin saya terlalu serius atau mendalami perasaan yang saya dapat dari perjalanan di gunung. Tapi bener lho, ini nyata. Saya merasa apa-apa yang terjadi dalam hidup memang sudah Allah yang atur, bahkan hal sekecil apapun itu.

Saya mengalami sendiri keanehan-keanehan itu. Kadang kita suka merasa kecewa dan gagal akan sesuatu yang tidak sesuai rencana. Padahal di balik itu Tuhan sebenarnya justru menjawab kekecewaan atau kegagalan itu dengan sesuatu yang memang lebih baik untuk terjadi bagi seseorang.

Kadang kita suka menyalahkan diri sendiri. Hanya contoh saja ya, kenapa kamu sulit sekali lulus ujian CPNS? Padahal sudah bekerja keras belajar, jungkir balik atau apalah usaha terbaik. Jangan salah, di balik itu mana pernah tahu bila sebenarnya ada pekerjaan yang lebih cocok buat kamu dan lingkungan yang lebih tepat buat kamu.

Di Himalaya saya mengalami sesuatu yang kesannya sepele saja. Saya kesulitan untuk booking tiket pesawat pulang ke Jakarta. Problem pertama charger saya hilang ketinggalan di Dingboche… mau nangis rasanya karena itu charger asli iPhone, yang kalo beli original mahal. Problemkedua, setelahnya, alhasil handphone saya mati total walau ketemu listrik pun nggak bisa charger baterai. Sangat sering saya mengandalkan ketemu seseorang yang juga pakai hp dengan merek sama. Untungnya saja saya bawa hp satu cadangan yang jadul dan lemot. Problem ketiga, sinyal di pegunungan tidak selalu ada. Walau ada itu berbayar 2-4 Dollar per jam. Lumayan terbilang murah sih sebenarnya.

Singkat cerita hal absurd yang terjadi adalah walau ada hp cadangan tapi 2-3kali saya gagal terus untuk booking tiket pulang. Entah koneksi internet gagal, password salah ketik, atau kartu Jenius saya tidak merespon. Padahal sudah oke sama harga tiket yang kisaran Rp 2,9- Rp 3 juta.

Mencoba lagi untuk booking tiket, kali ke 4 dan 5 di Lukla saat nunggu pesawat pulang. Juga gagal, padahal saya susah payah bisa charger hp sampai cukup penuh. Gagal koneksi atau pembayaran. Bikin capek betul rasanya masalah booking tiket ini. Maunya beli 2 hari atau sehari sebelum pulang supaya lebih murah harganya dan lebih tenang nggak mendadak booking di hari H kepulangan. NAMUN… tahukah? Ternyata saya justru bersyukur, gagal booking tiket. Soalnya saya pun 3 hari gak bisa balik pulang sampai Kathmandu karena pesawat nggak bisa terbang kendala cuaca. Hufff.. bayangkan kalau saya bisa booking?? Hanguskah tiket saya yang lumayan harganya itu..

Di Kathmandu, setelah fix sampai penginapan, barulah saya booking tiket. Ya, walaupun harganya lantas melambung jadi Rp 4,1 juta pantas saja soalnya beli sore malamnya berangkat pulang. Cari tiket setelah 1-2 hari pun sama harganya sekitar Rp 4 juta jauh dari ekspektasi Rp 3-3,5 juta. Rugi dan kemahalan banget intinya untuk pesawat Malindo kelas ekonomi.

Cuma daripada nggak pulang juga kan? Lagi pula Tuhan sangat baik sama saya, tiket tidak hangus karena semesta sudah menggagalkan upaya booking tiket pulang yang akan sia-sia dan merugikan itu. Dipikir lagi nggak begitu rugi juga, kan saya dapet tiket promo naik Malaysia Airlines cuma Rp 2,7 juta saja untuk pesawat ke Kathmandu.

(3) Siapkan Lebih dari 1 Debit ATM Berlogo Visa atau Master Card

Kalau berpergian ke luar negeri, akan aman bawa mata uang Dollar. Tapi risih juga kalau kebanyakan bawa cash khawatir bakal kecopetan atau malah boros. Jangan salah nggak juga kok, asal hitung budget yang betul, lalu lebihkan sekitar 50 Dollar sebagai cadangan di dompet. Soalnya ngambil uang di ATM luar negeri itu lumayan kena biaya ATM sekali tarik 5 Dollar. Hehehehe, sudah begitu ada maksimal ngambilnya berapa puluh ribu uang lokal. Coba aja kalau berkali-kali, tahu-tahu di rekening potongannya banyak sekali.

Selain itu menghindari kejadian tidak terduga, sebaiknya punya lebih dari 1 debit ATM berlogo Master Card atau Visa. Ya jaga-jaga kalau ternyata nggak bisa kartu satunya ada cadangan. Seperti pelajaran buat saya karena masa visa saya habis dan kelebihan masa tinggal kena denda, di imigrasi saya dijegat untuk bayar denda sebesar 34 Dollar. Mau nangis rasanya, soalnya debit ATM berlogo Visa ternyata hanya satu-satunya (si Jenius) yang khusus memang saya buat untuk transaksi pengganti Credit Card (CC) di luar negeri. Hehe saya anti banget punya kartu kredit soalnya.

Sementara debit saya yang lain seperti BCA dan MNC bank itu tidak ada logo Visa maupun Master Card. Hehehe… dimana saya tidak bisa mengambil uang dari sana walau ada uangnya berapa milyar pun 😂. Panik?? Jelas iya, pesawat 1,5 jam lagi berangkat tapi saya ditahan. Untungnya ada m-banking, saya pun minta tolong adik yang punya akun m-banking untuk bisa transfer ke si Jenius yang full uangnya sudah saya belikan tiket.. sudah saya tarik tunai juga di Kathmandu, jadi sisa hanya recehan berapa ratus ribu saja. Ya untungnya masih ada m-banking yang dalam hitungan detik sampai 5 menitan langsung terkirim uangnya. Huff.. besok pastiin lagi debit ATM kamu ada logo Visa ya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, “nyalah gak air hangatnya,?”.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah “ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

“Liat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,” kata saya sambil ketawa..

“Oh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,” balesnya..

Dalam hati saya bilang.. “what???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower 😂🤣.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty 😂…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini “Kamu pergi sendiri atau berberapa orang,”.. kata saya penasaran. “Oh kami rombongan, 13 orang,” Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. “Hey you again!,” Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,” kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. 😜. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Itinerary Pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Sekedar sharing, untuk kamu yang penasaran dengan itinerary selama 2 pekan pendakian ke Everest Base Camp (EBC) naik dan turun. Ohya, sebaiknya pilih visa 30 hari karena penerbangan menuju dan dari Lukla tidak dapat diketahui kondisi pastinya disebabkan cuaca.

ITINERARY EVEREST BASE CAMP (EBC)Disesuaikan Visa: maksimal permit 30 hari $USD 40 : sekitar Rp 540 ribu.

Day to Day Itinerary

Day 1 : Sabtu, 10 Februari 2018

Departure /Arrival in Kathmandu-flight to kath 04.35 – 11.40-Mengurus VOA di Bandara. Day 2 : Minggu, 11 Februari 2018

Flight from Kathmandu to Lukla, penerbangan pagi,-pilihannya dua planning bisa didiskusikan lagi. Jika tiba pagi langsung trekking dan saran saya hari itu targetnya Desa Monjo agar perjalanan selanjutnya tidak terlalu berat. Melewati desa Phakding (2652m): durasi sekitar 3-4 jam, istirahat makan. Akan tiba sebelum jam5 sore atau jangan sampai hari gelap sebisa mungkin sudah ketemu tea house atau lodge di Monjo.

Day 3 : Senin, 12 Februari 2018

Trekking from Monjo to Namche Bazaar (3440m): durasi 4-5 JamIni trekking 5 jam sebenernya terbilang standart santai banget. Bisa dikondisikan lagi.

Day 4 : Selasa, 13 Februari 2018

At Namche Village : Acclimatization and Rest Day (istirahat) Bazzar di Namche ada tiap Sabtu. Di Namche bisa nonton film sherpa, jalan- jalan keliling desa, ke museum dll.Day 5 : Rabu, 14 Februari 2018

Trekkingfrom Namche to Tengboche (3800m): 5 jam Rencana awalnya begitu, tapi karena masih siang, kami meneruskan ke Debuche, tiba sekitar pukul 3 sore dan menginap disana.

Day 6 : Kamis, 15 Februari 2018

Trekking from Debuche Village to Dingboche (4360m): 6-7 JamPemandangan jembatan, sungai, dan vegetasi datar.

Day 7 : Jumat, 16 Februari 2018

Trekking from Dingboche to Tabuche (4600m): 3-4 Hours.. istirahat bisa lanjut trekking dari Tabuche to Lobuche (4940m) sekitar 2-4 jam (lihat kondisi) mulai rentan terkena AMS karena angin kencang.Day 8 : Sabtu, 17 Februari 2018

Trekking from Lobuche to Gorakshep (5150m) jaraknya cukup dekat sepertinya tapi matahari terik dan angin serta penyakit ketinggian bisa memengaruhi fisik.

Day 9 : Minggu, 18 Februari 2018

Trekking from Gorakshep to Everest Base Camp (5364m), back to Gorakshep: 7-8 jam Kalapatthar (5545m)karena kecapekan menginap semalam lagi di Gorak Shep.

Day 10 : Senin, 19 Februari 2018

Gorak Shep to Pheriche (4280m): 7-8 Jam btw biasanya trekking turun lebih kerasa cepet kan… tapi nggak juga. Trekking from Pheriche (3440m): sampai jm6 sore.

Day 11 : Selasa, 20 Februari 2018

Trekking from Pherice to Namche: 8 Jam jauh terasa, walau turun.Day 12 : Rabu, 21 Februari 2018

Namche to Lukla hampir 12 jam trekking, yang seharusnya dicicil Lukla to Phakding, kami pun sampai jm8 malam. Karena harus mengejar pesawat.

Day 14 : Kamis, 22 Februari 2018

Lukla to Kathmandu pesawat pagi, tapi penerbangan cancle 3 kali hehehe cuaca buruk.Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 15 : Jum’at, 23 Februari 2018

Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 16 : Sabtu, 24 Februari 2018

Jalan-jalan terakhir di Thamel dan pulang dari Kathmandu jam 9 malam.Day 17 : Minggu, 25 Februari 2018Transit KL dan departure to CGK, Indonesia ✈️✈️✈️Sumber Wikipedia : From Lukla, climbers trek upward to the Sherpa capital of Namche Bazaar, 3,440 metres (11,290 ft), following the valley of the Dudh Kosiriver. It takes about two days to reach the village, which is a central hub of the area. Typically at this point, climbers allow a day of rest for acclimatization. They then trek another two days to Dingboche, 4,260 metres (13,980 ft) before resting for another day for further acclimatization. Another two days takes them to Everest Base Camp via Gorakshep, the flat field below Kala Patthar, 5,545 metres (18,192 ft) and Mt. Pumori.On 25 April 2015 an earthquake measuring 7.8Mw struck Nepal and triggered an avalanche on Pumori that swept through the South Base Camp.[6] At least 19 people were said to have been killed as a result. Just over two weeks later, on May 12, a second quake struck measuring 7.3 on the moment magnitude scale. [7] Some of the trails leading to Everest Base Camp were damaged by these earthquakes.

Di bawah ada capture itinerary awalnya, sekaligus dengan rincian biaya yang bisa di print. Tapi fix kondisi lapangan itinerary di atas merupakan rangkaian kejadian aslinya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Yak, Si Satwa Fotogenic Pegunungan Himalaya

Yak, nama yang terdengar asing untuk sebutan hewan. Namun kalau kamu pernah ke wilayah Tibet atau Asia Selatan seperti di Nepal, tempat pegunungan Himalaya berada maka nama ini akan jadi akrab.

Apa sih hewan yak itu? Tentu saja supaya kenal kamu harus ketemu dulu atau searching namanya di Google. Saya pun baru mengenal hewan ini ketika trekking ke Himalaya. Suka memotret mereka, soalnya di Indonesia nggak ada 😂✌🏻. Menurut saya fotogenic aja, pas lewat jembatan bikin siapa pun memilih minggir atau nunggu biar lewat duluan.

Menurut Wikipedia, yak dalam Bahasa Latin (Bos grunniens) adalah sejenis sapi yang banyak ditemukan di Tibet dan wilayah sekitar Himalaya di Asia Tengah. Kata yak merujuk kepada spesies jantan sedangkan seekor betina disebut dri atau nak.

Yak yang liar mempunyai tinggi sekitar dua meter di pundaknya, sedangkan yang diternak biasanya hanya setengah ketinggian tersebut. Kedua jenis tersebut sama-sama mempunyai bulu yang panjang untuk melindungi mereka dari kedinginan.

Yak liar umumnya berwarna hitam dan cokelat. Yak yang diternakkan juga ada yang berwarna putih. Yak banyak dimanfaatkan untuk susu dan dagingnya. Susunya sendiri berwarna merah jambu. Selain itu, mereka juga digunakan untuk mengangkut barang melewati medan-medan yang berat seperti pegunungan.

Katanya sih banyak hewan yak yang dibunuh sebagai makanan oleh orang-orang Tibet sehingga kini mereka termasuk spesies yang terancam punah. Btw, karen penasaran sama menu steak yak saya juga nyobain waktu aklimatisasi di Desa Namche, walau katanya mending jangan makan daging deh kalo sudah di ketinggian 3400 mdpl-an, daging nggak dijamin segar dan belum tentu tiap lodge punya kulkas.

Tapi agak nyesel juga makan steak yak, soalnya pas trekking dari Dingboche dan menuju Gorak Shep melihat dengan mata kepala sendiri kalo si yak makan kotoran nya yang sudah kering 😂🙈. Memang di Pegunungan Himalaya ketinggian di atas 4900 mdpl-an ya sudah jarang pohon, paling rumput-rumput kecoklatan, vegetasinya beberapa tempat sudah mulai gersang, dan udara dingin sekali. Bbrrrr

Si yak ini jalannya lebih cepet lho daripada manusia, kelihatannya aja pelan. Tiap kali ada suara lonceng kriling kriling, si Yak berarti ada dekat. Yak ini biasanya juga memang dikasih kalung lonceng seperti juga kuda yang dijadikan alat transportasi mengantar barang.

Yang saya ingat tentang yak, juga jejak kotorannya. Pasti dimana-mana, di jalanan sepanjang mendaki. Kebayang gimana baunya? Kecium? 😂 ampun, kalo lagi meleng mata saya keinjek kadang kotorannya.

Sampai sepatu ikut bau kotoran yak, supaya nggak bau biasanya ketemu sungai ada airnya saya cemplungin bagian alas sepatu dan kalau terpaksa pakai tisu basah, soalnya sepatu kan dipakai di dalam lodge. Ditaruh di lantai kamar dan dipakai juga saat lagi diperapian bareng orang-orang, jadi kalau kecium bau nggak enak saya malu juga.

Kadang gemes dan merasa si yak berjasa banget. Yak yang tangguh, naik turun di cuaca dan kondisi pegunungan yang berganti musimnya dengan beban berat dipundaknya. Kalau gak terganggu seperti kuda, kadang saya usap bagian kepalanya kalau lagi papasan. Ciptaan Tuhan yang… harus dikasihi 🙏🏻

Bulu yak lumayan tebal mirip kuda dan agak kasar. Saya tahu karena pernah memegang. Dan tahu gak sih, bulu mereka juga dijadikan wool dan jadi selimut. Saya pun membelinya sebagai oleh-oleh untuk jadi kenang-kenangan. Jadi kalau kangen sama yak, pakai aja selimut dari wool yak itu.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (5) – Monjo to Debuche, Batal Trekking Bareng Bule Spanyol Baper

Katanya, traveling itu bisa buat kita makin mengenal diri, makin tahu apa yang dimau, berani bersosialisasi, membuka cakrawala baru, bikin kita lebih membumi, dan punya pola pikir lebih luas. Alhamdulilah terima kasih dengan segala kisah traveling yang sejak 2013 lampau hingga sekarang menjejak ditahap ini.

Sudah sampai mana daya jelajahku ya masih disini-sini aja, karena memang sempat berfikir di dalam negeri, jalan-jalan di Indonesia aja sudah bagus banget kenapa harus jalan keluar? Menurutku bukan berarti kalau traveling ke luar negeri terus gak cinta Indonesia juga, ini soal pilihan aja kok, apa yang dipingin!

Dan kali ini aku pilih Nepal memang khusus karena ada pegunungan Himalaya disana. Jauh-jauh hari karena empat bulan lalu sempet belum fix jadi pergi ke Nepal, ternyata partner trekking ku cari travelmate lain di dunia maya, sebut saja partner naik gunung ku kali ini di sini namanya Kobo Chan (karena menurut ku potongan rambutnya mengingatkan sama tokoh kartun Jepang Kobo Chan 😂✌🏻).

img_5321
tempat pemeriksaan, bayar trekking permit untuk Sagarmatha Zone

Lalu saat akunya udah fix jadi pergi ke Nepal, Kobo Chan mengadu .. kalau saat aku masih galau pergi atau gak dia cari partner dan ada satu orang Spanyol yang tanggal perginya sama dengan kami. Mereka sudah saling berbalas email dan kelihatannya si bule Spanyol ini memang serius sekali mau bareng!

Partner gw nggak jadi bareng nih. Gw nggak mau trekking sendiri, bareng ya, ketemu di Giri desa setelah Lukla,” kira-kira begitu terjemahan kata-katanya di email..

Dua bulan, sebulan, hingga selang seminguan sebelum kepergian ke Nepal Si Bule Spanyol masih kontakan sama Kobo Chan dan karena itu kami juga jadi bisa menggali informasi lebih banyak soal trekking ke Everest Base Camp (EBC). Dengan pertanyaan apakah kami akan ambil asuransi untuk trekking ke EBC? Bagaimana dengan jadwal pesawat ke Lukla, beli online atau langsung? Atau bagaimana cara mengatasi bila kami kena Acute mountain sickness (AMS) alias penyakit ketinggian?… berkat Antonio, si bule Spanyol, kami tidak bingung lagi dan ini semakin memantapkan persiapan untuk trekking ke EBC.

img_5519
Pemandangan dari Namche menuju Tengboche

Dua hari pertama saat sudah ada di Kathmandu, belum ada kontak langsung ke Antonio, walau aku ingat dia memberikan nomor WhatsApp. Rasanya seperti kurang niat dari kami nya ya? 😂🙏🏻 Lalu saat baru akan terbang ke Lukla besoknya baru deh aku nanya Kobo Chan.

“Eh si Antonio apa kabarnya ya, dia nginep di hotel mana sih di Thamel?,” tanya ku via texting

“Kayaknya si Antonio bakalan on the spot deh nginep dimana,” balasnya..

Karena masih ingin santai-santai me time di Thamel dengan kulineran dan belanja aku pun sengaja untuk memang tidak menghubungi Antonio. Biarlah sama-sama me time. Barulah di bandara beberapa jam sebelum penerbangan ke Lukla aku coba WhatsApp Antonio dan ternyata cepat dia balas.

img_5514
Salju di Namche

Hi Antonio, i’m Dyah, Chandra friend… from Indonesia.. we will arrived at Lukla maybe at 8.30 am,

Now we waiting for flight 7.45 am,

Just wait there 🙂,” tulis ku di pesan WhatsApp.

Hi, how are u?

….

it’s cool… ,”

bla bla bla aku lupa dia nulis apa saja, tapi antusias banget lah dia..

Kemudian Antonio juga menginformasikan lokasi dia nunggu, dia bilang di Alpine Lodge, desa Giri.. 30 menit hingga 1 jam dari Lukla,”

Dia juga kasih foto selfie, lagi pakai kaca mata gitu dan slayer merah dengan jaket warna cokelat.

Oke,” jawab ku…

img_5317
baru sampai Desa Monjo jam 4 sore, bagus ya dari jauh pemandangannya

THEN…. Entah sebab apa… entah angin apa, entah bagaimana bisa. Kami berdua nggak ada yang inget sama Antonio setelah ngerasain naik pesawat cihuy ke bandara extreme, turun pesawat yang diinget mau pipis dulu, packing ulang tas, terus trekking ngelewatin lodge, rumah penduduk, dan bayar trekking permit nggak jauh dari Lukla.

ANEH menurut ku. Nggak satupun dari kami ingat Antonio. Mungkin karena takjub banget sama atmosfer desa? Atau gimana nggak ngerti deh. Bener-bener baru ngeh janjian sama Antonio saat liat plang petunjuk jalan pemberitahuan kalau desa Phakding jaraknya 1 jam lagi, Namche 6 jam lagi. Baru inget, saya nyeletuk.

“Lah Antonio, kan janjian sama Antonio, kelewat dong?… zZzzZzzz

Ngerasa agak bersalah, aku coba nge-WhatsApp, tapi koneksi internet nggak ada. Data tidak berfungsi. Padahal paket roaming aku masih ada 1 hari lagi. Masih ngerasa nggak enak. Karena Antonio pastinya nunggu. Pesan ku sudah pasti tidak terkirim. Kami jalan lagi sampai akhirnya makan siang dan sampai Monjo sekitar pukul 4 sore.

img_5532
di Everest Base Camp trek, akan menemukan banyak jembatan seperti ini

Disela makan aku masih berguman bingung, kok bisa lupa Antonio. Sampai besoknya ya sudahlah memang lupa tidak disengajai. Bahkan masih merasa bersalah sebenarnya ketika sampai di Namche. Ngomong deh ke Kobo Chan…

“Si Antonio waktu itu dikasih tahu gak sih, kalau rencana kita mau nginep di Himalayan Lodge,? Tanya ku..

“Hmm, enggak kayaknya,”… balesnya nggak yakin. Lupa 😂🙏🏻

Ya sudah… cuek lah habis itu… walau kadang kepikiran. Pas makan, mikir gimana kalau Antonio nungguin, kan dia mesti nyampe sini juga, kemaleman apa gimana… PADAHAL kenal deket juga nggak tapi saya mikirin. Dia kan sudah dewasa bisa memutuskan keadaan terbaik seperti apa baiknya. Btw Si Antonio berumur 33 tahun, dia memperkenalkan jati diri dan pengalamannya sepedahan keliling beberapa negara gitu melalui email.

img_5516
anak-anak Nepal, di Desa Namche

Terus Antonio juga cerita (Kobo Chan yang nyeritain ulang obrolannya di email) sebelum ke EBC dia juga dari India, ke Taj Mahal dan dia ngabisin waktu 2 bulan liburan ke beberapa negara selain India dan Nepal. Kebayang kan betapa jauh perjalanan dan perbekalan dia buat itu. Bahkan dia cerita buat hemat uang pakai purify water, … air mahal banget (1 U$D – 3,5 U$D di desa dekat EBC) di Nepal listrik juga mahal soalnya. Belajar dari dia kami ikutan mau hemat gitu.

Oke Antonio, maafin ya, kami bener nggak sengaja.. lucunya! Gak sadar kami ngobrol sama seorang bule di perapian sebelum tidur saat di Namche, dia juga dari Spanyol, bilang abis dari India, terus sekarang ini 2 bulan liburan gitu. Kenapa 2 bulan? Karena dia kerja setiap hari, gak libur, gak seperti kami yang Sabtu dan Minggu dapet libur tiap pekan.

Sebelum tidur Kobo Chan nanya gitu,

“Eh mungkin nggak sih, si bule Spanyol yang ngobrol sama kita tadi itu si Antonio,” katanya agak sambil mikir keheranan..

“Hmm, kayaknya gak mungkin, mukanya beda, yang di foto pakai kaca mata sih, tapi dia dari Spanyol juga ya, mungkin aja,” balas ku…

img_5327
Perjalanan dari Desa Monjo ke Namche

Then ngantuk, si Antonio untungnya nggak masuk ke alam mimpi aku.. tau-tau pagi, Namche berubah jadi bersalju… mungkin terlalu exited jadi lupa soal Antonio lagi.. sampai makan malamnya.. ketemu sama si Spanyol lagi di perapian dan makan sebelahan. Tapi kali ini pandangannya natap kami agak aneh curiga gitu. Aku sih santai aja orang nggak kenal nggak deket juga.

Desa Namche kami lewati, trekking lanjut ke Tengboche dengan ada sedikit hujan salju di perjalanan. Cukup jauh kali ini trekking hampir 6-7 jam. Sampailah kami di Debuche, desa setelah Tengboche. Menginap di sebuah lodge yang namanya unik, Rivendell, salah satu asrama di film HP.

Ternyata satu lodge sama si bule Spanyol. Kaget juga, bener-bener ruang dia disebelah kamar. Dingin lebih menusuk di Debuche, baru sampai aku lihat toilet dan menemukan airnya hampir jadi es 😂. Beku, nggak kuat ber-wudhu, nyerah aku tayamum.

Dari dalam kamar yang punya jendela dan bisa melihat pemandangan depan gunung es dan halaman lodge aku juga ikut merhatiin Kobo Chan lagi ngobrol sama si bule Spanyol. Dalam hati mikir, ngobrolin apa ya kok kayak serius… haha..

Habis beres barang bawaan, nggak lama Kobo Chan masuk dan tiba-tiba mengadu..

“Dy, bener tau ternyata itu si Antonio, njirrr… baper banget dia,…” sahutnya tiba-tiba

“Hah, masa… tau dari mana,? Tanya ku penasaran…

“Iya tadi dia yang bilang,

img_5630
cerah, matahari terik namun udara anginnya dingin

Gak tau tiba-tiba ada yang mangil nama,

Kaget aja ada yang tahu nama, Chan…

Terus dia ngomong gini masa,

..”Chan… kalau ngga mau bareng bilang aja dari awal,”… aduan Kobo Chan sembari niruin gimana si bule nyampeinnya..

“Lah,… hahaha, masa..,” heran ku

“Baper banget si bule..,” bales Kobo Chan lagi

“Yaudah nti coba nti tak samperin dan bilang kalau hp ga ada sinyal, ini juga nggak disengaja,” bales ku lagi

Whattt… kata ku dalem hati. Memang kelihatan sih, si Antonio seperti nahan kesel, mau marah gimana gitu, tapi nggak bisa, lah kita dan dia bukan siapa-siapa, deket juga nggak kan… hahaha baper!

img_5536
ini di Desa Tengboche, dekat dari situ ada Wihara

Akhirnya aku nggak ngomong apa-apa sama Antonio, udah sibuk kedinginan, ngangetin diri, akhirnya nyamperin juga nggak, abis udah males… haha cuekin aja lah, kata aku ke Kobo Chan … “Namanya orang dewasa harusnya nggak bersikap gitu,… hahaha

“Lagian ada hikmahnya juga gak bareng dia, kan bule jalannya cepet,” bales Kobo Chan lagi 😂✌🏻…. bener juga kata ku dalam hati.

Serasa jodoh sama si Antonio, saat mau trekking dari Dingboche ke Tabuche kita juga ketemu. Then, pas perjalanan pulang dan ke Namche lagi dia nginep di lodge yang sama lagi, dengan waktu pertama kami ketemu. Cuma aku sibuk ngurusin re-schedule tiket pulang. Dalem hati baper baper nih bule 😂🙏🏻.

Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (2) : Absurd – Unknown Feelings After 17th Days

Sampai sekarang semuanya terasa seperti mimpi.. perjalanan di Himalaya seperti tidur sekejap.. Ada perasaan aneh dalam hati, tapi tidak tahu itu apa..

Pada jam seperti ini biasanya aku sudah ada di alam mimpi. Pukul 8-9 malam, sesudah makan malam biasanya aku telah tertidur karena tidak ada televisi, mungkin efek kecapekan juga.. trekking seharian, sebab fisik yang memang butuh istirahat.

Sejujurnya aku senang sudah ada di rumah (sekarang). Merasakan tiap hari trekking itu rasanya, semacam derita sekaligus kesenangan tapi bukan masokis ya hehe. Aku nggak bisa mendefinisikan secara tepat perasaan seperti apa ini. Ada rasa riang hati memandangi deretan pegunungan indah, ada rasa puas telah melampau mimpi, karena telah jadi nyata.

bridge at Everest Base Camp (EBC)
Kamu akan banyak melewati jembatan seperti ini di sepanjang pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Trekking hari pertama setelah penerbangan extreme 30 menit dari Kathmandu, Ibu Kota Nepal. Langitnya ketika itu biru, perjalanan dari Lukla ke Monjo memakan waktu sekitar 5-6 jam trekking. Melewati jembatan yang ku pikir akan seram karena takut ketinggian ternyata tidak. Hari selanjutnya juga, dari Desa Monjo ke Namche Bazar sekitar 3 jam trekking. Lalu ada salju di saat satu hari aklimatisasi di Namche Bazar. Trekking ke landasan helikopter, yang walaupun sebenarnya karena kami mencari museum sherpa, siangnya nonton film sherpa di sebuah Cafe sambil memesan cappucino, makan, bengong, tidur lagi, sambil ada sedikit khawatir bahwa cuacanya memang sangat dingin.

Ada experience makan steak yak, tanpa pikir panjang saat makan malam pesan menu itu. Termasuk sup bawang putih, sup ayam yang ternyata encer tapi kaldunya asli, lalu nyobain sandwich dengan keju khumbu, asli dari Nepal sini. Ohya setelah tidak mandi saat menginap di Monjo, akhirnya bisa mandi di Namche dengan membayar 400 Rupee Nepal atau setara 4 U$D. Aku menginap di Himalayan Lodge, sesuai dengan keinginan banget, ternyata lodge-nya memang recomended.

Di Namche aku juga memutuskan untuk membeli sarung tangan yang lebih hangat, termasuk untuk leher. Sayang sekali harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 10 U$D untuk 2 benda itu, untung saja tidak jadi membeli sleeping bag yang ternyata di Namche harganya bisa mencapai 100 U$D.

Jembatan lagi, di awal trekking menuju Desa Monjo 

Di suatu waktu nafas yang terengah-engah juga perasaan lelah muncul. Terlebih dingin yang lebih daripada perkiraan. Belum pernah ku rasakan sedingin ini. Minus 5 hingga minus 7 derajat celcius. Betul-betul beku saat akan ber-wudhu, hingga aku menyerah di Dingboche, aku memutuskan untuk bertayamum saja. Karena suhunya semakin mendekati minus 10 derajat.

Fase kedua dari pendakian yang sulit memang terasa sekali setelah melewati Dingboche (ketinggian sekitar 4000). Perjalanan dilanjutkan masih dengan padang savana berhampar pegunungan Himalaya disekeliling, Tabuche 4620 adalah titik barunya dimana sepanjang perjalanan anginnya kencang sekali bahkan aku perlu memakai penutup kepala bandana.

Disini kami melewati sungai yang sebagian juga sudah menjadi gletser. Airnya begitu mencapai titik beku tapi aku tetap mengambil air minum disini untuk bekal perjalanan, daripada harus membeli air kemasan yang harganya mencapai 350 Rupee Nepal atau 3,5 U$D di Lobuche.

Everest Base Camp Trek
Terik cuacanya, tapi ini hampir sekitar 5 derajat celcius lho… bahkan sudah hampir ke atas turun salju rintik

Rasanya berat sekali, rasanya ujung perjalanan tak nampak di pelupuk mata. Dimensi yang buyar, kepala terasa pening, perut begitu mual, nafas agak tersengal, sejak kemarin aku juga batuk dan pilek. Hampir tiap berapa menit harus berurusan dengan ingus. Pagi itu sarapan ku hanya roti toast, entah rasanya memang kurang nafsu makan. Dan,.. minum ku hanya sekitar 1-2 liter saja. Yang ku tahu, ini gejala Acute mountain sickness (AMS).

Aku tak ingat tanggal maupun hari, apalagi kapan pulang. Yang ada dibenak hanya “Apapun itu jangan menjadi lemah, sedikit lagi sampai, di depan sana sudah dekat desa selanjutnya,”. Benar saja, seperti sayup sayup fatamorgana ada suara seorang bule menyebut kata “almost there”. Tak jauh, agak turun ke bawah memang kelihatan ada atap rumah. Disanalah, seolah tenaga yang tersisa, tak menghiraukan lagi terik sekaligus terpaan angin dingin pegunungan tak kenal ampun. Kali itu tak mampu lagi untuk tak berbagi keluhan dengan teman seperjalanan. Aku sampai di Gorak Shep. (Ketinggian sekitar 5164 mdpl). Selangkah lagi dalam sehari 3 jam trekking ke Everest Base Camp (ketinggian 5364 mdpl).

Rasa mual makin menjadi-jadi. Kami duduk di sebuah restoran yang ada di dalam lodge paling pertama di Gorak Shep. Namun aku memutuskan tak jadi menginap di lodge ini karena melihat toiletnya makin membuatku ingin muntah. Sudahlah jangan ditanyakan lagi.

Ku putuskan untuk jalan beberapa ratus meter lagi, walau tenaga yang tersisa hampir habis. Di seberang sisi kanan jalan sana terlihat ada dua penginapan lodge lagi. “Chan aja deh yang pilih lodge-nya,” sahutku agak putus asa setelah sampai di depan penginapan.

Akhirnya kami memilih Budha Family Lodge. Kelihatan lebih bersih, pikirku setidaknya untuk toiletnya tak basah lantainya dan tak begitu bau. Meski air di gentong besar tetaplah beku. Sambil merasa kedinginan tak sempat membereskan barang, aku tidur cukup lelap menghilang bersama rasa sakit kepala yang amat sangat. Sorenya aku baru terbangun, bersama hilangnya AMS. Ternyata ini saja obatnya. Tidur…

Karena tak ingin malamnya sulit tidur, aku pun bangun. Mengambil buku bacaan dan membacanya di ruang restoran, di perapian tempat berkumpulnya orang-orang yang menginap. Mereka memesan makanan, makan, berbincang satu sama lain walau tadinya tidak saling kenal. Tak ada perbedaan ras, mata sipit, rambut pirang, kulit sawo atau pucat seperti bule, kami yang sama-sama kedinginan berkumpul di perapian.

Baru tersadar, teman seperjalanan tidak ada, ternyata dia trekking ke Kalapathar yang letaknya lebih tinggi dari Everest Base Camp (EBC). Katanya begitu kepayahan untuk menjangkaunya. Bahkan pendaki lain menyarankan untuk turun. Sakit kepala, nafas terengah-engah. AMS.. sangat ingin berteman dengan kami.

Aku minum air hangat untuk meredakan sakit. Rasanya itu adalah teh paling enak, padahal itu kantung teh yang ku bawa dari rumah. Memang sisah teh waktu perjalanan ke Korea Oktober silam. Namun di Gorak Shep ini, dengan tambahan gula, kebekuan cuaca itu sedikit mencair. Aku merasa baikan…

Besok adalah tiga jam trekking menujuEBC. InsyaAllah bisa dilalui. Benar. Entahlah, rasanya biasa saja ketika sampai tempat itu. Hening saja. Ada gletser dimana-mana. Tak berlama-lama, hanya 10-15 menit begitu sampai, aku memutuskan turun lagi. Teriknya matahari di luar jangkauan ku, bukan hanya itu, angin menerpa sangat kencang, dingin membeku.

Aku memilih hanya meminum larutan madu dengan air hangat. Tidak ingin makan sama sekali setelah malam sebelum memesan vegetable roll dan honey toast. Tapi ternyata semua makanan itu harus keluar secara paksa diperjalanan setelah turun dari EBC.

Gorak Shep masih jauh, aku tahu itu. Setidaknya 1,5 jam lagi jaraknya, melewati kerikil besar batu, meski menurun. Lalu ada jalanan mendaki dan turun lagi, sampai pada padang luas, dari kejauhan genteng rumah penduduk menyambut. Aku masih linglung, ingin pingsan rasanya, tapi tidak boleh, ku tahan dan ku simpan tenaga tersisah sampai di lodge aku membaringkan diri, tak berdaya.

…. BERSAMBUNG dengan cerita di tiap desa dan bagian tersendiri berbelanja dan kuliner di Kota Thamel 😊