Indonesia, Liputan, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

A Journey at Toba Samosir, The Land of Batak

Kita lagi memutar untuk prosesi mengulosi saat hampir di akhir menari Sigale-gale

Kali kedua ke Tanah Batak… tak menyangka bahwa saya akan kembali menyambangi Danau Toba di Sumatera Utara. Dan kali kedua ini Alhamdulillah saya punya waktu untuk menyebrang juga ke Pulau Samosir. 

Nah yang berbeda dari kunjungan saya pertama, kali kedua ini waktunya lebih panjang bisa mampir juga ke Huta Siallagan. Kebayang gimana dulu tahun 2012 saya harus melewati 7 jam-an perjalanan darat dari Medan ke Danau Toba. 

Kemarin karena sudah via Bandara Silangit dari Medan, Kualanamu perjalanan relatif lebih singkat sekitar 3 jam-an. Presiden Jokowi akhir tahun 2016 lalu sempat datang ke Danau Toba jadi Bandara Silangit lumayan dibenahi. Walau ya, kantin bandaranya masih ngedusun banget.

Masih dengan tariam Sigale-gale, rombongan wartawan ikut-ikut 😅😅😅

Perjalanan ke Danau Toba ditempuh dari Jakarta dengan singgah ke Medan terlebih dahulu. Lewat bandara Kualanamu, kami melanjutkan perjalanan udara sekitar 1 jam dengan pesawat ATR ke Bandara Silangit, Borong-borong. Dari Silangit masih ada perjalanan darat sekitar 20 km (kurang lebih 1,5 – 2 jam) menuju Parapat, Danau Toba. 

Sepanjang jalan menuju Danau Toba kita akan melewati Tapanuli Utara, hingga Desa Balige.. sebenarnya ada banyak objek wisata di desa-desa ini. Kamu bisa trekking dan ke air terjun, tapi karena waktu lumayan singkat 1 hari di Parapat, jadi kami hanya nyebrang ke Samosir saja. Menurut saya ini sudah lumayan, dengan agenda padat tour bandara dan fasilitas di Kualanamu, liputan saya 3 hari di Medan dan Danau Toba ini dari pagi jam 05.00-21.00 sudah di luar jam kerja banget dan buat tubuh cukup drop.

Cuaca agak mendung, sayang sekali.. so capture kamera saya tidak terlalu membidik danau Toba sebagus aslinya dengan penglihatan mata. Setelah makan siang, agenda lanjut nyebrang ke Pulau Samosir menggunakan kapal feri. Anginnya kencang banget dan ditengah perjalanan sempat hujan gerimis. Bahkan sampai di Huta Siallagan, kami hujan-hujanan. 

Ini moment lucu, kita ngikutin tarian Sigale-gale

Huta Siagallan ini merupakan sebuah desa wisata yang dulunya kerajaan kecil. Lokasinya dibatasi tembok batu 2 meter. Di dalam yang tinggal hanyalah keluarga raja. Rakyat biasa tinggal di luar tembok itu. 

Horas.. horas.. horas (3 kali) sapaan akrab untuk orang Batak. Di Huta Siallagan kita akan menemukan rumah bolon sebagai tempat bermukim suku Batak. Kabarnya rumah aslinya berukuran 3 kali lipat lebih besar. Desa ini dulu sempat kebakaran hingga menghanguskan seluruh rumah di tahun 1940. 

Diceritakan bahwa ada pohon di depan rumah bolon yang umurnya 500 tahun (namun sudah tumbang dulu), pohon yang sekarang ada umurnya baru 80 tahun. Didekatnya ada meja batu tempat diskusi raja dengan penasehatnya. 

Pintu masuk Huta Siallagan

Pohon ini dipercaya sebagai pohon kehidupan yang didalamnya konon bersemayam roh leluhur. Kalau diperhatikan, di antara rumah bolon itu ada satu rumah yang beda, dengan tanduk.. inilah rumah yang ditinggali Raja. 

Orang Batak zaman dahulu percaya pada dukun dan ilmu sihir, mereka tiap kampung bahkan punya datuk atau dukun sendiri. Di Samosir sendiri ada tiga raja, yang lain merupakan raja kecil. Fyi kawasan Huta Siallagan ini sudah masuk cagar budaya lho, tapi pemeliharaan masih dikelola keluarga. 

Cerita menariknya, selain percaya sihir, dulu raja Batak disini tidak punya agama. Raja baru memeluk agama sejak datangnya seorang misionaris dari Eropa ke pulau Samosir di tahun 1865. Sejak misionaris Jerman datang ke sini kanibalisme juga berhenti. Itu terjadi 500 tahun yang lalu.. Raja Henrik itu yang terakhir diakui pada zaman penjajahan… Dengan kebaikan penjajah Belanda, dulu tahun 1920 raja Batak di Samosir sudah punya foto.

Advertisements
Indonesia, Liputan, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Mengenang Bung Hatta di Rumah Pengasingan Banda Neira

Di salah satu ruang kerja, ada foto-foto dan mesin tik, lantainya memiliki ubin yang berasal dari masa itu.

Your life isn’t behind you, the memories are behind you. Your life is always ahead you 😀 (Quote by me)

Sejarah bukan soal kisah perjuangan kemerdekaan saja, tapi soal sejarah hidup kamu sendiri.

Kali ini tentang Bung Hatta yang saya kenal lewat Rumah Pengasingan selama beliau di Banda Neira, Maluku. Beberapa foto masih di memory card kamera dan belum sempat saya sertakan karena laptop perlu perbaikan. So, beruntungnya beberapa foto untuk artikel ini memang sudah sempat saya edit dan posting di Instagram. 

Rumah pengasingan bung Hatta tampak dari luar

Waktu lagi terombang-ambing selama 5 jam lebih di kapal menuju Banda Naira, saya diberitahu tentang Kepulauan Banda Naira. Ada nama pulau diambil dari tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan yang diasingkan di Banda Naira ini. Ada rumah pengasingan tokoh-tokoh itu juga. Wow! Keren dalam hati, berarti ada banyak bahan tulisan menarik.

Tempat ini memang punya banyak cerita. Tentang penghasil buah pala, tentang pengasingan tokoh-tokoh penting era kemerdekaan, tentang gunung api yang megah, tentang benteng mistis penuh misterinya. Semua cerita yang sudah saya bagi di tulisan blog sebelumnya. Nah, kali ini merupakan dua bagian terakhir sebelum saya bagi juga satu tulisan selanjutnya soal Pulau Sjahrir.

Banda Naira sungguh panas terik, ketika akan berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Hatta. Cukup berjalan kaki saja dari hotel, saya pun hanya bersandal jepit. Maaf bukan tidak menghargai tapi sepatu kasual ketinggalan, tak masuk di dalam backpack. Liputan yang santai saat itu membuat saya urung memakai sepatu sporty yang tak cocok dengan blus atasan.

Ini tempat mengajar dan papan tulis yang dipakai Bung Hatta

Rumah Pengasingan Bung Hatta hanya berjarak sekitar 500 – 700 meter dari Hotel Maulana. Begitu datang kami disambut penjaganya Ibu Emmy Badila. Dia merupakan keponakan dari Des Alwi yang adalah anak angkat Bung Hatta. 

Emmy bercerita tentang rumah pengasingan bagaimana dulu tempat tersebut juga digunakan untuk kegiatan mengajar Bung Hatta. Tak heran juga jika kamu ke halaman belakang ada bangku dan meja tulis. Papan tulisnya pun berdebu, tak diubah dengan tulisan yang dibuat Bung Hatta terakhir kalinya ketika kembali ke tanah Jawa.

“Tulisannya yang dari kapur tulis itu pernah ditembalkan agar tetap jelas dibaca,” kata Emmy.

Ruang mengajar

Wanita berusia sekitar 70 tahun itu pun mempersilahkan kami melihat-lihat. Bangunan awalnya tak sebaik sekarang, menurut Emmy banyak dirapihkan. Diperluas, dibersihkan dan terus dirawat, benda-benda milik Bung Hatta masih ditempatkan dalam lemari seperti kaca matanya yang ikonik itu.

Ada mesin ketik di ruang kerja, banyak foto-foto lama yang menggambarkan sosok Bung Hatta. Ada tabung untuk menyalahkan lampu, yang zaman dahulu memang harus pakai itu. 

Ruang tidurnya memakai kelambu, masih rapih semua. Sumur dan ruang-ruang dekat tempat mengajar yang menurutku gelap agak seram. Lantainya masih asli, bukan ubin keramik tapi seperti dari bata merah yang rapih besar-besar ukuran kotaknya.

Bersama ibu Emmy Badila penjaga rumah pengasingan bung Hatta

Sayang bila ke Banda Naira tak mampir melihat-lihat ke dalam rumah pengasingan. Disini kamu belajar sejarah langsung dan bisa berimajinasi dengan masa lampau ketika yang sudah tidak ada mengalami di zamannya.

Ibu Mutia Hatta yang sempat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan pernah berkunjung ke Banda Naira dan juga menyambangi rumah tempat dulu ayahnya sempat diasingkan ini.

Backpacker, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Dreams Destination (1) : Himalaya – Annapurna

Sumber foto : mountain kingdom

Hai para traveler…. Apa destinasi impian mu berikutnya? Dua tiga tahun yang lalu saya sempat berkeinginan ke India tapi belum klop dengan travelmate nya dan ada “sign” bahwa jangan kesana dulu.

Tak berhenti punya impian dan keinginan menjelajah. Salah satu keinginanku yang kepingin banget bisa diwujudkan yaitu ke Himalaya!

Yup! Deretan pegunungan tertinggi di dunia itu, begitu punya magnet. Oke! Daripada impian ini hanya jadi sekedar impian, saya tuliskan saja. Tulisan ini akan mengingatkan gimana saya meluangkan waktu cari data dan riset pendakian ke Himalaya.

Sumber foto : tigabumi.com

Kenapa Annapurna? Soalnya tempat ini salah satu pegunungan yang terkenal di Himalaya. Saya nggak berniat sampai puncak salah satunya kok. Cukup di Basecamp Annapurna saja, mengingat waktunya bisa satu bulan, eh ternyata dua minggu busa, kalau ingin mencapai Basecamp Everest.

Perjalanan ke Nepal (ABC), Annapurna Basecamp ini memerlukan waktu sekitar 2 Minggu, itu pun minim sekali. Sebaiknya ditambahkan sekitar 16 hari, berjaga-jaga pendakian tak mulus. Karena dari pengalaman, target dan pencapaian suka mundur, banyak istirahat atau kebanyakan motret.

Pertama saya tuliskan dulu keperluan utama selama 17 hari di Nepal (secara umum).

(1) Tiket Pesawat : sekitar Rp. 5 juta

(2) Visa VOA : 40 USD Rp. 532 ribu

(3) Biaya Menginap

(4) Biaya makan

(5) trekking permit : Rp. 529 ribu (TIMS NPT 2,032 ACAP NPR 2,200)

(6) Potter : sekitar ??? Rp. 1 juta (belum Googling)

(7) simcard + pulsa sekitar Rp. 300 ribu

(8) Travel insurance : sekitar Rp. 300 ribuan

(9) Beli sepatu trekking (pikirkan nanti)

(10) Tas Carrier

(11) beli jaket musim dingin

Barang lain bisa pinjam/sewa di Pokrana, kota sebelum naik bus ke Basecamp pendakian awal.

Itinerary secara general :

Day 1 : Jakarta – Kathmandu

Day 2 : Tiket Permit, explore Kathmandu sebentar, cari tiket bus ke Pokhara

Day 3 : Menuju Pokhara, 8 jam dengan bus

Day 4 : Menuju pos pendakian pertama Phedu/Nayapul (trekking 7 day)

Day 5 – Day 11/12 : Trekking

Day 13 : Kembali ke Kathmandu

Day 15 : Kembali ke Jakarta

Itinerary Lengkap ( inspirasi dari blog @Garjoew yang disesuaikan kondisi pendakian saya)

DAY 1 :

CGK – Jakarta to Kuala Lumpur :

Kuala Lumpur to Kathmandu :

Bayar taxi sekitar 500 – 700 NPR atau Rp. 85 ribu (kalau 700 NPR)

Ke Manang Plaza (bentuk seperti ruko), mencari kantor TAAN (Trekking Agencies Assotiation of Nepal) untuk membuat kartu TIMS (Trekking Information Management System).

Adapun resgistrasi ACAP (Annapurna Conservation Area Project) harus dilakukan di Tourism board Pokhara.

Lalu cari tiket untuk bus ke Pokhrana. Kemungkinan kalau sudah malam, ke penginapan. Istirahat dan persiapan besok ke Pokhrana

DAY 2 :

Ke perhentian tourist bus, naik taxi sekitar 800 NPR atau Rp. 97 ribu, perjalanan ke Pokhrana selama 8 jam, bus ini tanpa AC dan suspensi keras.

Lalu setelah tiba ke Tourism Board untuk mendapatkan izin mendaki ACAP, Tempatnya agak tersembunyi. Bisa jalan kaki dari bus station Pokhara.

Lalu mencari penginapan di Pokhrana, persiapan pendakian besoknya. ATAU bisa sekalian ke lokasi trekking permulaan di Nayapul, titik pertama trekking.

TIMS, ACAP, PERLENGKAPAN OKE.

DAY 3:  Nayapul – Birethanti – Hille – Tikhedhunga – Ulleri

Mulai Trekking, desa pertama yang akan dilewati adalah Birethanti. Pos untuk registrasi ada di desa ini. Terletak di dekat Prayer Bridge, sebuah pos kecil dengan 2 orang penjaga. Prayer Bridge sendiri cukup mencolok, dengan lembaran kain doa warna-warni seperti bendera-bendera kecil tergantung hampir di seluruh batang truss jembatan baja ini. Setelah ini tujuan adalah Hille kemudian Tikhedhunga dan target hari ini, Ulleri.

Menuju Hille, jalur trekking berupa jalan tanah di tepi jurang dengan sungai mengalir di bawahnya. Jalan naik-turun dan berkelok dengan sinar matahari menyengat di atas kepala.

Siang jam 13.00 harus berhenti dan makan siang, semoga sudah sampai di Hille.

TANTANGAN Trekking :  paling berat untuk hari pertama, jalur menanjak tanpa ampun menuju Tikhedhunga hingga Ulleri. Dan jalur ini memaksa break tiap 15 menit sekali. Walau sudah tertata berupa tangga batu yang memudahkan, tapi tetap saja 3 jam tanpa bonus datar ataupun turunan benar-benar menguras tenaga. Cenderung Panas Alam terbuka

BERMALAM : Mengingat sudah mulai gelap dan memang ngos-ngosan, sebuah guest house bisa ditemukan tepat setelah memasuki gerbang desa Ulleri.

DAY 4 : Ulleri – Nangethanti – Ghorepani

harus mencapai Ghorepani dan menjemput sunrise di Poon Hill keesokan paginya. Setelah sarapan, 07.00, trekking berlanjut, target sebelum gelap harus sudah sampai Ghorepani. Masuk ke hutan, Pukul 10.00 kemungkinan kabut mulai turun, udara sejuk ini memudahkan perjalanan. Siang sekitar pukul 11.00 sampai di desa Nangethanti. Perut keroncongan, akan pas banget dengan kehadiran tempat makan Hungry Eyes di awal desa.

Lanjut siang di pukul 12.30 setelah solat start ke tujuan akhir hari ini, Ghorepani. Hiburan selama trekking di hutan ini. Adalah Laligurans (Rhododendron arboreum), tanaman yang bunganya dinobatkan sebagai bunga nasional Nepal.

Menjelang sore, sampai di Ghorepani bawah, kalau ingin lebih dekat ke Poon Hill jadi harus ke Ghorepani atas. Menuju ke Snow View Lodge, penginapan di salah satu sudut jalan. Harganya sekitar 200 NPR per night per orang.

DAY 5 : Ghorepani – Tadapani – Chuile

Bangun Pagi. Jam 4 pagi, cuaca dingin sangat bisa mengganggu tidur, karena itu peralatan hangat badan, seperti sleepingbag yang tahan cuaca dibawah nol sangat penting. Saat pagi diisi dengan menaiki bukit menuju viewpoint di Poon Hill. Ada pemandangan mengarah langsung ke deretan puncak-puncak Annapurna yang menjulang.

Tujuan trekking selanjutnya Chomrong. Kembali dalam perjalanan perlu memerhatikan kondisi cuaca, jika tidak bisa sampai bisa berhenti di Chuile. Di Chuile bisa bermalam di lodge yang sedikit ‘unik’, Hillside Lodege kalau tidak salah namanya (bangunan tua).

DAY 6 : Chuile – Chomrong – Shinuwa – Bamboo

07.00 bisa mulai menuju Chomrong, ternyata Chuile ke Chomrong lumayan jauh dan menanjak, kira-kira siang baru akan sampai sekalian makan siang. Perjalanan bisa saja terganggu karena cuaca hujan. Penginapan Bamboo Lodge sebagai tempat bermalam tidak memiliki perapian.

DAY 7 :  Bamboo – Doban – Himalaya Hotel – MBC

Target bisa sampai Machapukhare Base Camp (MBC), siang bisa sampai di Himalaya Hotel (jika sudah sampai sini berarti setengah target selesai). Ujian sebenarnya adalah trek menuju MBC, karena salju dan kemungkinan longsor.

Himalaya Hotel and Restaurant bukan sebuah desa seperti sebelum-sebelumnya dan memang tidak ada lagi desa di ketinggian ini. Makan siang di lembah gunung degan puncak tertutup salju abadi, keren sekali. Kami sudah benar-benar dekat dengan kaki gunung Machaphukare. Puncaknya yang mempunyai ketinggian 6993 mdpl berbentuk runcing dan terbelah 2, menyebabkan ia dinamai machapukare  yang juga berarti fish tail – ekor ikan.

Machaphukare kabarnya tidak boleh lagi di daki karena ditetapkan sebagai ‘tempat suci’ oleh penduduk sekitar. Saya hanya berniat menyambangi basecamp nya saja yang berada di ketinggian 3700 mdpl.

Melewati tepian jurang bekas longsor salju dan membelah lembah dengan sungai gletser yang mengalir deras. Kabut tebal yang bisa tiba-tiba datang membuat harus menerka-nerka arah jalan setapak. Trek cukup berat. Akan ada pemandangan menakjubkan lembah Machaphukare. 16.30 sore kemungkinan sampai di MBC.

Besok masih ada ABC dan setelahnya harus langsung bergegas turun gunung.

DAY 8 :

Annapurna Base Camp (ABC). Jalur benar-benar tertutup salju tebal. Hamparan salju dikelilingi puncak-puncak Annapurna dan Machaphukare. Berjalan di ketinggian lebih dari 3700 mdpl dan diatas hamparan salju sungguh tidak mudah. Meski dengan jaket tebal rangkap 2, kupluk berlapis dan sarung tangan, nyatanya dingin masih juga menusuk, 2 jam perjalanan menuju ABC 4,130 mdpl!

Tepat tengah hari segera turun dari ABC menuju Bamboo. Pukul 16.30 selamat sampai di Bamboo.

DAY 9 : Bamboo – Chomrong – New Bridge – Landruk

dari Bamboo dengan tujuan Landruk, sembari berharap besok pagi ada angkutan (Jeep) dari sana ke Pokhara. Target sampai sebelum gelap. Sepanjang Bamboo, Chomrong, New Bridge hingga Landruk dipenuhi dengan tangga batu curam! Counterpain dan koyok jangan lupa dibawa. Kira-kira sampai di Landruk pukul 17.15 saat hampir menjelang malam.

Catatankhusus :

Jeep untuk turun menuju Phokara. Mobil angkutan ini mirip off road jeep 4WD-double gardan. Karenanya dia santai saja melibas jalanan tanah dan berbatu di pinggiran jurang. . Perjalanan di jeep kondisinya akan seperti bergoncang hingga lebih dari 3 jam sampai akhirnya ketemu jalan ber-aspal.

Ada hostel murah di ujung gang di kawasan Lake Side. Hanya 600 NPR per malam untuk 2-3 orang. Ini murah sekali, dengan fasilitas 1 king bed dan 1 standard bed, beserta air panas di kamar mandinya cukup menghibur badan yang lelah…Mountain Dream Hostel rekomendasi nya.

Links bantuan :

Lakpa Sherpa di http://www.adventure14peaks.com

atau  https://www.facebook.com/thendu.sherpa