MOUNTAIN, story, The Journey, Traveling

Cerita Horor, Pendakian Malam di Gunung

Pengalaman horor biasanya kejadian waktu pulang habis muncak karena kecapekan. Kalau pas berangkat sih pemandangannya bagus terus ūüėÄ Photo by @id_pendaki

Tengah malam, hampir pukul 00.00 .. bukan tengah malam ya, bisa dibilang dini hari. Seremnya… Saat itu aku masih di hutan gelap menuju perjalanan pulang ke basecamp.

Sebenarnya tidak pernah ada rencana untuk trekking sampai malam. Tapi kelelahan habis muncak, terlalu banyak istirahat, terlalu banyak berhenti untuk foto, buat saya dan teman serombongan kemalaman.

Pilihan buat berkemah dan tidur di hutan sebenarnya bisa saja, tapi resikonya lumayan. Waktu di Gunung Kerinci, sangat dilarang untuk berkemah setelah Pos 2, alasannya ada kemungkinan disamperin harimau disana. Saat di Gunung Rinjani, semua porter yang ditemui selalu menyarankan untuk nge-camp di Pos 3 jalur Senaru. Alasannya serem banget jalur Senaru itu kalau malam lewat magrib.

Kalau liat pemandangan bagus di gunung seperti ini pasti lupa dengan cerita horor nya, tapi justru jadi kenangan lucu

Benar saja, kami yang nekad meneruskan perjalanan menemui hal-hal aneh. Ada suara burung hantu di tengah perjalanan, saat itu ada seorang teman yang menggunakan gantungan tas yang berisik mirip lonceng kecil. Pemimpin rombongan saya yang ber-10 orang kasih isyarat supaya nggak berisik.

Hold on, (maksudnya berhenti dulu dan jangan berisik)..,” katanya sambil kasih isyarat lagi menaruh jari telunjuk di depan mulut.

Terus ada suara burung hantu, saya mendengarnya waktu ketua rombongan bilang hold on tadi. Ada mungkin 5-10 menit berhenti. Kata saya Alhamdulillah sekalian kaki yang bengkak ini istirahat. Soalnya di antara pendaki lain yang cowok semua saya sebagai satu dari dua perempuan yang ada, saya terhitung memaksakan diri dan merasa tidak bisa egois minta banyak berhenti.

Dan pukul 02.00 pagi dengan perjuangan penuh, sampailah juga di perhentian terakhirnya basecamp Senaru. Huffft huffttt, karena sudah tak ada tenaga mendirikan tenda, semua hanya tidur begitu saja di sebuah bale bambu. Dingin pun sudah tidak dihiraukan. FYI paginya.. barulah beberapa dari kami cerita kalau saat ada suara burung hantu itu ibu Kunti sebenarnya lagi terbang di atas rombongan kami, passss perjalanan turun itu. Hiiiiii nggak kebayang, beruntungnya saya itu nggak bisa lihat makhluk halus.

Kalau mau cari sunrise harus jalan mendaki sebelum subuh, bahkan jam 01.00

Yang juga horor adalah waktu perjalanan turun di Gunung Kerinci. Tak ada pilihan walau capek, tetap harus turun malam itu juga. Karena besoknya masih dalam agenda ke Danau Gunung Tujuh. Dan kami memang nggak diperbolehkan nenda, lah disini ada habitatnya Harimau Sumatera.. siap-siap disamperin aja kalau memang niat nenda dekat dari Pos 3.

Seharusnya memang ketemu Harimau itu lebih menakutkan daripada ketemu hantu ya?.. baru kali itu saya merinding karena merasakan dan sosok makhluk halus tak jauh dari saya.. aduhhh merinding mau lari tapi harus keep calm.. kan nanti setan nya GR saya takut..

Saat itu masih meyakinkan diri kalau hanya halusinasi karena kecapekan. Pegangan tangan saya nggak lepas dari guide lokal di depan saya, padahal dia masih SMA tapi lebih berani dari saya. Makin malam, makin gelap, kok rasanya ada suara-suara angin deket banget di kuping. Saking ngeri jalan pun makin dipercepat, tapi sayang saya nggak juga bisa egois kan. Soalnya masih ada teman di belakang bertiga, berkali-kali dia ngasih aba-aba supaya berhenti dulu. Tapi kan perasaan lagi takut. Sampai dia bilang.

Kawah dengan kabutnya di Gunung Api Banda

“Dyah… Jangan duluan, berhenti dulu,” katanya setengah teriak.. soalnya kami lumayan berjarak 20-an meter.

Haduh… Istighfar dalam hati biar tenang saya duduk dulu karena diteriakin teman dan nggak begitu tega juga ninggalin. Tinggal beberapa meter lagi sebenarnya itu ada bale bambu buat istirahat.

Akhirnya saya ke bale bambu itu biar bisa duduk. Nggak lama seperti ada yang jatuh di atas atap bale bambu.. aduh.. makin ngeri, masih saja ngeyakinin diri kalau tidak ada apa-apa. Akhirnya saya istirahat lama di bale sampai teman nyamperin saya dan ikut istirahat.

Guide dan porter kami memutuskan agar temen saya ditandu saja. Saya pun disarankan untuk ditandu juga supaya cepat sampai basecamp. Saya nolak dong.. tapi akhirnya diiyakan saja daripada debat lama, Alhamdulillah ternyata itu cuma trik dari guide biar temen saya mau ditandu. Aslinya yang mau ngangkut nandu juga cuma ada 2 orang.

Selesai itu sudah tidak ada perasaan takut lagi, entah perasaan itu hilang. Tapi besok paginya saya diceritain sama teman yang ditandu itu kalau dia melihat ada sekelebat ibu Kunti di belakang saya lagi ngikutin saya gitu. Hiiiiii…. Pantesan aja kerasa banget dan dipikiran saya juga merasa bahwa lagi ada si ibu Kunti.

Dua kali ketemu ibu Kunti nggak buat saya jera pergi ke gunung. Yang ada semua itu jadi cerita seru yang jadi obrolan saya kalau ketemu teman. Iseng ngeledek ini kalau ada teman mau ke gunung. Saya memang nggak kapok, sebulan setelahnya saya masih pergi solo traveling ke Gunung Prau. Perginya aja pas gelap sebelum subuh, jam 03.00 pagi. Tapi nggak ada hal yang serem di Prau, mungkin karena memang itu dekat subuh ya.

Sebenarnya ketemu hantu pun nggak harus malam. Waktu di Gunung Lembu, Purwakarta siang bolong jam 12.00 an ada temen yang cerita melihat sekumpulan makhluk gaib lagi kumpul di dekat kuburan tempat kami lewat. Iya kuburan, di Gunung Lembu ada kuburan yang saya cuek biasa aja waktu ngelewatin. Padahal disana lagi kumpul banyak penampakan.

Sebagai orang yang tidak punya penglihatan gaib kadang saya bersyukur saja. Mungkin kalau bisa lihat saya sudah kapok untuk melakukan pendakian.

Advertisements
KALIMANTAN - Indonesia, The Journey, Traveling

Tentang Terancamnya Habitat Penyu di Derawan

Penyu mudah dilihat di tepi laut dangkal. Mereka suka datang ke dekat dermaga.. nah penyu sebesar ini umurnya sekitar 20 tahun. foto by @dgoiramah

Di tulisan sebelumnya tentang liburan ke Kepulauan Derawan, di pulau Maratua saya pernah berbagi tentang penangkaran penyu disana. Saat penyu masih kecil berukuran mungil segenggam telapak tangan dan mereka masih disebut sebagai tukik.

Penyu yang telurnya sejak dulu sering dikonsumsi warga setempat dan membuat habitat penyu terancam punah mungkin sudah banyak yang tahu ya? Sampai belakangan 10 tahun terakhir akhirnya banyak juga lembaga LSM seperti WWF (salah satunya) yang turun tangan untuk mengelola penangkaran penyu sebagai cara melestarikan habitatnya. 

Namun saya terkaget, karena ternyata cerita dari penduduk asli orang Derawan bisa dikatakan proyek penangkaran penyu belum sepenuhnya berhasil. Saya penasaran dengan fakta ini, dilihat dari apa ketidakberhasilannya? 

Penyunya yang sudah dewasa lagi foto by @dgoiramah

Menurut Bang Apoy a.k.a Harry Gunawan salah satu warga lokal dan operator tour di Derawan, penyu dewasa yang ada sekarang merupakan hasil dari program pemerintah yang dulu. “Karena penyu yang kita lihat itu sudah berusia 20-30 tahun yang sudah besar-besar. Kita orang derawan sudah tidak bisa melihat atau menemukan lagi penyu kecil atau yang berukuran sedang dan dewasa. Semua yang kita lihat penyu yang berukuran besar semua,” ungkap Bang Apoy.

Lebih dari 10 tahun LSM melakukan konservasi penyu tapi kami masyarakat melihat hasilnya tidak ada. Salah satu buktinya, tidak ada penyu kecil yang bisa kita temukan atau jumpai. Benar juga, saya memang hanya melihat penyu-penyu besar yang cangkangnya pun sudah tua.

“Alasan kedua kita bilang tidak berhasil adalah penyu yang masih kecil dilepas ke laut, setelah dilepas mereka tidak mengontrol lagi ke laut apakah tukik itu masih hidup atau sudah dimakan predator,” tambahnya.

Foto by @vheera

Terkenang bagaimana dulu warga asli Kepulauan Derawan ini, saat dirinya masih kecil bebas bermain-main dengan penyu. Kira-kira sekitar 20 tahun yang lalu masyarakat lah yang memelihara anak penyu, yang saat sudah besar kemudian baru dilepas. 

Dengan program konservasi penyu yang di kelola WWF sekarang, menurutnya populasi penyu di Kepulauan Derawan bukannya bertambah justru akan membuat punah penyu, salah satu buktinya yaitu kita sudah tidak bisa melihat ukuran yg kecil dan sedang tadi

“Kalau dulu saking banyaknya, penyu itu sampai tabrakan,” tukasnya.

Dengan tidak melibatkan masyarakat dalam program konservasi penyu, menurut keturunan Suku Bajau ini, masyarakat sudah tidak ada kepedulian lagi terhadap penyu itu sendiri. Hingga marak terjadi pencurian penyu dan pencurian telur penyu itu sendiri.

Penyu saat masih kecil, waktu masih dipanggil tukik. Foto by @dyah_pamela

Menurutnya masyarakat sudah beberapa kali meminta program konservasi penyu dikembalikan seperti dulu melalui pemerintah daerah untuk kemudian disampaikan ke pusat tapi tidak pernah terealisasi. Saya mahfum, ini sulit diwujudkan karena sistem otonomi daerah. Pemerintah pusat kan sudah menyerahkan itu ke Bupati atau Kepala Daerah yang bersangkutan.

Harapan Apoy sebenarnya seperti masyarakat kepulauan Derawan lainnya, yaitu bagaimana agar nanti anak cucu nya nanti masih bisa melihat penyu itu bermain-main di laut Derawan dan bukan hanya menjadi cerita dan legenda. Karena Kepulauan Derawan adalah habitat terbesar penyu. 

Liputan, Malaysia - Asia Tenggara, story

Tiga Bangunan Bersejarah di Perak, Malaysia

Galeri Sultan Azlan Shah, bagus ya..Kelihatan ada sentuhan Melayu dan Inggris gak sih?

Malaysia bukan tentang Kuala Lumpur (KL) saja. Masih ada Sabah, Kinabalu, dan Perak merupakan salah satu negara bagian Malaysia, nomor 4 terbesar. Nama Perak diberikan karena dulu wilayah ini tempat penghasil timah, adapun timah diasosiasikan berwarna perak.

Kalau 2013 silam saya sempat keliling KL untuk sekedar mengenal kata “Luar Negeri”, karena dapat free ticket Tiger Air Ways, kunjungan kedua ke Malaysia, yang sebenarnya tidak terlalu buat saya tertarik kali ini hanya karena tugas peliputan saja.

Namanya bareng tour operator, saya ikut saja apapun itinerary yang tertera. Mampir ke Perak, yang punya beberapa bangunan bersejarah. Berikut tiga peninggalan sejarah kesultanan Malaysia yang saya rangkum singkat. Selamat menyimak ūüôā

IMG_6812
Masuk ke dalam harus lepas alas kaki atau memakai penutup sepatu yang berwarna biru ini. Kebetulan cuaca hujan saat itu takut juga becek

(1) Galeri Sultan Azlan Shah

Bangunan galeri awalnya dibangun pada tahun 1898 dan selesai pada tahun 1903 untuk digunakan sebagai kediaman Sultan Perak Idris Shah I . Penciptaan galeri berasal dari ide Sultan Perak Azlan Shah. Pemerintah Negara Perak menyetujui pembangunan galeri pada tanggal 13 Juni 2001. Pembangunan galeri dimulai pada 30 November 2001 dan diselesaikan pada tanggal 15 April 2003. Galeri ini secara resmi dibuka pada 9 Desember 2003.

Galeri ini bertempat di gedung Ulu Palace. Bangunan terbuat dari ukiran kayu terinspirasi oleh tanaman alami di wilayah sekitarnya. Batu ukiran dibuat oleh pengrajin sesuai dengan persetujuan dari Sultan Idris Shah I. Desain Arsitektur bangunan memiliki fitur-fitur umum dari Istana Nasional , Pengadilan Tinggi Ipoh dan Stasiun Kereta Api Ipoh. Semua informasi lengkap ini ada di dalam galeri.

Isinya memang mengagumkan, sebenarnya ada tiga gedung museum yang ketiganya berisi benda peninggalan, koleksi Sultan Perak. Semacam cendera mata dari tamu negara, mobil yang pernah dipakai saat itu, dan tentu saja foto silsilah keluarga Sultan Perak.

Wisata sejarah seperti ini mungkin memang disukai para bule ya? kalau saya yang petualang banget sebenarnya merasa biasa-biasa saja saat masuk galeri. Meskipun “wah” dengan benda-benda berlapis emas.

IMG_6800

(2) Masjid Ubudiah

Tak jauh dari Galeri Sultan Azlan Shah, ada Masjid Ubudiah sebagai¬†Perak¬†‘s royal masjid¬†terletak di kota kerajaan¬†Kuala Kangsar,¬†Perak,¬†Malaysia. Meski dekat, tapi kami serombongan tetap naik bus untuk menuju masjid ini.

Ada cerita unik ketika akan masuk ke dalam masjid ini. Jadi turis harus memakai semacam pakaian sopan, dan wanita wajib berkerudung. Tapi karena para bule dan termasuk satu teman saya orang Philifina pakaiannya lumayan terbuka (atasannya you can see), untuk masuk mereka harus memakai baju semacam jubah gitu. Aduh, kalau ingat ini saya masih suka ketawa. Lucu melihat orang-orang berseragam jubah itu, kalau saya kan sudah berpakaian tertutup tinggal jilbab an saja.

Masjid Ubudiah menempati peringkat tinggi dalam daftar masjid paling indah di Malaysia, Masjid Ubudiah berdiri termasuk masjid megah di Kuala Kangsar, dengan kubah dan menaranya yang memiliki pemandangan memukau, dari dekat dan jauh keemasannya pun terlihat.

Masjid ini dirancang oleh Arthur Benison Hubback , arsitek pemerintah yang terutama dikreditkan untuk desain dari stasiun kereta api Ipoh dan stasiun kereta api Kuala Lumpur .

Dibangun pada tahun 1913 pada masa pemerintahan  Sultan Perak 28 , Sultan Idris Murshidul Adzam Shah I Ibni Almarhum Raja Bendahara Alang Iskandar Teja , Masjid Ubudiah terletak di samping Royal Mausoleum di Bukit Chandan. Itu ditugaskan atas perintah Sultan, yang bersumpah bahwa ia akan membangun masjid yang sangat indah sebagai ucapan syukur untuk pemulihan dari sakit yang mengganggunya di hari-hari awal.

Pembangunan masjid itu bukan tanpa kesulitan. Kerja terputus beberapa kali, sekali ketika dua gajah milik sultan dan Raja Chulan berlari dan merusak marmer Italia impor.

IMG_6801
Jadi teman ku yang pakai rok mini dan lengan you can see harus pakai semacam baju berjubah gitu kalau mau masuk hehehe

Masjid itu akhirnya selesai pada akhir 1917 dengan total biaya dari RM200,000 lalu secara resmi dinyatakan terbuka oleh Sultan Abdul Jalil Karamtullah Shah Ibni Almarhum Sultan Idris Murshidul Adzam Shah I Rahmatullah , penerus Sultan Idris. Gedung megah ini sekarang menjadi simbol kebanggaan besar untuk semua Muslim di negara bagian Perak Darul Ridzuan, Tanah Grace.

(3) Bekas Istana Sultan Perak

Saya lupa namanya apa, tapi bangunan yang pertama kali saya lihat justru adalah bekas istana Sultan Perak. Bangunannya masih sederhana, zaman dulu sekali. Saya tidak masuk ke dalamnya, karena harus mengikuti rombongan dan jalan ke arah masjid.

IMG_6803
Istana Sultan Perak dulu sederhana seperti ini

HOW TO GET THERE ????? PERAK, MALAYSIA

Menurut info yang saya dapat (saya paste di bawah buat yang tertarik ke Perak), ada beberapa moda transportasi untuk mencapai Perak. Kalau saya saat jalan kesana tidak memikirkan hal itu, tahu-tahu sampai, semua sudah diurus penyelenggara. Menurut saya, Perak biasa saja, memang bersejarah, tempat Sultan dulu bermukim. Tapi belum ada sesuatu yang greget pemandangannya. Masih indah Indonesia kemana-mana.

Kalau memang penasaran, lebih baik ke Perak sekalian overland buat ke Thailand, Myanmar, bisa sepanjang kota kamu jelajahi dan temukan sendiri keunikannya. Sayang bila tiket hanya untuk ke Perak saja sekali jalan. Jelajahlah sekaligus beberapa kota atau negara sambil lewat.

By bus

There are numerous intercity buses running to Kuala Kangsar. There are very frequent local bus connections between¬†Ipoh¬†and Kuala Kangsar. From Ipoh’s main local bus station (south of the railway station), just hop on the local bus and pay later.

By car

The main gateway to the town is via the North-South Expressway from Kuala Lumpur to the Thai border. From Kuala Lumpur, head northwards towards Ipoh. Kuala Kangsar is just approximately 30km to the north of Ipoh. The old Federal Route One is an alternative for those who want a leisurely drive to Kuala Kangsar.

By train

Keretapi Tanah Melayu operates daily services from Kuala Lumpur and Penang (Butterworth)