Backpacker, Himalaya, Nepal, story

Rekomendasi Penginapan di Nepal Selama Pendakian ke Himalaya

Mendaki gunung kan biasanya bawa tenda ya, beda cerita kalau kamu ke Nepal, pegunungan Himalaya. Disini kamu bakal nginep di semacam tea house atau guest house milik penduduk lokal.

Kenapa? Soalnya pemerintah Nepal menganut sistem yang memberdayakan orang lokal untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat menginap yang sekaligus menjadi tempat wisatawan berinteraksi, mengenal budaya, dan dengan begitu menjadi sumber ekonomi bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur pendakian Himalaya.

Tidak ada hotel kelas internasional disini. Tapi bukan berarti tidak nyaman. Justru aku menemukan kenyamanan lain dari keramahan warga lokal. Asiknya, rumah penduduk yang juga sekaligus menjadi restoran, memberi kesan yang beda saat aku di Nepal. Saat aku nonton tv bareng mereka aku merasa heran, kok siaran tv mereka film India Bollywood gitu. Ternyata orang Nepal juga bisa sedikit bahasa India lho.

Ada banyak perbincangan sama orang lokal, kita sebagai wisatawan juga jadi bisa langsung tanya-tanya seputar kehidupan disini dan aku jadi tahu kalau anak-anak Nepal ternyata belajar Bahasa Inggris juga sejak SD. Rata-rata porter maupun penduduknya sudah fasih dengan Bahasa Inggris, ya karena disini daerah wisata dengan turis dari seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan jalur pendakian Himalaya.

Oke. Intro-nya cukup panjang ya, langsung saja aku rangkum tea house atau guest house yang jadi tempat menginap aku sepanjang jalur pendakian Everest. Tapi point 1 dan 2 aku tulis dulu rekomendasi hostel di Kathmandu sebelum terbang ke Lukla. FYI kebanyakan turis asal aja pilih guesthouse sekenanya, soalnya tidak tentu juga berhenti di desa mana.

(1) Hotel Himalaya Yoga – Kathmandu (nilai 7,5)

Tahu hotel ini karena lihat review yang bagus di booking.com maupun agoda. Harga per bed itu sekitar U$D 5 dengan kamar tipe asrama atau doormitory. Enaknya kalau menginap disini itu bisa sekalian yoga gratis setiap pagi. Hotel ini juga menerima antar jemput bandara dengan tambahan biaya sekitar 1000 Ruppe Nepal atau setara U$D 10, yang kalau kamu di bandara nyari sendiri taxi bisa nawar sekitar 700 Ruppe Nepal atau setara U$D 7. Lokasi strategis di Thamel, dengan kamar mandi bersih, hot shower juga. Pemiliknya ramah dan staf juga membantu, bahkan kamu bisa nitip barang selama mendaki dan ketika balik ke Kathmandu bisa diambil lagi.

(2) 327 Thamel Hotel (nilai 8)

Kalau suka lingkungan yang hijau dengan taman, tempat bersih dengan toilet dan shower termasuk air hangat, sekaligus budget murah, bolehlah aku rekomendasikan 327 Thamel. Lokasinya juga dekat kemana-mana, kalau mau jalan-jalan ke Thamel. Disini juga ada restoran, jadi kalau malas kemana-mana bisa turun aja dari kamar. Tempat penyimpanan dengan kunci dan fentilasi cukup terang bikin kamu seperti di rumah. Aku merasa seperti lagi di garden house gitu. Tipe kamar doormitory dengan harga sekitar U$D 5 per bed.

(3) Himalayan Lodge (nilai 8)

Lokasinya di Desa Namche, atau dikenak dengan nama Namche Bazar. Disini tepat di ketinggian sekitar 3000 kaki, tempat pendaki beristirahat untuk aklimatisasi membiasakan tubuh di ketinggian dengannoksigen tipis, sebelum menuju jalur Everest.

Tahu tempat ini karena buka Tripadvisor dan review-nya bagus. Kaget juga, kok murah banget nginep disini cuma Rp. 45.000 per malam. Sampai niat untuk booking lewat online supaya bisa dapet tempat.

Ternyata saat sampai sana kamarnya masih banyak tersedia soalnya memang bukan musim pendakian. Lalu harga kamarnya cuma 200 Ruppe Nepal setara U$D 2, murah banget yesss? Walau harga makanan ya beda lagi, kalau mau mandi hot shower bayar U$D 3 lagi, charger baterai bayar U$D 2 lagi, hahaha dan wifi juga bayar lagi. Akhirnya ya dihitung-hitung U$D 10 juga budget-nya.

Yang aku suka disini itu pemiliknya ramah banget. Seperti ibu sendiri, dia yang beberes kamar dan masak buat tamu, dibantu sama seorang anak perempuan dan entah ada suaminya juga atau nggak disitu. Tapi tiap kali minta tolong dan memesan dia ramah banget, ngebantu banget apalagi saat saya butuh komputer buat booking tiket pulang pun dia mau ngedengerin permintaan tolong padahal lagi repot masak pas disamperin di dapur.

(4) Budha Family Lodge

Di gorak Shep, ketinggian sekitar 5000 mdpl, tempat sebelum pendaki menuju Everest Base Camp (EBC) kamu mesti aklimatisasi dulu disini. Aku pun karena sempat mengalami yang namanya AMS atau penyakit ketinggian yang pening pusing luar biasa itu sampai harus nginep 2 hari disini. Harga kamar disini masih U$D 2 dengan makanan yang melambung harganya sekitar U$D 5-7 karena kan makin tinggi. Bahkan apel aja satu buah saja U$D 2,5 alias satunya Rp 30.000 ๐Ÿ˜‚

Lodge ini menurutku masih baru makanya bersih. Terlihat dari teriplek rumah yang kelihatan baru. Jadi kamar mandinya bersih, soalnya pemiliknya ibu perempuan dan suaminya suka bersih-bersih. Jam 8-9 pagi mereka sudah sibuk masak air dan menyapu.

Dibanding lodge yang rumah sebelahnya, aku rekomendasi menginap disini karena lodge sebelah, lantainya aja licin sampai buat aku mau kepeleset saking nggak bersih ngepel-nya. Berhubung pemilik dan penjaganya laki-laki mungkin, aku perhatiin begitu. Tiap kali menginap di lodge yang diurus sama orang lokal yang tidak ada perempuannya, kurang terurus terutama kamar mandinya yang kurang bersih.

(5) Rivendell Lodge

Ini lodge saat bermalam di Debuche. Kenapa rekomended? Soalnya pemandangan dari lodge ini tuh bagus banget. Dari restorannya kamu bisa melihat pemandangan hamparan gunung es. Intinya itu aja, halaman luarnya juga luas langsung menghadap pemandangan yang amazed, kalo kamar standart kebersihannya sama dengan lodge umumnya yang termasuk selimut bedcover.

Cuma memang kamar mandi disini nggak begitu banyak air. Saking dinginnya juga sudah jadi es di suhu minus 5-10. Ketinggian lebih dari 4000 mdpl jangan ditanya ya ๐Ÿ˜‚. Harga semalam masih 200 Ruppe Nepal atau setara U$D 2 dengan makanan dan charger maupun hot shower yang masih harus bayar lagi. Mulai di ketinggian ini kita akan kesulitan listrik. Mereka masih menyimpan listrik dari tenaga matahari juga.

Advertisements
Himalaya, Nepal, story, Traveling

Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Ada sebuah obrolan absurd. Di penghujung perjalanan saya ke Himalaya kemarin. Putus asa (agak lebay padahal gak segitu banget perasaannya), jadwal pulang ketunda karena pesawat kami nggak bisa terbang dengan alasan “cuaca buruk”, menyebabkan saya nginep 2 malam lagi di Lukla.

Habis mandi dan keramas tentunya, melepas penat setelah sedari pagi (pukul 06.30) di bandara, dalam ketidakpastian menunggu flight sekitar 5 jam dan ternyata dikabari gagal terbang (lagi) untuk kedua kalinya, . Kami angkat bagasi. Nenteng lagi 6-13 kg backpack yang supergede itu ๐Ÿ˜‚.

Pasrah, jelas. Saya juga jadi berfikir. Tuhan, kok waktu berangkat mudah, pulangnya agak terhambat, semacam Tuhan lagi bilang “jangan pulang dulu” atau saya dikasih teguran. Menilik dalam lagi, ohya solat saya bolong-bolong., magrib terlewat, biasanya nggak pernah menjamak, lalu jadi menjamak. Selagi ada air seharusnya berwudhu dengan air, tapi karena merasa tak tahan dingin saya ganti tayamum. Apakah saya begitu menggampangkan?

“Haduh, lagi banyak-banyak berdoa nih, biar bisa pulang,” kata Kobo Chan waktu buka pintu.

“Doa? Solat aja enggak..,” kata saya cuek, bodo kalo dianya marah (abis jarang lihat dia solat๐Ÿ˜‚)

“Eh jangan salah, gw solat, tapi sehari 3 kali, dijamak,” balesnya..

Habis itu saya diam dan mikir saya juga gitu, selama 2 pekan ada beberapa solat yang ketinggalan. Apalagi pas saya kena AMS, seketika ketiduran mau pingsan. Lalu Zuhur dan Ashar bablasss.

Banyak yang dipikirin waktu agendanya harus pulang malah stuck di Lukla. Ngapain coba? Akhirnya baca buku ke ruang tengah dekat perapian, terus kalo nggak makan ya di kamar tidur. Di Lukla saya dapet sinyal lumayan kenceng, disaat itulah what’sApp dari kantor, email kerjaan mulai masuk bertubi-tubi. Termasuk omelan-omelan karena cuti saya melebihi yang diijinin.

“Chan, SP 1 tuh prosedurnya gimana sih? Tanya saya sambil selimutan.

“Ya kayak diomongin aja, cuma dipanggil terus dikasih peringatan. Kenapa lo?, Tanya Kobo Chan diujung sana.

“Engga… (Nggak terus ngadu ngomong kalo abis dikasih SP 1),” bales saya..

Lalu entah kenapa saya malah nanya hal lain. Ya dasar orangnya random kan, nggak pernah ngerencanain kalo ngobrol nanyain apa, sama halnya kalo wawancara narsum mengalir aja, tanpa buat daftar pertanyaan.

“Eh gw nanya dong. Menurut lo apa benang merah dari perjalanan ke EBC, ke Himalaya?” Tanya saya (masih dari balik selimut, karena kedinginan, suhunya di Lukla masih sekitar 1 derajat celcius).

“Oh ternyata fisik nggak sekuat dulu ya. Ini lho, sudah kesini.. tabungan nggak habis begitu aja tapi dipakai buat perjalanan kesini,” jawab Kobo Chan

“Sesimpel itu doang nih,? Tanya saya sedikit mendelik.

Yaampun saya inget ini lagi ngobrol ceritanya, tapi nggak saling liat muka. Selimutan di kamar. Sepanjang jalan mau ke kaki Everest dingin brrbbrrr

“Ya tadinya kan mau ke India, budget nyampe kesana, terus ganti mau ke Cina. Eh searching baca tulisan orang jadi tertarik ke Nepal, yaudah.. tadinya city tour aja, eh malah mau sampai ke basecamp Annapurna. Tapi malah jadi ke Everest biar nggak nanggung,” Sambung Kobo Chan lagi.. (yang alesan ini sudah pernah diceritain ke saya sebelumnya).

“Nah lo kenapa Himalaya,” balik nanya dia

“Karena gw suka gunung,” singkat jawab haha.. lagian sudah pernah saya jelasin juga ke dia, masa diulang. (Panjang… bukan sekedar karena suka gunung atau mau naklukin dan ngejadiin ini the best of the best pendakian).

Namun akhirnya saya ngomong gini… meluapkan isi pikiran soal perjalanan ke Himalaya.

“Gw kan lagi baca buku ya, bukunya Jalaludin Rumi. Jadi salah satu nya ada kata-kata di buku. Saya lanjut bilang kurang lebih seperti yang di buku..

Di dunia ini ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Jika kau lupa banyak hal, tapi masih ingat satu hal tersebut, maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Namun jika kau mengerjakan banyak hal, tapi lupa satu hal tersebut, berarti engkau dianggap tidak mengerjakan apapun. Demikian sejatinya manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan tugas tertentu.. dari buku Fihi Ma Fihi – Jalaludin Rumi.

“lah nggak ada yang nyuruh ke Himalaya kok, nggak kesini juga nggak apa-apa,” kata saya.. ๐Ÿ˜‚ serius banget ya

Cuma intinya saat itu jadi inget, saya orang yang penasaran sama Kaki Everest seperti apa lalu nekad pergi.. akhirnya mendapati jawaban dari Allah seperti ini.. saya malah beberapa kali ninggalin solat dan semacam lagi ditegur tapi lewat cara lain. Entah itu tegurannya termasuk pesawat yang delay karena gangguan cuaca.

Tahu dan sadar itu tapinya sampai sekarang rasanya tidak menyesal sudah nekad pernah pergi. Bahkan ngorbanin uang tabungan cukup banyak. Rasanya puas. Paling gak penasaran sudah terjawab.

Mungkin saya terlalu serius. Perjalanan, yang proses bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada hujan, badai, terkena terik matahari, sampai ibaratnya yang terkecil pun dihempasan angin. Traveling itu personal. Tapi alasannya paling tidak mencakup karena kamu suka destinasi itu. Bukan sesimpel alesannya Kobo Chan ke Himalaya, saya agaknya terlalu mendalam.

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

โ€œSakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,โ€ kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. โ€œSayang duitnya, mending buat makan,โ€ kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

โ€œMudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi iniโ€.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. โ€œAlmost there (sudah dekat),โ€… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Hikmah-Hikmah Selepas Perjalanan ke Himalaya

Kali ini saya mau cerita.. tentang perjalanan jiwa saya setelah kepergian ke Himalaya. Kalau sudah baca blog saya ditulisan sebelumnya kamu juga pasti tahu cerita naik gunung yang bukan sekedar traveling biasa, . . Bahkan tiap gunung yang saya jelajahi di perjalanannya ada filosofi tersendiri.

Begitu juga perjalanan ke Everest Base Camp (EBC).. nggak kan kelupa dan ada banyak rasa syukur yang saya dapat ketika dan sepulang dari sana. Dalam hati juga saya janji beberapa hal sama diri sendiri, semuanya membuat saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

(1) Lebih Bersyukur Karena Tinggal di Negara Tropis

Namanya gunung pasti dingin! Indonesia yang negara tropis aja gunungnya juga dingin, ya iya lah di atas ketinggian 2500 mdpl. Angin gunung yang kencang di atas Rinjani padahal baru 3470 mdpl-an itu bukan apa-apa deh, waktu sampai Dingboche di EBC yang mulai 4900 mdpl badan saya mulai goyah. Angin bukan cuma nampar-nampar pipi, leher bahkan kepala badan rasanya bisa terbang ๐Ÿ˜‚โœŒ๐Ÿป.

Sedingin-dinginya Indonesia yang saya rasakan itu ya paling 13 derajat waktu ke Bromo. Tapi di Himalaya? Ibu Kota Kathmandu saja pada musim dingin suhunya paling tidak 5-7 derajat. Lalu masuk ke ketinggian 2500 mdpl mulai 1 derajat. Manusia tropis mana yang tahan? Panas terik tapi dingin dan anginnya nggak nahan. Saya lihat pegawai bank di Lukla pun pakai down jacket saat berkantor.

Percaya sama saya, lebih enak tinggal di negara tropis seperti di Indonesia. Nggak perlu pakai jaket tebal, nggak perlu jadi males solat karena air dingin banget buat wudhu, bahkan karena dingin saya nggak bisa lama-lama banget mau doa mau khusyuk, dingin banget itu nggak enak banget. Mau lama-lama duduk di restoran lodge liat pemandangan dari jendela pun masih kedinginan banget. Yang ada selimutan bed cover di kamar mulu kakak ๐Ÿ˜ญ. Mungkin karena ini desa tidak ada penghangat ruangan modern. Untuk merasa terus hangat saya mesti ke ruang tengah restoran dan duduk di perapian.

Ditengah meringkuk selimutan di kamar terus saya berguman dalam hati. โ€œJanji kalau sampai rumah mau lebih khusyuk solatnya, disini nggak konsen banget kedinginanโ€. Di Jakarta sesekali mungkin kita pernah ngeluh, panas banget. Alhamdulilah sampai di Jakarta rasanya tuh saya benar-benar diberkahi, cinta banget sama cuaca Jakarta yang jadinya kerasa justru hangat, bukan panas lagi โ˜บ๏ธ.

(2) Makin Percaya, Semua Hal Terbaik Sudah Allah yang Mengaturnya, Tenang dan Santai Saja. Jadilah Pasrah dan Lebih Ikhlas Menerima ๐Ÿ™๐Ÿป

Mungkin saya terlalu serius atau mendalami perasaan yang saya dapat dari perjalanan di gunung. Tapi bener lho, ini nyata. Saya merasa apa-apa yang terjadi dalam hidup memang sudah Allah yang atur, bahkan hal sekecil apapun itu.

Saya mengalami sendiri keanehan-keanehan itu. Kadang kita suka merasa kecewa dan gagal akan sesuatu yang tidak sesuai rencana. Padahal di balik itu Tuhan sebenarnya justru menjawab kekecewaan atau kegagalan itu dengan sesuatu yang memang lebih baik untuk terjadi bagi seseorang.

Kadang kita suka menyalahkan diri sendiri. Hanya contoh saja ya, kenapa kamu sulit sekali lulus ujian CPNS? Padahal sudah bekerja keras belajar, jungkir balik atau apalah usaha terbaik. Jangan salah, di balik itu mana pernah tahu bila sebenarnya ada pekerjaan yang lebih cocok buat kamu dan lingkungan yang lebih tepat buat kamu.

Di Himalaya saya mengalami sesuatu yang kesannya sepele saja. Saya kesulitan untuk booking tiket pesawat pulang ke Jakarta. Problem pertama charger saya hilang ketinggalan di Dingboche… mau nangis rasanya karena itu charger asli iPhone, yang kalo beli original mahal. Problemkedua, setelahnya, alhasil handphone saya mati total walau ketemu listrik pun nggak bisa charger baterai. Sangat sering saya mengandalkan ketemu seseorang yang juga pakai hp dengan merek sama. Untungnya saja saya bawa hp satu cadangan yang jadul dan lemot. Problem ketiga, sinyal di pegunungan tidak selalu ada. Walau ada itu berbayar 2-4 Dollar per jam. Lumayan terbilang murah sih sebenarnya.

Singkat cerita hal absurd yang terjadi adalah walau ada hp cadangan tapi 2-3kali saya gagal terus untuk booking tiket pulang. Entah koneksi internet gagal, password salah ketik, atau kartu Jenius saya tidak merespon. Padahal sudah oke sama harga tiket yang kisaran Rp 2,9- Rp 3 juta.

Mencoba lagi untuk booking tiket, kali ke 4 dan 5 di Lukla saat nunggu pesawat pulang. Juga gagal, padahal saya susah payah bisa charger hp sampai cukup penuh. Gagal koneksi atau pembayaran. Bikin capek betul rasanya masalah booking tiket ini. Maunya beli 2 hari atau sehari sebelum pulang supaya lebih murah harganya dan lebih tenang nggak mendadak booking di hari H kepulangan. NAMUN… tahukah? Ternyata saya justru bersyukur, gagal booking tiket. Soalnya saya pun 3 hari gak bisa balik pulang sampai Kathmandu karena pesawat nggak bisa terbang kendala cuaca. Hufff.. bayangkan kalau saya bisa booking?? Hanguskah tiket saya yang lumayan harganya itu..

Di Kathmandu, setelah fix sampai penginapan, barulah saya booking tiket. Ya, walaupun harganya lantas melambung jadi Rp 4,1 juta pantas saja soalnya beli sore malamnya berangkat pulang. Cari tiket setelah 1-2 hari pun sama harganya sekitar Rp 4 juta jauh dari ekspektasi Rp 3-3,5 juta. Rugi dan kemahalan banget intinya untuk pesawat Malindo kelas ekonomi.

Cuma daripada nggak pulang juga kan? Lagi pula Tuhan sangat baik sama saya, tiket tidak hangus karena semesta sudah menggagalkan upaya booking tiket pulang yang akan sia-sia dan merugikan itu. Dipikir lagi nggak begitu rugi juga, kan saya dapet tiket promo naik Malaysia Airlines cuma Rp 2,7 juta saja untuk pesawat ke Kathmandu.

(3) Siapkan Lebih dari 1 Debit ATM Berlogo Visa atau Master Card

Kalau berpergian ke luar negeri, akan aman bawa mata uang Dollar. Tapi risih juga kalau kebanyakan bawa cash khawatir bakal kecopetan atau malah boros. Jangan salah nggak juga kok, asal hitung budget yang betul, lalu lebihkan sekitar 50 Dollar sebagai cadangan di dompet. Soalnya ngambil uang di ATM luar negeri itu lumayan kena biaya ATM sekali tarik 5 Dollar. Hehehehe, sudah begitu ada maksimal ngambilnya berapa puluh ribu uang lokal. Coba aja kalau berkali-kali, tahu-tahu di rekening potongannya banyak sekali.

Selain itu menghindari kejadian tidak terduga, sebaiknya punya lebih dari 1 debit ATM berlogo Master Card atau Visa. Ya jaga-jaga kalau ternyata nggak bisa kartu satunya ada cadangan. Seperti pelajaran buat saya karena masa visa saya habis dan kelebihan masa tinggal kena denda, di imigrasi saya dijegat untuk bayar denda sebesar 34 Dollar. Mau nangis rasanya, soalnya debit ATM berlogo Visa ternyata hanya satu-satunya (si Jenius) yang khusus memang saya buat untuk transaksi pengganti Credit Card (CC) di luar negeri. Hehe saya anti banget punya kartu kredit soalnya.

Sementara debit saya yang lain seperti BCA dan MNC bank itu tidak ada logo Visa maupun Master Card. Hehehe… dimana saya tidak bisa mengambil uang dari sana walau ada uangnya berapa milyar pun ๐Ÿ˜‚. Panik?? Jelas iya, pesawat 1,5 jam lagi berangkat tapi saya ditahan. Untungnya ada m-banking, saya pun minta tolong adik yang punya akun m-banking untuk bisa transfer ke si Jenius yang full uangnya sudah saya belikan tiket.. sudah saya tarik tunai juga di Kathmandu, jadi sisa hanya recehan berapa ratus ribu saja. Ya untungnya masih ada m-banking yang dalam hitungan detik sampai 5 menitan langsung terkirim uangnya. Huff.. besok pastiin lagi debit ATM kamu ada logo Visa ya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Chemistry dengan Turis Cina

Saya suka perjalanan ke Nepal kemarin, rasanya mendobrak keberanian ke level baru. Nggak canggung lagi berbahasa dan ngobrol dengan orang asing, semacam otomatis aja bisa berbaur, walau pernah ada kondisi di suatu ketika males ngobrol atau negur karena sudah merasa kedinginan atau sakit tapi tetap saat mood beberapa pertemuan dan saling sapa terasa akrab.

Dan itu merupakan pertama kalinya, di perjalanan traveling ke luar negeri saya merasa lebih berbaur dengan lingkungan sekitar. Soalnya dulu-dulu ngobrolnya cuma sama partner barengan dari Indonesia. Mungkin ya, karena diawal saya pergi soloing, walau barengan berdua sama teman tapi saya berangkat dua hari lebih cepat jadi ada banyak moment mengharuskan saya mengurus apa-apa sendiri dan itu membutuhkan komunikasi dengan orang yang baru dikenal.

Yang berbeda di perjalanan saya pergi naik gunung dan traveling ke luar kali ini karena saya berdua partner traveling dari Indonesia bener-bener baru kenal. Kami bukan teman dekat banget, kenal pun dari social media, tapi tujuan kami sama, ingin ke EBC Himalaya. Walau kami barengan disana, walau penginapan pun sama, tapi kadang saat trekking dia duluan di depan dan kadang nungguin sambil istirahat. Saya juga kadang di depan dan sembari istirahat memastikan kami nggak terlalu jauh. Dan di jalan kami pun bisa tetap bebas berbaur dengan traveler lain.

Tinggal di doormitory room membuat saya harus bergaul sama traveler lainnya, dari banyak negara berbeda. Hari pertama saya yang minta dijemputan sama pihak hotel langsung ngobrol sama driver orang lokal Nepal. Terus saya dapet teman sekamar 2 orang dari Swiss yang ke Nepal khusus karena mau puas-puasin yoga. Sementara satu lagi, merupakan traveler asal Jepang yang excited banget saat tahu saya orang Indonesia, soalnya dia pernah ke Indonesia untuk belajar dan punya beberapa teman orang Indonesia.

Karena pingin punya beberapa kesan suasana hostel yang berbeda, di hari kedua saya pindah hostel dan ketemu lagi orang-orang baru. Lagi-lagi menginap di doormitory room menjadikan saya harus mengobrol dengan beberapa traveler lainnya dari beda-beda negara.

Ranjang susun sekamar untuk 8-10 orang, tapi karena low season hanya ada 6 orang.. saya ingat itu, ada traveler dari Cina.. namanya Yang Li, katanya dia dari wilayah Xinjiang. Orangnya cukup bawel bahkan nggak bisa diam, walau di kamar gak duduk atau tiduran di kasur aja tapi dia lebih sering nyamperin teman sekamar lainnya, ngajak ngobrol!. Ini nih, salah satunya saya diajakin ngobrol mulu, ditanya mau kemana, sama siapa, terus obrolan berendet ke hal-hal lainnya.

Sebelahnya ada turis dari Thailand yang selimutan mulu di tempat tidur bahkan sambil makan. Kebanyakan karena tempat tidur mereka berdekatan, keduanya bicara hal-hal nggak penting juga seperti beli buah yang murah dimana. Sampe akhirnya saya jadi keikutan beli buah juga, karena bosan sama makanan berempah Nepal.

Selang agak sore, hampir malam datang penghuni baru, orang India. Pertama dia yang negur nanya saya, โ€œnyalah gak air hangatnya,?โ€.. terus speak-speak nggak penting akhirnya, nanya lah โ€œ tinggal di bagian India mana,?.. saya kira dia pergi ke Nepal untuk jalan-jalan, seperti yang lainnya, ternyata dia lagi melakukan perjalanan bisnis.

Saya tahu karena kaget waktu liat dia buka laptop. Soalnya habis itu saya ledekin di depan traveler lain.

โ€œLiat dia, jalan-jalan bawa laptop, hehe,โ€ kata saya sambil ketawa..

โ€œOh gw memang nggak dalam rangka jalan-jalan kok, ini perjalanan bisnis,โ€ balesnya..

Dalam hati saya bilang.. โ€œwhat???? Perjalanan bisnis?? Nggak salah ya kantornya ngasih dia hostel di doormitory room, pelit banget. Cuma 5 Dollar semalam, walau disini guest house-nya juga nyaman banget, bed cover anget, kamar mandi hot shower ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ.

Entah kenapa sama turis India ini saya lebih bisa mudah memahami pengucapan Bahasa Inggrisnya. Dibandingkan dengan turis Cina yang saat bilang T jadi terdengar seperti S. Bilang Thirteen (13) seperti kedengaran Shirty.. apa itu shirty ๐Ÿ˜‚…

Eh ternyata bukan satu orang Cina saja yang pengucapan T terdengar seperti S, di perjalanan menuju Everest Base Camp (EBC) saya juga ketemu dijalan begitu. Ceritanya lagi kecapekan, istirahat di batu sebentar. Saya nanya gini โ€œKamu pergi sendiri atau berberapa orang,โ€.. kata saya penasaran. โ€œOh kami rombongan, 13 orang,โ€ Si turis Cina jawab.. serius pengucapan T untuk thirteen itu kedengeran seperti S.

Selain turis Swiss, Jepang, Cina, Thailand, India, di lodge maupun perjalanan kebanyakan saya ketemu orang Amerika dan Australia. Mereka dominan muka-muka bule ketahuan lah ya. Bisa dibilang setara banyaknya dengan orang Cina. Jelas lah, Cina kan 1 Milyar lebih penduduknya. Dan entah diantara semua turis itu chemistry yang paling saya dapet memang dengan turis Cina.

Di bandara Lukla saat 2 kali gagal berangkat pulang karena cuaca saya juga sempet ngobrol sama turis Cina tapi kali ini cowok. Nggak nanya nama, tapi saat saya bilang dari Indonesia dia langsung semangat, ngomongin Bali dan betapa negara saya ini banyak pulaunya. Di Lukla juga saya ketemu lagi sama turis Cina rombongan 13 orang itu. Dimana sebelumnya kita ketemu mulu, waktu kemaleman sampai Desa Pherice pun saya merasa aman karena barengan sama mereka. Rasanya jodoh aja ketemu terus dan akhirnya say hello lagi. โ€œHey you again!,โ€ Hampir nggak ngenalin soalnya pakai kacamata,โ€ kata saya waktu negur di bandara.

Karena sudah sering ngobrol di jalan saya juga jadi nggak sungkan pinjem charger. Kata saya inilah manfaatnya SKSD (sok kenal sok deket) sama orang asing baru dikenal.. ๐Ÿ˜œ. Hai kamu pembaca blog ku, sekali-kali cobain dong solotraveling atau pergi dengan orang asing baru, ini asik banget, menantang diri keluar dari batas yang tidak biasa dilakukan saat kehidupan normal sehari-hari. Be brave!

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Itinerary Pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Sekedar sharing, untuk kamu yang penasaran dengan itinerary selama 2 pekan pendakian ke Everest Base Camp (EBC) naik dan turun. Ohya, sebaiknya pilih visa 30 hari karena penerbangan menuju dan dari Lukla tidak dapat diketahui kondisi pastinya disebabkan cuaca.

ITINERARY EVEREST BASE CAMP (EBC)Disesuaikan Visa: maksimal permit 30 hari $USD 40 : sekitar Rp 540 ribu.

Day to Day Itinerary

Day 1 : Sabtu, 10 Februari 2018

Departure /Arrival in Kathmandu-flight to kath 04.35 – 11.40-Mengurus VOA di Bandara. Day 2 : Minggu, 11 Februari 2018

Flight from Kathmandu to Lukla, penerbangan pagi,-pilihannya dua planning bisa didiskusikan lagi. Jika tiba pagi langsung trekking dan saran saya hari itu targetnya Desa Monjo agar perjalanan selanjutnya tidak terlalu berat. Melewati desa Phakding (2652m): durasi sekitar 3-4 jam, istirahat makan. Akan tiba sebelum jam5 sore atau jangan sampai hari gelap sebisa mungkin sudah ketemu tea house atau lodge di Monjo.

Day 3 : Senin, 12 Februari 2018

Trekking from Monjo to Namche Bazaar (3440m): durasi 4-5 JamIni trekking 5 jam sebenernya terbilang standart santai banget. Bisa dikondisikan lagi.

Day 4 : Selasa, 13 Februari 2018

At Namche Village : Acclimatization and Rest Day (istirahat) Bazzar di Namche ada tiap Sabtu. Di Namche bisa nonton film sherpa, jalan- jalan keliling desa, ke museum dll.Day 5 : Rabu, 14 Februari 2018

Trekkingfrom Namche to Tengboche (3800m): 5 jam Rencana awalnya begitu, tapi karena masih siang, kami meneruskan ke Debuche, tiba sekitar pukul 3 sore dan menginap disana.

Day 6 : Kamis, 15 Februari 2018

Trekking from Debuche Village to Dingboche (4360m): 6-7 JamPemandangan jembatan, sungai, dan vegetasi datar.

Day 7 : Jumat, 16 Februari 2018

Trekking from Dingboche to Tabuche (4600m): 3-4 Hours.. istirahat bisa lanjut trekking dari Tabuche to Lobuche (4940m) sekitar 2-4 jam (lihat kondisi) mulai rentan terkena AMS karena angin kencang.Day 8 : Sabtu, 17 Februari 2018

Trekking from Lobuche to Gorakshep (5150m) jaraknya cukup dekat sepertinya tapi matahari terik dan angin serta penyakit ketinggian bisa memengaruhi fisik.

Day 9 : Minggu, 18 Februari 2018

Trekking from Gorakshep to Everest Base Camp (5364m), back to Gorakshep: 7-8 jam Kalapatthar (5545m)karena kecapekan menginap semalam lagi di Gorak Shep.

Day 10 : Senin, 19 Februari 2018

Gorak Shep to Pheriche (4280m): 7-8 Jam btw biasanya trekking turun lebih kerasa cepet kan… tapi nggak juga. Trekking from Pheriche (3440m): sampai jm6 sore.

Day 11 : Selasa, 20 Februari 2018

Trekking from Pherice to Namche: 8 Jam jauh terasa, walau turun.Day 12 : Rabu, 21 Februari 2018

Namche to Lukla hampir 12 jam trekking, yang seharusnya dicicil Lukla to Phakding, kami pun sampai jm8 malam. Karena harus mengejar pesawat.

Day 14 : Kamis, 22 Februari 2018

Lukla to Kathmandu pesawat pagi, tapi penerbangan cancle 3 kali hehehe cuaca buruk.Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 15 : Jum’at, 23 Februari 2018

Extra day (untuk antisipasi kondisi penerbangan)

Day 16 : Sabtu, 24 Februari 2018

Jalan-jalan terakhir di Thamel dan pulang dari Kathmandu jam 9 malam.Day 17 : Minggu, 25 Februari 2018Transit KL dan departure to CGK, Indonesia โœˆ๏ธโœˆ๏ธโœˆ๏ธSumber Wikipedia : From Lukla, climbers trek upward to the Sherpa capital of Namche Bazaar, 3,440 metres (11,290ย ft), following the valley of the Dudh Kosiriver. It takes about two days to reach the village, which is a central hub of the area. Typically at this point, climbers allow a day of rest for acclimatization. They then trek another two days to Dingboche, 4,260 metres (13,980ย ft) before resting for another day for further acclimatization. Another two days takes them to Everest Base Camp via Gorakshep, the flat field below Kala Patthar, 5,545 metres (18,192ย ft) and Mt. Pumori.On 25 April 2015 an earthquake measuring 7.8Mw struck Nepal and triggered an avalanche on Pumori that swept through the South Base Camp.[6] At least 19 people were said to have been killed as a result. Just over two weeks later, on May 12, a second quake struck measuring 7.3 on the moment magnitude scale. [7] Some of the trails leading to Everest Base Camp were damaged by these earthquakes.

Di bawah ada capture itinerary awalnya, sekaligus dengan rincian biaya yang bisa di print. Tapi fix kondisi lapangan itinerary di atas merupakan rangkaian kejadian aslinya.

Himalaya, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Yak, Si Satwa Fotogenic Pegunungan Himalaya

Yak, nama yang terdengar asing untuk sebutan hewan. Namun kalau kamu pernah ke wilayah Tibet atau Asia Selatan seperti di Nepal, tempat pegunungan Himalaya berada maka nama ini akan jadi akrab.

Apa sih hewan yak itu? Tentu saja supaya kenal kamu harus ketemu dulu atau searching namanya di Google. Saya pun baru mengenal hewan ini ketika trekking ke Himalaya. Suka memotret mereka, soalnya di Indonesia nggak ada ๐Ÿ˜‚โœŒ๐Ÿป. Menurut saya fotogenic aja, pas lewat jembatan bikin siapa pun memilih minggir atau nunggu biar lewat duluan.

Menurut Wikipedia, yak dalam Bahasa Latin (Bos grunniens) adalah sejenis sapi yang banyak ditemukan di Tibet dan wilayah sekitar Himalaya di Asia Tengah. Kata yak merujuk kepada spesies jantan sedangkan seekor betina disebut dri atau nak.

Yak yang liar mempunyai tinggi sekitar dua meter di pundaknya, sedangkan yang diternak biasanya hanya setengah ketinggian tersebut. Kedua jenis tersebut sama-sama mempunyai bulu yang panjang untuk melindungi mereka dari kedinginan.

Yak liar umumnya berwarna hitam dan cokelat. Yak yang diternakkan juga ada yang berwarna putih. Yak banyak dimanfaatkan untuk susu dan dagingnya. Susunya sendiri berwarna merah jambu. Selain itu, mereka juga digunakan untuk mengangkut barang melewati medan-medan yang berat seperti pegunungan.

Katanya sih banyak hewan yak yang dibunuh sebagai makanan oleh orang-orang Tibet sehingga kini mereka termasuk spesies yang terancam punah. Btw, karen penasaran sama menu steak yak saya juga nyobain waktu aklimatisasi di Desa Namche, walau katanya mending jangan makan daging deh kalo sudah di ketinggian 3400 mdpl-an, daging nggak dijamin segar dan belum tentu tiap lodge punya kulkas.

Tapi agak nyesel juga makan steak yak, soalnya pas trekking dari Dingboche dan menuju Gorak Shep melihat dengan mata kepala sendiri kalo si yak makan kotoran nya yang sudah kering ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™ˆ. Memang di Pegunungan Himalaya ketinggian di atas 4900 mdpl-an ya sudah jarang pohon, paling rumput-rumput kecoklatan, vegetasinya beberapa tempat sudah mulai gersang, dan udara dingin sekali. Bbrrrr

Si yak ini jalannya lebih cepet lho daripada manusia, kelihatannya aja pelan. Tiap kali ada suara lonceng kriling kriling, si Yak berarti ada dekat. Yak ini biasanya juga memang dikasih kalung lonceng seperti juga kuda yang dijadikan alat transportasi mengantar barang.

Yang saya ingat tentang yak, juga jejak kotorannya. Pasti dimana-mana, di jalanan sepanjang mendaki. Kebayang gimana baunya? Kecium? ๐Ÿ˜‚ ampun, kalo lagi meleng mata saya keinjek kadang kotorannya.

Sampai sepatu ikut bau kotoran yak, supaya nggak bau biasanya ketemu sungai ada airnya saya cemplungin bagian alas sepatu dan kalau terpaksa pakai tisu basah, soalnya sepatu kan dipakai di dalam lodge. Ditaruh di lantai kamar dan dipakai juga saat lagi diperapian bareng orang-orang, jadi kalau kecium bau nggak enak saya malu juga.

Kadang gemes dan merasa si yak berjasa banget. Yak yang tangguh, naik turun di cuaca dan kondisi pegunungan yang berganti musimnya dengan beban berat dipundaknya. Kalau gak terganggu seperti kuda, kadang saya usap bagian kepalanya kalau lagi papasan. Ciptaan Tuhan yang… harus dikasihi ๐Ÿ™๐Ÿป

Bulu yak lumayan tebal mirip kuda dan agak kasar. Saya tahu karena pernah memegang. Dan tahu gak sih, bulu mereka juga dijadikan wool dan jadi selimut. Saya pun membelinya sebagai oleh-oleh untuk jadi kenang-kenangan. Jadi kalau kangen sama yak, pakai aja selimut dari wool yak itu.