The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Capture Ho Chi Minh City

Traveling ke negara yang perekonomiannya di bawah Indonesia, sama sekali terlihat nggak keren? iya juga sih, tapi pandangan tiap orang soal destinasi itu sangat subjektif. Ketika aku bilang Singapura itu ngebosenin, teman yang lain akan bilang Singapura itu keren, bersih, rapih. Ya kan subjektif, makanya tidak bisa disama ratakan selera tiap traveler.

Makanya ada kutipan seperti ini…..

“Travel is very subjectif. What one person loves, another loathes.” Robin Leach

So, ini Ho Chi Minh City kota yang menurut saya tidak terlalu padat seperti Jakarta. Meski kendaraan didominasi oleh motor tapi udara disana masih bagus buat paru-paru saya. fufufufu tolong Jakarta banyak gedung-gedung tinggi, mall-mall bagus tapi udaranya fuck sekali dan diakui sebagai salah satu dari 10 kota yang dibenci. Presiden kita tahu nggak sih -__-”

Gambar
Terkenal banget sepeda motor di HCMC itu ganas-ganas, Jakarta masih kalah

Sekedar sharing aja, sama hobi fotografi saya yang belum canggih sebenarnya… pemandangan kota di Ho Chi Minh City, Vietnam Selatan

DSCN0316

Jadi kemana aja kalau kamu jalan-jalan ke HCMC?

1. Gereja Notre Dame, bangunannya memang unik. Saya aja suka,

2. Tepat disebelah Notre Dame ada kantor pos yang bangunannya dirancang oleh arsitek Menara Eifel, keren memang. Bangunan kuno berupa kantor pos yang sampai sekarang masih dipakai jadi lokasi wisata menarik dan para bule-bule suka. Saya sempat kirim postcard disini. Sementara sebelum menuju Notre Dame saya sempat lewat depan Museum Reunification, dari luar biasa-biasa aja mirip Museum Satria Mandala.

DSCN0336

Untuk keliling HCMC saya hanya berjalan kaki sambil merasakan betul atmosfer kota ini. Udaranya bersih, jadi walau tidak pakai masker nafas yang saya hirup adalah oksigen bukan asap kendaraan seperti di Jakarta.

DSCN0345

Dekat dari gereja Notre Dame ada sebuah taman besar dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, adem banget. Kalau di Jakarta mirip Taman Suropati yang di Menteng,…and FYI disini ada wifi gratis tanpa password meski nggak terlalu kenceng juga jaringannya. Bisa lah nge-twitt atau mainan instagram 😀

DSCN0304

Yang saya lihat juga penduduk lokal dan bagaimana mereka kesehariannya,…

DSCN0346

Lalu kendaraan yang lalu-lalang…. dan maaf foto-foto ini belum diedit sama sekali di photoshop jadi derajad kemiringannya masih asli, amatir :p

DSCN0347

Advertisements
LIFE, The Journey

Hai Jiwa-Jiwa Yang Tenang

“Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhan mu, dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya,” kutipan dari QS 89 (27-29)


Teruntuk diriku, bukan bermaksud menggurui orang-orang. Belakangan dari satu perjalanan ke perjalanan lainnya saya sering bertanya, dan terus bertanya. Sebenarnya apa yang saya cari?

Suatu kali karena keresahan, saya justru banyak membaca. Pergi ke toko buku, dan pulang dengan banyak bahan bacaan. Sesaat ditemukan ketenangan dari membaca. Inikah yang disebut berusaha mengenal diri sendiri? Saya masih bertanya-tanya. Mungkin seperti yang mirip diutarakan Coelho di bukunya Aleph, di bagian awal dia berujar betapa dia tak menemukan lagi Tuhan. Satu titik dalam hidupnya yang klimaks, dia sukses sebagai pengarang buku, punya kehidupan baik dengan penggemar-penggemarnya. Tapi dia merasakan kehilangan Tuhan.

“Aku membayangkan bahwa begitu aku mencapai umur 59 tahun, aku akan berada dekat dengan surga serta kedamaian absolut yang kulihat pada senyum biksu-biksu Buddha. Kenyataannya, aku malah wpid-blogger-image-767215892.jpgmakin jauh dari hal itu dibanding sebelumnya. Akutidak merasa damai – kadang-kadang aku melalui periode-periode konflik batin yang bertahan selama berbulan-bulan,” kutipan Coelho di novel Aleph halaman 15.

Bagi saya, memang terkadang ada banyak konflik batin yang kita rasakan karena sesuatu sangat mengganjal dan tak sesuai yang kita kehendaki. Jawabannya untuk saya pribadi, saya harus fokus pada solusi. Saya akan fokus mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Saya akan meminta Tuhan membela saya, meminta keridhaan-Nya agar saya bisa melakukan apa-apa yang saya sukai.

Hampir setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Dan seringkali mereka menjadi inspirasi saya. Sebutlah belum lama ini, saya bertemu Mbak Windri, seorang desainer busana muslim. Saya datang ke rumahnya untuk wawancara profil. Setelah mengobrol lama tentang kegiatannya, saya mengambil kesimpulan tentang pribadinya. Saya tertarik dengan keseriusannya menciptakan koleksi. Filosofi ditiap hasil guratan motif batik-nya, simbol yang dimiliki semua agama. Bagaimana dia menamai koleksinya, “Layers of Fidelity” yang makna sebenarnya kesetiaan pada Tuhan (dengan berhijab, dengan berpakaian yang baik).

“Ini sebenarnya maknanya kesetiaan pada Tuhan,tapi judulnya dibuat seolah itu kata-kata fashion, ada kata layers karena kita memang ciri khasnya selalu ada layers dibaju,” sebut mbak Windri.

Lalu dia menyebut juga, ya sebenarnya apa sih yang kita cari?. “Sekarang kembalinya pada Tuhan,” katanya lagi.

Iya ya, saya malu sebenarnya karena saya sendiri belum berjilbab, lantaran saya belum Pede. Saya masih punya banyak PR untuk ujian ke-Tuhan-an saya. Saya masih harus melawan tarikan lingkungan yang tak selalu bagus, saya masih jauh dan sangat jauh dari pribadi orang yang selalu sembahyang.

Kedamaian, akhirnya saya pikir bukan karena kita ingin bebas melakukan apa yang kita suka dan ingin, tapi sebuah penyerahan diri yang ikhlas hanya lantaran ingin keridhoan-Nya. Lagi pula siapa lagi yang paling tahu apa-apa yang terbaik kalau bukan Dia?

Menambahi dengan kata-Kata Paulo Coelho, meski dia bukan muslim. Saya masih saja percaya untuk memperhatikan tanda-tanda, tanda-tanda apa? apa saja yang menuntun hati saya.

– Untuk diriku sendiri – waktu itu Desember 2013

Backpacker, Cambodia - Asia Tenggara, Vietnam - Asia Tenggara

Overland Cambodia to Vietnam. Ini Sleeper Bus atau Rumah Bordir?

 

Ketika pertama kali melewati perbatasan darat dua negara, apa yang terbayang? pasti berpikir, seperti apa kantor imigrasinya? gimana moda transportasinya? nah seperti itu juga yang saya pikirkan, moment yang jarang-jarang saya lewatin. Di negeri orang, pakai bus melewati perbatasan darat.

Dan sampai saat ini saya masih suka ketawa ngikik, kalau ingat perjalanan darat menggunakan sleeper bus dan night bus di perbatasan Vietnam dan Kamboja. Kenapa? soalnya orang lokal disana bisa kreatif banget ngada-ngadain fasilitas buat sleeper bus atau night bus mereka. Di Indonesia nggak ada loh, padahal kan kita juga punya banyak kota besar, orang kita suka mudik. Ini loh dicontoh kreatifnya orang Kamboja dan Vietnam.

Gambar
Sleeper bus dari travel agent The Sinh Tourist, Saigon menuju Muine, perjalanan 6 jam

Kalau naik bus malam itu sudah biasa, so’ sleeper bus akan bikin kamu melongo kaget. Yap! Setelah sehari penuh berada di Siem Riep untuk tour keliling Angkor Wat, heritage site UNESCO kita balik dong menuju Phenom Penh buat tour di Killing Field dan sisah-sisah kekejaman Khamer.

Dekat dengan Night Market lokasi sleeper bus kita, sambil belanja oleh-oleh kita nungguin bis jam 10 malam. Namanya juga sleeper bus, berangkatnya juga malam, dini hari masih ditengah jalan, terus sampai di lokasi pagi. Dari jauh kita udah merhatiin bus penuh lampu-lampu, kedap kedip ala disko. Sumpah norak banget, mungkin ini bus mirip sama angkot-angkot yang ada di Medan yang katanya banyak hiasan-hiasan gitu.

“Seriusan nih bus kita ya buat ke Phenom Phen,” kata saya dalam hati.

Eh betulan, saya sama tiga teman lainnya disuruh naik. Sebelum naik, kita diminta untuk lepas alas kaki, dikasih plastik buat bungkus sendal. Tiap orang udah ditentuin juga dimana nomor tempat tidurnya. Aiiiiih, beruntungnya saya kan pergi berempat, dan perempuan semua, soalnya sleeper bus ini satu tempat tidur untuk dua nomor yang berdekatan. Gimana ya kalau saat itu saya traveling sendiri seperti saat mau ke Siem Riep kemarin? LOL

Gambar
Ika dan Hatni di Sleeper bus yang mirip rumah bordir itu, banyak lampu warna-warni (bikin sakit mata)

Ika sama Hatni, yang barengan sama saya sibuk foto-foto, katanya ini sleeper bus mirip rumah bordir, gara-gara lampu diskonya. Huahahaa, beneran. Tapi saya keburu capek, begitu juga Prita yang batuk-batuk terus sepanjang hari. Beda dengan perjalanan saat menuju Siem Riep yang penuh jalanan berpasir dan rusak parah. Sleeper bus bebas melenggang di jalan raya dengan mulus. Sepertinya bus ini lewat rute berbeda. Soalnya sama sekali tidak terasa  guncangan, seperti waktu saya loncat-loncatan di mini van. fufufufufu, malam itu kita tidur nyenyak. Walaupun kasur kita tipis, tapi kaki kita betul-betul selonjoran, diseberang tempat tidur lainnya cuma dibatasi hordeng. Kepala kita pakai bantal empuk dan dikasih selimut. Cuma AC -nya dingin banget pagi-pagi baru terasa kalau badan kita menggigil. Beruntung lagi saya bawa selimut cadangan 😀

Oya, di sleeper bus rumah bordir seharga 13 USD ini kita disediain tempat untuk men-charge batere ponsel, ada juga headset buat dengerin musik. Ya tapi jangan tanya deh, headset-nya nggak fungsi. Lagi pula kita udah kecapekan dan dengan pulas beranjak ke alam mimpi.

Kita nggak cuma sekali naik sleeper bus loh, waktu ke Muine buat tour sunset di padang pasir juga. Sleeper bus kali ini nggak se-norak waktu ke Phenom Phen, hehehe. Kita beli tiket via online di Sin Tourist. Kantor The Sinh Tourist deket banget di seputaran Saigon, deket sama Ben Thanh Market dan Terminal Bus. Tapi kita naik percisdi depan kantor The Sinh Tourist. Sebelum berangkat bisa gratis wifi-an disini, toiletnya juga bersih (maklum di negeri orang, maunya cari toilet bersih). Pelayanannya oke, harganya juga dari Saigon ke Muine tarifnya Rp. 132 ribu saja.

The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

16 Jam Solo Traveling itu rasanya,….

Tahun lalu saya pernah berencana untuk solo traveling karena ingin menguji sejauhmana kemampuan survive di sebuah tempat asing. Namun akhirnya niat untuk  mengembara sendirian di negeri orang harus saya batasi durasinya. Banyak pertimbangan, antara waktu, dana, termasuk keamanan. Oke tapi betul-betul kepingin sekali aja, seumur hidup saya punya pengalaman ini. Jadi saya buat rencana perjalanan ke Indochina kemarin dengan desain solo traveling yang dikombinasikan group backpacking. Seperti apa?

Minggu siang, sedang santai-santainya weekend. Stok berita saya seminggu kedepan selama cuti hampir beres, niatnya nanti di Changi sembari transit dan nunggu penerbangan pagi baru saya selesaiin. Bahan-bahannya sudah lengkap, foto-foto aman tinggal dijahit saja beritanya sih. Oke memang hidup saya nggak pernah jauh-jauh dari deadline menulis, meski itu di detik-detik liburan 😀

Untuk masalah keberangkatan ke bandara dan harus ribet dengan cek in tepat waktu, boarding pesawat,  mepet dengan jam orang sholat selalu bikin saya bener-bener panik. Karena suatu kali dulu pernah ketinggalan pesawat. Oh noooo, tolong jangan lagi. Jadi abaikan dulu hal-hal lain untuk urusan yang super ribet ini. Kalau udah boarding, baru lega rasanya hati ini. (alhamdulilah gak ketinggalan pesawat)

Gambar
Sendirian naik tuk-tuk tuh ya rasanya begini, cuma bisa fotoin drivernya.

Hari 1 :

Pk. 15.30 sampai Bandara Soeta, langsung cek in dan boardingnya 45 menit sebelum take off, on time banget maskapai Tiger Air Mandala. Saya perhatiin cuma saya yang traveler disini, mungkin karena tujuan Singapura jarang ada yang compang-camping perginya 😀

Pk. 18.00 Take off, isi pesawat ribut karena ada 3 cewe Rusia yang kalo ngobrol suaranya kenceng banget. Mereka pakai bahasa Rusia jadi dikira satu pesawat nggak ada yang ngerti. Annoying banget jadi susah tidur. beberapa bangku banyak kosong, termasuk bangku sebelah saya. Aduh nggak ada teman ngobrol itu rasanya, melelahkan ternyata.

Pk. 21.00 Sampai juga di Bandara Changi, lekas cari minum dan toilet. Lanjut aktifin wifi super kenceng Changi buat selancaran di internet. Rileks dulu, cari praying room dan tempat pewe buat nulis berita. Lanjut, cari makan?, saya bawa bekal biskuit dan susu cair jadi makan malam dengan ini dulu biar praktis. oke malam itu saya susah tidur, Changi dingin banget.

Hari 2 :

Pk.03.00 pagi sisah dua artikel saya beres. Sembari nungguin subuh, mainan internet di Changi. Apa aja ada sih disini, akhirnya nonton tayangan bola dengan layar super gede di salah satu sudut entertaintmen.

Pk. 05.30 praying room penuh sama malaysian dan Indonesian

Pk. 06.00 Niatnya mau ikut free tour Singapore tapi badan rasanya lelah akibat nggak tidur. Lagi pula tahun lalu udah pernah keliling Singapura dan Sentosa. Berasa laper saya cari makan di kantin lantai 2.

Pk. 07.00 Sarapan Laksa di warung yang penjualnya Indian gitu. Seriusan ini laksa lebih enak daripada yang pernah saya beli di Mall seputar Orchard Road. harganya sekitar $ Sing 5. Mahal ya? rata-rata kisaran ini harganya. Salah banget ya pagi-pagi makan Laksa, mirip makan lontong sayur kalau di Indonesia. tapi. so so lah.

Pk. 08.00 Kembali ke layar ukuran besar yang menyiarkan pertandingan bola. Soalnya bangkunya nyaman buat tidur. Akhirnya saya ketiduran sampai jam 10 pagi. Di bangku ada speaker di sebelah kuping kanan dan kiri kita yang bila kita menyender suara sang narator baru akan jelas terdengar. Rasanya seperti lagi didongengin. Berhasil bikin saya tidur 🙂

Gambar
Cambodian ternyata ramah kok, ini driver kita selama di Siem Riep, Safy, ramah banget. Bahkan mau nganter juga ke kantor pos.

Pk. 11.00 Baru ke imigrasi dan pergi ke terminal 2 untuk transfer pesawat. Keliling Changi yang luas itu, dari terminal 1,2,3. Awas jangan nyasar naik MRT, Sky Train. nggak prepare buat beli itu tiket MRT. Jadi inget sama Anant, teman yang nganter saya sama Tiara waktu di Singapura. Sayang dia udah pindah ke Amerika buat sekolah. Disela-sela ini ngobrol lah sama ibu-ibu Indian yang katanya mau terbang ke Malaysia. Lucu ini ibu-ibu kenapa malah curhat soal rumah tangga nya ya -__-

Pk. 12. 30 Boarding, dan facial foam satu-satunya ditahan sama petugas bandara. Katanya ini ukuran botolnya lebih dari 100 ml, padahal udah tinggal 10 ml isinya. tetep loh ga boleh dibawa. i hate u makcik -__-

Pk. 15.00 touch down Cambodia, yeaaayy!!!! habis dari imigrasi, langsung panik.. lah kok jam 4 sore ya??? refleks tubuh buru-buru ke toilet buat pipis. Jaga-jaga nanti toiletnya nggak bersih selama melewati Phenom Penh. Panik takut telat naik bus ke Siem Riep (tempat keberadaan Angkor Wat) nggak pake mikir langsung sewa tuk tuk dan nggak sempet cari partner buat patungan.

Ada pasangan bule yang satu pesawat tadi ngeliatin. Soalnya mungkin saya ngomong bahasa Inggris ke petugas tuk-tuk, dikira tadi orang lokal kali. Wajah kita kan Indo sir. Indo china. Terpaksa harus merelakan $ 7 USD buat tuk-tuk ke stand bus. Soalnya info di internet terakhir jam 16.30 bus buat ke Siem Riep selain Night Bus yang berangkatnya baru jam 7 malam nanti. Sementara buat ikut tour sunrise, saya harus tiba sebelum jam 12 malam supaya bisa tidur dulu.

Aduh si bapak tuk-tuk nyupirnya lama, sambil merhatiin tata kota Phenom Penh, saya mikir ini seperti masih di Indonesia. Tapi di daerah mana gitu ya? Surabaya? soalnya mirip. Nggak sabar saya bilang lagi ke bapak tuk tuk. Sorry sir, can u drive more faster? 

Pk. 16.30-an Sampai di stand penjual tiket bus ke Siem Riep. Lah, lama dan jauh. Saya nggak menemukan bus yang saya ingin. Harga yang murah seperti informasi di internet sekitaran $ 9 USD. Ternyata hanya ada mini van seharga $ 15 USD tapi akan sampai lebih cepat ke Siem Riep.

Saat menunggu, saya baru sadar. Penunjuk waktu di handphone baru tersinkronisasi. Kepanikan tadi adalah ulah waktu Singapura yang lebih cepat 1 jam dari waktu Cambodia. -__-

Ini mungkin rasanya sendirian di negeri orang. Parno aja, sama kejahatan.Padahal sih, orang Kamboja masih terbilang ramah daripada orang Vietnam. Soalnya kan kamboja dulu punya sejarah membantai bangsa sendiri. hiiiiiiiii, apalagi satu mini van cuma saya yang orang asing, semuanya cambodian. Petugas agen bus ngasih saya nomor duduk 14, soalnya saya penumpang terakhir.

Sialnya, saya harus duduk dibelakang, ditengah pula. Sebelah kanannya pria dengan bobot overweight jadi kesempitan, nggak bisa tidur lagi sepanjang perjalanan. Lima jam lamanya di mini van, lapar, belum makan dari sore tadi, bongkar isi tas yang berisi biskuit sisah kemarin, Saya tawarin juga aja ke mereka, eh karena itu jadi nanya-nanya.

Gambar
Langit Kota Phenom Penh saat itu, cerah 🙂

“Dari mana? …. “Indonesia,”

“Eh kok ke Kamboja pas perayaan Happy New Year Cambodia sih?

“Eh, Happy New Year, maksudnya independent day (Hari Kemerdekaan)? pantesan ya sepanjang jalan tadi ada beberapa tulisan ucapan Happy New Year. Tapi kan ini bukan 1 Januari. Lho????

“Iya independent day, ke berapa ya tahun ini? kemudian cowo Cambodia paruh baya itu nanya ke temen sebelahnya, ke berapa ya?

Huffffft, baru enak setelah ada temen ngobrol. Ditengah jalan, jam 10 malam, bus berhenti di warung makan, supirnya makan dulu ternyata. Saya nanya kan, ini udah di Siem Riep ya?? hiiiii dasar ternyata transit doang. Lalu ada satu perempuan muda nawarin saya permen karet, terus kita jadi ngobrol.

“Dari mana? …. “Indonesia”

“Sengaja dateng ke Siem Riep ya mau ke Angkor Wat. Wahhh kamu pasti seneng banget ke sana,”

“Iya nih, mau liat sunrise. You are student? (saya nanya ini karena keliatannya dia masih muda banget)

“No, I’m working,” Lagi mau balik (istilahnya pulang kampung) ke Siem Riep, disini tempat tinggal gue. Nggak lama abis itu mini van berangkat lagi. huuuft lega, ternyata cambodian ramah-ramah loh, yang dibayangin soal Khamer itu mungkin DNA nya nggak menurun ke beberapa generasi 😀

Oya temen-temen group traveling kali ini udah sampai duluan ternyata di Guest House. Jadinya saya malah yang dijemput sama supir tuk-tuk. Lewat sms saya ngabarin salah satu teman dimana harus di jemput ketika sampai. Dan,… ternyata sampainya lebih cepat. Jalan berdebu antara Phenom Penh dan Siem Riep, goncangan, loncatan. Apa kabar itu mini van, pasti harus ekstra dirawat ke bengkel karena kondisi jalan yang sangat buruk.

Malam hari pula, saya memang berangkat sekitar pukul 17.00, jadi yang saya bisa lihat adalah pemandangan lahan gersang. Kadang ada rentetan pohon yang belum pernah saya lihat, entah apa namanya. Lalu selebihnya malam, cukup gelap untuk melihat sekitar. Satu mini van tertidur walau dengan banyak goncangan.

Akhirnya, tiba juga di Siem Riep, di stand bus. Tinggal tunggu Safy aja, driver tuk-tuk yang akan mengantar besok pagi ke sekeliling Siem Riep, utamanya Angkor Wat. Sampai di Guest House, alhamdulilah menginap di Guest House yang ada ruang tunggu, wifi super kenceng (cuma di lobi) dan dekat sama pohon-pohonan, ada ayunan juga, betul-betul asri.

Kesimpulannya, jadi solo traveling itu justru bikin saya boros. Naik tuk-tuk nggak bisa sharing cost, sewa kamar di Guest House juga. Tuk-tuk untuk keliling Siem Riep dan Angkor Wat seharian butuh sekitar $ 15-20 USD, kalau punya temen barengan pasti lebih murah. Kecuali mungkin kalau kamu punya waktu yang cukup lama buat traveling, tanpa agenda pasti. Cari partner dengan berkenalan dengan traveler lain tak akan terbentur mengejar bus dan agenda lain.

unnamed (4)
Pemandangan kota Phenom Penh