Liputan · MALUKU - Indonesia · story · The Journey · Traveling

Nailaka dan Sunset di Balik Gunung Api

Air dekat pohon ini bakal pasang atau surut

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.

Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan.

(Jalaluddin Rumi, Matsnawi)

Semua akan berakhir dengan kekaguman. Ketika memandang cinta ilahi lebih dekat dari apa-apa yang diciptakan-Nya.

Apa yang saya lihat dari kesetiaan seekor kucing kepada tuannya? Ada kasih sayang Ilahi di dalamnya. Tak bosan-bosannya merayu, sang kucing mengelus kepala pada kaki tuannya, seperti seorang hamba yang menginginkan sesuatu pada Tuhan penciptanya, bangun di sepertiga malam lalu berdoa meminta tak henti-hentinya sebagai bentuk Istiqomah.

Nailaka

Begitu juga satu daratan ini, Nailaka di antara 10 pulau lain di Banda Naira. Laut berhempas membentuk pasir halus. Pantainya pun tak bosan pasang surut karena waktu dengan izin Tuhan menuntunnya pada pola sama, menanti siapa saja yang datang, untuk mengagumi ciptaan indah garis pantai baru.

Nailaka, pulau tak berpenghuni. Bahkan untuk snorkling saja ikannya tak tertarik bersandar pada terumbu karang yang hanya sedikit. Berbeda sekali dengan pulau Hatta yang bisa lebih leluasa memandangi dalam lautnya.

Berenang berenang kecil, menikmati pasir, hingga menyusuri bagian pulau yang sedang pasang, hanya itu yang bisa dilakukan di pulau ini. Panasnya janganlah lagi bertanya, untuk ukuran Timur Indonesia sebentar pun akan membuat kulit belang. Tapi sunyi jadi teman yang setia disini, dengarkan saja nyanyian angin pantai riuh riuh .. mereka bertasbih, dengan caranya.

Sunset di balik gunung api

Semakin sore, air laut semakin pasang. Speedboat pun lalu membawa kami kembali ke Pulau Naira sambil melewati bagian belakang Gunung Api Banda. Ditengah harmoni buih air laut yang menghempas itu, kilat langit berubah senja menjadi penutup sore yang megah.

Dari balik Gunung Api Banda, matahari gagah menampilkan pesonanya. Kuning emas berpadu awan sebagai background permulaan malam.

Tak hanya matahari terbenam saja, kart karts yang cukup unik bisa kita temui di balik Gunung Api Banda ini. Dengan pola indah serpihan bahasa Sang Pencipta. Dia yang menggoreskan pena keindahan taman surgawi di dunia, laut biru dalam yang terlihat karang di dalamnya.

Garis-garis halus karts dan bekas limpahan meletus gunung api di tahun 1988. Sayangnya tak ada waktu untuk menaikinya. Tanda-tanda kebesaran-Mu makin membuat diri ini bersyukur telah dilahirkan dengan Rahmat bisa mencicipi surga kecil ini. Terima kasih, pergantian demi pergantian waktu akan terus ku ingat betapa banyak nikmat yang Kau beri :D.

Karts unik di balik Gunung Api
Advertisements

6 thoughts on “Nailaka dan Sunset di Balik Gunung Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s