Indonesia, JAVA - Indonesia, Liputan, story, Traveling

Lawang Sewu Tanpa Cerita Seram

Bangunan tua peninggalan zaman dulu, dari era Belanda berabad lalu, sering banget dikait-kaitkan dengan cerita seram. Masih ingat kan sama cerita blog aku soal horor di Benteng Belgica, Terusik Cerita Hantu di Benteng Belgica Banda Neira daerah Pulau Maluku sana kan?

Kamu juga pasti tahu tentang Lawang Sewu di Kota Semarang yang terkenal itu. Pokoknya belum SAH! Datang ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu. Nah.. waktu dulu ke Semarang, tahun 2012 saat liputan ke Demak dan mampir Kota Semarang aku belum sempat masuk ke Lawang Sewu, soalnya lagi trip sendirian. Ndakkk berani sebutlah begitu..

Then.. baru pertengahan Juli 2018 ini, saat media trip aku berkesempatan untuk menyambangi Kota Semarang termasuk di dalam itinerary ada wisata sejarah ke Lawang Sewu. Pucuk dicinta ulan tiba.. akhirnya ke Lawang Sewu juga, tapi jangan berharap cerita blog kali ini ada horornya ya.. ndak ada, karena sekarang Lawang Sewu sudah tanpa cerita seram lagi sejak direnovasi jadi bagus.

foto di bawah pohon yang adem itu
foto di bawah pohon yang adem itu

Lawang Sewu, dahulu merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang mengurus soal perkeretaapian di zaman Pemerintahan Belanda. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Awal bangunannya itu tidak langsung sebesar itu dengan semua gedungnya, tapi bangunan pertama dan kedua adalah sebuah tempat untuk percetakan karcis dan pos keamanan, baru kemudian dibuat ruang kerja pegawai perkeretaapian.

Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein bangunan ini kan dalam bahasa Jawa artinya pintu seribu ya, tapi sebenarnya pintunya tidak seribu percis jumlahnya, malah kurang, ada 928 pintu.

wajib! foto di balik pintu Lawang Sewu
wajib! foto di balik pintu Lawang Sewu

Menurut Aris, pemandu wisata di Lawang Sewu, kalau orang dulu menyebut 928 kedengarannya kurang enak dalam bahasa Jawa, jadi anggap saja 1000 jumlah pintunya.

Agak membosankan tanpa cerita seram? Hmmm.. mungkin iya, tapi kalau datang kamu bisa belajar sesuatu tentunya. Misalnya tentang bagaimana dulu orang Belanda merancang bangunan agar tetap adem. Btw Lawang Sewu itu didesain dengan atap setinggi 5 meter, sebuah kebiasaan untuk orang Belanda katanya kalau buat bangunan atapnya tinggi biar adem. Tahu sendiri kan Semarang itu panas.

Lalu ada sistem basement di bawah sebagai tempat penampungan air, itu juga yang buat ruangan jadi adem. Dulu kan belum ada AC, dan lantai marmer asli dari Italia juga membuat adem.

Lawang Sewu
Hanya dua lantai saja, tapi karena atapnya dibuat tinggi 5 meter, kelihatan bangunannya menjulang.

Ada sebuah pohon besar di tengah bangunan, itu juga yang membuat adem menurutku. Setidaknya, dibawah pohon itu juga jadi bisa foto ala-ala Instagram 😂🙌🏻. Makanya biarlah walau kaki aku terasa pegal karena pakai high heels 7 cm tiada menyesal pun, padu padan fashion aku yang agak salah kostum soalnya ndak santai itu (blouse putih + high waisted jeans) paling tidak membuahkan hasil foto aku yang kelihatan jenjang. Hahaha

Kalau kesini orang-orang biasanya foto di balik pintu si Lawang Sewu. Menurutku tidak ada salahnya mampir lagi dan lagi ke Lawang Sewu, meski sudah tidak ada cerita seramnya yang justru buat penasaran. Ajak teman atau saudara sepupu yang belum pernah melihat ke dalam museumnya, toh harga tiketnya pun hanya Rp 10.000 untuk orang dewasa maupun mahasiswa.

Lawang Sewu Semarang dyahpamelablog
Foto-foto di Lawang Sewu tetap bisa Instagramable
Advertisements