Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Morning Sunshine Mt. Prau!

 

Morning Sunshine Mt. Prau 1 for blog
Sebelum gelap benar-benar berganti dengan cahaya sinar matahari, ada semburat merah yang menawan di atas sana

Jika ingin menguji keberuntungan, sesekali pergilah ke gunung. Apakah langit cerah dan sunrise menawan yang kamu dapatkan? atau awan gelap mendung dan cuaca hujan? Bisa dibilang cuaca saat kepergian juga akan menggambarkan suasana kehidupan kamu.

Ah,… berlebihan ya, tapi dari beberapa gunung yang ku jelajahi jelas sekali wajah alam  itu menggambarkan suasana hati dan kehidupan setelahnya. Gunung Rinjani yang cerah, panas luar biasa menggambarkan semangat dan gairah hidup. Gunung Semeru yang terasa kelam melow, berkabut sekali saat pulang maupun pergi.

Lalu Kerinci lumayan sejuk, gerimis kecil kadang-kadang, dan asap belerang menghalangi pandangan. Ya… bisa dibilang so.. so.. buat saya bukan the best view sebuah gunung, tapi perjalanannya penuh makna. Terutama selama melewati shelter 3 dan summit attack!

DSCN9797
Mentari sudah betul-betul naik dan langit terlihat secerah-cerahnya 🙂

Yang terakhir banget di tahun 2016 ini, awal Agustus silam saya ke Gunung Prau dan pemandangan indah disana mengesankan suatu kehidupan yang baik. Ada pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing bila sudah sampai di puncaknya, lebih jauh ke sana ada Gunung Merapi dan Gunung Merbabu agak tertutup bias indah awan-awan langit.

Terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Prau atau yang sebenarnya tulisan betulnya adalah Gunung Prahu merupakan tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo.

Puncak Gunung Prahu merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit-bukit kecil dan sabana dengan sedikit pepohonan dapat kita jumpai di puncak. Gunung Prahu merupakan puncak tertinggi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, dengan beberapa puncak yang lebih rendah di sekitarnya, antara lain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah.

DSCN9796
Pemandangan bisa dari sudut mana saja, tapi kalau agak dekat ke bukit semakin terlihat meski jauh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Setidaknya ada tiga jalur yang dapat digunakan untuk mendaki Gunung Prahu, yaitu jalur Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, jalur Patak Banteng, Wonosob, jalur Kenjuran, Kendal, dan jalur Dieng. Tentu akan berbeda bagaimana indahnya perjalanan di tiap jalur.

Kalau lewat jalur Dieng, kamu akan ketemu Candi tersembunyi. Ini setidaknya harus melewati pemukiman warga sekitar Dieng juga dan menemui semacam perkebunan yang mirip juga dengan jalur Patak Banteng.

Layaknya dataran tinggi lainnya berbentuk terasering, sehingga tatanan tanah dan kebun itu memang yang membuat semua keindhan tercipta dari atas. Mereka para petani kebanyakan menanam kembang kol dan kol serta umbu-umbian kentang, termasuk bawang bombai dan daun bawang.

DSCN9777
Sampai sekarang masih terpukau sama indahnya sunrise di Gunung Prau, enak banget buat tempat kontemplasi

Nah, boleh juga dicoba untuk menggunakan jalan lain yang waktu tempuhnya pun berbeda. Kalau saya, cukup sekali aja ke sebuah gunung. Soalnya masih banyak gunung yang perlu dijelajahi dan belum tentu cukup waktu untuk bisa sampai kesemua tempat itu.

Belum Gunung Rantemario di Sulawesi, belum Merapi dan Merbabu di Jogja, belum beberapa gunung Tambora di Sumbawa dan betul-betul kepingin bisa sampai Gunung Fuji di Jepang. Ah,… ngimpi dulu..

DSCN9823
Jadi awan-awan itu akan naik ketika hari makin siang di gunung
Advertisements
Indonesia, JAMBI - Indonesia, MOUNTAIN, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Di Ketinggian 3805 mdpl, Gunung Kerinci

foto 2 (16)
Hampir berfikir gakan bisa sampai atap langit ini, but i did it 🙂

Pukul 02.30 pagi, alarm ku berbunyi. Rasa tidur yang nyenyak tadi sekejap terhenti. Baru sebentar rasanya memejamkan mata, sehabis masak air dan makan malam setelah sampai di shelter III tempat berkemah di Gunung Kerinci.

Ini waktunya summit. Sudah harus jalan lagi, padahal baru tadi lho… Fuihhh! memang telat, betul-betul terlambat diluar dari ekspektasi. Seharusnya sampai di tempat berkemah shelter III itu paling tidak jam 19.00 malam (kenyataan jam 22.00). Trekking shelter 3 yang seharusnya bisa dilalui sekitar 1 jam saja menjadi 3 jam.

Saya masih bersyukur, karena bisa bermalam di shelter III. Bagaimana dengan teman yang lain? Esti yang semula bareng sama saya juga tak kelihatan batang hidungnya. Tak ada kabar, ditengah jalan yang makin melambat itu saya bertemu mbak Eno dan akhirnya berdua menyelesaikan misi malam itu dengan keajaiban. Bertemu 3 remaja lokal, mereka yang menuntun kami hingga bisa sampai shelter III (Hellooooo kemana guide kami???). Keajaiban, bak tangan Tuhan yang menolong di tengah kesulitan melewati jalur sulit shelter III.

Dingin bila tak bergerak, lebih baik jika menyiapkan air hangat untuk teman setenda dan cari lapangan rumput untuk pipis sambil menunggu teman yang lain bersiap-siap. Karena ini pendakian bersama, ada potter dan beberapa guide rombongan yang menuntun. Entah … siapa saja yang ada disana, karena memang baru trekking seharian itu saya belum mengenal teman dari grup selain tenda 5 yang perempuan semua. (FYI hanya ada 7 wanita di antara 40 sekian kaum adam di pendakian ini).

Entahlah, rasanya campur aduk deg-deg an gak karuan. Supaya tak tertinggal rombongan harus mengikuti irama jalan yang cepat. Jarang sekali berhenti, beda saat itu trekking sendiri dengan teman sekelompok. Sudah pasti akan ketinggalan kalau sering berhenti, jadi saya tahan semua sakit dan lelah itu. Ternyata teman saya Esti malah harus merawat kawan lain yang sakit.

Tugu Yudha
Tugu Yudha yang sering diceritakan itu, jam 05.30 sempat jamaah solat subuh di dekat sini

Beda banget, trek yang ada di Kerinci. Jalan menuju gunungnya melebar, tak ada satu jalur pasti. Kamu bisa ambil dari sebelah kanan atau kiri, hanya ada pembatas tanda besi kuning (itu pun nggak terlalu kelihatan kalau gelap). Beda dengan trek Rinjani yang terlihat jejak-jejaknya. Perhatikan teman di depan, itu saja supaya tak terperosok ke jurang di Kerinci.

Pukul 05.30 saya sudah melewati Tugu Yudha. Di dekat sana ada teman serombongan yang ngajak buat jamaah solat Subuh, cuma bertiga aja. Rasanya haru banget dan merinding,… solat subuh hampir-hampir di ketinggian 3.805 mdpl. Sampai nggak tahan untuk gak menitihkan air mata, nangis. Cengeng banget rasanya.. di ketinggian itu saya merasa dekeeeeet banget sama Allah dan bersyukur atas semua. Itu kenapa mendaki akan banyak meluluhkan ego dan rasa sombong.

Terlebih kalau ingat gimana proses buat sampai sejauh itu.  Tengah malam jam 7 masih di shelter III dan kalau tidak dipertemukan sama remaja lokal saya nggak mungkin bisa sampai atas. Nasi bungkus yang ketinggalan di potter, air minum 2 liter yang juga nggak kebawa, ah,…. agak kacau tapi Allah tetap memberi 3 remaja lokal orang asli Jambi itu sebagai penolong yang narik tangan saya di jalur yang tak mudah untuk merangkak pun. Saya harus menepi dipinggir berpegangan dengan akar batang pohon.

foto (10)
Malem-malem banget, gelap tapi masih harus lewatin jalur shelter 3 ini

I think i’m crazybut crazy in a good way . Ya sebutlah demikian! Perjalanan darat 4 hari dengan bus, menyebrang ke Pulau Sumatera lalu naik ke utara di jalur lalu lintas yang katanya berbahaya. Let say … ini suatu kenekatan. Ikut dengan rombongan hampir 50 orang jumlahnya saja sudah bisa disebut kegilaan.

Kegilaan bukan sampai disana saja, belum dengan cerita driver bus kami yang nyasar-nyasar nggak tahu jalan. Ngaret luar biasa sampai di basecamp Paimanan hingga banyak dari peserta yang tidak sampai puncak, hanya sampai shelter II bayangan karena sakit, kelelahan, atau justru nungguin dan merawat temannya yang kepayahan.

Kenapa tidak dengan pesawat via Padang? kabarnya melewati jalur lintas Sumatera akan ada semacam perompak atau begal.. Sumatera bukan daerah seramah Lombok atau Jawa. Saya sama Esti, teman yang mengajak untuk trip ini mempertimbangkan hal itu, hingga akhirnya ikut rombongan pendakian bersama Consina. Maksudnya supaya lebih aman dan kemungkinan kecil untuk terjadi sesuatu di perjalanan dan di pendakian bisa diminimalisir.

Tapi teman… dibalik semua kekacauan dan kegilaan itu ada cerita lucu dan pengalaman yang ngangenin. Belum pernah lho sepanjang sejarah mendaki habis itu saya dapet tukang pijet dan serasa di spa sama orang lokal Jambi.

Memenuhi ketegangan dengan pengalaman ketemu hantu lagi, di perjalanan menuju Pos 3, ngerasain gimana nemenin teman yang ditandu karena nggak kuat jalan, sampai ada pemandangan kubis yang seolah menyala neon pada kegelapan malam di kebun pertaniannya dekat pintu masuk pendakian. Dan,… pada akhirnya kamu bisa tahu setulus apa sebenarnya teman kamu hanya dengan perjalanan di gunung. Tahu secemas apa temenmu pas kamu belum juga balik ke basecamp.

Di Ketinggian 3.805 mdpl Gunung Kerinci, bukan apa-apa ketika bisa sampai di atas sana. Keindahannya masih kalah dengan sunrise pelangi di Rinjani atau bukit-bukit di Prau dan Semeru. Kerinci begitu gagah dari jauh, di depan mata kami dia memang dekat tapi butuh 2 hari semalam untuk naik dan turun. Dengan drama yang tak mungkin semuanya diungkapkan di blog saya ini..  🙂

Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Syahdu Jazz di Atas Awan – Dieng Culture Festival 2016

jastawan hari 1 blog
Day 1 Jazztawan,… ada group musik 50 sent atau one percent ya?? dari Bogor. Yaampun jauh-jauh ke Dieng musisinya orang Bogor..

Bukan sebuah kebetulan, kepergian ke Dieng kemarin memang khusus saya dedikasikan salah satunya buat menikmati musik jazz di atas awan. Disingkat Jazztawan, event ini berlangsung selama 2 malam dari pukul 19.00 hingga tengah malam dengan sesekali balutan langit penuh kembang api.

Memang sih yang tampil di acara ini bukan musisi beken macam Andien atau Maliq D’ Essential. Kebanyakan musisi lokal, random bahkan saya baru sekali itu lihat. Cuma experience dari suasana malam Dieng di tengah cuaca dingin daratan tinggi itu yang menjadi nafas lain dari nonton pertunjukan musik. Brrrrrrrrrr nahan dinginnya, mending sih karena banyak ditempatkan bara api di dekat tempat para penonton duduk 🙂

Jazz itu sendiri sebenarnya aliran musik yang terkenal eksklusif ya? Hanya kalangan tertentu saja yang menyukainya. Orang awam seperti saya juga nggak begitu paham musik ini… sudah jangan kebanyakan teori yang penting nikmati aja.

jazzztawan blog
Day 2, Jazztawan… nggak ngerti kenapa Angie yang aliran musiknya pop kok jadi tamu di Jazztawan??

Banyak yang datang dengan membawa pasangan dan bukan anak muda saja. Ada yang cukup umur sebagai kakek nenek dan masuk masa pensiun walau hanya segelintir kecil. Mungkin ingin nostalgia masa mudanya 🙂

Musisi lokalnya siapa aja? Kalau saya nyebutin namanya, kamu pun pasti belum tentu kenal. Tapi… pemilihan lagu-lagunya cukup membuat syahdu suasana malam. Dari lagu lawas dan teranyar ada. Yang paling saya inget sih “We Don’t Talk Anymore” dari Charlie Puth yang dinyanyiin musisi dari Jogja.

Eurofianya berbeda! dengan ketika nonton live musik di panggung dalam gedung atau pun outdoor seperti kalau nonton di acara Jazz Kampus. Hmmmm,… dibanding-bandingin sih 100 persen lebih keren yang ada di Jazz to Campus (JTC) yang mulai dari pemain jazz seperti Indra Lesmana, Dewa Budjana sampai artis kekinian lengkap ada.

Kamu juga lebih punya banyak pilihan mau nonton yang dipanggung mana, terus ada satu musisi luar negerinya juga. Ya namanya juga baru event di daerah ya, intinya lebih ke suasananya di Dieng.

syahdu jazz di atas awan
Usai Jazztawan hari ke-2 ada lampion … ini yang buat beda juga suasananya..

FYI acara serupa yang memadukan musik, wisata, dan budaya di sebuah daerah sebenarnya jadi nilai jual yang memang ingin ditonjolkan sebagai daya tarik. Sudah banyak kalau kamu perhatiin ada Jazz Bromo, belum lama ini juga dibuat di Ijen, di Candi Prambanan,.. ah banyak, makin banyak saja. Buat menggaet wisata tentu aja akan berhasil, buktinya penonton membludak.

Tiketnya juga lumayan, di Dieng Culture Festival 2016 kamu perlu mengeluarkan dana Rp. 250.000 dan you know what??? ternyata tak membeli tiket pun sebenarnya bukan masalah. Tetap bisa nonton cuma bukan di area khusus VVIP yang dekat panggung.

Ini dia ternyata, tiket yang saya beli itu spesialnya hanya bisa nonton Jazztawan di dalam area VVIP dibatasi pagar-pagar besi dan bisa paling dekat melihat prosesi pemotongan rambut gimbal di acara adat DCF.

syahdu jazz dieng
Ditengah-tengah Jazztawan, penonton paling gak sabaran sama sesi lampion di jam 22.00 setelah itu masih berlanjut sampai jam 00.00 lantunan musiknya

Hehehehehe… buat dapetin area di camping ground juga nggak harus yang sudah beli tiket. Tapi herannya tiket ini ludessss abis dan masih banyak yang nyari lho, saya aja tidak sulit menjual tiket punya teman yang kemarin batal ke Dieng. Yah… harus nego harga aja jadi diturunin..

Kalau boleh mengkritik. Saya kurang puas dengan acara Jazztawan dan terutama keseluruhan penyelenggaraan DCF 2016. Mulai dari beberapa acara yang ngaret cukup lama, panitia DCF yang tak banyak, dan cara mengorganisir semua rentetan acara di tiap agenda. Hehehe tak bisa berharap kalau ini bakal perfect, cuma kurang banget,… jauh banget dari menejemen acara di Jazz to Campus yang memang sponsornya banyak banget dan voluntirnya kan mahasiswa di kampus UI sendiri…

Jangan ditanya gimana bagusnya lagi buat ngurusin semua itu, yang pastinya dana dari iklan dan sponsor mungkin berlimpah. (Saya bisa bilang begini karena di cetakan pamflet aja sponsornya banyak banget). Diurus sama pemda, Dinas setempat, dan Kementerian Pariwisata ya… ya… kurang greget aja hasil DCF yang saya ikutin. Mudah-mudahan ada yang berbeda di tahun depan, entah dimananya..

 

Backpacker, Indonesia, JAMBI - Indonesia, MOUNTAIN, story, SUMATERA - Indonesia, The Journey, Traveling

Lima Hal Bahaya Mendaki Gunung Kerinci?

Bagi para pendaki, penikmat ketinggian ada beberapa gunung yang wajib dijelajahi. Kalau di Indonesia sebut saja 7 summit yang merupakan gunung tertinggi di wilayah Jawa, Sumatera, Sulawesi. Misalnya Mahameru, gunung tertinggi di Jawa atau Ceremai yang merupakan atap tertinggi di Jawa Barat.

Belum pendaki sejati kalau tak menjajal trekking kesana. Gunung terkenal di kalangan pendaki dan disebut the most beautiful mountain in Indonesia, Gunung Rinjani termasuk di dalamnya lho sebagai gunung api tertinggi ke-2.

Nah, kamu yang ngakunya anak gunung harus banget jelajahi Gunung Kerinci di Jambi. Karena memang selain merupakan atap Sumatera, Gunung Kerinci juga punya predikat the highest volcano mountain in Indonesia. Gunung api tertinggi! Soalnya puncak Cartens di Papua kan bukan gunung api.

Bagi saya bahaya banget buat ke Gunung Kerinci. Bahaya, sangat… sangat bahaya pokoknya hehehehe karena itu harus banget kesana, LHOOOO??? Iya berikut coba saya uraikan menurut pengalaman sendiri. Chech this out!

  1. Trekking Shelter 3 yang Bakal Menatang Nyali 

Kamu sudah pernah ke Gunung Rinjani yang punya semua jenis tipe tanah dan ekosistem? tetap saja harus mencoba trekking ke Kerinci. Soalnya gunung yang hanya punya satu jalur pendakian ini lumayan banget bakal menguras adrenalin kamu.

Dijamin, tak menyesal nyoba  trek di shelter 2 menuju shelter 3 yang ajibbbb. Bisa bikin kamu merasa kalau cobaan hidup selama ini nggak ada apa-apanya setelah lewat naik dan turun shelter 2 dan shelter 3.

Cek di video singkat ini ya … hehehehe atau bisa cek Instagram saya di @dyah_pamela disana lebih jelas video-nya.

2. Habitat Harimau Sumatera yang Berbahaya

Kedengarannya ngeri! tapi memang bener lho ada harimau di hutan Gunung Kerinci. Tepatnya menurut Pak Turmin, salah satu porter yang bawain tas rombongan ada di pos 2 menuju pos 3 dekat hutan lumut. Karena itu tidak diperbolehkan nenda di sekitar sini.

Saya juga kaget waktu melihat porter membawa parang. Hehe, itu buat jaga-jaga kalau ketemu penguasa hutan Sumatera. Cuma waktu tahu kalau di Gunung Kerinci ada Harimau dan itu sebelum pergi kesana cuek-cuek aja.

Baru ngeh sama pembicaraan teman sesama pendaki setelah sampai Jakarta. Kalau yang nakutin itu bukan ketemu hantu di gunung, tapi ngeri ketemu harimau. Gimana coba menghadapinya??? Ada perbincangan juga dengan teman yang saya ceritain soal harimau yang ada di Kerinci, apakah memang harimau disana betulan atau jadi-jadian alias peliharaan orang yang memuja setan. Hiiiii….. Serem.

Tak salah makanya kalau ada patung harimau di area sebelum masuk kompleks pendakian, soalnya harimau itu satwa yang ikonik di Kerinci. Cukup ketemu patungnya aja ya, yang beneran jangan.

foto (11)
Ketemu sama patungnya aja, yang beneran nggak usah hehe (in frame Gatti dan Citra teman satu kelompok mendaki Kerinci)

3. Pemandangan Danau Gunung Tujuh dari Atas Puncak

Ini super menawan! pemandangan Danau Gunung Tujuh dari atas Gunung Kerinci. Bahaya banget kan? Buat pemandangan ini tergantung lagi sama cuaca. Waktu saya ke sana sebetulnya cerah, hanya debu vulkanik itu yang menutupi pemandangan.

Sebenarnya Danau Gunung Tujuh juga sudah terlihat dari shelter 3 tempat kami menenda sebelum akhirnya berjalan 4 jam buat summit ke puncak. Tapi karena sampai di sana malam, nggak kelihatan.

Cuma bisa lihat indahnya bintang-bintang di langit saat itu dan sudah malam, lelah dan ngantuk membuat saya mengurungkan niat untuk tetap menikmatinya. Sinaran bintang-bintang lebih banyak saya nikmati keindahannya dari balik pepohonan menuju shelter 3, selama masih berusaha sampai di kamp.

foto (10)
Terlihat sebelum sampai summit, tinggal 30 menit lagi di puncak.

4. Uji Adrenalin, Asap Gunung Api Di Saat-Saat Hampir Summit

Hampir mirip dengan Mahameru yang mengeluarkan asap tebal di waktu tertentu sekitar pukul 10.00 pagi. Gunung Kerinci yang merupakan gunung api aktif itu pun mengeluarkan abu vulkanik setiap pukul 07.00 pagi.

Nah, lebih awal sekali waktu saya kesana malah jam 06.30 sudah ada asap dan bau belerang. Buat khawatir dan berfikir untuk jalan lebih cepat supaya tetap bisa sampai atas tepat waktu. Tapi setelah sampai nyatanya walau ada abu itu tetap saja teman-teman yang lain juga baru turun jam 09.00 an.

Masih terhitung beruntung juga, soalnya angin membawa abu vulkanik ke samping kanan. Sehingga tak cukup berbahaya untuk mereka yang berada di atas. Ini akan berbeda ceritanya kalau angin membawa ke depan atau tengah. Sudah pasti abu vulkanik yang berbahaya itu harus dihindari dan penjaga disana akan melarang untuk naik sampai puncak.

Uji adrenalin ini terhitung lumayan, dibanding waktu mendaki Rinjani yang tak kalah sulit trek-nya. Perbedaannya jalur pendakian Kerinci itu gampang sekali membuat tersasar karena lebar, atau masuk jurang ke samping.Sementara Rinjani sudah ada trek atau jejak yang cuma satu jalur naik ke puncak tinggal diikuti saja.

foto (34).JPG
Asab abu vulkanik yang diterbangkan angin ke samping kanan, masih jam 6-an lho padahal

5. Tipikal Gunung dengan Hutan Tropis ini Menguji Keberuntungan

Cuaca Kerinci yang sering hujan karena ekosistem hutan hujan tropis ini juga jadi tantangan. Selain itu menurut syaa ikut menguji keberuntungan, soalnya ke gunung itu juga keberuntungan bisa ketemu cuaca bagus atau bisa lancar sampai summit.

Tak dapat dihindari, ada hujan gerimis. Bahkan bisa jadi hujan deras. Makanya disarankan juga membawa jas hujan. Itu benda yang harus wajib dibawa. Supaya tenda aman saat cuaca hujan saya pun paling ngingetin untuk bawa flysheet. Minimal nggak kan banjir dan bisa tidur nyenyak.

Sering hujan, buat jalur yang akan kamu lalui di Kerinci ikut sulit. Bisa licin dan tanahnya gempur. Harus hati-hati banget. Jadi untuk pendakian ke Gunung Kerinci memang sebaiknya memakai sepatu gunung, jangan sendal gunung apalagi jenis yang lain.

DSCN9559
Sepanjang jalan yang ada hutan teduh, menyejukan hati dan adem tentunya.

 

Backpacker, culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, story, The Journey, Traveling

Icip-Icip 7 Kuliner Asik di Dieng

Agenda jalan-jalan tanpa meng-eksplore kuliner setempat, kurang afdol rasanya. Lagi pula siapa sih yang tidak suka makan? Ayo tunjuk tangan. Terlebih kalau lagi traveling pastinya kamu ingin sesuatu yang berbeda untuk dimakan kan. Berhenti dulu diet-nya, makan apa saja yang kamu suka!

Nah, waktu ke Dieng kemarin saya mencoba beberapa kuliner khas di Dieng. Ini dia, tujuh kuliner asik di Daratan Tinggi Dieng. Check this out!

Mie Ongklok 

DSCN9889
Judulnya MIe Ongklok dalam kegelapan, hehehe isinya ada mie, potongan tahu, dan kuah mie yang lengket, serta sate ayam 3 tusuk saja.

Mie ongklok ini bisa harganya murah meriah, cukup Rp. 12 ribu saja satu mangkoknya. Seperti apa sih mie nya? Satu porsi mie ongklok cukup mini bagi saya, cuma buat icip-icip selagi laper dan banyak banget makanan di stand yang ingin dicoba.

Iya waktu Dieng Culture Festifal 2016 kemarin di pinggir lokasi ada aja tukang jualan makanan seru semacam street food. Berhubung lapar mata cobain deh beberapa. Jadi beruntung juga kalau porsi mie ongklok ini tak terlalu banyak.

Menurut penduduk asli penjual mie ongklok. Mie ongklok yang asli itu harganya rata-rata hanya Rp. 12 ribu dan jumlah satenya pasti 5, itu pun harusnya sate sapi bukan sate ayam seperti yang sempat saya cobain.

Mie ongklok juga sebenarnya berasal dari Wonosobo, jaraknya 1 jam dari Dieng. Cukup dekat dan kalau ingin mie ongklok yang asli bisa mencari di kota Wonosobo. Itu wajib banget, karena saya pun belum merasakan betul mie ongklok yang asli.

Kalau kamu perhatikan, kuah mie ongklok itu kan agak berlendir ya? nah itu karena ada campura tepung kanji, sehingga agak kental. Dengan tambahan bumbu kacang dari satenya kamu juga bakal merasakan perpaduan rasa kuah mie dengan bumbu kacang. Gado-gado rasanya.

kentang goreng dieng

Kentang Goreng 

Beda dari kentang goreng yang suka kita beli di restoran cepat saji, kentang goreng di Dieng itu ukurannya lumayan besar. Potongannya pun beda, begitu juga rasanya.

Dipadankan bersama saus cabai ketika memakannya, dicocol sama seperti kalau makan kentang goreng biasa. Selain saus cabai, kadang kamu juga dikasih pilihan bubuk cabai dengan rasa balado, jagung bakar atau BBQ. Sesuai selera aja pesannya dan seporsi kentang goreng yang baru dimasak itu harganya cuma Rp. 5 ribu.

Selama Dieng Culture Festival hampir di setiap jalan akan mudah ditemui kentang goreng khas Dieng ini. Harus coba dan enak dimakan hangat-hangat. Apalagi kalau cuaca dingin dan itu malam hari, sambil nonton acara Jazz Di Atas Awan, buat cemilan seru juga lho. Ibu saya kalau ke Dieng juga pasti beli kentang berkilo-kilo, haha maklum nyokap-nyokap kan gitu.

DSCN9983
Manisan Carica ini seger banget, kalau mau buat sendiri juga bisa tinggal beli buahnya saja.

Manisan Carica

Sebenarnya sudah pernah ke Dieng tahun 2013 sama keluarga dan ibu saya sering banget bolak-balik ke Dieng terus pasti beli buah carica, yang diolah menjadi manisan carica. Di Dieng banyak banget toko yang menjual carica kemasan.

Carica sendiri dibuat dari semacam pepaya mini. Bibit tanaman pepaya yang kalau ditanam di Dieng jadi menciut atau berukuran mini. Pohon-nya sendiri dan daun-nya adalah pepaya, cuma buah yang dihasilkan jadi mikro.

Kalau sudah matang, carica seperti pepaya juga. Buahnya akan kekuningan, nah ini kemudian diolah oleh penduduk setempat di Dieng sebagai manisan carica.

foto (32)
Nasi Megono yang saya cobain waktu di Dieng

Nasi Megono

Orang Indonesia belum makan nasi, belum makan namanya. Nah, di Dieng ada Nasi Megono yang bisa kamu cobain. Asal nasi megono juga dari Wonosobo, ya karena wilayah Dieng terkenal sebagai destinasi wisata dan banyak dikunjungi, warung nasi megono pun bisa ditemukan disini.

Pertama kali tanya ke ibu penjual, dia bilang itu nasi yang dicampur dengan sayuran urap. Langsung mikir sepertinya tak berselera, soalnya ibu syaa juga suka buat di rumah.. Hehehe wong Jowo, tapi setelah melihat dan mencobanya enak kok ternyata.

Saya ketagihan, tapi sudah kenyang. Jadi niat untuk nambah diurungkan. Lagi pula masih ada waktu sampai malam dan besok paginya buat beli cemilan. Sisahkan ruang di rongga perut. Kata Rasullulah SAW nggak baik juga kalau terlalu kenyang kan?

DSCN9908
Kalau lagi ada event besar seperti Dieng Culture Fesival (DCF) ada banyak mbok-mbok yang tiba-tiba jualan sate ayam 🙂

Sate Ayam Lontong

Sebenarnya sate ayam lontong itu bukan kuliner asli Dieng, menurut penduduk sekitar. Tapi karena ada event Dieng Culture Festival jadi banyak pedagang sate ayam lontong bertebaran dimana-mana.

Ini mirip sate ayam yang ada di Jogja, kalau saya lagi mampir ke Jogja kalau lagi mampir ke stasiun dekat Maliobboro itu. Bedanya di Jogja sate ayamnya lebih manis dengan kecap yang lebih banyak dan lebih gosong dipanggangnya. Saya lebih suka yang ada di Jogja. Rasa manisnya nggak nanggung dan entah bagaimana pokoknya beda.

Harga sate lontong di Dieng cukup murah. Rp. 10 ribu saja, ada satenya 6 dan lontong 1 yang cukup buat pengganjal perut di pagi hari. Jangan lupa minta sama mbok-mbok penjualnya untuk menambahkan irisan cabai rawit dan bawang merah supaya rasanya lebih segap.

temoe kemul di Dieng
Tempe/Tau Kemul atau jaket enak kalau hangat

Tempe atau Tahu Kemul A la Dieng

Tempe atau tahu jaket itu sudah biasa, kan di rumah juga suka buat. Tapi ini beda lho yang ada di Dieng, namanya tempe atau tahu kemul. Antara besar tempe dan tepungnya lebih banyak tepungnya dan melebar ke samping.

Dicampur juga dengan irisan daun bawang di adonan tepungnya, tempe kemul jadi makin enak dengan aroma bawang. Bisa dibayangkan bagaimana kalau dimakan saat masih hangat ditambah cabai rawit biar ada sensasi pedas.

Cuma cuaca di Dieng yang dingin minta ampun itu, sangat jarang bisa nemuin tempe atau tahu kemul yang masih hangat. Yang ada saya malah keras banget gigitnya, beku sama cuaca. Kalau bisa tungguin si abang jualan selesai menggoreng, baru deh bisa kamu dapetin tempe atau tahu kemul yang hangat 🙂

DSCN9884
Purwaceng, ada yang original dan dicampur susu.

Purwaceng 

Nah yang satu ini berupa minuman herbal khas dari Dieng, Purwaceng. Termasuk tanaman langka yang ada di Dieng, purwaceng mirip seperti jamu dan khasiatnya memang…. buat stamina.

Purwaceng ada yang rasa original dan dicampur dengan susu. Kalau say asuka yang dicampur dengan susu jadi tidak terlalu jamu banget. Harga segelas lumayan Rp. 12 ribu dan ketika mau beli buat oleh-oleh ukuran kecil tidak sampai 50 gram cukup fantastis untuk sebuah bubuk herbal, Rp. 75 ribu, karena itu tak jadi beli.

Tapi memang khasiat dan kelangkaan nya yang membuat purwaceng ini begitu lumayan harganya. Karena waktu di museum Dieng saya lihat tanaman ini hanya ada di Dieng dan kategorinya langka.

Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita Solo Traveling, Gunung Prau – Wonosobo

Ke gunung solo traveling, kenapa nggak? tapi lihat dulu kemana destinasi-nya, gunung apa. Soalnya beberapa gunung punya peraturan ketat, salah satunya tidak memperbolehkan mendaki sendiri.

Seperti Gunung Ceremai dan Gunung Gede  misalnya, cukup ketat peraturan disana. Gunung ceremai, harus minimal bertiga begitu juga Gunung Gede selain itu perlu daftar SIMAKSI online dulu di web.

Nah, berbeda dengan Gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung yang punya sebutan gunung artis karena selalu penuh pendaki ini boleh dijelajahi solo-ing. Banyak teman-teman saya sesama pendaki yang ke Prau sendiri, trekking pagi sebelum matahari naik dan tak memilih nenda atau kemping di atas sana.

instagram-prau
Seperti sesumbar para pendaki di Instagram, sunrise di Gunung Prau memang bagus banget…

Niat awal saya sebenernya kepingin ikutan acara Dieng Culture Festival (DCF) 2016 yang merupakan event wisata tahunan di Dieng. Sejak bulan Maret 2016 sudah prepare pesan tiket yang katanya terbatas hanya untuk sekitar 200 ribu orang saja.

Tapi sekalian aja kan, walau janjinya setelah Gunung Kerinci saya mau rehat dulu mendaki. Mengingat ongkos kereta PP kelas bisnis lumayan dan tak mau rugi juga perjalanan lebih dari 3 jam menuju Dieng, saya sengaja datang sehari sebelum acara DCF ke-7 itu.

Supaya nggak repot, perbekalan bawa yang penting-penting saja. Termasuk tenda yang untuk kemping di acara DCF saya titip di basecamp, begitu juga tas carriel untuk membawa baju. Jadi naik gunung hanya membawa day bag yang berisi air minum, nasi bungkus untuk sarapan, cemilan, dan kamera… hehe lumayan enteng. Pertimbangan ini juga yang buat saya mikir, kenapa nggak ke Prau solo traveling?

Sunrise 😘😘😘

Dan… niat itu pun tidak berubah hingga saya kemalaman di tengah perjalanan dari Wonosobo, belum sampai Dieng. Akhirnya demi sampai di basecamp prau, saya memutuskan naik ojek. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam, menembus kabut dan kedinginan, jalan tanjakan ke Dieng tau sendiri kan?

Sambil,… ah… bayangkan saja sendiri carriel di depan pak ojek, saya hanya pakai tas gemblok isi dompet dan kamera barang penting lalu nenteng tenda seberat 1,5 kg… cukup enteng 🙂

Kalau bisa sebaiknya ke Dieng itu sejak siang, batasnya sekitar jam 12 sudah ada di stasiun Purwokerto karena bus engkel ke Dieng terakhir itu jam 5 sore. Engkel yang desak-desakan, cuma kalau naik dari Dieng dan situasi tak seramai event DCF baru bisa kedapatan duduk. Kebanyakan yang naik engkel juga penduduk sekitar, anak sekolah yang tujuannya deket-deket aja. Kamu masih bisa sabar sampai ada yang turun dan dapet duduk.

Sampai juga di basecamp Patak Banteng, jalur pendakian yang saya pilih buat naik Gunung Prau karena cukup 2-3 jam saja mendakinya. Sementara kalau lewat jalur Dieng itu akan memakan waktu 8 jam tapi dengan pendakian lebih landai. Pukul 21.00 cukup sepi, (mungkin karena hari Jum’at) hanya ada sekitar 3 rombongan kecil pendaki.

Bayar SIMAKSI pendakian cukup Rp. 10.000 saja, untuk penitipan barang gratis. Senangnya area untuk bermalam cukup luas dan bersih dengan 4 ruang toilet dan musholla kecil untuk sholat.

Di depan area basecamp juga banyak motor milik pendaki parkir. Di dekat basecamp juga ada banyak warung dan hampir semua juga menyediakan penyewaan tenda, sleeping bag, dan tas carriel… so, yang males bawa barang banyak bisa sewa. Harganya sleeping bag Rp. 20.000, tenda sekitar Rp. 45.000 untuk ukuran kapasitas 4 orang.

solo traveling blog
Nggak ngerti gimana, malah ketemu 3 cewe ini (Angel, Icha, dan Reni) dan niat solo traveling jadi barengan aja nenda di DCF-nya.

Sejak awal saya sudah bilang ke penjaga pos pendakian, kalau cuma naik sendiri. Nggak apa-apa katanya, nanti juga akan ada pendaki lain dan bisa barengan. Jam 02.30 pun saya dibangunin sama bapak-bapak pos penjaga,… bukan saya aja sih pendaki lain juga diberi tahu kalau mau dapet sunrise enaknya jalan sekarang.

Alhamdulilah, si bapak bilang ada 2 pendaki dari Bogor yang bisa ikut barengan sama saya. Yaampun jauh-jauh ke Wonosobo ketemunya orang Bogor juga orang deket rumah… So, saya barengan sama Irul dan Gilang. Mereka sabar banget nungguin saya buat nyeruput sereal susu dulu dan pesen makan buat brunch. Dan day pack yang enteng itu pun ditengah jalan dibawain temen yang mendaki tanpa tentengan.

You never walk alone,… ah bener banget kita memang tidak pernah berjalan sendirian, selalu ada temen selalu ada penolong yang dikirimkan Tuhan buat kita. God thank u, i’m so blesssed... jadi pendakian ini seru-seru aja. Dan… ditengah jalan selagi istirahat muncul lagi pendaki lain yang akhirnya barengan, Wisnu yang masih kuliah.

Namanya pendaki, anak gunung memang karakternya suka menolong, santai dan empatinya tinggi. Seperti semua teman pendaki yang saya temui ini, nggak ada yang akan ninggalin. Berbagi minum, berbagi makanan, saling nyemangatin kalo puncaknya udah deket.

Di atas, kami berempat juga ketemu sama tiga cewe yang nge-camp semalam di Prau, Angel, Icha, dan Reni. Aduh, mereka bawaannya berat tapi nggak ada cowo satupun di rombongan. Mereka baru pertama kali banget mendaki gunung. Untungnya ada satu cowo pendaki yang bantuin masak bantuin pasang tenda mereka pas malem mereka mau nenda.

Kami semua baru pertama kali banget ketemu tapi langsung gampang berbaur akrab. Foto-foto dan buat video di atas, makan bareng, masak bareng… dan beruntung, betul-betul beruntung entah gimana caranya Tuhan mempertemukan dengan para wanita ini juga, soalnya niat buat nge-camp berdua di acara DCF batal, karena teman ketinggalan kereta dan ada urusan mendadak di Jakarta.

DSCN9791
Langit biru cerah,…. di antara mereka yang nenda (tidak terlalu padat tenda di hari Jum’at (5/8/16)

Waduhh… anehnya, semua jadi terasa surprise dan seru buat dilewatin bareng orang-orang baru. Saya jadi nenda bareng dan ngelewatin acara malam Jazz Di Atas Awan (Jazztawan) berempat, termasuk random walking nyari candi tersembunyi di dekat pemukiman warga. Makanya bisa dibilang ini random journey..

Namanya wanita kan selalu nyambung kalau itu ngobrolin kosmetik hehehe. Dan julukan kami berempat adalah teletubis, pas banget soalnya main ke bukit-bukit teletubis Gunung Prau… terus grup tetemenan semua pendaki yang baru kenal ini dikasih nama Purwaceng, salah satu nama minuman khas di Dieng 🙂