NEPAL TRIP (7) Salju Pertama Ku di Pegunungan Himalaya

Tadinya… saya sudah nggak ngarep salju saat teman yang pergi terlebih dahulu ke Everest Base Camp (EBC) di bulan Januari bilang “Nggak ada salju, walau minus 25 derajat dan dingin banget semua beku tapi matahari terik,” katanya dalam sebuah DM di Instagram.

Namun ternyata Tuhan baik banget sama saya, seperti ngasih hadiah khusus.. saat stay 1 hari di Namche Bazar untuk aklimatisasi. Dia nurunin salju spesial buat saya sama partner trekking kali ini yang memang sengaja datang ke Pegunungan Himalaya di bulan Februari saat penghujung winter khusus kepingin ketemu salju ❄️

Sebagai orang yang lahir dan hidup di negara tropis, tentu saja saya norak sama salju. Seumur-umur belum pernah tahu seperti apa, walau di Tv sering lihat juga, ini kan beda. Nyentuh langsung, tahu gimana ambience ketika salju itu turun perlahan, dan… ternyata salju memang kelihatan indah. Berjatuhan.. terbawa angin, lalu caranya menempel di jaket blocktech Uniqlo warna biru saya. . *nggak di endorse juga*

img_5509
foto kaki dulu, sudah sampai heli pad di Namche
img_5514-1
Pemandangan salju di Desa Namche dari dekat Heli pad

Norak dan betul-betul norak, dalam cuaca sedingin itu (minus 10 derajat celcius), dimana pukul 7-8 pagi orang lokal Nepal dalam keadaan cuaca super dingin itu pasti akan memilih untuk selimutan dan meluk perapian 😂🙏🏻. Saya malahan jalan trekking hingga ke atas landasan helikopter yang tinggi itu, secara nggak sadar padahal maksudnya mau mencari dimana lokasi museum sherpa sesuai petunjuk peta.

Hari sebelumnya, sudah ada tanda-tanda salju akan turun.. waktu saya jalan-jalan sendiri, soalnya partner trekking saya tidur, capek kali ya. Saya niat beli sarung tangan thermal karena baru beberapa jam sampai Namche merasa sangat kedinginan, soalnya pertama kali banget memang ngerasain ada di kondisi suhu minus.

Tapi pagi itu beneran, salju turun cukup lama sekitar sejam lebih hingga membuat desa Namche perlahan terselubung warna putih. Makin banyak selubungnya, di jendela kamar cuma ngerasa takjub! Ya Allah ini yang namanya salju, makasih ya sudah jauh-jauh kesini ternyata beneran bisa ketemu salju.

img_5513
Jejak kali lagi dan si sepatu Columbia merah saya beneran narsis

Nggak lama salju makin memutihkan desa Namche, kami keluar lodge untuk jalan-jalan ngerasain salju. Semula tak ada pembicaraan tujuannya kemana, pokoknya keluar. Tapi begitu melihat peta, kami tertarik berkunjung ke Museum Sherpa. Dekat dengan kantor pos menurut petunjuk peta. Yang dicari tak ketemu, tahu-tahu sudah ada di bagian hampir paling atas.

Saljunya betul-betul lebat, tapi dalam 30 menit saat jalan turun kembali ke lodge penginapan, semua mencair juga, hingga genteng yang merupakan seng meneteskan air. Tes tes.. jadi mirip seperti hujan.

Ternyata museum sherpa letaknya di tengah, ngapain ya tadi sampai trekking ke atas? Sehari aklimatisasi di Namche untuk membiasakan diri berada di ketinggian dan suhu minus sebenarnya bingung juga mau apa. Tapi ada satu kegiatan yang bisa dilakukan. Di Cafe d’ 8848 nggak jauh dari lodge tiap jam2 an diputarkan film tentang sherpa yang membantu pendakian ke Everest.

img_5507
suka suasananya, sayangnya nggak ada penduduk lokal keluar rumah, nggak ada yang bisa diminta tolong fotoin

Musim winter gini yang merupakan low season ibaratnya pendaki bisa dihitung jumlahnya. Enaknya lodge maupun restoran nggak penuh, begitu juga di area pendakian. Kekurangannya mungkin ya suhu atau cuaca kelewat dingin minusnya meski matahari cerah hampir setiap hari.

Saya nggak bisa konsentrasi ngetik tulisan di hp, texting, bahkan buat motret moment dan berpose saja hampir nggak selalu ingat karena sudah keburu ngerasa kedinginan dan beku semua. Dingin yang nggak bisa ditoleransi sama saya orang tropis.

img_5504
Ada Yak yang lagi jalan di dekat Himalayan Lodge, saljunya lumayan tebel

Seketika masih ingat obrolan by DM sebelum memutuskan ke EBC,

“Kalo september gak ada salju ternyata. Ada anak UI yang pergi Februari saljunya penuh banget di Annapurna Base Camp,” kata Kobo Chan

“Eh kirain itu salju ada terus, hahaha,” timpal saya..

“Kepingin salju pertama di Himalaya, kan keren beda dari orang-orang,” kata saya lagi

img_5506-1
bagus ya saljunya

Tadinya mau pergi September 2017, karena menurut banyak review itu bulan terbaik datang ke Himalaya. Selama ini kan kalau lihat postingan di Instagram kelihatannya titik yang di atas 4000 mdpl an itu bersalju. Ternyata saya salah sangka… meski musim winter pun sekarang belum tentu ada salju. Climate change!

Advertisements

5 Comments

  1. Kereeen,kak … udah ke Nepal.
    Sukses,ya.

    Nepal ini dari kecil aku selalu bayanginnya, bahkan saking senengnya lihat gambar gunung Himalaya aku kecil merengek2 minta nama asliku diganti jadi berawalan HIMA …..
    Hahahaha !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s