KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

Apa Benar Ada Hantu di The Shilla Hotel Jeju, Korea?

Masih tentang cerita perjalanan di Korea Selatan. Kalau di Seoul agenda padat dengan aktivitas kunjungan ke museum dan mall buat belanja, di Jeju berbeda sekali. Suasana dan ceritanya lebih turis banget.

Selain berasa turis karena lebih banyak diajak berwisata ke kebun teh dan tebing dekat pantai, hotel tempat menginap, The Shilla Jeju yang lokasinya langsung menghadap Samudera Pasifik juga meninggalkan kesan. Sayangnya ya, kesan “horor” padahal desain hotelnya cozy pemirsa… zzZzz

Kejadiannya begini. Seusai ke museum teh, kami serombongan check in jam 5 sore dan langsung dikasih kunci kamar (1 orang 1 kamar, sebagaimana juga di Seoul). Biasa juga kamar kami berdekatan, sebelahan atau sebrangan. Nah, kali ini saya sebelahan sama Kiki Wollipop.com .. tinggal ketuk-ketuk deh kalo sudah mandi, dandan dan siap dinner.

Oke, kalau di Seoul kan Lotte Hotel yang dekat Myeongdong itu ruangan cukup minimalis ya. Tapi The Shilla Jeju ini ternyata kami dikasih kamar untuk family. Bayangin ada satu kasur besar dan satu kasur kecil, ada teras, dan kamar mandi luas (hampir seukuran kamar gw πŸ˜‚βœŒπŸ»).

Bayangin.. masing-masing kami tidur sendirian ditempat se-GEDE itu. … zzzz sebenernya pemborosan ya, buat penyelenggara, ****saking ingin memberikan service yang terbaik. Entah berapa biaya per-malamnya, yang jelas ternyata tidak termasuk sarapan pagi. Sarapan dibebankan kembali saat saya menginput nomor kamar ke tagihan perusahaan pengundang πŸ˜‚πŸ™ˆ.

Kejadian aneh baru terasa ketika Kiki Wollipop.com dan Nabil Liputan6.com mampir ke kamar saya buat numpang ke toilet.

“Pindah ah gw ke kamar Nabil,” celoteh Kiki wajahnya agak mencurigakan gitu, tapi gak ngomong ada apa..

Curiga penuh curiga, dibahas kemudian tapi nggak terang-terangan saat dinner. Saya sih denger dikit tapi nggak mau tahu karena kalau tahu nanti jadi takut. Berasa ada yang aneh, waktu ke toilet Nabil pun cerita ke Mbak Lilies, Humas Amorepacific yang nemenin kita selama di Korea. Denger dong saya., akhirnya banyak yang mau pindah kamar.. ga berani sendirian. Tapi saya keukeuh mau tetep di kamar yang sama aja sendiri gapapa. Di Seoul pun satu kamar sendiri berani-berani saja.

Keparnoan pun melanda… jreng-jreng. Baru buka pintu, lampu depan saya kok mati. Aduh, deg-deg an jadinya, bertanya sendiri dalam hati.. “apa memang karena tadi dari luar dan kartu slot kunci kamar belum ditempel di dinding?”. Lagi pula hotel ini kan eco hotel, hemat energi bukan? Anehnya Tv saya yang memang tidak dimatikan masih menyalah lho saat baru buka pintu.

Nyes-nyessss deg deg an lemes. Mana saat itu capek, ngantuk, mesti mandi dulu dan sudah kepingin tidur. Cuek sama hal itu, saya tetep mandi dan sengaja keramas malam supaya besok paginya bisa cepat check out dan nggak telat. Buru-buru tidur, siap packing setengahnya, dan rebahan di kasur, sambil nonton Tv, serial K drama “When You Were Sleeping” disinilah parnonya mulai terasa… brrrrrrr

Dari tadi suara orang lelarian nggak berenti juga ya. Telinga saya sih menangkapnya dari kamar sebelah a.k.a kamar Kiki yang dia tinggalin karena katanya ada suara ketok-ketok dari dalam kamar mandi yang juga di dengar sama Nabil. Saya pikir juga mungkin suara jedug lelarian dari lantai atas. Tapi ya kok berenti sebentar ada lagi. .

Waktu menunjukan pukul 00.00 an, saya makin nggak tenang, kok gak berenti suaranya. So, disaat itu juga saya whatsapp temen lain yang juga masih tidur sendirian, tapi tidak menemukan kejadian aneh di kamarnya… numpang tidur aja di kamarnya, toh kan ada kasur satu lagi. Nggak mau kan nanti jam 02.00 pagi malah ngedok-ngedok pintu kamar orang karena makin nggak tenang?

Tanpa banyak babibu, saya geret koper dan packing semua barang.. dan saat itu hanya memakai tank top dan celana legging saja saking buru-burunya. Fuiiihh.. bisa ditebak, tidur saya malam itu sangat tidak nyenyak.

Paginya karena tidak ingin menggangu privacy teman sekamar, saat harus mandi saya kembali ke kamar saya sebelumnya. Nggak ngerasa parno lagi karena itu sudah pagi. Tapi guys… masih ada hal aneh disini, tiba-tiba saja pelurus rambut saya yang ada lampu kedipnya cuma nyala setengah, tidak merah sepenuhnya. Haduhhh, saya pikir ini pasti rusak ya? Padahal baru beli seminggu lalu.. tapi tahu nggak? Saat sudah di rumah saya tes itu pelurus rambut berfungsi normal.. gak rusak sama sekali… nahlo! Jadi apa benar ada hantu di The Shilla Hotel Jeju? Terjemahkan sendiri saja …zZzzzzz

Advertisements
Asia, KOREA SELATAN, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Tak Sengaja Makan Babi Enak di Pulau Jeju

Cara makan BBQ a la Korea dengan daun mint dan ditambah saus kacang fermentasi.

Antara menjadi sebuah pengalaman lucu atau memalukan. Tak sengaja makan babi enak di Pulau Jeju. Sampai sekarang saya masih ngikik ketawa kalau ingat moment itu. Ya Allah dosa banget ya, ketidaksengajaan ini kenapa justru jadi bahan lelucon saya.

Hari itu Kamis (19/10/2017) saya betul-betul exited, soalnya bakal terbang ke Pulau Jeju. Langsung terbayang suasana seperti yang pernah saya lihat di drama Korea Jewel in The Palace dan senengnya ini bukan hal biasa, karena Jeju terkenal punya pemandangan indah dan buat sampai ke Jeju itu perlu biaya mahal. Trip ke Seoul-Jeju 5 hari, bisa habis Rp. 20 juta kali ya, akomodasi yang buat pekerja media seperti saya sayang, mending buat umroh apa ke Himalaya atau tabungan *****.

Hanya butuh satu jam penerbangan dengan pesawat udara dari Bandara Gimpo menuju Pulau Jeju. Dari Lotte Hotel di Seoul rombongan jurnalis berangkat jam 09.00 pagi, soalnya pesawat kami sekitar jam 11.00 siang, nampaknya sengaja supaya sampai di Pulau Jeju tepat di jam makan siang. Begitu sampai bandara Jeju yang terbilang modern untuk ukuran sebuah airport di Pulau, bukan Ibu Kota Negara, bus kami dibawa mampir ke restoran Pinx Biotopia, berlokasi di 863 Sallongnam-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si.

BBQ yang menyesatkan itu, Babi Jeju yang mirip sapi

Tempat ini selain terkenal karena makanannya yang enak, pemandangannya juga bagus. Tampak seperti sebuah resort, tapi memiliki restoran. Senangnya makan kami bentuknya bukan buffet atau prasmanan. Jadi tinggal duduk anteng, pelayan akan membawa per set menu mulai dari makanan pembuka, sampai penutup.. semacam casual fine dining jadinya. Nggak perlu mondar-mandir dari meja buat ambil makan. Ini yang saya suka ☺️.

Nah menu pertama yang disajikan di atas meja sebagai hidangan pembuka adalah jeonbokjuk. Merupakan masakan Jeju yang terdiri dari bubur nasi dengan kerang abalon. Masakan ini memiliki rasa manis dan aroma yang unik. Teksturnya tak terlalu encer dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Kaldu berasal dari kerang abalon sebagai rebusannya.

Pada masa lalu Jeonbokjuk disajikan khusus untuk keluarga kerajaan. Langsung, membayangkan lagi setting film Korea era Joseon. Pfffttt mulai lebainya πŸ˜‚

Bubur abalon, enak banget.. Jangan heran ya kalau abalon sangat khas di Jeju, karena wilayah ini memang dekat dengan laut. Kerang abalon selain dimasak menjadi bubur juga dijadikan menu abalon japchae. Menu ini merupakan soun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi. Japchae dimakan sebagai lauk, terutama dalam pesta dan kesempatan khusus. Nah saya nyobain abalon japchae sih bukan di Jeju, tapi di Seoul sehari sebelum ke Jeju.

β€œKerang Abalon ini harganya mahal, (berapa Dollar gitu cuma dapet berapa buah) karena mendapatkannya juga sulit, besok di Jeju pasti akan ada menu abalon juga karena termasuk yang khas,” kata Yale Kim dalam Bahasa Inggris, tour guide yang menemani saya dan teman-teman media selama di Korea.

Pelengkapnya ada sup rumput laut juga dan ikan teri, kimchi, sayur, sehat banget. Korea terkenal dengan hidangan bakaran atau BBQ, pasti sudah ngeh kan? Biasanya orang Korea juga menyantapnya bersama saus tertentu misalnya saus kacang yang difermentasi dan sayur mentah daun selada, termasuk daun mint. Nah, disini letak ketidaksengajaan memakan babi hitam Jeju.

Kesok-tahuan saya soal makanan, apalagi yang halal-haram lalu runtuh ketika Mbak Tenik dari Majalah Grazia Indonesia bertanya nama menu yang kami makan.

“Ini nama menunya apa ya?,” tukas Mbak Tenik..

Tak lama sebelum penerjemah kami membalas dalam bahasa Indonesia, sedetik ada bengong nggak percaya, karena saya denger kata pork πŸ˜‚… what??? Dalam hati kok bisa nggak tahu saya, daging pork, minyaknya, dan baunya saya tahu karena memang sering liputan kuliner. Kok ini bisa kecolongan ya? … ZzzZz…

Lantas tawa meledak, meski masih ada rasa tidak percaya. Tapi justru rekan kami meledek, “bukan, ini bukan pork, sini gue cobain lagi,” samber Kiki dari Woolipop.com sambil cuek makan itu babi Jeju lagi πŸ˜‚

Mending makan dessert deh, ini dessert pas dinner di tenda Dooorrr..

Mana tadi saya makan daging itu cukup banyak, sekitar 5 kali suapan πŸ˜‚. Soalnya memang enak, teksturnya agak berserat otot mirip sapi. Saya jadi penasaran kenapa babi hitam Jeju rasanya tidak seperti babi kebanyakan?

Disini ada moment saya nanya-nanya ke Yu Meng, Penerjemah yang ikut menjelaskan ini itu selama di Jeju. Katanya disebut babi hitam karena memang memiliki ciri khas tubuh yang kecil dan berbulu hitam. Di Jeju, babi ini telah lama diternakkan dengan cara yang unik yaitu di dalam kandang tradisional yang berhubungan dengan pelimbahan kotoran manusia, sehingga dengan cara ini, berperan sebagai pemakan kotoran tersebut. Cara ini konon membuat daging babi ini memiliki rasa yang unik.

Daging babi Jeju juga ternyata tak seperti kebanyakan, karena teksturnya lebih berserat dan tidak memiliki bau seperti halnya babi biasa, bahkan lebih mirip seperti daging sapi, inilah keunikannya. Menurut Wikipedia semenjak tahun 1960-an, babi ini telah diternakkan dengan cara yang lebih modern. Daging babi jenis ini harganya lebih mahal daripada daging babi biasa. Kini babi khas Jeju ini tidak lagi memakan kotoran manusia.

Asia, KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

5 Hal Yang Kusesali Ketika Business Trip Ke Korea Selatan

Mochi Jeju yang ada kacang merahnya, enak banget

Di antara perjalanan liputan luar negeri sebelumnya, Global Beauty Trip bareng Amorepacific ke Seoul dan Jeju bulan lalu terbilang paling menyenangkan. Tapi ada beberapa point yang jadi bahan pelajaran saya untuk trip berikutnya, nggak mau nyesel, saya tulis aja supaya next trip jauh lebih perfect 😘

(1) Lupa Bawa Bantal Tidur
Senarnya bukan cuma bantal tidur yang ketinggalan, tapi juga kamera kesayangan untuk mengabadikan moment. Tapi itu nggak seberapa sama gimana rasanya ketinggalan bantal tidur. Penerbangan pesawat yang hampir 7 jam dan dini hari pula betul-betul butuh dimaksimalkan untuk bisa istirahat di pesawat supaya besoknya wajah bisa fresh.

Lah, kemarin mungkin kehitung bisa tidur hanya 2 jam sebelum subuh. Alhasil muka sembleb banget πŸ˜‚. Meski pesawat saya nyaman banget kursi dan kami diberi selimut dan bantal, posisi tengkuk yang perlu bantalan buat nggak nyaman dan nyenyak ke alam mimpi. Makanya guys, kalau traveling jauh wajib banget bantal tidur dibawa.

Lihatlah koper merah saya yang diujung itu, kecil banget kan? Makanya saya bawa tas lipet tambahan untuk oleh-oleh.< strong>

(2) Bawa Koper Kecil

Maksud hati membeli koper baru dengan kapasitas besar sekalian untuk nyiapin buat pergi umroh. Tapi kepikiran mesti berhemat untuk rencana saya ke Himalaya πŸ˜‚. So, saya nekad membawa koper kecil yang sudah ada, toh ini hanya 4 hari saja, koper yang isinya pun 2 sepatu tambahan ternyata muat di koper kecil itu.

Waktu berangkat, di bandara saya cuma diheranin, ah serius itu kopernya? Alesannya saya memang tidak ingin kalap belanja soalnya ini business trip bukan liburan. Uang saku saya selama disana pun tidak banyak dihambur-hamburkan, justru 80% nya saya tabung untuk kepergian ke Nepal Himalaya 😜.

Tapi poin-nya bukan itu, saya keukeh memang belanja tapi beli yang butuh dan penting seperlunya saja. Tapi ternyata cukup merepotkan membawa 1 koper kecil berikut sebuah tas besar khusus belanjaan yang saya bawa sendiri karena di simpan dalam kabin pesawat.

Koper kecil, tapi karena rapih packing-nya ya muat 😜

(3) Nggak Banyak Belanja Produk WinterΒ 

Sempat belanja sweater hangat di Myeongdong, berbahan thermal yang pas dicobain hangat banget. Nyesel jadinya cuma beli 2, karena hanya 10.000 Won saja atau kalau dirupiahkan Rp. 110.000 untuk 2 sweater, murah banget kan . Ternyata cocok banget walau tebal tidak gerah dan bisa dipadu padan dengan baju luaran bertali yang bisa modis. Jadi kepikiran, kenapa nggak sekalian beli baju hangat buat persiapan ke Everest ya?

(4) Hanya Beli 2 Kaos Kaki Lucu di Korea

Nggak sengaja waktu kami melewati lorong bawah tanah penyebrangan jalan, ada kios lucu yang menjual kaos kaki. Mungkin nggak bisa ditemukan di Indonesia, kaos kaki disana ada motif lucu kucing yang jahitannya menonjol.

Teman ada yang komentar, gatau kenapa orang suka banget beli kaos kaki, itu lucu tapi gak ada juga yang ngeliat kan? Kalau di rumah kaos kaki itu benda wajib saya buat tidur. Apalagi kalau tidur di ruang ber-AC. Jadi dilihat atau tak dilihat pun kalau tidur ya dilihat diri sendiri, cukup senang untuk dilihat oleh mata sendiri motif kucing yang lucu.

Menyesalnya kenapa hanya beli 2 saja, harga nya pun cuma 1000 Won, alias Rp. 10 ribuan satuannya. Semoga saja saya bisa balik lagi ke Korea ya? Jadi niatnya mau beli lebih banyak atau mungkin mau dijual lagi πŸ˜‚.


(5) Nggak Beli Mochi Jeju

Selama di Korea, semua hal diurus penyelenggara. Termasuk camilan di bus, soalnya kita lama juga sekitar 1-2 jam perjalanan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Nah di Jeju kami dikasih camilan mochi Jeju dengan kacang merah, disajikan dingin seperti habis dari freezer, kenyal fresh kacang merahnya suka banget. Sayang di bandara Jeju saya cari ternyata nggak ada yang menjualnya. Di Bandara Seoul sebenarnya ada, tapi beda dari mochi Jeju ini.