Liputan · MALUKU - Indonesia · story · The Journey · Traveling

Banda Naira – Jejak Sejarah di Pulau Pengasingan

Panas terik hampir 39 derajat, Indonesia bagian Timur. Di Pelabuhan Tulehu, Kota Ambon terasa makin panas saja seolah terik ikut memantul di riak-riak air pinggir dermaga tempat beberapa kapal besar berlabuh.

Antrian tak karuan di loket tiket kapal Express Bahari yang hanya ada seminggu 2 kali menuju Banda Naira itu pun terlihat sibuk. Turis asing perempuan berambut pirang agak tua ada diantrian depan, dengan berlembar uang ratusan ribu ditangannya.

Semua orang seperti ingin bergegas naik kapal, melepas lelah karena semalaman tak kedapatan tidur di pesawat. Perjalanan 6 jam di atas kapal cepat ini bisa jadi kesempatan meringkuk karena sepanjang itu dimana-mana hanya akan ada genangan air, seperti laut tanpa berujung.

Perbedaan waktu 2 jam dengan Jakarta membuat penerbangan dini hari jadi incaran. Agar sesampainya di Kota Ambon bisa pagi betul di Pelabuhan Tulehu ini. Tepat beberapa jam sebelum kapal cepat berangkat, pukul 09.00 pagi.

jalan-di-banda-naira
suasana di Banda Naira dengan jejak peninggalan sejarahnya

Setelah Agustus lalu berkesempatan liputan ke Bangka, pulau Pengasingan Bung Karno. Tak menyangka akhir November 2016 kemarin saya melengkapinya dengan mengunjungi Banda Naira, pulau pengasingan Bung Hatta.

Dan, Banda Naira bukan cuma tempat pengasingan Bung Hatta saja, ada tokoh-tokoh era sebelum kemerdekaan lain seperti Sjahrir dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang ikut diasingkan di pulau ini. Sehingga Banda Naira tak sekedar punya jejak sejarah mendalam karena pernah menjadi pusat dagang  VOC. Banda Naira bisa dibilang pulau pengasingan bagi saya pribadi.

Saya tidak menyangka kalau perjalanan akan semenarik ini. Melewati jalan-jalan dan rumah warga rasanya seperti ditarik mundur ke masa lampau. Tak jauh dari Pelabuhan Banda Naira di depan saya terlihat masjid Hatta-Sjahrir, di sebelah kanan juga berdiri Sekolah Tinggi Perikanan Hatta – Sjahrir dan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Hatta – Sjahrir. Jangan membayangkan universitas yang besar, di daerah seperti ini sekolah tinggi atau setara Universitas itu bangunannya tak semegah kampus di Jakarta.

rumah-budaya-banda-naira
rumah budaya, tapi berhubung agenda saya meliput masih padat saya tak masuk ke dalamnya. In frame : Dwina dari Koran Republika.

Lalu mengikuti jalan besar ada rumah budaya Banda Naira semakin lurus ke sana masih berdekatan ada Rumah Pengasingan Sjahrir, dan House of Captain Christopher Cole dari British Marines. Deretan rumah peninggalan dengan jejak sejarahnya ini masih dirawat dan dijaga bagus.

Pulau Naira yang disebut Banda Naira ini bisa dikatakan pulau utama dari 11 pulau yang ada di kawasan kepulauan Banda Naira ini. Satu lagi pulau yang cukup banyak penduduknya, Banda Besar harus digapai dengan perahu motor sekitar 20-30 menit.

Adapun mengelilingi daratan Pulau Banda Naira hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau menyewa motor. Berjalan kaki pun hanya sekitar 4 kilometer jalan memutar, melewati Benteng Belgica, kemudian mengarah memutar bisa ditemui Istana Mini, Rumah Gubernur Belanda yang sempat tinggal saat masih menjajah dan menjadikan Banda Naira pusat kekuasaan, Rumah Pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo beserta keluarganya, dan terakhir Rumah Pengasingan Bung Hatta.

rumah-pengasingan-bung-sjahrir
Rumah Pengasingan Sjahrir

Sayang rasanya jika tak singgah atau masuk ke dalam melihat-lihat. Namun untuk bisa masuk, silahkan bertanya penduduk setempat. Tiap rumah ada penjaga yang merawat dan memegang kunci rumah.

Rasa penasaran saya akan pulau tempat Belanda melabuhkan kapal dan mencari rempah-rempah diawali dari Istana Mini, karena ketika pergi kesana sedang berlangsung juga acara Festival Dongeng Maluku 2016. Berada disebelah kiri dari Istana Mini, masuk melalui pagar kayu tinggi kamu pun bisa menemui rumah Deputy Gubernur VOC. Di halaman rumah patung gubernur Belanda yang diceritakan paling kejam di masanya (Abad ke-16) ada disini.

Tak mengherankan jika ditemukan banyak bangunan usang bekas pemerintahan Kerajaan Belanda. Tapi pulau ini dulunya merupakan jajahan rebutan bagi Spanyol, Inggris, bahkan ada satu pulau (Pulau Rhun) yang katanya ditukar dengan Kota Manhattan di Amerika sana. Cuma karena berebut Pala seriusssss, Pulau Rhun dianggap lebih berharga dibanding Kota Manhattan.

img_20161127_095647
Gubernur VOC paling kejam yang dibuat patung besinya

Banda Neira pernah menjadi pusat perdagangan pala dan fuli pala (bunga pala) di dunia, karena Kepulauan Banda adalah satu-satunya sumber rempah-rempah yang bernilai tinggi hingga pertengahan abad ke-19. Namun menurut salah satu teman yang asli dari Pulau Banda, harga pala saat ini sedang turun.

Kota modernnya didirikan oleh anggota VOC, yang membantai penduduk Banda untuk mendapatkan pala pada tahun 1621 dan membawa yang tersisa ke Batavia (kini Jakarta) untuk dijadikan budak.

Mungkin karena jejak sejarah yang begitu terukir berabad-abad di pulau ini. Turis-turis yang datang pun kebanyakan orang asing. Mereka datang dari Eropa, bahkan perawakannya terlihat seperti kompeni jaman penjajahan. Bayangkan, Belanda itu menjajah Indonesia 3,5 abad atau terhitung 350 tahun atau sepanjang 7 generasi. Ingin nostalgia ke negara jajahan bisa jadi?

rumah-pengasingan-dr-tjipto
Rumah Pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo

Banda Naira tetap menarik bagi turis walau untuk menggapainya harus menempuh perjalanan udara dan laut yang tak bisa dibilang singkat. Memang dengan kurs mata uang Dollar arau Euro harga tiket pesawat maupun kapal cepat terbilang masih sangat murah.

Dan nampaknya untuk jenis kapal cepat Express Bahari yang lengkap dengan AC, bagi turis asing ini masih terbilang nyaman. Banda Naira maupun Kota Ambon juga tak seramai ibu kota Jakarta, kemacetan meski lengkap bersama bangunan-bangunan megah.

Kamu yang ingin ke Banda Naira, menurut saya tak ada ruginya. Disini begitu lengkap ada wisata sejarah, bisa jelajah ke gunung api, berkunjung ke Benteng peninggalan Belanda, serta wisata pantai, harus banget diving disini. Siapkan aja dana sekitar Rp. 8- 10 juta kalau mau sekalian diving. Saya nanti buat rekomendasi hotel yang sekaligus tempat diving dan buat license sekaligus 5 hari. Yuk,… cari tiket ke Ambon, di tulisan selanjutnya saya juga akan share informasi seputar transportasi ke Banda Naira. 🙂

rumah-pengasingan-bung-hatta
Rumah Pengasingan Bung Hatta, tentang rumah pengasingan ini akan ditulis pada bagian terpisah (khusus).

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Banda Naira – Jejak Sejarah di Pulau Pengasingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s