Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Advertisements
Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Hikmah-Hikmah Selepas Perjalanan ke Himalaya

Kali ini saya mau cerita.. tentang perjalanan jiwa saya setelah kepergian ke Himalaya. Kalau sudah baca blog saya ditulisan sebelumnya kamu juga pasti tahu cerita naik gunung yang bukan sekedar traveling biasa, . . Bahkan tiap gunung yang saya jelajahi di perjalanannya ada filosofi tersendiri.

Begitu juga perjalanan ke Everest Base Camp (EBC).. nggak kan kelupa dan ada banyak rasa syukur yang saya dapat ketika dan sepulang dari sana. Dalam hati juga saya janji beberapa hal sama diri sendiri, semuanya membuat saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

(1) Lebih Bersyukur Karena Tinggal di Negara Tropis

Namanya gunung pasti dingin! Indonesia yang negara tropis aja gunungnya juga dingin, ya iya lah di atas ketinggian 2500 mdpl. Angin gunung yang kencang di atas Rinjani padahal baru 3470 mdpl-an itu bukan apa-apa deh, waktu sampai Dingboche di EBC yang mulai 4900 mdpl badan saya mulai goyah. Angin bukan cuma nampar-nampar pipi, leher bahkan kepala badan rasanya bisa terbang 😂✌🏻.

Sedingin-dinginya Indonesia yang saya rasakan itu ya paling 13 derajat waktu ke Bromo. Tapi di Himalaya? Ibu Kota Kathmandu saja pada musim dingin suhunya paling tidak 5-7 derajat. Lalu masuk ke ketinggian 2500 mdpl mulai 1 derajat. Manusia tropis mana yang tahan? Panas terik tapi dingin dan anginnya nggak nahan. Saya lihat pegawai bank di Lukla pun pakai down jacket saat berkantor.

Percaya sama saya, lebih enak tinggal di negara tropis seperti di Indonesia. Nggak perlu pakai jaket tebal, nggak perlu jadi males solat karena air dingin banget buat wudhu, bahkan karena dingin saya nggak bisa lama-lama banget mau doa mau khusyuk, dingin banget itu nggak enak banget. Mau lama-lama duduk di restoran lodge liat pemandangan dari jendela pun masih kedinginan banget. Yang ada selimutan bed cover di kamar mulu kakak 😭. Mungkin karena ini desa tidak ada penghangat ruangan modern. Untuk merasa terus hangat saya mesti ke ruang tengah restoran dan duduk di perapian.

Ditengah meringkuk selimutan di kamar terus saya berguman dalam hati. “Janji kalau sampai rumah mau lebih khusyuk solatnya, disini nggak konsen banget kedinginan”. Di Jakarta sesekali mungkin kita pernah ngeluh, panas banget. Alhamdulilah sampai di Jakarta rasanya tuh saya benar-benar diberkahi, cinta banget sama cuaca Jakarta yang jadinya kerasa justru hangat, bukan panas lagi ☺️.

(2) Makin Percaya, Semua Hal Terbaik Sudah Allah yang Mengaturnya, Tenang dan Santai Saja. Jadilah Pasrah dan Lebih Ikhlas Menerima 🙏🏻

Mungkin saya terlalu serius atau mendalami perasaan yang saya dapat dari perjalanan di gunung. Tapi bener lho, ini nyata. Saya merasa apa-apa yang terjadi dalam hidup memang sudah Allah yang atur, bahkan hal sekecil apapun itu.

Saya mengalami sendiri keanehan-keanehan itu. Kadang kita suka merasa kecewa dan gagal akan sesuatu yang tidak sesuai rencana. Padahal di balik itu Tuhan sebenarnya justru menjawab kekecewaan atau kegagalan itu dengan sesuatu yang memang lebih baik untuk terjadi bagi seseorang.

Kadang kita suka menyalahkan diri sendiri. Hanya contoh saja ya, kenapa kamu sulit sekali lulus ujian CPNS? Padahal sudah bekerja keras belajar, jungkir balik atau apalah usaha terbaik. Jangan salah, di balik itu mana pernah tahu bila sebenarnya ada pekerjaan yang lebih cocok buat kamu dan lingkungan yang lebih tepat buat kamu.

Di Himalaya saya mengalami sesuatu yang kesannya sepele saja. Saya kesulitan untuk booking tiket pesawat pulang ke Jakarta. Problem pertama charger saya hilang ketinggalan di Dingboche… mau nangis rasanya karena itu charger asli iPhone, yang kalo beli original mahal. Problemkedua, setelahnya, alhasil handphone saya mati total walau ketemu listrik pun nggak bisa charger baterai. Sangat sering saya mengandalkan ketemu seseorang yang juga pakai hp dengan merek sama. Untungnya saja saya bawa hp satu cadangan yang jadul dan lemot. Problem ketiga, sinyal di pegunungan tidak selalu ada. Walau ada itu berbayar 2-4 Dollar per jam. Lumayan terbilang murah sih sebenarnya.

Singkat cerita hal absurd yang terjadi adalah walau ada hp cadangan tapi 2-3kali saya gagal terus untuk booking tiket pulang. Entah koneksi internet gagal, password salah ketik, atau kartu Jenius saya tidak merespon. Padahal sudah oke sama harga tiket yang kisaran Rp 2,9- Rp 3 juta.

Mencoba lagi untuk booking tiket, kali ke 4 dan 5 di Lukla saat nunggu pesawat pulang. Juga gagal, padahal saya susah payah bisa charger hp sampai cukup penuh. Gagal koneksi atau pembayaran. Bikin capek betul rasanya masalah booking tiket ini. Maunya beli 2 hari atau sehari sebelum pulang supaya lebih murah harganya dan lebih tenang nggak mendadak booking di hari H kepulangan. NAMUN… tahukah? Ternyata saya justru bersyukur, gagal booking tiket. Soalnya saya pun 3 hari gak bisa balik pulang sampai Kathmandu karena pesawat nggak bisa terbang kendala cuaca. Hufff.. bayangkan kalau saya bisa booking?? Hanguskah tiket saya yang lumayan harganya itu..

Di Kathmandu, setelah fix sampai penginapan, barulah saya booking tiket. Ya, walaupun harganya lantas melambung jadi Rp 4,1 juta pantas saja soalnya beli sore malamnya berangkat pulang. Cari tiket setelah 1-2 hari pun sama harganya sekitar Rp 4 juta jauh dari ekspektasi Rp 3-3,5 juta. Rugi dan kemahalan banget intinya untuk pesawat Malindo kelas ekonomi.

Cuma daripada nggak pulang juga kan? Lagi pula Tuhan sangat baik sama saya, tiket tidak hangus karena semesta sudah menggagalkan upaya booking tiket pulang yang akan sia-sia dan merugikan itu. Dipikir lagi nggak begitu rugi juga, kan saya dapet tiket promo naik Malaysia Airlines cuma Rp 2,7 juta saja untuk pesawat ke Kathmandu.

(3) Siapkan Lebih dari 1 Debit ATM Berlogo Visa atau Master Card

Kalau berpergian ke luar negeri, akan aman bawa mata uang Dollar. Tapi risih juga kalau kebanyakan bawa cash khawatir bakal kecopetan atau malah boros. Jangan salah nggak juga kok, asal hitung budget yang betul, lalu lebihkan sekitar 50 Dollar sebagai cadangan di dompet. Soalnya ngambil uang di ATM luar negeri itu lumayan kena biaya ATM sekali tarik 5 Dollar. Hehehehe, sudah begitu ada maksimal ngambilnya berapa puluh ribu uang lokal. Coba aja kalau berkali-kali, tahu-tahu di rekening potongannya banyak sekali.

Selain itu menghindari kejadian tidak terduga, sebaiknya punya lebih dari 1 debit ATM berlogo Master Card atau Visa. Ya jaga-jaga kalau ternyata nggak bisa kartu satunya ada cadangan. Seperti pelajaran buat saya karena masa visa saya habis dan kelebihan masa tinggal kena denda, di imigrasi saya dijegat untuk bayar denda sebesar 34 Dollar. Mau nangis rasanya, soalnya debit ATM berlogo Visa ternyata hanya satu-satunya (si Jenius) yang khusus memang saya buat untuk transaksi pengganti Credit Card (CC) di luar negeri. Hehe saya anti banget punya kartu kredit soalnya.

Sementara debit saya yang lain seperti BCA dan MNC bank itu tidak ada logo Visa maupun Master Card. Hehehe… dimana saya tidak bisa mengambil uang dari sana walau ada uangnya berapa milyar pun 😂. Panik?? Jelas iya, pesawat 1,5 jam lagi berangkat tapi saya ditahan. Untungnya ada m-banking, saya pun minta tolong adik yang punya akun m-banking untuk bisa transfer ke si Jenius yang full uangnya sudah saya belikan tiket.. sudah saya tarik tunai juga di Kathmandu, jadi sisa hanya recehan berapa ratus ribu saja. Ya untungnya masih ada m-banking yang dalam hitungan detik sampai 5 menitan langsung terkirim uangnya. Huff.. besok pastiin lagi debit ATM kamu ada logo Visa ya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, “nyalah gak air hangatnya,?”.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah “ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

“Liat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,” kata saya sambil ketawa..

“Oh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,” balesnya..

Dalam hati saya bilang.. “what???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower 😂🤣.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty 😂…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini “Kamu pergi sendiri atau berberapa orang,”.. kata saya penasaran. “Oh kami rombongan, 13 orang,” Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. “Hey you again!,” Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,” kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. 😜. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Backpacker, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Dreams Destination (1) : Himalaya – Annapurna

Sumber foto : mountain kingdom

Hai para traveler…. Apa destinasi impian mu berikutnya? Dua tiga tahun yang lalu saya sempat berkeinginan ke India tapi belum klop dengan travelmate nya dan ada “sign” bahwa jangan kesana dulu.

Tak berhenti punya impian dan keinginan menjelajah. Salah satu keinginanku yang kepingin banget bisa diwujudkan yaitu ke Himalaya!

Yup! Deretan pegunungan tertinggi di dunia itu, begitu punya magnet. Oke! Daripada impian ini hanya jadi sekedar impian, saya tuliskan saja. Tulisan ini akan mengingatkan gimana saya meluangkan waktu cari data dan riset pendakian ke Himalaya.

Sumber foto : tigabumi.com

Kenapa Annapurna? Soalnya tempat ini salah satu pegunungan yang terkenal di Himalaya. Saya nggak berniat sampai puncak salah satunya kok. Cukup di Basecamp Annapurna saja, mengingat waktunya bisa satu bulan, eh ternyata dua minggu busa, kalau ingin mencapai Basecamp Everest.

Perjalanan ke Nepal (ABC), Annapurna Basecamp ini memerlukan waktu sekitar 2 Minggu, itu pun minim sekali. Sebaiknya ditambahkan sekitar 16 hari, berjaga-jaga pendakian tak mulus. Karena dari pengalaman, target dan pencapaian suka mundur, banyak istirahat atau kebanyakan motret.

Pertama saya tuliskan dulu keperluan utama selama 17 hari di Nepal (secara umum).

(1) Tiket Pesawat : sekitar Rp. 5 juta

(2) Visa VOA : 40 USD Rp. 532 ribu

(3) Biaya Menginap

(4) Biaya makan

(5) trekking permit : Rp. 529 ribu (TIMS NPT 2,032 ACAP NPR 2,200)

(6) Potter : sekitar ??? Rp. 1 juta (belum Googling)

(7) simcard + pulsa sekitar Rp. 300 ribu

(8) Travel insurance : sekitar Rp. 300 ribuan

(9) Beli sepatu trekking (pikirkan nanti)

(10) Tas Carrier

(11) beli jaket musim dingin

Barang lain bisa pinjam/sewa di Pokrana, kota sebelum naik bus ke Basecamp pendakian awal.

Itinerary secara general :

Day 1 : Jakarta – Kathmandu

Day 2 : Tiket Permit, explore Kathmandu sebentar, cari tiket bus ke Pokhara

Day 3 : Menuju Pokhara, 8 jam dengan bus

Day 4 : Menuju pos pendakian pertama Phedu/Nayapul (trekking 7 day)

Day 5 – Day 11/12 : Trekking

Day 13 : Kembali ke Kathmandu

Day 15 : Kembali ke Jakarta

Itinerary Lengkap ( inspirasi dari blog @Garjoew yang disesuaikan kondisi pendakian saya)

DAY 1 :

CGK – Jakarta to Kuala Lumpur :

Kuala Lumpur to Kathmandu :

Bayar taxi sekitar 500 – 700 NPR atau Rp. 85 ribu (kalau 700 NPR)

Ke Manang Plaza (bentuk seperti ruko), mencari kantor TAAN (Trekking Agencies Assotiation of Nepal) untuk membuat kartu TIMS (Trekking Information Management System).

Adapun resgistrasi ACAP (Annapurna Conservation Area Project) harus dilakukan di Tourism board Pokhara.

Lalu cari tiket untuk bus ke Pokhrana. Kemungkinan kalau sudah malam, ke penginapan. Istirahat dan persiapan besok ke Pokhrana

DAY 2 :

Ke perhentian tourist bus, naik taxi sekitar 800 NPR atau Rp. 97 ribu, perjalanan ke Pokhrana selama 8 jam, bus ini tanpa AC dan suspensi keras.

Lalu setelah tiba ke Tourism Board untuk mendapatkan izin mendaki ACAP, Tempatnya agak tersembunyi. Bisa jalan kaki dari bus station Pokhara.

Lalu mencari penginapan di Pokhrana, persiapan pendakian besoknya. ATAU bisa sekalian ke lokasi trekking permulaan di Nayapul, titik pertama trekking.

TIMS, ACAP, PERLENGKAPAN OKE.

DAY 3:  Nayapul – Birethanti – Hille – Tikhedhunga – Ulleri

Mulai Trekking, desa pertama yang akan dilewati adalah Birethanti. Pos untuk registrasi ada di desa ini. Terletak di dekat Prayer Bridge, sebuah pos kecil dengan 2 orang penjaga. Prayer Bridge sendiri cukup mencolok, dengan lembaran kain doa warna-warni seperti bendera-bendera kecil tergantung hampir di seluruh batang truss jembatan baja ini. Setelah ini tujuan adalah Hille kemudian Tikhedhunga dan target hari ini, Ulleri.

Menuju Hille, jalur trekking berupa jalan tanah di tepi jurang dengan sungai mengalir di bawahnya. Jalan naik-turun dan berkelok dengan sinar matahari menyengat di atas kepala.

Siang jam 13.00 harus berhenti dan makan siang, semoga sudah sampai di Hille.

TANTANGAN Trekking :  paling berat untuk hari pertama, jalur menanjak tanpa ampun menuju Tikhedhunga hingga Ulleri. Dan jalur ini memaksa break tiap 15 menit sekali. Walau sudah tertata berupa tangga batu yang memudahkan, tapi tetap saja 3 jam tanpa bonus datar ataupun turunan benar-benar menguras tenaga. Cenderung Panas Alam terbuka

BERMALAM : Mengingat sudah mulai gelap dan memang ngos-ngosan, sebuah guest house bisa ditemukan tepat setelah memasuki gerbang desa Ulleri.

DAY 4 : Ulleri – Nangethanti – Ghorepani

harus mencapai Ghorepani dan menjemput sunrise di Poon Hill keesokan paginya. Setelah sarapan, 07.00, trekking berlanjut, target sebelum gelap harus sudah sampai Ghorepani. Masuk ke hutan, Pukul 10.00 kemungkinan kabut mulai turun, udara sejuk ini memudahkan perjalanan. Siang sekitar pukul 11.00 sampai di desa Nangethanti. Perut keroncongan, akan pas banget dengan kehadiran tempat makan Hungry Eyes di awal desa.

Lanjut siang di pukul 12.30 setelah solat start ke tujuan akhir hari ini, Ghorepani. Hiburan selama trekking di hutan ini. Adalah Laligurans (Rhododendron arboreum), tanaman yang bunganya dinobatkan sebagai bunga nasional Nepal.

Menjelang sore, sampai di Ghorepani bawah, kalau ingin lebih dekat ke Poon Hill jadi harus ke Ghorepani atas. Menuju ke Snow View Lodge, penginapan di salah satu sudut jalan. Harganya sekitar 200 NPR per night per orang.

DAY 5 : Ghorepani – Tadapani – Chuile

Bangun Pagi. Jam 4 pagi, cuaca dingin sangat bisa mengganggu tidur, karena itu peralatan hangat badan, seperti sleepingbag yang tahan cuaca dibawah nol sangat penting. Saat pagi diisi dengan menaiki bukit menuju viewpoint di Poon Hill. Ada pemandangan mengarah langsung ke deretan puncak-puncak Annapurna yang menjulang.

Tujuan trekking selanjutnya Chomrong. Kembali dalam perjalanan perlu memerhatikan kondisi cuaca, jika tidak bisa sampai bisa berhenti di Chuile. Di Chuile bisa bermalam di lodge yang sedikit ‘unik’, Hillside Lodege kalau tidak salah namanya (bangunan tua).

DAY 6 : Chuile – Chomrong – Shinuwa – Bamboo

07.00 bisa mulai menuju Chomrong, ternyata Chuile ke Chomrong lumayan jauh dan menanjak, kira-kira siang baru akan sampai sekalian makan siang. Perjalanan bisa saja terganggu karena cuaca hujan. Penginapan Bamboo Lodge sebagai tempat bermalam tidak memiliki perapian.

DAY 7 :  Bamboo – Doban – Himalaya Hotel – MBC

Target bisa sampai Machapukhare Base Camp (MBC), siang bisa sampai di Himalaya Hotel (jika sudah sampai sini berarti setengah target selesai). Ujian sebenarnya adalah trek menuju MBC, karena salju dan kemungkinan longsor.

Himalaya Hotel and Restaurant bukan sebuah desa seperti sebelum-sebelumnya dan memang tidak ada lagi desa di ketinggian ini. Makan siang di lembah gunung degan puncak tertutup salju abadi, keren sekali. Kami sudah benar-benar dekat dengan kaki gunung Machaphukare. Puncaknya yang mempunyai ketinggian 6993 mdpl berbentuk runcing dan terbelah 2, menyebabkan ia dinamai machapukare  yang juga berarti fish tail – ekor ikan.

Machaphukare kabarnya tidak boleh lagi di daki karena ditetapkan sebagai ‘tempat suci’ oleh penduduk sekitar. Saya hanya berniat menyambangi basecamp nya saja yang berada di ketinggian 3700 mdpl.

Melewati tepian jurang bekas longsor salju dan membelah lembah dengan sungai gletser yang mengalir deras. Kabut tebal yang bisa tiba-tiba datang membuat harus menerka-nerka arah jalan setapak. Trek cukup berat. Akan ada pemandangan menakjubkan lembah Machaphukare. 16.30 sore kemungkinan sampai di MBC.

Besok masih ada ABC dan setelahnya harus langsung bergegas turun gunung.

DAY 8 :

Annapurna Base Camp (ABC). Jalur benar-benar tertutup salju tebal. Hamparan salju dikelilingi puncak-puncak Annapurna dan Machaphukare. Berjalan di ketinggian lebih dari 3700 mdpl dan diatas hamparan salju sungguh tidak mudah. Meski dengan jaket tebal rangkap 2, kupluk berlapis dan sarung tangan, nyatanya dingin masih juga menusuk, 2 jam perjalanan menuju ABC 4,130 mdpl!

Tepat tengah hari segera turun dari ABC menuju Bamboo. Pukul 16.30 selamat sampai di Bamboo.

DAY 9 : Bamboo – Chomrong – New Bridge – Landruk

dari Bamboo dengan tujuan Landruk, sembari berharap besok pagi ada angkutan (Jeep) dari sana ke Pokhara. Target sampai sebelum gelap. Sepanjang Bamboo, Chomrong, New Bridge hingga Landruk dipenuhi dengan tangga batu curam! Counterpain dan koyok jangan lupa dibawa. Kira-kira sampai di Landruk pukul 17.15 saat hampir menjelang malam.

Catatankhusus :

Jeep untuk turun menuju Phokara. Mobil angkutan ini mirip off road jeep 4WD-double gardan. Karenanya dia santai saja melibas jalanan tanah dan berbatu di pinggiran jurang. . Perjalanan di jeep kondisinya akan seperti bergoncang hingga lebih dari 3 jam sampai akhirnya ketemu jalan ber-aspal.

Ada hostel murah di ujung gang di kawasan Lake Side. Hanya 600 NPR per malam untuk 2-3 orang. Ini murah sekali, dengan fasilitas 1 king bed dan 1 standard bed, beserta air panas di kamar mandinya cukup menghibur badan yang lelah…Mountain Dream Hostel rekomendasi nya.

Links bantuan :

Lakpa Sherpa di http://www.adventure14peaks.com

atau  https://www.facebook.com/thendu.sherpa