Asia, Liputan, Singapura - Asia Tenggara, Traveling

Menyambangi Art & Science Museum di Singapura

Pintu Masuk Art & Science Museum Future World, lokasinya hanya berapa meter saja berjalan dari Marina Bay Sands

Aku menyebutnya dunia yang futuristik, penggabungan antara seni interaktif dan sains. Future World yang membuatku terkesan saat memasuki dan mencoba berbaur dengan apa yang ada di dalam museum. Satu kesan yang berbeda untuk sebuah museum yang biasanya akan terasa membosankan ketika dikunjungi.

Art & Science Museum Future World yang ada di Marina Bay Sands menurutku sangat modern, seperti kesan yang didapat orang-orang kalau ke Kota Singapura. Aku seperti sedang memasuki dunia futuristik karya seni interaktif berteknologi tinggi Future World yang dibuat bekerja sama dengan teamLab, seni kolektif lintas disiplin yang terkenal. Pokoknya waktu masuk kamu bakalan terpesona dalam dunia seni, sains, sihir, dan metafora melalui koleksi instalasi digital mutakhir.

tiketnya kalau beli langsung di lokasi, harganya bisa di cek via website tapi rata-rata sekitar 15-40 $ Sing

Nah, mulai 1 September 2018, Future World ini diperbarui dengan sederetan lengkap karya seni baru yang menarik. Beruntung banget, aku berkesempatan buat mencobanya dan mengambil moment foto Instagramable di dalamnya.

FYI aja, Future World ini adalah pameran permanen. Instalasi akan berubah dan berkembang seiring waktu untuk menjaga pameran tetap segar dan relevan. Untuk memastikan semua pengunjung memiliki waktu yang cukup dan berkualitas untuk berinteraksi dengan setiap karya seni, waktu kunjungannya diatur. Yaitu pukul 10:00 AM, 11:30 AM, 1:00 PM, 2.30 PM, 4:00 PM dan 5:30 PM (entri terakhir). Aku saranin supaya membeli tiket secara online sebelum kunjungan. Selain Box Office Museum Art Science, tiket juga tersedia di Sands Theatre Box Office (B1, Marina Bay Sands).

Simak apa aja dunia futuristik dan moment Instagramable yang aku alami disana dengan berbagai tema ya…

Nature

Petualangan ku disini diawali dengan perjalanan imersif dan memesona seperti galeri alam yang menampilkan karya seni interaktif dan mendalam, menggunakan seni dan sains untuk membawa kamu ke dalam inti alam yang terdiri dari teknologi digital. Secara bersamaan dan ajaib menurut ku menghubungkan langsung ke dunia alam. Ada suasana ketika bunga-bunga berjatuhan dan kupu-kupu terbang kesana-kemari. Kita juga seperti diajak berinteraksi, waktu menyentuh si kupu-kupu.

Town, ini seperti area bermain untuk anak. Banyak banget sisi untuk cari moment foto yang Instagramable

Town

Perjalanan berlanjut ke sisi ruang lain. Wah tempat selanjutnya banyak diisi anak-anak dan balita yang seru bermain meluncur-luncur di perosotan. Tapi ini bukan Kota biasa, di desain seperti lanskap kota yang ramai dan hidup. Bahkan pengunjung bisa membangun dan mengisi kota-kota virtual. Anak-anak diajak menggambar dan hasil gambarnya bisa kita lihat di sebuah dinding. Pokoknya amazing sih, gambar mobil-mobilan ku bisa muncul danjalan-jalan di semacam video virtual. 

Balok-balok yang bisa jadi background foto Instagramable

Sanctuary

Jauh dari hiruk-pikuk kota, aku diajak untuk memasuki sebuah negeri impian yang untuk sesaat ketenangan. Sanctuary adalah oasis yang tenang di pusat Future World. Agak susah mengartikannya, aku nggak foto dan lama di ruangan ini.

Park

Beranjak dari kesibukan kota yang penuh hiruk pikuk, lalu kita diajak untuk mengunjungi taman rekreasi yang membangkitkan semangat. Pengunjung diundang untuk menghargai ‘permainan’ sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Pengunjung dari segala usia dapat belajar dan bermain menggunakan kombinasi aktivitas fisik dan teknologi digital.

Space

Masuki ke jantung Celestial Space menurutku ini ruangan yang paling seru. Ada lampu-lampu Kristal sebagai ending perjalanan di Future World. Siapa pun bakal terpesona sama keindahan dan besarnya kosmos dan sensasi melihat bentuk alam semesta digital yang dikemas monumental.

lampu-lampu kristal ini bisa berubah-ubah


Advertisements
Asia, KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

Mengenal Haenyeo, Wanita Laut Pulau Jeju

Emansipasi wanita. Ternyata bukan terjadi di abad ke-21 saja dengan kesempatan wanita bisa sekolah setinggi mungkin, lalu berkarir, disamping tidak melupakan tugas utama sebagai istri sekaligus ibu. Ini lho… pekerjaan melaut yang didominasi kaum pria, ternyata juga digeluti sekelompok wanita di Pulau Jeju.

Mengunjungi Tebing Jungsangjeolli di Jeju ternyata menyisahkan cerita lain. Seusai mengitari tangga, dan menemui lepas laut dari bibir tebing tangga, kemudian naik tangga. Saya bertemu dengan Haenyeo yang berjualan hasil lautnya sebelum bertolak kembali ke bus.

Haenyeo atau “wanita laut” adalah wanita penyelam yang berasal dari pesisir Korea, khususnya di Pulau Jeju, Korea Selatan. Kalau kamu pernah nonton drama Jepang berjudul “Ama-Chan” di sebuah pulau di Jepang mereka juga punya wanita penyelam yang disebut Ama. Bedanya mungkin Ama mengambil kerang dan bulu babi.

Sumber Wikipedia menyebut, hingga abad ke-19, pekerjaan menyelam masih didominasi oleh kaum pria. Pekerjaan ini menjadi tidak menguntungkan bagi lelaki karena mereka harus menanggung beban pajak, sementara wanita tidak.

Wanita lalu mengambil alih pekerjaan menyelam (yang dianggap sebagai pekerjaan kelas rendah) dikarenakan kebutuhan yang besar akan produk dan hasil laut di sebagian besar Jeju. Maka wanita mulai menggantikan peran laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga. Konon wanita penyelam lebih dapat bertahan lama dan bisa menjaga kehangatan tubuh saat menyelam dibanding laki-laki karena mereka memiliki lemak tubuh yang lebih banyak.

Bahkan di Pulau Mara, wanita berperan sebagai tulang punggung keluarga dengan mencari nafkah di laut, sementara para suami diam di rumah merawat anak-anak dan berbelanja untuk keperluan sehari-hari di pasar.

“Para haenyeo adalah penyelam yang tangguh. Haenyeo ini tidak bekerja sendirian, mereka punya grup sekitar 5 orang dan bersama-sama menyelam,” kata Yu Meng, penerjemah saya selama di Korea.

Ibu yang ada di foto utama saya di artikel ini yang merupakan haenyeo enggan diajak ngobrol. Lebih tepatnya mungkin agak kurang ramah ya. Karena penerjemah saya saja yang dikit-dikit bertanya jadi tahu ceritanya. Kemudian saya hanya sekedar bisa bertanya kepada penerjemah tentang harnyeo ini.

Menurut Yu Meng, para wanita laut ini bisa sampai 20 meter lho menyelam, bahkan di musim dingin sekalipun dan tahan nafas hingga 5 menit. Mereka juga harus menempuh bahaya di laut seperti ubur-ubur dan ikan hiu. Bayangkan saja, . . Ibarat seperti lagi free dive mungkin ya, tapi sekalian cari nafkah, ambil abalon, kerang, yang bisa dijual.

Mulai akhir dekade 1970-an, ekspor hasil laut ke Jepang khususnya produk-produk hasil laut yang mereka jual seperti abalon dan kerangconch membuat mereka menjadi semakin makmur. Mereka mulai dapat mengumpulkan uang untuk membangun rumah sendiri atau menyekolahkan putri-putri mereka ke perguruan tinggi.

Kata Yu Meng, anak perempuan haenyeo umumnya tidak mau menggantikan peran ibunya karena mereka memilih karier lain seperti bekerja di industri pariwisata atau pindah ke kota-kota besar, sehingga jumlah haenyeo terus menurun drastis. Data dari Wikipedia, tahun 1950 terdapat sekitar 30.000 orang haenyeo di Jeju dan pada tahun 2003, tinggal 5.650 orang saja, yang sekitar 80%-nya merupakan wanita usia di atas 50 tahun.

Asia, KOREA SELATAN, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Tak Sengaja Makan Babi Enak di Pulau Jeju

Cara makan BBQ a la Korea dengan daun mint dan ditambah saus kacang fermentasi.

Antara menjadi sebuah pengalaman lucu atau memalukan. Tak sengaja makan babi enak di Pulau Jeju. Sampai sekarang saya masih ngikik ketawa kalau ingat moment itu. Ya Allah dosa banget ya, ketidaksengajaan ini kenapa justru jadi bahan lelucon saya.

Hari itu Kamis (19/10/2017) saya betul-betul exited, soalnya bakal terbang ke Pulau Jeju. Langsung terbayang suasana seperti yang pernah saya lihat di drama Korea Jewel in The Palace dan senengnya ini bukan hal biasa, karena Jeju terkenal punya pemandangan indah dan buat sampai ke Jeju itu perlu biaya mahal. Trip ke Seoul-Jeju 5 hari, bisa habis Rp. 20 juta kali ya, akomodasi yang buat pekerja media seperti saya sayang, mending buat umroh apa ke Himalaya atau tabungan *****.

Hanya butuh satu jam penerbangan dengan pesawat udara dari Bandara Gimpo menuju Pulau Jeju. Dari Lotte Hotel di Seoul rombongan jurnalis berangkat jam 09.00 pagi, soalnya pesawat kami sekitar jam 11.00 siang, nampaknya sengaja supaya sampai di Pulau Jeju tepat di jam makan siang. Begitu sampai bandara Jeju yang terbilang modern untuk ukuran sebuah airport di Pulau, bukan Ibu Kota Negara, bus kami dibawa mampir ke restoran Pinx Biotopia, berlokasi di 863 Sallongnam-ro, Andeok-myeon, Seogwipo-si.

BBQ yang menyesatkan itu, Babi Jeju yang mirip sapi

Tempat ini selain terkenal karena makanannya yang enak, pemandangannya juga bagus. Tampak seperti sebuah resort, tapi memiliki restoran. Senangnya makan kami bentuknya bukan buffet atau prasmanan. Jadi tinggal duduk anteng, pelayan akan membawa per set menu mulai dari makanan pembuka, sampai penutup.. semacam casual fine dining jadinya. Nggak perlu mondar-mandir dari meja buat ambil makan. Ini yang saya suka ☺️.

Nah menu pertama yang disajikan di atas meja sebagai hidangan pembuka adalah jeonbokjuk. Merupakan masakan Jeju yang terdiri dari bubur nasi dengan kerang abalon. Masakan ini memiliki rasa manis dan aroma yang unik. Teksturnya tak terlalu encer dan butiran nasinya masih bisa terlihat. Kaldu berasal dari kerang abalon sebagai rebusannya.

Pada masa lalu Jeonbokjuk disajikan khusus untuk keluarga kerajaan. Langsung, membayangkan lagi setting film Korea era Joseon. Pfffttt mulai lebainya 😂

Bubur abalon, enak banget.. Jangan heran ya kalau abalon sangat khas di Jeju, karena wilayah ini memang dekat dengan laut. Kerang abalon selain dimasak menjadi bubur juga dijadikan menu abalon japchae. Menu ini merupakan soun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi. Japchae dimakan sebagai lauk, terutama dalam pesta dan kesempatan khusus. Nah saya nyobain abalon japchae sih bukan di Jeju, tapi di Seoul sehari sebelum ke Jeju.

“Kerang Abalon ini harganya mahal, (berapa Dollar gitu cuma dapet berapa buah) karena mendapatkannya juga sulit, besok di Jeju pasti akan ada menu abalon juga karena termasuk yang khas,” kata Yale Kim dalam Bahasa Inggris, tour guide yang menemani saya dan teman-teman media selama di Korea.

Pelengkapnya ada sup rumput laut juga dan ikan teri, kimchi, sayur, sehat banget. Korea terkenal dengan hidangan bakaran atau BBQ, pasti sudah ngeh kan? Biasanya orang Korea juga menyantapnya bersama saus tertentu misalnya saus kacang yang difermentasi dan sayur mentah daun selada, termasuk daun mint. Nah, disini letak ketidaksengajaan memakan babi hitam Jeju.

Kesok-tahuan saya soal makanan, apalagi yang halal-haram lalu runtuh ketika Mbak Tenik dari Majalah Grazia Indonesia bertanya nama menu yang kami makan.

“Ini nama menunya apa ya?,” tukas Mbak Tenik..

Tak lama sebelum penerjemah kami membalas dalam bahasa Indonesia, sedetik ada bengong nggak percaya, karena saya denger kata pork 😂… what??? Dalam hati kok bisa nggak tahu saya, daging pork, minyaknya, dan baunya saya tahu karena memang sering liputan kuliner. Kok ini bisa kecolongan ya? … ZzzZz…

Lantas tawa meledak, meski masih ada rasa tidak percaya. Tapi justru rekan kami meledek, “bukan, ini bukan pork, sini gue cobain lagi,” samber Kiki dari Woolipop.com sambil cuek makan itu babi Jeju lagi 😂

Mending makan dessert deh, ini dessert pas dinner di tenda Dooorrr..

Mana tadi saya makan daging itu cukup banyak, sekitar 5 kali suapan 😂. Soalnya memang enak, teksturnya agak berserat otot mirip sapi. Saya jadi penasaran kenapa babi hitam Jeju rasanya tidak seperti babi kebanyakan?

Disini ada moment saya nanya-nanya ke Yu Meng, Penerjemah yang ikut menjelaskan ini itu selama di Jeju. Katanya disebut babi hitam karena memang memiliki ciri khas tubuh yang kecil dan berbulu hitam. Di Jeju, babi ini telah lama diternakkan dengan cara yang unik yaitu di dalam kandang tradisional yang berhubungan dengan pelimbahan kotoran manusia, sehingga dengan cara ini, berperan sebagai pemakan kotoran tersebut. Cara ini konon membuat daging babi ini memiliki rasa yang unik.

Daging babi Jeju juga ternyata tak seperti kebanyakan, karena teksturnya lebih berserat dan tidak memiliki bau seperti halnya babi biasa, bahkan lebih mirip seperti daging sapi, inilah keunikannya. Menurut Wikipedia semenjak tahun 1960-an, babi ini telah diternakkan dengan cara yang lebih modern. Daging babi jenis ini harganya lebih mahal daripada daging babi biasa. Kini babi khas Jeju ini tidak lagi memakan kotoran manusia.

Asia, KOREA SELATAN, Liputan, story, The Journey, Traveling

5 Hal Yang Kusesali Ketika Business Trip Ke Korea Selatan

Mochi Jeju yang ada kacang merahnya, enak banget

Di antara perjalanan liputan luar negeri sebelumnya, Global Beauty Trip bareng Amorepacific ke Seoul dan Jeju bulan lalu terbilang paling menyenangkan. Tapi ada beberapa point yang jadi bahan pelajaran saya untuk trip berikutnya, nggak mau nyesel, saya tulis aja supaya next trip jauh lebih perfect 😘

(1) Lupa Bawa Bantal Tidur
Senarnya bukan cuma bantal tidur yang ketinggalan, tapi juga kamera kesayangan untuk mengabadikan moment. Tapi itu nggak seberapa sama gimana rasanya ketinggalan bantal tidur. Penerbangan pesawat yang hampir 7 jam dan dini hari pula betul-betul butuh dimaksimalkan untuk bisa istirahat di pesawat supaya besoknya wajah bisa fresh.

Lah, kemarin mungkin kehitung bisa tidur hanya 2 jam sebelum subuh. Alhasil muka sembleb banget 😂. Meski pesawat saya nyaman banget kursi dan kami diberi selimut dan bantal, posisi tengkuk yang perlu bantalan buat nggak nyaman dan nyenyak ke alam mimpi. Makanya guys, kalau traveling jauh wajib banget bantal tidur dibawa.

Lihatlah koper merah saya yang diujung itu, kecil banget kan? Makanya saya bawa tas lipet tambahan untuk oleh-oleh.< strong>

(2) Bawa Koper Kecil

Maksud hati membeli koper baru dengan kapasitas besar sekalian untuk nyiapin buat pergi umroh. Tapi kepikiran mesti berhemat untuk rencana saya ke Himalaya 😂. So, saya nekad membawa koper kecil yang sudah ada, toh ini hanya 4 hari saja, koper yang isinya pun 2 sepatu tambahan ternyata muat di koper kecil itu.

Waktu berangkat, di bandara saya cuma diheranin, ah serius itu kopernya? Alesannya saya memang tidak ingin kalap belanja soalnya ini business trip bukan liburan. Uang saku saya selama disana pun tidak banyak dihambur-hamburkan, justru 80% nya saya tabung untuk kepergian ke Nepal Himalaya 😜.

Tapi poin-nya bukan itu, saya keukeh memang belanja tapi beli yang butuh dan penting seperlunya saja. Tapi ternyata cukup merepotkan membawa 1 koper kecil berikut sebuah tas besar khusus belanjaan yang saya bawa sendiri karena di simpan dalam kabin pesawat.

Koper kecil, tapi karena rapih packing-nya ya muat 😜

(3) Nggak Banyak Belanja Produk Winter 

Sempat belanja sweater hangat di Myeongdong, berbahan thermal yang pas dicobain hangat banget. Nyesel jadinya cuma beli 2, karena hanya 10.000 Won saja atau kalau dirupiahkan Rp. 110.000 untuk 2 sweater, murah banget kan . Ternyata cocok banget walau tebal tidak gerah dan bisa dipadu padan dengan baju luaran bertali yang bisa modis. Jadi kepikiran, kenapa nggak sekalian beli baju hangat buat persiapan ke Everest ya?

(4) Hanya Beli 2 Kaos Kaki Lucu di Korea

Nggak sengaja waktu kami melewati lorong bawah tanah penyebrangan jalan, ada kios lucu yang menjual kaos kaki. Mungkin nggak bisa ditemukan di Indonesia, kaos kaki disana ada motif lucu kucing yang jahitannya menonjol.

Teman ada yang komentar, gatau kenapa orang suka banget beli kaos kaki, itu lucu tapi gak ada juga yang ngeliat kan? Kalau di rumah kaos kaki itu benda wajib saya buat tidur. Apalagi kalau tidur di ruang ber-AC. Jadi dilihat atau tak dilihat pun kalau tidur ya dilihat diri sendiri, cukup senang untuk dilihat oleh mata sendiri motif kucing yang lucu.

Menyesalnya kenapa hanya beli 2 saja, harga nya pun cuma 1000 Won, alias Rp. 10 ribuan satuannya. Semoga saja saya bisa balik lagi ke Korea ya? Jadi niatnya mau beli lebih banyak atau mungkin mau dijual lagi 😂.


(5) Nggak Beli Mochi Jeju

Selama di Korea, semua hal diurus penyelenggara. Termasuk camilan di bus, soalnya kita lama juga sekitar 1-2 jam perjalanan dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Nah di Jeju kami dikasih camilan mochi Jeju dengan kacang merah, disajikan dingin seperti habis dari freezer, kenyal fresh kacang merahnya suka banget. Sayang di bandara Jeju saya cari ternyata nggak ada yang menjualnya. Di Bandara Seoul sebenarnya ada, tapi beda dari mochi Jeju ini.

Asia, Backpacker, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Tujuh Gunung Impian

Suatu kali pernah ada obrolan saya bersama beberapa teman naik gunung tentang gunung-gunung yang ingin dijelajahi. Bisa dibilang ketagihan akut, berniat tahun ini dan tahun depan bisa pergi menjelajah gunung lagi. Di tiap obrolan dengan orang yang berbeda itu, kami masing-masing sudah membuat daftar gunung mana aja yang kepingin didatangi.

Cita-cita kami beda, ada yang ingin menamatkan gunung-gunung di Jawa dulu baru gunung tertinggi dan yang ada di luar Jawa. Kalau saya sih, random. Biasanya saya ke sebuah tempat karena pemandangannya dan dimana ada jiwa menantang disana.

Disini saya tulis tujuh gunung impian, yang semoga bisa terwujud buat dijelajahi. Beberapa gunung yang sudah berhasil di datangi, Rinjani, Gede nggak masuk lagi di daftar ini tapi bukan berarti keduanya bukan favorit. So, ini dia tujuh gunung impian versi saya!

Beautiful Ijen
Ijen Crater is a nature reserve Ijen Park is located between Banyuwangi and Bondowoso District, East Java. This crater exactly located at the top of Mount Ijen which is one of a series of volcanoes in East Java such as Bromo, Semeru and Merapi. Another uniqueness of this crater has a level of acidity is very high with almost close to zero and the temperature of the crater is 200 degrees Celsius. In addition to altitude is located at 2368 meters above sea level. Posis crater is located in the middle of the largest caldera on the island of Java. The caldera size about 20 miles. Source : flicker.com

  1. Gunung Ijen, Jawa Timur

Sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.443 mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung Merapi. Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999. Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen yaitu kawah yang terletak di puncaknya.

Kawah Ijen merupakan sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan danau air sangat asam terbesar di dunia.

Alasan utama buat ke Ijen itu karena setiap dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 04.00, di sekitar kawah dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru. Inilah yang menjadikan Ijen unik, karena pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Islandia dan Ijen. Dari Kawah Ijen, kita dapat melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya adalah puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante, dan sebagainya.

Selepas dari Ijen, sekalian juga mampir ke Baluran yang terkenal itu. Ya kalau bisa ke air terjun tempat Patih Majapahit sempat bersemedi. Penasaran banget sama tempat ini dari foto yang sempat di posting sama Andien di akun Instagramnya.

Gunung batur Bali
Sumber foto : brobali.com

  1. Gunung Batur, Bali

Sekalian jalan-jalan ke Bali, ke beberapa tempat yang belum saja eksplore di Bali. Saya bercita-cita bisa mendaki Gunung Batur. Nggak perlu bawa carriel berat, itu alasan lainnya juga soalnya cukup 2 jam buat mendaki.

Gunung Batur merupakan sebuah gunung berapi aktif di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Konon menurut cerita dalam Lontar Susana Bali, Gunung Batur merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Batara Pasupati untuik dijadikan Sthana Betari Danuh (istana Dewi Danu). Ini juga yang buat Batur menarik, saya suka banget sama sejarah jadi penasaran ingin kesana.

Menurut Wikipedia, salah satu wisata budaya yang terdapat di kawasan Gunung Batur adalah Trunyan. Meskipun seluruh penduduk Trunyan beragama Hindu seperti umumnya masyarakat Bali, mereka menyatakan bahwa Hindu Trunyan merupakan Hindu asli warisan kerajaan Majapahit. Di sebelah utara Trunyan terdapat kuban, sebuah tempat makam desa, namun jenazah tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon setelah dilakukan upacara kematian yang rumit. Tempat pemakamanan ini dipenuhi oleh tulang-tulang, dan bisa jadi kita menemukan mayat yang masih baru.

Gunung-Bromo-Jawa-Timur.jpg
Pemandangan Gunung Bromo. Sumber foto anekatempatwisata.com

  1. Gunung Bromo, Jawa Timur

Orang Indonesia tapi belum ke Bromo? Itu betul-betul keterlaluan. Apalagi untuk mencapai Bromo itu tidak perlu repot-repot membawa carriel. Jadi memang gunung ini wajib banget buat saya kunjungi, ya walau entah kapan?? Mungkin karena kesannya bisa kapan, jadi pikirnya nanti-nanti saja tapi nggak mau juga kesana saat sedang penuh-penuhnya.

Gunung Bromo dari bahasa Sanskerta berarti Brahma, dari nama salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu. Bromo adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Gunung Bromo terkenal sebagai obyek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

gunung kerinci

  1. Gunung Kerinci, Sumatera Barat

Kenapa memilih Gunung Kerinci untuk didaki dan dimanakah Gunung Kerinci berada??? Gunung Kerinci, dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura. Sebuah nama untuk gunung tertinggi di pulau Sumatra, merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua.

Terletak di Provinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl, ini dia bagian yang menantang bagi saya pribadi sebagai seorang pendaki (amatir). Dari ketinggian ini tentu saja kita bisa melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu.

Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. FYI menurut sumber wikipedia Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Hmmmm, keren kan??? lebih keren dari Gunung Rinjani nggak ya?? kita lihat nanti…

IMG_7592
Puncak Mahameru dari kali mati, foto : dyah ayu pamela

  1. Gunung Semeru (Puncak Mahameru), Jawa Timur

Sudah pernah ke Gunung Semeru sih, tapi saya belum sampai puncak Mahameru yang maha dahsyat itu. Nah, belakangan peraturan mendaki Gunung Semeru itu makin ketat aja. Tapi saya ikut senang kalau akhirnya justru makin baik dengan peraturan yang ketat misalnya buat Simaksi online seperti di Gunung Gede.

Bagian paling penting lain bagi saya, Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

Terkenal angker juga dan saya sendiri merasakan keangkeran itu. Trekking di sini banyak bonus jalanan datar, jadi tak terlalu berat apalagi kalau tak dibawain sama porter. Cuma yang paling berat kondisi saat harus trekking dari Kali Mati ke Puncaknya.

Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

gunung fuji
Gunung Fuji, sumber foto : infojepang.net

  1. Gunung Fuji, di Jepang

Kenapa tertarik ke Gunung Fuji? Dengar cerita dari teman aja, cerita yang menginspirasi buat kesana biar tahu gimana pendakian kalau di luar negeri. Gunung Fuji itu memang dari jauh kelihatannya bagus pas ada saljunya. Sebagai gunung tertinggi di Jepang, letaknya ada di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo.

Gunung Fuji juga terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji-Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3.776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu dan Shoji.

Gunung Fuji diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebuah gunung berapi yang kini masih aktif walaupun memiliki kemungkinan letusan yang rendah, Fuji terakhir kali meletus pada tahun 1707. Terdapat lima danau di sekeliling Fuji, yaitu Danau Kawaguchi, Danau Yamanaka, Danau Sai, Danau Motosu dan Danau Shoji.

Sekitar 200.000 orang mendaki Gunung Fuji setiap tahunnya, 30% di antaranya orang asing. Menurut sumber Wikipedia, waktu yang paling populer bagi para pendaki adalah mulai dari 1 Juli hingga 27 Agustus tentunya saat musim panas. Pendakian bisa memakan waktu dari 3 hingga 7 jam sementara penurunan gunung mencapai sekitar 2 hingga 5 jam.

gunung merapi
Gunung Merapi, sumber foto : wisatagunungmerapi

  1. Gunung Merapi, Jawa Tengah

Mendengar nama Gunung Merapi disebut saja sedikit merinding. Soalnya Gunung Merapi penuh cerita mistis bagi masyarakat Jogja. Banyak cerita seputar Gunung Merapi yang membuat saya penasaran. Tentang Pasar Bubrah yang katanya angker, apabila malam bisa terdengar aktivitas pasar “gaib”.

Nah, sehabis ke Merapi sekalian juga kan bisa keliling Jogja. Kota paling ngangenin buat saya, mulai dari suasana sampai makanan dan orang-orang disana. Pokoknya nggak pernah bosan bolak balik ke Jogja walau tetap jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo yang selalu pasti harus saya datangi ketika ke kota gudeg.

Sebenarnya di seberang Gunung Merapi ada Gunung Merbabu yang juga indah banget padang savananya kalau musim panas. Pilih bulan Mei kalau masih ingin lihat suasana hijau, tapi pilih pergi setelah bulan Agustus kalau ingin suasana kilau rumput keemasan. Semuanya cantik!

 

Asia, culinary, Eastern & Oriental Express Luxury Train, Food, story, The Journey, Train, Traveling

Fine Dining di Atas Kereta Bareng Jonathan Phang dan AFC

Jerk Chicken-1
Jerk Chicken main menu yang saya pilih di hari ke-2 dinner

Pengalaman menyantap makanan di sisi gastronomi dalam konsep fine dining di sebuah restoran mungkin sudah biasa kita temui. Bagaimana jika suasana jamuan makan resmi itu terjadi di atas sebuah kereta mewah?

Dalam sebuah kesempatan perjalanan dengan kereta mewah Eastern & Oriental Express yang melintasi Singapura, Malaysia, dan Thailand belum lama ini, saya sempat mencicipi suasana fine dining berbeda dengan resep dari chef Jonathan Phang yang merupakan koki bintang di acara Gourmet with Jonathan Phang, disiarkan di saluran Asian Food Chanel (AFC).

Denting gelas dan peralatan makan serta guncangan kereta menjadi atmosfer yang begitu dominan terasa saat menikmati suasana fine dining di atas kereta. Breaded Cod Manggo Salsa Red Pepper Mayonnaise atau ikan Cod yang dilapisi tepung dengan padanan irisan mangga dan saus merah lada menjadi sajian pembuka menu makan malam yang khusus dibuat Phang.

Rasa pedas dari berbagai campuran rempah langsung terasa di mulut ketika mencicipi sendok pertama. Cita rasa itu berasal dari lada dan saus mayonnaise berikut tepung yang melapisi ikan Cod.

Harmoni rasa segar mangga dan tomat yang berasal dari Manggo Salsa menjadi penawar rasa pedas tadi sehingga ketika memakannya secara keseluruhan semuanya terasa pas dan tak berlebihan. Hanya saja rasa pedas dan aroma rempahnya terasa dimulut agak lama dan lumer.

Everyone ready to savour Jonathan's delicious dinner menu
Foto favorit pas dinner ❤

Saya mulai merasa kepedasan.. dan itu lumayan lama hilangnya. Sejak hari pertama baru malam terakhir itu, saya dapati masakan dengan dominan bumbu pedas. Dan itu masakan yang diracik oleh Jonathan Phang.

Kalau soal hidangan laut, saya nyerah deh! Kalau bukan karena ikan segar pasti akan terasa amis. Tentu saja untuk sajian makan ini semuanya yang terbaik, jadi saya nggak khawatir dengan ikan amis atau duri sebagaimana selama ini begitu dihindari.

Ikan Cod yang jadi bahan utama menu pertama ini begitu populer dikenal sebagai makanan dengan rasa ringan dan padat, memiliki daging putih bersisik. Di Inggris, Atlantic cod adalah salah satu bahan yang paling umum untuk ikan dan keripik. Hati ikan Cod sendiri biasanya diproses untuk membuat minyak ikan cod, merupakan sumber penting dari vitamin A, vitamin D, vitamin E dan omega-3 asam lemak (EPA dan DHA).

Lanjut dengan hidangan selanjutnya, ada sup yang terasa asing dilidah Indonesia saya. Spiced Pumpkin dan Seafood Soup dengan menu utama Jerk Chicken dilengkapi Nasi Biryani. Rasa pedas begitu mendominasi, tetapi berkat bahan dasar sup yang merupakan labu yang manis, ini menjadi paduan unik ketika dimakan.

“Kuharap semua orang menikmatinya, selamat makan,” ujar Phang saat memberi sambutan sebelum acara makan malam dimulai.

Di pertengahan, menu utama kami datang. Bertambah kuat cita rasa rempah yang pedas di acara makan malam saat itu, Jerk Chicken yang dilengkapi Nasi Biryani masih memiliki nada pedas dari lada hitam. Terutama untuk nasi, terasa sekali bahwa ada banyak tambahan rempah lain sehingga kaya rasa pedas yang menyatu. Untuk ayamnya, rasa pedas itu hanya saya dapatkan dari bumbu, kurang meresap sebagaimana kalau mencicipi masakan Indonesia dengan bumbu kuning.

Sebagai hidangan penutup Coconut Pineapple Crumble Cake dan Vanilla Ice Cream yang manis menjadi penawar rasa pedas makanan pembuka dan utama kami, cita rasa kaya rempah dan bumbu dari Jonathan. (dyah ayu pamela)

Asia, Backpacker, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)

foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.

foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂