Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Advertisements
Himalaya, Nepal, story, The Journey, Traveling

NEPAL TRIP (2) : Absurd – Unknown Feelings After 17th Days

Sampai sekarang semuanya terasa seperti mimpi.. perjalanan di Himalaya seperti tidur sekejap.. Ada perasaan aneh dalam hati, tapi tidak tahu itu apa..

Pada jam seperti ini biasanya aku sudah ada di alam mimpi. Pukul 8-9 malam, sesudah makan malam biasanya aku telah tertidur karena tidak ada televisi, mungkin efek kecapekan juga.. trekking seharian, sebab fisik yang memang butuh istirahat.

Sejujurnya aku senang sudah ada di rumah (sekarang). Merasakan tiap hari trekking itu rasanya, semacam derita sekaligus kesenangan tapi bukan masokis ya hehe. Aku nggak bisa mendefinisikan secara tepat perasaan seperti apa ini. Ada rasa riang hati memandangi deretan pegunungan indah, ada rasa puas telah melampau mimpi, karena telah jadi nyata.

bridge at Everest Base Camp (EBC)
Kamu akan banyak melewati jembatan seperti ini di sepanjang pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Trekking hari pertama setelah penerbangan extreme 30 menit dari Kathmandu, Ibu Kota Nepal. Langitnya ketika itu biru, perjalanan dari Lukla ke Monjo memakan waktu sekitar 5-6 jam trekking. Melewati jembatan yang ku pikir akan seram karena takut ketinggian ternyata tidak. Hari selanjutnya juga, dari Desa Monjo ke Namche Bazar sekitar 3 jam trekking. Lalu ada salju di saat satu hari aklimatisasi di Namche Bazar. Trekking ke landasan helikopter, yang walaupun sebenarnya karena kami mencari museum sherpa, siangnya nonton film sherpa di sebuah Cafe sambil memesan cappucino, makan, bengong, tidur lagi, sambil ada sedikit khawatir bahwa cuacanya memang sangat dingin.

Ada experience makan steak yak, tanpa pikir panjang saat makan malam pesan menu itu. Termasuk sup bawang putih, sup ayam yang ternyata encer tapi kaldunya asli, lalu nyobain sandwich dengan keju khumbu, asli dari Nepal sini. Ohya setelah tidak mandi saat menginap di Monjo, akhirnya bisa mandi di Namche dengan membayar 400 Rupee Nepal atau setara 4 U$D. Aku menginap di Himalayan Lodge, sesuai dengan keinginan banget, ternyata lodge-nya memang recomended.

Di Namche aku juga memutuskan untuk membeli sarung tangan yang lebih hangat, termasuk untuk leher. Sayang sekali harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 10 U$D untuk 2 benda itu, untung saja tidak jadi membeli sleeping bag yang ternyata di Namche harganya bisa mencapai 100 U$D.

Jembatan lagi, di awal trekking menuju Desa Monjo 

Di suatu waktu nafas yang terengah-engah juga perasaan lelah muncul. Terlebih dingin yang lebih daripada perkiraan. Belum pernah ku rasakan sedingin ini. Minus 5 hingga minus 7 derajat celcius. Betul-betul beku saat akan ber-wudhu, hingga aku menyerah di Dingboche, aku memutuskan untuk bertayamum saja. Karena suhunya semakin mendekati minus 10 derajat.

Fase kedua dari pendakian yang sulit memang terasa sekali setelah melewati Dingboche (ketinggian sekitar 4000). Perjalanan dilanjutkan masih dengan padang savana berhampar pegunungan Himalaya disekeliling, Tabuche 4620 adalah titik barunya dimana sepanjang perjalanan anginnya kencang sekali bahkan aku perlu memakai penutup kepala bandana.

Disini kami melewati sungai yang sebagian juga sudah menjadi gletser. Airnya begitu mencapai titik beku tapi aku tetap mengambil air minum disini untuk bekal perjalanan, daripada harus membeli air kemasan yang harganya mencapai 350 Rupee Nepal atau 3,5 U$D di Lobuche.

Everest Base Camp Trek
Terik cuacanya, tapi ini hampir sekitar 5 derajat celcius lho… bahkan sudah hampir ke atas turun salju rintik

Rasanya berat sekali, rasanya ujung perjalanan tak nampak di pelupuk mata. Dimensi yang buyar, kepala terasa pening, perut begitu mual, nafas agak tersengal, sejak kemarin aku juga batuk dan pilek. Hampir tiap berapa menit harus berurusan dengan ingus. Pagi itu sarapan ku hanya roti toast, entah rasanya memang kurang nafsu makan. Dan,.. minum ku hanya sekitar 1-2 liter saja. Yang ku tahu, ini gejala Acute mountain sickness (AMS).

Aku tak ingat tanggal maupun hari, apalagi kapan pulang. Yang ada dibenak hanya “Apapun itu jangan menjadi lemah, sedikit lagi sampai, di depan sana sudah dekat desa selanjutnya,”. Benar saja, seperti sayup sayup fatamorgana ada suara seorang bule menyebut kata “almost there”. Tak jauh, agak turun ke bawah memang kelihatan ada atap rumah. Disanalah, seolah tenaga yang tersisa, tak menghiraukan lagi terik sekaligus terpaan angin dingin pegunungan tak kenal ampun. Kali itu tak mampu lagi untuk tak berbagi keluhan dengan teman seperjalanan. Aku sampai di Gorak Shep. (Ketinggian sekitar 5164 mdpl). Selangkah lagi dalam sehari 3 jam trekking ke Everest Base Camp (ketinggian 5364 mdpl).

Rasa mual makin menjadi-jadi. Kami duduk di sebuah restoran yang ada di dalam lodge paling pertama di Gorak Shep. Namun aku memutuskan tak jadi menginap di lodge ini karena melihat toiletnya makin membuatku ingin muntah. Sudahlah jangan ditanyakan lagi.

Ku putuskan untuk jalan beberapa ratus meter lagi, walau tenaga yang tersisa hampir habis. Di seberang sisi kanan jalan sana terlihat ada dua penginapan lodge lagi. “Chan aja deh yang pilih lodge-nya,” sahutku agak putus asa setelah sampai di depan penginapan.

Akhirnya kami memilih Budha Family Lodge. Kelihatan lebih bersih, pikirku setidaknya untuk toiletnya tak basah lantainya dan tak begitu bau. Meski air di gentong besar tetaplah beku. Sambil merasa kedinginan tak sempat membereskan barang, aku tidur cukup lelap menghilang bersama rasa sakit kepala yang amat sangat. Sorenya aku baru terbangun, bersama hilangnya AMS. Ternyata ini saja obatnya. Tidur…

Karena tak ingin malamnya sulit tidur, aku pun bangun. Mengambil buku bacaan dan membacanya di ruang restoran, di perapian tempat berkumpulnya orang-orang yang menginap. Mereka memesan makanan, makan, berbincang satu sama lain walau tadinya tidak saling kenal. Tak ada perbedaan ras, mata sipit, rambut pirang, kulit sawo atau pucat seperti bule, kami yang sama-sama kedinginan berkumpul di perapian.

Baru tersadar, teman seperjalanan tidak ada, ternyata dia trekking ke Kalapathar yang letaknya lebih tinggi dari Everest Base Camp (EBC). Katanya begitu kepayahan untuk menjangkaunya. Bahkan pendaki lain menyarankan untuk turun. Sakit kepala, nafas terengah-engah. AMS.. sangat ingin berteman dengan kami.

Aku minum air hangat untuk meredakan sakit. Rasanya itu adalah teh paling enak, padahal itu kantung teh yang ku bawa dari rumah. Memang sisah teh waktu perjalanan ke Korea Oktober silam. Namun di Gorak Shep ini, dengan tambahan gula, kebekuan cuaca itu sedikit mencair. Aku merasa baikan…

Besok adalah tiga jam trekking menujuEBC. InsyaAllah bisa dilalui. Benar. Entahlah, rasanya biasa saja ketika sampai tempat itu. Hening saja. Ada gletser dimana-mana. Tak berlama-lama, hanya 10-15 menit begitu sampai, aku memutuskan turun lagi. Teriknya matahari di luar jangkauan ku, bukan hanya itu, angin menerpa sangat kencang, dingin membeku.

Aku memilih hanya meminum larutan madu dengan air hangat. Tidak ingin makan sama sekali setelah malam sebelum memesan vegetable roll dan honey toast. Tapi ternyata semua makanan itu harus keluar secara paksa diperjalanan setelah turun dari EBC.

Gorak Shep masih jauh, aku tahu itu. Setidaknya 1,5 jam lagi jaraknya, melewati kerikil besar batu, meski menurun. Lalu ada jalanan mendaki dan turun lagi, sampai pada padang luas, dari kejauhan genteng rumah penduduk menyambut. Aku masih linglung, ingin pingsan rasanya, tapi tidak boleh, ku tahan dan ku simpan tenaga tersisah sampai di lodge aku membaringkan diri, tak berdaya.

…. BERSAMBUNG dengan cerita di tiap desa dan bagian tersendiri berbelanja dan kuliner di Kota Thamel 😊

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Philosophy of Mt. Gede

 

SONY DSC
Ini bukan panorama Gunung Gede sih, tapi di Kali Mati Gunung Semeru. Suka aja gradasi langitnya.  Semua gunung itu bikin belajar! Mulai dari Rinjani, Semeru aku selalu ketemu filosofi yang berbeda dari perjalanannya 🙂

Ada banyak hal yang membuatku berubah. Lewat gunung dan kisah-kisah perjalanannya. Dimana seolah Tuhan ikut berbicara lewat apa yang ku alami disana. Tuhan, ikut andil dalam kisah. Aku sangat percaya. Bahkan semakin percaya setelah mengalami semuanya.

“Percayalah. Setiap perjalanan adalah perjalanan hati. Sebagaimana hati hampir selalu menyertai iringan langkah kaki,” kutipan dari seorang teman. Heheh baru kenal, seorang pendaki perempuan yang juga suka mendaki seperti saya.

Walau awalnya, bila perjalanan itu bukan hanya karena hati yang ingin tapi sebuah ajakan. Lambat laut hati pun tetap akan menyertai disana. Sebab mana mungkin kepergian itu bisa terjadi tanpa panggilan hati dan keinginan yang timbul karena bisikan-Nya.

Ketika tuts keyboard hadir dalam wujud huruf ini bukan sebagai memori yang akan diingat saja. Ada satu makna bahwa saat kita meninggalkan satu dimensi waktu kejadian lampau dan bergerak ke pembaharuan waktu, disitu selalu ada pengertian baru. Bahwa Tuhan lebih memahami kita dari siapapun juga di dunia ini.

Kala itu di Gede. Aku membaca, hingga sampai pada memahaminya lewat perjalanan itu. Kemudian aku belajar.. Karena kuasa-Nya aku bisa sampai, sejejak.. dua jejak ketika lelah aku berhenti. Disana aku melihat dan merasakan sejuk dari waktu beristirahat.

Tapi berhenti sejenak tentu takan lama, kaki tetap harus melangkah dan kembali merasakan perjuangannya. Meski rasanya memang ingin sekali terus menikmati kenyamanan ini. Duduk di bawah pohon rindang. Etalase alam.

DSCN8352
Di Gunung Gede itu banyak banget mebel alias furnitur alam yang enak buat duduk, hehehe betah duduk tiduran istirahat mangkanya 🙂

Perjalanan itu harus ada titik temunya, sebuah tempat tujuan. Karena tak pernah lewat jalan itu sebelumnya, tentu kita tidak tahu seberapa jauh lagi, berapa lama lagi. Hanya ada petunjuk jika telah sampai di pos ke 4 tempat berkemah sudah dekat. Petunjuk lain, bertanya teman pendaki yang ingin balik turun lewat jalur kami naik. Ya, itu tapi hanya jadi perkiraan saja, tak sepenuhnya tepat.

Bukan itu intinya, bukan hanya karena tujuan ingin sampai. Tapi sebuah proses.. ketika dalam perjalanan itu kita menikmatinya, bukan terburu-buru ingin sampai. Sesekali berhenti untuk memandangi warna hijau daun tak pernah salah. Sesekali mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak pun itu kenikmatan. Bukan ingin berhenti, tapi rehat sejenak dan membaca perjalanan itu. Biarpun tetap ada batas sampai kapan memulai lagi.

Perjalanan seringan atau seberat apapun itu yang kubutuhkan adalah terus melakukan perjalanan itu sendiri. Bukan berbalik badan untuk menyerah. Juga tak terlalu lama tergiur dengan kenyamanan atau terlalu lama beristirahat.  Agar ku bisa sampai pada satu titik telah berada di tujuan. Semua rasa lelah kaki mu pun terbayarkan. Ya,… aku menang Tuhan. Menang dari pertempuran ego diriku sendiri.

(FYI sededar kiasan saja)

 

Asia, Backpacker, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, The Journey

Pendakian Musim Hujan – Gunung Ceremai Part 1

Kalau di ibu kota kita biasa disesaki oleh asap kendaraan dan kemacetan. Jauh berbanding terbalik, ketika mengunjungi gunung saya demikian disesaki rimbunan pohon dan oksigen dari hutan yang hijau nan rindang.

Haloooo, gunung akhirnya aku menjelajahi mu kembali 🙂 dan…. Gunung Ceremai menjadi pendakian pertama saya di tahun 2016. Sebenarnya ini random saja, ke Ceremai bukan karena itu gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl). Tapi salah satu gunung yang selalu dibuka meski musim hujan meski di masa pemulihan.

Inisiasi mendaki Ceremai juga nggak sengaja. Di Instagram lewat akun @id_pendaki, @indomountain dan semacam kedua akun ini yang jumlahnya banyak banget suka ada posting-an dengan gambar dan hastag #naikbareng. Nah dari sinilah kita bisa nyari temen barengan naik gunung, nggak perlu ikut open trip kan jadinya, hehehe bisa kurang laku deh open trip 😀

foto 2
Suasana hutan Ceremai, edit stempel Line…hehehe biar fokus sama pemandangan, bukan sama tas carrier atau muka 🙂

Saat lihat komentar dibawah posting saya cari yang kemungkinan waktunya weekend. Kebanyakan yang bisa weekend ya Ceremai atau Guntur. Instagram memudahkan banget ya cari temen pendaki, sejak itu inbox pun lumayan banjir. Dapet kenalan baru juga, follower nambah banyak dan akhirnya tukeran contact yah walau beberapa ada yang batal barengan naik. Tapi kita tetep temenan di Instagram saling mem-posting gambar yang keren-keren saat ke gunung 🙂

Mendaki saat musim hujan itu sangat tidak disarankan, hehehe tapi nekat aja saking sudah kangennya dengan atmosfer gunung. Pergilah kami 24-25 Maret 2016 lalu. Dengan dua orang teman jadi kami bertiga saja, cewe semua dan tanpa potter. Tadinya ada satu teman cowo yang kenal dari Instagram mau bareng kita, tapi saya putusin ganti jalur pendakian Apuy karena ada acara menanam pohon dengan Komunitas Trashbag di jalur Patulungan.

Sejauh ini, Ceremai adalah gunung paling sulit menurutku sih. Malah lebih sulit daripada gunung Rinjani yang lebih tinggi, terlebih berangkat masih musim hujan. Tak ada yang percuma meski itu hujan, walau jalanan licin, walau harus ribet pakai jas hujan, walau sepatu penuh menempel tanah becek. Makin berat saja sepatu. Apalagi tenda, peralatan masak, kompor, bawa sendiri dengan tas carrier 30 L itu. Bedalah dengan pendakian sebelumnya, dimana cuma bawa perlengkapan pribadi yang enteng.

foto (8)
Tempat kemah di Pos V, tinggal 3 jam lagi menuju puncak Ceremai

Seperti apa trekking di Gunung Ceremai? 

  1. Beruntung disini nggak ada hujan badai besar dengan petir seperti yang diceritakan kalau lagi baca review perjalanan ke Gunung Kerinci. Hanya saja licin dan harus hati-hati. Nggak semua trek licin, tergantung semalamnya hujan atau tidak. Karena rimbun hutan saat hujan besar tak langsung terkena, tapi jadi rintik-rintik.
  2. Paling sulit itu pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 rasanya jauhnya lebih dari 3 jam. Kok nggak sampai-sampai. Makin berat karena bawa air 2 liter dan perlengkapan masak 😦
  3. Lebih banyak ketemu jalur yang cukup sempit, jarang ketemu trek yang lebar untuk bisa berhenti istirahat. Tapi banyak trek bonus bisa buat istirahat lama berkemah. Buat minuman hangat dulu.
  4. Hampir 95 persen jalur pendakian adalah hutan. Jadi adem rasanya sepanjang perjalanan tanpa paparan sinar matahari berlebihan.
  5. Ada banyak tawon atau lebah yang nguing-nguing selama hampir disetiap perjalanan. Namanya juga hutan. karena itu di gangguin terus, sampai tawon ini juga hobi banget masuk tenda. Tapi walau lembab nggak ada yang namanya pacet atau lintah penghisap darah.
  6. Kami nge-camp di Pos 5, tapi kalau sudah nggak kuat sampai Pos 5 lebih baik kemah saja di tempat yang tanahnya datar bisa kemah.
  7. Selebihnya dari Pos 5 ke Pos 6 (Goa Walet) tempat kemah sebelum summit itu sekitar 3 jam perjalanan. Cukup berat katanya seperti trek dari Pos 2 ke Pos 3.
  8. Summit cukup menempuh waktu 30 menit dari Goa Walet (Pos terakhir)
foto 3
Salah satu jalur yang harus kami lewati, pasti becek kalau hujan. Sempitnya,… beda dengan jalur yang ada di Semeru dan Rinjani. FYI nggak ada savana di Ceremai

How To Get There?

  1. Kami naik Travel Nikko Jl. Raya Bogor 0218741052 atau Travel Nikko Jakarta Barat yang 24 jam 02129038276 yang bisa menjemput dan mengantar langsung ke depan rumah. Serius lagi males capek, naik turun bus jadi naik travel aja. Harganya memang lumayan sih Rp. 150 ribu tapi diantar hampir dekat basecamp pendakian. Bilang Aja mau ke Majalengka, ke Desa Apuy sampai dekat jalur pendakian. 
  2. Sampai di dekat Desa Apuy, kami naik angkot sewa Rp 140 ribu sampai basecamp untuk bertiga orang. Kami diantar sampai balai desa, yang disana ada mobil omprengan untuk mengantar pendaki.
  3. Dengan mobil omprengan bertarif Rp.15.ribu kami diantar hingga basecamp pendakian Apuy. Besoknya mintalah dijemput kembali supaya bisa tawar-menawar lebih murah. Kamu bisa hubungi Kang Tata 085321027504
  4. Sampailah di Pos 1, daftar Simaksi Rp. 50.000 kamu akan mendapatkan souvenir kupluk bertuliskan Ceremai atau pilihannya slayer berwarna hijau. Total biaya kalau ke Ceremai sebenarnya murah, hanya sekitar Rp 300-350 ribu, asal jangan naik travel, tapi naik bus dari Kp. Rambutan atau terminal bus terdekat yang hanya Rp. 50-60 ribu.
foto 4
Suasana jalur yang harus dilewati menuju basecamp di Jalur Apuy. Serius ini hanya bisa di lalui mobil omprengan bak terbuka. Biasanya mereka yang bawa mobil menitipkannya di Balai Desa, karena jalurnya sempit dan dekat jurang.

Saya memang tak summit puncak Ceremai. Hanya sampai Pos 5 karena malamnya hujan, tentu trek makin licin. Haduuuu, nggak muncak aja kaki ini sakit banget selama 2 hari. Kemudian saya jadi berfikir untuk punya strategi agar bisa sampai puncak. Jadi kemungkinan memang tak bawa barang banyak. Fokus summit, harus pakai sepatu nyaman dan bawa bekal makanan lebih banyak untuk 3 hari.

Kalau aja bawa bekal makanan cukup 3 hari, pasti nunggu supaya jalur tak licin dan bisa summit. Walau lama, tapi sampai puncak 🙂

Indonesia, LIFE, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Peralatan Penting, Kemping Ke Gunung

IMG_7509.JPG
Siapa yang nggak kangen gunung, semua atmosfernya, udara dan pemandangannya 🙂

Belakangan, setelah beberapa kali naik gunung dan suka. Akhirnya saya memutuskan untuk melengkapi peralatan kemping. Kepikiran punya tenda dan perlengkapan masak sendiri, kebetulan juga ada banyak temen yang suka join-an mendaki bareng.

Karena kalau nggak ikut open trip dipikir-pikir lumayan dananya bisa banyak dipangkas, sebisa mungkin saya sekarang pergi mandiri, tanpa potter. Lagi pula kalau mau punya temen barengan ada banyak di social media betebaran, terutama di Instagram. Be careful aja selama perjalanan.

Sekedar sharing, saya jadi kepikiran untuk menulis di blog peralatan apa aja sih yang perlu kamu bawa kalau ke gunung? Ini daftarnya lengkap dimulai dari body equipment, standart equipment, cleaner equipment, dan general equipment yang penting untuk disiapkan. Intisari daftar ini diambil dari beberapa kali persiapan ikut open trip sebelum ke gunung. Beberapa peralatan mungkit tak diperlukan, nanti di paragraf selanjutnya coba saya jelaskan. Check it out!

No.         Qt           Body Equipment             

1              1              matras

2              1              sleeping bag (pilih sleeping bag berbahan polar)

3              1              jacket inner

4              1              jacket outter

5              1              kaos tidur lengan panjang

6              1              kaos ganti (tergantung lama kemping)

7              1             celana pendek untuk tidur

8           1              celana dalam (tergantung hari)

9           1              kaos kaki sesuaikan hari mendaki

10           1              sarung tangan harian

11          1              sarung tangan dingin

12           1              buff

13           1              handuk kecil

14           1              bantal tiup

15           1              topi

16           1              sajadah

17           1              kacamata

————————-

deuter-aircontact-65+10-review
Benda paling penting dari mendaki gunung itu, tas carrier yang nyaman. Jadi rekomendasinya pilih dari merek yang memang bagus. Kalau saya suka merek Deuters, merek Columbia juga bagus tapi lebih mahal, kalau merek lokal pilihannya Consina.

No.         Qt           Standart Equipment                                      

1              1              lampu tenda

2              1              head lamp

3              1              kompor gas atau kompor parafin

4              1              gas

5              1              korek api

6              2              tracking pole

7              1              power bank

8            1              camera

9            1              kantong plastik sedang

10           1              kantong plastik kecil

11           1              sepatu gunung

12           1              sandal

13           1              tas carriel

14           1              tas kecil

15           1              charger

16           1              tempat telur

17           1              gunting

——————————

DSCN2360.JPG
Nah buat melindungi tas carrier kamu perlu cover bag, harganya sekitar Rp. 50.ooo tapi kalau beli tas baru biasanya sudah termasuk. Terus kamu juga butuh trekking pole untuk membantu berjalan sebagai kaki ketiga kamu.

No.         Qt           Cleaner Equipment                                                                                       

1              1              sabun cuci muka

2              1              sabun mandi

3              1              parfum/body cologne

4              1              lotion

5              1              tissue basah

6              1              tissue kering

7              1              sikat gigi

8              1              pasta gigi

9              1              anti septic

10           1              betadine/hansaplas (P3K)

11           1              minyak kayu putih

————————————-

IMG_7563
Masker perlu banget soalnya debu dimana-mana apalagi pas muncak. Topi, sarung tangan dan kacamata untuk melindungi dari terik matahari tapi bisa pilih yang stylist supaya eyecatching kalau di foto hahaha. Ohya kalau ke gunung harus banget pakai lengan panjang dan celana panjang biar nggak hitam pulang-pulang.

Untuk general equipment di bawah ini kalau ikut open trip biasanya sudah disediakan. Tapi kalau pergi mandiri ya kamu harus nyiapin atau bisa sewa di toko outdoor untuk tenda.

No.       General Equipment                    

1 . Tenda

2.  Flysheet

3 . Tali

4 . Pisau

5 . Nesting

6 . Sendok

7 . Garpu

8  . Gelas

9  . Piring

Buat yang baru mulai mencoba naik gunung, pasti harus mengeluarkan budget lumayan besar untuk melengkapi perlengkapan kemping ini. Kalau ikut open trip peralatan seperti tenda dan alat masak sudah pasti disiapkan penyelenggara ya. Tapi paling utama kamu harus punya…..

  1. Tas carrier ukuran minimal 40L tapi disarankan yang 50 L karena walau pergi sehari kamu perlu bawa barang dan makanan. Jadi bisa sharing tempat juga sama teman untuk bawa peralatan seperti nesting misalnya.
  2. Sleeping bag, buat tidur kan nggak mungkin satu sleeping bag berdua temen. Belilah yang berbahan polar supaya tahan cuaca dingin.
  3. Matras, ini untuk alas di tenda baiknya punya sendiri.
  4. Trekking pole, karena akan sangat membantu saat berjalan.
  5. Sepatu gunung, ini sangat dianjurkan karena akan lebih nyaman memakai sepatu daripada sendal gunung.
  6. Headlamp untuk penerangan di malam hari, saat terpaksa harus tetap jalan malam.
  7. Jaket Inner dan Outer, ini penting untuk menahan cuaca dingin. Kalau siang di gunung enak pakai kaos lengan panjang, karena ketika trekking kita akan banyak berkeringat akan basah.
  8. Kalau mau muncak kamu butuh tas gemblok kecil lipat yang suka dijual di toko sport, sebaiknya bawa untuk tempat minuman kamu dan benda-benda penting seperti handphone dan kamera juga snack.
  9. Geiter, untuk melindungi pasir masuk ke dalam sepatu, bila sepatu kamu pendek. Untuk muncak ke Mahameru yang banyak debunya ini harus bawa.

 

IMG_7324
Kabutnya……. di depan danau Ranukumbolo

 

Indonesia, JAVA - Indonesia, MALANG - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Kejadian-kejadian Aneh Di Gunung

IMG_7562
Bekas-bekas kebakaran di Semeru, Oro-Oro Ombo setelah Tanjakan Cinta. Guys, para pecinta alam, ke gunung jangan merusak ya!

Malam minggu kemarin. Obrolan saya sama temen barengan naik gunung ditutup dengan kesimpulan bahwa, sepertinya kemungkinan dia nggak jadi ikutan karena nggak berani ngegunung kalau lagi M alias “datang bulan”.

Saya setuju. Memang sebaiknya jangan ke gunung kalau lagi M. Selain gunung selalu dikatakan sebagai tempat suci. Ada banyak kejadian-kejadian aneh yang absurd banget kalau diceritain.

Semoga tidak bosan sama cerita saya soal gunung. Tenang aja dunia saya juga sebentar lagi beralih dari gunung ke city traveling, terus pantai lagi, bukit, eh gunung juga kalo kangen. Hehe, tapi sepertinya tetap akan jadi pecinta alam sampai kapan pun, suka pantai dan tetap cinta udara atmosfer gunung. *nyengir 5cm*

Soal lagi M dan jangan ke gunung itu sempat saya alami waktu ke Semeru September 2015 lalu. Sejak dari pos pendaftaran lho ini sudah diwanti-wanti sama petugas disana yang galak-galak.

“Bagi yang perempuan kalau lagi halangan jangan muncak. Karena untuk sebagian orang gunung itu tempat yang dianggap suci,” pesan petugas.

IMG_7600
Suasana di Kali Mati, sepi yang nenda disini pada September 2015 lalu. Namanya Kali Mati, karena kali disini sudah tak mengairi air lagi.

Kata-kata ini memang bukan isapan jempol. Pernah temen ada yang nekat muncak disaat sedang M itu, lalu ada teman serombongan yang “digelendoti” makhluk halus hingga makin berat rasanya mendaki. Usut punya usut ternyata teman yang lagi halangan itu sempat ke Kali Mati, cuci dan sekedar mandi-mandi ayam sebentar disana.

Mungkin katanya darahnya sempat mengotori sekitar tempat disana. Terus ada makhluk yang mengikuti, tapi yang kena malah temen barengannya. Nah, kesian kan guys. Nggak bisa muncak, malah ada temen yang diganggu. Makanya mending jangan naik gunung dikondisi seperti itu.

Di Semeru kemarin saya pun anehnya tiba-tiba halangan di hari akan menuju Kali Mati. Setelah Tanjakan Cinta sudah mulai kerasa tuh, makan semangka di bawah pohon dari trekking lewat Oro Oro Ombo kok rasanya ini “dapet”. Sampai di Jambangan, cek cek ternyata iya.. Huhuhu sedih banget nggak bisa ikutan muncak malamnya.

Merelakan teman-teman yang lain bisa muncak. Tapi tok tok tok, jam 01.00-an pagi salah satu teman balik ke tenda dan cerita kejadian aneh. Jadi ada yang manggil namanya sampe 3 kali dan itu dipikir adalah guide kami.

IMG_7261
Atmosfernya melow banget pas saya berjalan menuju Ranukumbolo

Panggilan pertama dia cuekin, karena pikirnya halusinasi, lanjutkan perjalanan lagi kan akhirnya. Panggilan kedua mulai aware, duh duh kok lagi ya? Panggilan ketiga, sudah nggak enak ini tanda-tandanya. Karena perasaan nggak nyaman, akhirnya dia minta balik aja. Di tenda, ceritalah.

Satu tim ke Semeru akhirnya nggak ada yang sampai puncak. Dua teman yang ditinggal sebelumnya, ikutan menyerah, nggak lama sejam kemudian sampai di tenda. Besok paginya saya jadi mikir, ini apa karena saya ya? Masa iya? kan saya hanya sampai Kali Mati dan nggak ikut mereka.

Jadi agak merasa bersalah, tapi saya juga nggak merencanakan “datang bulan” dan sebetulnya tumben banget kok datangnya lebih cepat. Ini sangat aneh sebenarnya semacam nggak ditakdirin buat muncak saat itu atau disuruh kembali lagi kesana??? Entahlah.

IMG_7381
Jangan melakukan hal-hal aneh ketika di gunung, berkata-kata kotor, merusak alam. Keep calm, nikmati alam aja guys.

Sampai sekarang masih absurd aja sama kejadian itu. Jelas bulan itu tumben kecepetan banget jadwal bulanan saya. Terus jadi mikir soal kepergian kami ke Semeru ini yang sejak awal seperti banyak ujiannya.

Kejadian aneh, pas mau ke gunung itu adalah tanggal 13-17 Agustus 2015 ketika di hari H keberangkatan justru ada insiden yang membuat tim nggak bisa berangkat. Ada pendaki hilang. Bukan cuma hilang, beberapa ada yang meninggal. Tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan kereta. Ini bikin pendakian ke Semeru ditutup sampai pendaki hilang itu ditemukan. Temen-temen yang mau berangkat ketar ketir, ada yang jadi parno, jadi galau buat berangkat. Keputusan akhirnya kita nggak berangkat.

Absurd masih lho. Yang lebih mengherankan lagi, di jam 12 siang-an pas banget dengan jadwal kereta kita berangkat lalu ada berita bahwa Semeru kembali dibuka. Aseemm banget kan guys?? Jam10-an pagi tim yang mau berangkat kumpul di Stasiun Gambir lalu kita cancel tiket dan ketemuan tanpa bawa carrier yang sudah di packing jauh-jauh hari.

Sejak saat itu, santai banget jadinya kalo mau ngegunung. Kalau ditakdirin berangkat pasti berangkat. Bahkan kalaupun itu mendadak ide buat trekking ke gunung atau kemana pun. Ngambil himahnya aja. Berhubung saya memang pantang menyerah dan lebih sering kekeuh sama sesuatu. Setelah ini lebih menyerahkan apa yang terjadi sama Tuhan lewat semesta tanda-tanda kebesaran-Nya. Santai saja. Rileksss Pam!

IMG_7201.JPG
Jangan serius-serius amat bacanya, hahahaha. Rilekssss nikmati pemandangan bagus 🙂

Kalau ditanya soal hal mistis di gunung sebenernya ada banyak. Tapi bukan saya sendiri yang ngalamin. Karena dari dulu memang nggak bisa lihat hal-hal gaib macam itu. Di Gunung Lembu misalnya, sempat ada teman yang melihat makhluk halus rame kumpul di kuburan dekat jalan menuju trekking selama muncak. Cuma dia yang lihat, itu masalahnya. Cuma dia yang merinding.

Di trek jalur Senaru, Gunung Rinjani yang merupakan hutan juga kejadian. Pas banget kami tiga rombongan pendaki nekat turun, padahal sudah malam. Bapak potter bilang jangan perjalanan malam, tetep namanya ngejar target besok pagi harus sampai pintu Senaru kan.

Kita akhirnya nekat turun dan melakukan perjalanan malam karena ada tiga tim yang bareng sekalian. Kalau cuma tim saya yang ber-4 itu juga nggak bakal berani. Pasti nenda di pos 3 jalur Senaru.

IMG_7522.JPG
Saking dijaganya, sekarang ada batas berkemah di Danau Ranukumbolo. Kami tak boleh lewat lebi dari pembatas garis ini, demi menjaga air danau tetap bersih. Eittts… jangan jadi korban film 5cm juga, boro-boro buat nyemplung. Haram hukumnya, kita semua kan minum dari air di danau ini 😀

Tapi betul juga kata bapak potter yang kita tanyain sepanjang jalan. Jangan turun saat malam, selain gelap dan bahaya juga ada hal mistis atau ketemu makhluk dari alam lain itu. Kan karena saya nggak bisa lihat juga, memang jam hampir pukul 00.00 kita masih lanjutin perjalanan. Ketua rombongan yang paling depan (sepertinya memang sudah sering naik gunung) pakai aba-aba stop dengan tanggan.

Dia bilang jangan berisik. Tolong yang ada bunyi kerencengan jangan bunyi. Terus kita berhenti sebentar hampir 5 menit. Ada suara burung hantu atau perkutut gitu. Besok paginya saya diceritain kan sama temen yang serombongan kalau semalam itu ada kuntilanak terbang di atas kita. Pas  ada suara burung hantu atau perkutut itu. Hiiiiiiiiii, nggak kebayang. Saya beruntung nggak bisa lihat.

Cerita lain dari teman, ada yang akhirnya kapok naik gunung karena ngeliat “makhluk”. Pas ke Merbabu katanya, dia lihat temennya itu tas carrier-nya didudukin sama nenek-nenek yang lagi ketawa-tawa. Terus kakinya lagi dipegangin juga sama “makhluk” dunia lain yang tangan kukunya panjang-panjang dan serem. Hiiiiiiiiiii nggak kebayang. Naudzubilahmindzalik jangan sampe liat.

IMG_7361.JPG
Semoga alam tetap lestari, buat hiburan kalau kita penat dari kesibukan aktivitas kota.

Nah, rencananya kalau lancar dan memang ditakdirin ya. Weekend depan saya mau ke Gunung Ceremai. Random aja, kebetulan dapet jadwal dan cocok jadwalnya ketemu temen-temennya yang mau ke Ceremai. Boleh googling, katanya banyak kejadian aneh juga disana. Cerita diikutin pocong, diikutin kunti, bahkan lagi makan dan berdoa juga ada yang melihat wanita berbaju putih memperlihatkan wajahnya.

Entahlah ya, saya nggak mau mikir macem-macem. Yang jelas kalau ke gunung niatnya yang baik, jangan berkata-kata kotor, merusak, atau melakukan tindakan nggak baik. Usahakan perginya terang benderang. Jangan pas gelap masih trekking nanjak atau turun. Walau ini kondisi bisa jadi tak terprediksi kadang.

Backpacker, LOMBOK - Indonesia, MOUNTAIN, NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia, Traveling

Hello “Dewi Anjani”

IMG_3750
Riang banget,  tertawa yang renyah setelah summit… love a lot this picture

The journey is start from Sembalun Village, a trip taken about 6 hours to the first camp. Passing through savannah, forests, and hills… all the beautiful sights. Green trees, golden yellow color of the grass.. thats under the blazing sun decorated white clouds. Hmmm, i still can feel the atmosphere ❤

Don’t know why, . .  just feel happy when i’m look again the memories at Rinjani mountain. Is always wants to show off all the atmosphere, how do I look at the journey. The place, people, and all… beautiful memory for me.

This is one of story in my life,.. yeahhh <3. The third mountain thai i climb, after Papandayan and Lembu, 3726 highness MDPL. The most beautiful mountain in Indonesia.

Imagine how many times I took every picture :D…. after that, I’m always longing to return. Someday maybe…. This mountain that I missed ❤

One memorable occasion, when pursuing every inch of the rocks and soil. And one day, will i come again? Anjani Goddess…. hey you, let me to know, do you miss me too??

Closed in 2015, I was praying to get back. Rinjani…. the beauty of “Dewi Anjani”

Fell in love with you Rinjani, . . ❤

IMG_3584About Rinjani mountain : (From wikipedia)

Mount Rinjani or Gunung Rinjani is an active volcano in Indonesia on the island of Lombok. Administratively the mountain is in the Regency of North Lombok, West Nusa Tenggara (Indonesian: Nusa Tenggara Barat, NTB). It rises to 3,726 metres (12,224 ft), making it the second highest volcano in Indonesia.

On the top of the volcano is a 6-by-8.5-kilometre (3.7 by 5.3 mi) caldera, which is filled partially by the crater lake known as Segara Anak or Anak Laut (Child of the Sea) due to blue color of water lake as Laut (Sea). This lake is approximately 2,000 metres (6,600 ft) above sea level and estimated to be about 200 metres (660 ft) deep; the caldera also contains hot springs. Sasak tribe and Hindu people assume the lake and the mount are sacred and some religious activities are occasionally done in the two areas. On 31 October 2015, Mount Rinjani started erupting again

On the basis of plate tectonics theory, Rinjani is one of the series of volcanoes built in the Lesser Sunda Islands due to the subduction of Indo-Australian oceanic crust beneath the Lesser Sunda Islands, and it is interpreted that the source of melted magma is about 165–200 kilometres (103–124 mi) depth.

IMG_4058

The geology and tectonic setting of Lombok (and nearby Sumbawa) are described as being in the central portion of the Sunda Arc. The oldest exposed rocks are Miocene, suggesting that subduction and volcanism began considerably later than in Java and Sumatra to the west, where there are abundant volcanic and intrusive rocks of Late Mesozoic age. The islands are located on the eastern edge of the Sunda shelf, in a zone where crustal thickness is apparently rapidly diminishing, from west to east.

The seismic velocity structure of the crust in this region is transitional between typical oceanic and continental profiles and the Mohorovičić discontinuity (Moho) appears to lie at about 20 kilometres (12 mi) depth.[13] These factors tend to suggest that there has been limited opportunity for crustal contamination of magmas erupted on the islands of Lombok and Sumbawa. In addition, these islands lie to the west of those parts of the eastern-most Sunda and west Banda arcs where collision with the Australian plate is apparently progressing.