Backpacker, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, Traveling

Hello “Dewi Anjani”

IMG_3750
Riang banget,  tertawa yang renyah setelah summit… love a lot this picture

The journey is start from Sembalun Village, a trip taken about 6 hours to the first camp. Passing through savannah, forests, and hills… all the beautiful sights. Green trees, golden yellow color of the grass.. thats under the blazing sun decorated white clouds. Hmmm, i still can feel the atmosphere ❤

Don’t know why, . .  just feel happy when i’m look again the memories at Rinjani mountain. Is always wants to show off all the atmosphere, how do I look at the journey. The place, people, and all… beautiful memory for me.

This is one of story in my life,.. yeahhh <3. The third mountain thai i climb, after Papandayan and Lembu, 3726 highness MDPL. The most beautiful mountain in Indonesia.

Imagine how many times I took every picture :D…. after that, I’m always longing to return. Someday maybe…. This mountain that I missed ❤

One memorable occasion, when pursuing every inch of the rocks and soil. And one day, will i come again? Anjani Goddess…. hey you, let me to know, do you miss me too??

Closed in 2015, I was praying to get back. Rinjani…. the beauty of “Dewi Anjani”

Fell in love with you Rinjani, . . ❤

IMG_3584About Rinjani mountain : (From wikipedia)

Mount Rinjani or Gunung Rinjani is an active volcano in Indonesia on the island of Lombok. Administratively the mountain is in the Regency of North Lombok, West Nusa Tenggara (Indonesian: Nusa Tenggara Barat, NTB). It rises to 3,726 metres (12,224 ft), making it the second highest volcano in Indonesia.

On the top of the volcano is a 6-by-8.5-kilometre (3.7 by 5.3 mi) caldera, which is filled partially by the crater lake known as Segara Anak or Anak Laut (Child of the Sea) due to blue color of water lake as Laut (Sea). This lake is approximately 2,000 metres (6,600 ft) above sea level and estimated to be about 200 metres (660 ft) deep; the caldera also contains hot springs. Sasak tribe and Hindu people assume the lake and the mount are sacred and some religious activities are occasionally done in the two areas. On 31 October 2015, Mount Rinjani started erupting again

On the basis of plate tectonics theory, Rinjani is one of the series of volcanoes built in the Lesser Sunda Islands due to the subduction of Indo-Australian oceanic crust beneath the Lesser Sunda Islands, and it is interpreted that the source of melted magma is about 165–200 kilometres (103–124 mi) depth.

IMG_4058

The geology and tectonic setting of Lombok (and nearby Sumbawa) are described as being in the central portion of the Sunda Arc. The oldest exposed rocks are Miocene, suggesting that subduction and volcanism began considerably later than in Java and Sumatra to the west, where there are abundant volcanic and intrusive rocks of Late Mesozoic age. The islands are located on the eastern edge of the Sunda shelf, in a zone where crustal thickness is apparently rapidly diminishing, from west to east.

The seismic velocity structure of the crust in this region is transitional between typical oceanic and continental profiles and the Mohorovičić discontinuity (Moho) appears to lie at about 20 kilometres (12 mi) depth.[13] These factors tend to suggest that there has been limited opportunity for crustal contamination of magmas erupted on the islands of Lombok and Sumbawa. In addition, these islands lie to the west of those parts of the eastern-most Sunda and west Banda arcs where collision with the Australian plate is apparently progressing.

 

 

 

Advertisements
Backpacker, Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Awkward Moment for Me at Rinjani Mountain

Bayangin orang lagi mendaki dimintai tolong fotoin berkali-kali. (Ngeselin ya...) Maaf fotonya pas belum berhijab, tapi masih sopan kan (rambut keliatan dikit).
Bayangin orang lagi kepayahan mendaki dimintai tolong fotoin berkali-kali. (Ngeselin ya…) Maaf fotonya pas belum berhijab, tapi masih sopan kan (rambut keliatan dikit).

Cerita tentang perjalananku di Rinjani mungkin nggak akan ada habisnya kalau diomongin. Dan kepinginnya sih suatu saat nanti bisa ku buat jadi novel juga. Novel soal perjalanan ke gunung, apa saja yang terjadi dan ceritanya based on true story…. ahhhh ngimpi kali ya (ga apa-apa mimpi dulu lah).

Dari sekian banyak moment yang ku inget ketika perjalanan dengan sepenuh jiwa disana. Ini nih yang lucu dan awkward, janggal maupun aneh buat direkam lewat tulisan tersendiri. Hihihihi 🙂

IMG_6190
Rasanya dekat banget sama Matahari…. tiga ribu sekian meter di atas permukaan laut.

Moment after summit : 

Mungkin ini kebiasaan. Di tempat liputan, di kerumunan, dimana-mana kadang suka tiba-tiba mau sendiri terus menikmati moment tanpa di ganggu oleh orang yang ku kenal. Suka ngabur sendirian terus SKSD (Sok Kenal Sok Deket) sama orang yang nggak dikenal. Semacam lagi nyamar terus investigasi (mulai lebay). Nah itu juga kejadian di Rinjani.

Mencoba berbaur sama orang tak dikenal, bapak-bapak dari Surabaya sama beberapa orang dari gerombolan lain. Nanya-nanya kenapa mereka suka gunung, kenapa ke Rinjani, pacar atau istrinya kok nggak diajak?? pertanyaan biasa aja sih. Mereka memang pecinta gunung, pecinta alam rupanya, agenda setahun sekali minimal ngegunung. Walau istrinya juga anaknya nggak ada yang suka gunung, tetep ke gunung.

Please Take a Picture :

Minta tolong orang lain buat motoin, ya kalau itu lokasi traveling-nya kota besar besar dengan background tata kota masih biasa aja. Tapi ini agak keterlaluan sih, orang-orang yang lagi kepayahan mendaki malah direpotin buat ngambilin gambar background gunung anak Rinjani sama danau Segara Anak. Beruntung dari tiga orang pendaki nggak satupun lho yang nolak bantuin. Hahahahaha

Oke, satu pendaki capture-nya salah angle, lalu coba pendaki lain, sampai dapet gambar yang komposisinya betul. Tidak terlalu perfect, namanya juga bukan fotografer handal. Sampai sekarang kalau inget moment ini suka ngikik sendiri. 😀 😀

IMG_6224
Pas udah mau turun baru sadar, ternyata dini hari yang gelap gulita itu medan yang ku daki seperti ini. Susaaahhh

Cooking Class, Yeaaaahhh…..Goreng Bakwan yang Penuh Perjuangan :

Luar biasa banget waktu pertama touch down di Pelawangan Sembalun, 6-7 jam sebelum perjalanan lagi buat summit, tempat kemah kami yang kedua. Sore-sore sekitar jam 16.00 waktu Indonesia tengah, udah kecapekan dan harus bangun tenda. Para potter sibuk masak… ngintip sedikit ternyata lagi goreng bakwan dan tempe jaket… sampai ngidam banget rasanya sama bakwan.

By the way… malemnya ku “dikerjain” juga buat goreng bakwan sama tetangga kemping. Karena tetangga kemping kami baik banget sudah share menu makan malam. Aishhhhhh niatnya, bawa minyak goreng, tepung terigu, sayuran, terus belum lagi ada sosis dll…

Dan nggak mudah lho buat ngegoreng bakwan di gunung. Soalnya angin malam kenceng, jadi itu kompor apinya kan kemana-mana nggak fokus. Akhirnya sesi goreng bakwan saat itu memang memakan waktu banget. PR lah…. zzzzz, padahal kan harus tidur lebih cepet, akhirnya jam 10 malem baru selesai dan jam 00.30 bangun lagi buat berangkat summit.

Shower Time, Sumber Air Panas Alami di Dekat Segara Anak :

Ke gunung, jangan harap bisa mandi tiap hari. Dulu pertama kali ke Papandayan udah bawa peralatan mandi ternyata nggak begitu terpakai. Ngantrinya itu lho,…. bisa keramasin rambut aja udah syukur.

Nah pas di Rinjani, hari ke-3 baru bisa mandi … tapi senengnya mandinya di alam terbuka, air terjun yang merupakan sumber air panas. Fufufufu nggak pernah kebayang punya pengalaman mandi di alam bebas dan sepi seperti waktu di Rinjani dekat air terjun di Segara Anak. Gimana cara mandinya? pakai kain aja gitu sekalian berendem sekaligus sama lumut-lumut air terjun. Takut nggak ada yang ngintip? berhubung sepi nggak khawatir.

Kalau di gunung lama-lama akan terbiasa juga keadaan yang mungkin buat sebagian orang sedikit kurang nyaman ini. Nggak mandi, pipis ataupun pup dibalik pohon, rerumputan tinggi, atau kalau nggak ada pohon yaudah gali tanah dan nunggu pas hari sudah gelap. Kalau sudah begin jadi inget kucing di rumah. Bhahahahaha *enjoy it*

Sunset terakhir di saat menuruni Rinjani via Plawangan Senaru
Sunset terakhir di saat menuruni Rinjani via Plawangan Senaru. Ahhh nice!
Backpacker, Indonesia, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN

Berbagi Itinerary – Pendakian Gunung Rinjani, Lombok

Sunrise di Rinjani 3726 MDPL
Cakrawala, serasa ada di dunia yang lain….. seperti sedang berada dalam lukisan paling indah…. Sunrise di Rinjani sekitar pukul 05.30 WIT ketinggian 3726 MDPL

Merasakan keasikan dari nge-trip yang didesain sendiri lewat pengumpulan informasi di internet atau by googling, dibanding dengan ikut open trip lewat travel agent itu membuat kita jadi pejalan yang mandiri. Deg-deg an jelas iya! kalau-kalau dijalan nggak sesuai dengan rencana, tapi belakangan justru ini lebih seru lho….

Dan ketika akan nge-trip ke suatu tempat yang belum kita kunjungi, pengalaman atau cerita orang-orang yang pernah kesana dari blog atau web selalu jadi informasi yang bermanfaat banget. Makanya, melalui blog juga saya yang suka nulis akhirnya sharing. Kali ini sharing itinerary pendakian ke Gunung Rinjani di Lombok, Indonesia.

Buat yang kepingin banget ke Gunung Rinjani, tapi nggak mau nunggu open trip yang biasanya harus ber-20 an orang, bisa juga memberanikan diri untuk pergi dengan sedikit teman. Asalkan bisa bangun tenda aja dan punya pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kalau belum bisa belajar ya di youtube, terus pemanasan dulu ke Papandayan atau kemana yang deket-deket. Soalnya lumayan banget trek disana, perlu juga bahkan persiapan jogging minimal sebulan sebelum berangkat supaya body fit.

IMG_6007.JPG
Istirahat makan siang, masih jauh guys perjalanannya ke Pos 1, butuh 3 jam dari Desa Sembalun.

Baiklah tak perlu lama-lama, ini dia itinerary pendakian ke Rinjani. Saya tulis dalam perjalanan sekitar 4 hari. Ohya sebetulnya dari Rinjani kamu bisa sekalian ke Sumbawa berhubung hanya perlu menyebrang Selat Alas sekitar 2 jam menggunakan kapal. Next di ulasan blog selanjutnya ya 🙂

DAY 1 (Sabtu, 9 Mei 2015)    

03.00     04.00                     Debi house – Bandara, Taxi Rp. 200.000  @ Rp 50.000 per orang (kami ber-4) berhubung kalau naik Bus Damri sama terhitungnya per orang, jadi kita ber-4 naik taxi dan jemput di titik-titik satu jalur menuju bandara. Terhitung lebih hemat tenaga dan waktu.

04.00                                    Check in, Soekarno – Hatta Rp. 40.000  Tax Bandara @40.000

05.00                                    Take off, Bandara Soekarno Hatta

08.00                                    Landing at Lombok, Praya Airport

08.00     08.40                    Antri Bagasi dan out from Praya Airport

08.50     10.00                    Perjalanan melengkapi perbekalan, Rental mobil Rp. 550.000, @ Rp. 137.500

10.00     10.30                    Belanja Perbekalan, beli makanan dan minuman

10.30     11.30                     Perjalanan menuju Gerbang Sembalun

11.30     12.30                     Pendaftaran, ISOMA @Rp. 25.000 per orang

12.30                                    Berangkat (Dari Sembalun, ketinggian 1156 mdpl)

12.30     15.30                     Sembalun menuju POS 1 (Pos Pemantauan) savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil. Perjalanan perlu 3 jam, ini buat pemanasan sebelum besoknya hari ke-2 akan menempuh lebih dari 5 jam perjalanan melewati 9 bukit.

15.30     16.00                     Istirahat sekitar 30 menit di POS 1 (1300 mdpl) tidak ada sumber air.

16.00     17.30     90           POS 1 menuju POS 2 (Pos Tangengean) dengan trek savana mendaki, menurun, menyeberangi sungai kecil, bekas aliran lahar, dilalui sekitar 1,5 jam perjalanan.

17.30                                     Istirahat POS 2 (1500 mdpl), Camp. Disini ada sumber mata air tapi tak terlalu banyak.

IMG_6011.JPG
Cuaca menjelang sore, disaat itu hampir sampai Pos 2 untuk mendirikan tenda. Ini adalah hadiah pemandangan langit dan rumputnya.

DAY 2 (Minggu, 10 Mei 2015)  

05.00     08.00                    Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat.

08.00     11.00                    Perjalanan menuju POS 3, sekitar 2,5 jam menemui jalan persimpangan, Bukit Penyesalam di sebelah kanan & Bukin Penderitaan di sebelah kiri.

11.00     11.30                     Istirahat POS 3 (2000 mdpl) istirahat sekitar 30 menit dan mengambil persediaan air.

11.30     13.30                     Perjalanan sejauh 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 1) tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

13.30     14.30                     ISOMA, sekitar 1 jam

14.30     16.30                     Perjalanan 2 jam menuju Plawangan Sembalun (sesi 2) melewati tanjakan bukit 9, dibutuhkan daya tahan tubuh dan mental yang prima, jarak jauh.

16.30                                     Tiba di Plawangan Sembalun, Disini kita nge-camp (2639 mdpl) melihat puncak sembalun, segara anak, area datar cukup luas, sumber air, toilet, ada banyak monyet, hati-hati karena monyet sering merebut makanan.

16.30     19.00     180         Foto-foto, mendirikan tenda, persiapan dinner, istirahat sambil menunggu sunset.

19.00                                     Tidur, tapi kenyataannya masih beres-beres hingga jam 9 malam.

IMG_6158
Belum sampai puncak nih, tapi keburu mataharinya mulai muncul. Bagus banget dan terasa dingin hangat di atas sana dengan angin berhembus menampar-nampar saja juga.

DAY 3 (Senin, 11 Mei 2015)  

00.30     01.00                    Bangun dini hari, persiapan summit sekitar 30 menit

01.00     05.00                    Perjalanan menuju puncak, sekitar 4 jam

05.00     07.00                    Enjoy summit sekitar 2 jam

07.00     10.00                    Puncak kembali ke camp di Plawangan Sembalun, sekitar 4 jam

10.00     13.00                     ISOMA

13.00     15.00                     Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak (sesi 1)

15.00     15.30                     Istirahat, sekitar 30 menit.

15.30     17.30                     Plawangan Sembalun menuju Segara Anak (sesi 2)

17.30                                     Segara anak, nge-camp, bersih-bersih, dinner 

IMG_6302
Di dekat Danau Segara Anak, ada yang lagi mancing. Kalau kami nggak sempat karena harus melanjutkan perjalan pulang menuju Plawangan Senaru.

DAY 4 (Selasa, 12 Mei 2015)

05.00     10.00                     Bangun pagi, sholat, foto-foto, sarapan, persiapan berangkat

10.00     17.00                     Segara Anak – Plawangan Senaru. Trek melewati hutan, padang edelweis, jalan kecil berbatuan terjal, jurang.

17.00      02.00                    Kami masih berusaha untuk sampai di Pos 3 setelah sampai Plawangan Senaru, tapi memaksakan diri untuk terus melanjutkan perjalanan, berhubung ada dua tim lain yang bisa bareng. Melewati malam gelap, ketemu kuntilanak, tapi akhirnya sampai jam 02.00 di Gerbang Senaru… Huffttt hufff.

Kami nggak menginap di guest house, bahkan juga nggak nenda, karena bareng teman-teman yang berjumlah sekitar 15 orang tidur di semacam balai bambu terbuka. Hemat kan, hehe sudah nggak punya tenaga juga buat diriin tenda. Beruntung juga di depan balai bambu ada warung, jadi pagi-pagi udah ada pisang goreng aja sama cemilan, nggak perlu masak.

Berapa sih biaya untuk ke Rinjani?

Kalau ini agak sulit dikalkulasi, soalnya saya sekaligus mengunjungi Pulau Sumbawa, termasuk Kenawa dan Moyo. Kalau total dengan tiket pesawat sekitar Rp. 5 juta. Tapi kalau hanya niat ke Rinjani aja bisa diperkirakan biayanya bisa cukup dengan budget Rp. 3,5 juta.

Tergantung apakah naik pesawat seperti saya yang PP dengan Lion dan Batik Air termasuk airport tax Rp. 1,8 juta. Tentunya biayanya akan lebih murah kalau naik kereta, tapi konsekuensinya harus meluangkan waktu cuti lebih banyak, jadi kurang efektif dan lebih lelah berhubung mendaki gunung perlu stamina saya sarankan agar naik pesawat saja.

Ini diluar dari biaya beli peralatan gunung loh ya. Karena peralatan gunung macam senter, sarung tangan dingin, jaket kadang harus beli lagi kan bagi yang belum punya.

_DSC5574.JPG
Temen barengan pas turun, hahaha gila sih ini malem-malem nggak tidur, ketemu kuntilanak, terus sedingin itu tapi tidur di balai bambu terbuka.