Backpacker, Indonesia, JAVA - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Weekend Getaway – Petik Strawberry di Ciwidey Bandung

Long weekend bisa disebut begitu karena ada tanggalan merah di hari Jum’at pekan lalu. Tapi ini perginya Sabtu Minggu, jadinya sebutlah tetap weekend getaway. Niatnya mau kemping ceria ke Rancaupas, Bandung.

Tapi cerita ini bukan tentang kempingnya. Tanpa buat itinerary, saat mau balik ke Pasteur secara spontan mampirlah kami ke kebun strawberry. Tadinya mau makan duren, FYI ada duren juga di sepanjang jalur ke arah Ciwidey itu. Kebayangnya gimana metik strawberry? eh ternyata lucu seru juga. Bisa langsung metik strawberry dan makan buahnya. Masih fresh dan bisa milih sendiri yang sudah merah matang dan rasanya manis atau agak kecut asam karena belum begitu matang.

Petik strawberry dimana? Sepanjang jalan menuju Rancaupas Ciwidey itu ada banyak, jadi tinggal pilih aja mau berhenti dimana. Nah kamu juga jangan khawatir strawberry ini bukan buah musiman, sepanjang tahun ada dan dia panen 2 bulan sekali. Menurut bapak petaninya tanaman strawberry disirami air 2 hari sekali.

Begitu parkir motor, langsung disamperin bapak-bapak yang penunggu kebunnya. Tanya dong berapa harga untuk petik strawberry. Lumayan, Rp 80.000 per kilogram, tidak dihitung per orang tapi per kilogram yang dipetik ya. Kita lalu tawar-menawar dan karena merasa mahal, bukan apa soalnya di jalanan ditulisnya harga strawberry Rp 5.000 (yang kecil). Akhirnya si bapak rekomendasi untuk pergi ke kebun sebelah, boleh dapet Rp 60.000 per kilogramnya.

Cusss.. karena sudah ditawarin yang lebih murah kita mau. Ternyata jarak kebunnya tidak begitu jauh. Begitu sampai dikasih keranjang dan gunting untuk metik strawberry-nya. Sekeranjang itu katanya akan pas timbangan 1 kilogram. Terus kita juga dikasih topi petani gitu yang di cat warna warni gambar strawberry. Jadi serasa lagi bertani strawberry.

Panas banget mataharinya terik, jadi si topi ini memang mesti dipakai. Terus keliling-keliling deh, milih strawberry yang kira-kira matang dan mau dipetik. Langsung makan juga bisa haha, kalo aku kebanyakan petik langsung makan.

Advertisements
culinary, Food, Indonesia, JAVA - Indonesia, Kuliner, Liputan, story, The Journey, Traveling

Sehari Kulineran Legendaris di Kota Semarang

Cerita business trip singkat yang cuma sehari semalam di Kota Semarang masih berlanjut guys! Kalau kemarin aku sudah posting tentang bangunan penuh sejarah Lawang Sewu, selanjutnya tidak boleh ketinggalan kalau ke Kota Lumpia adalah jelajah kuliner legendarisnya yang terpengaruh era kolonial Belanda dengan percampuran budaya Jawa dan Cina juga.

Tapi tunggu dulu, masih ada yang bingung kah sama istilah legendaris? Menurut pakar kuliner William Wongso, kuliner bisa dikatakan legendaris bila sudah masuk generasi ke-3, artinya sampai cucu ya diturunkan dan usia kulinernya sekitar 150 tahun. Namun, 5 tempat kuliner ini tetap bisa disebut legendaris kok, rata-rata dimulai sekitar tahun 1920-an hingga tahun 1987-an dan dari awal tempat makan berdiri sampai sekarang rasanya masih sama. Yuk langsung disimak apa aja 🙂

Soto Semarang yang bening, kuahnya kaldu banget

(1) Nasi Pindang Gajah Mada

Begitu sampai Bandara Ahmad Yani Semarang yang baru, aku langsung dijemput tim Public Relation (PR) Ciputra dan tak lama elf kami menuju tempat kuliner legendaris pertama yaitu Nasi Pindang Gajah Mada. Langsung saja terbayang piring dengan alas daun dan nasi yang disiram kuah pindang dari kaldu sapi panas. Slurrpp, rasanya nggak ketulungan ngilernya.

Sampai aku menuliskannya di blog, masih terasa enaknya kuah pindang sapi yang memakai nasi dengan porsinya memang sedikit. Kata Pak Masyudi, pemilik Nasi Pindang Gajah Mada, dulu priyayi di Kesultanan Yogyakarta dan Solo itu kalau disuguhkan makanan ya porsinya kecil segini.

Rasa Nasi Pindang Gajah Mada tidak berubah sejak tahun 1987. Semuanya berkat racikan bumbu menggunakan bawang lanang tunggal yang punya ciri khas aroma berbeda dan ada khasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain menu andalan Nasi Pindang, sejak tahun 1990-an Pak Masyudi ikut memberikan pilihan menu Soto Semarang, yang cocok rasanya untuk Anda yang suka dengan kuah bening.

Nah, aku juga mencicip Soto Semarang yang bening ini, sesuai selera aku banget memakai tauge yang kecil dan berbagai pelengkap seperti daun seledri. Karena porsinya kecil, setelah nyobain nasi pindang sah sah aja tuh kalau mau nambah seporsi Soto Semarang. Nggak kan bersalah sama perut.

Nasi Pindang Gajah Mada

Alamat : Jl Gajah Mada no 98 B, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 17.000

Jam Buka : 06.00 – 22.00

Bayangkan kepala Ikan Manyung sebesar ini, apalagi badannya?

(2) Warung Kepala Manyung Bu Fat

Kemudian, jelajah kuliner berlanjut agak jauh dari pusat kota yang butuh sekitar 30 menit berkendara. Ada Warung Kepala Manyung Bu Fat yang begitu terkenal dan sangat khas kota Semarang. Kepala Manyung yang berukuran besar itu sebelumnya diasap diberi bumbu pedas khas Bu Fat. Di warung makan ini, ikan manyung didapat dari perairan Jepara, Cirebon, hingga Banyuwangi.

Selain ikan manyung yang khas dan harus dicoba ketika datang, temukan juga macam hidangan lain sebagai pelengkap mulai dari sayur, goreng-gorengan, botok, hingga lalapan. Aku rekomendasi kamu untuk pesan kepala manyung buat makan sharing, hehe. Karena pedesss banget bumbunya ambil nasinya juga mesti banyak hehehe. Cocok buat makan siang, yang agak berat ya.

Warung Manyung Bu Fat

Alamat :

Cabang 1 Jl Sukun Raya No 36, Srondol Wetan, Banyumanik

Cabang 2 Jl Ariloka, Kerobokan Semarang Barat

Harga Per Porsi : Rp 75.000 – 150.000

Jam Buka : 07.00 – 19.00

Pisang plenet yang di Jalan Pemuda

(3) Pisang Plenet

Mendekati sore hari aku diajak tim public relation Ciputra mampir untuk menikmati dessert. Pisang Plenet yang sudah terkenal di Semarang sejak tahun 1960-an tentu cocok jadi makanan kudapan sore. Pisang plenet dibuat dari pisang kepok yang dibakar lalu dipipihkan dan diberi topping aneka rasa.

Sang penjual, Pak Tri telah berjualan pisang plenet dengan gerobak di jalan Pemuda sejak awal. Semula, pisang plenet hanya menggunakan topping nanas, mentega, dan gula putih halus. Namun seiring waktu ada banyak rasa ditambahkan seperti menggunakan keju dan meses cokelat.

Pisang Plenet

Alamat :  Jl. Pemuda, Semarang

Harga Per Porsi : Rp 8.000

Jam Buka : 10.00 – 22.00

Asem-asem Koh Liem yang seger dan melegenda itu

(4) Asem-Asem Koh Liem

Perut sudah bener-bener kenyang hehe. Sehari rasanya memang nggak cukup buat nyobain semua kuliner legendaris di Semarang. Makanya kapan nanti aku niat banget untuk balik lagi ke Semarang buat liburan. Nah, untuk makan malamnya, aku menyambangi juga warung yang juga legendaris di Semarang yaitu Asem-Asem Koh Liem.

Spesial menu asem-asem disini menggunakan daging dan urat. Dalam semangkuk asem-asem, rasa asem berasal dari tomat, belimbing wuluh, dengan pedas dari cabe merah rawit dan kecap merek Mirama khas produksi Semarang, menjadikan menu asem-asem disini makanan khas yang Semarang banget. Menu di tempat ini berisi berbagai sajian dengan pencampuran Jawa Tiongkok, selain pesan semangkuk asem-asem coba juga telur goreng sum sum yang begitu gurih dan enak.

Asem-Asem Koh Liem

Alamat : Jl. Karang Anyar No. 28 Semarang

Harga Per Porsi : Rp 33.000

Jam Buka : 07.00 – 17.00

Ini es krim jadul di Toko Oen yang aku cobain

(5) Toko Oen

Terakhir, jika ke Semarang jangan lewatkan untuk menyambangi Toko Oen. Kalau memang sudah nggak kuat makan maka kesini ya untuk beli oleh-oleh seperti lumpia. Sudah turun-menurun tempat ini mempertahankan cita rasa makanannya, bahkan interiornya masih bergaya Belanda. Menjadi saksi sejarah penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.

Ada banyak jenis roti jadul seperti roti gandjel rel, tapi katanya juga disini yang enak roti telurnya. Aku bawa pulang ke Jakarta dengan harga rata-rata satuannya Rp 6.500. Rasanya nggak ada roti dengan rasa klasik ini ada di Jakarta.

Toko Oen

Alamat : Jl. Pemuda No.52, Bangunharjo, Semarang Tengah

Harga Per Porsi : Mulai dari Rp 6.500 untuk bakery dan pastry

Jam Buka : 09.30 – 21.30

Kulineran yang aku sambangi ini belum ada apa-apanya lho, tapi lumayan lah sudah mewakili rasa legendaris Kota Semarang. Menurut Irzal, dari Kompas.com, teman media yang seperjalanan diundang sama Ciputra, masih ada Es Krim Cong Lik yang jadul dan mesti dicoba juga. Nah, makin kepingin balik lagi rasanya..

Bersama teman-teman media dari Jakarta dan media lokal di Semarang, serta tim public relation Ciputra
LIFE, story, The Journey

Bila Allah Mau, Semua Terjadi dengan Mudahnya

Apa yang memang ditakdirkan jadi milik kamu maka itu akan jadi milik mu.. Dengan mudahnya, bahkan tanpa berusaha akan Allah datangkan buat mu..

Sebaliknya jika memang rejeki itu bukan milik kamu, seberapa keras pun berusaha, tak akan jadi milik mu juga.

Begitu juga untuk hal yang belum waktunya, tidak akan bisa dipercepat walau kamu menginginkannya. Seberapa kerasanya usaha mu.. mempercepatnya

Dan sesuatu yang memang sudah waktunya tak bisa ditunda. Tak bisa diperlambat terjadi buat mu.. walau kamu menolaknya..

FYI berkali-kali saya merasakan hal demikian. Yang baru-baru ini soal pekerjaan. Rasanya ajaib aja, saya nggak pernah nyari pekerjaan ini tapi itu dateng sendiri, Allah yang ngedatengin. Lewat perantara teman.

“Mel, minta nomor telpon ya. Ada kerjaan nih, nulisin blog, tapi soal kuliner,” tulis xxx by DM Instagram

Inget banget waktu itu saya lagi dalam masa puasa main IG. Seminggu lamanya delete aplikasi IG. Temen saya DM pas akhir puasa IG. Oh berarti masih rejeki ya, pesan DM nya juga baru beberapa menit yang lalu. Nggak telat.

Sekitar 1 minggu terus saya dihubungi dan interview. Nggak ada ekspektasi apa-apa dari yang saya lakuin. Pokoknya saat kesempatan datang jalanin aja. Nggak persiapan yang berat untuk interview, bahkan baju yang saya pakai untuk wawancara ya cuma pakaian biasa aja. Usahanya cuma dateng nggak telat. Walau akhirnya telat 15 menit karena nunggu kereta.

Dateng ke kantor saya diminta nulis berkas CV, padahal saya sudah bawa CV yang sudah di print rapih dengan embel-embel tambahan seperti menang fellowship peliputan, menang lomba nulis ini itu yang saya juga sering lupa detailnya. Juga nulis info tambahan seperti pernah beberapa kali ditugaskan liputan ke luar negeri 😂, hehehe siapa tahu berpengaruh sebagai prestasi.

Setelah sesi wawancara sama HRD, saya langsung diminta ketemu user alias orang yang bakal pakai jasa saya sebagai penulis lepas. Katanya mbak HRD, “biar kamu nggak bolak balik, jadi sekalian aja”. Mungkin karena rekomendasi ya jadi nggak pakai lama. Saya diantarlah ke kantor satunya, sekitar 600 meter jauhnya dari gedung utama.

Kok deg-deg an ya? Agak gimana. Langsung ketemu user lho. Nggak lama sampai, nunggu di luar, saya diajak masuk ke sebuah ruangan mirip dapur gitu. Sebelumnya saya ngelewatin satu ruang kerja besar yang open space dengan dinding ada figura tulisan-tulisan motivasi, dan di sudut juga ada mesin fotokopi. Di ruangan wawancara, saya lihat ada kulkas dan meja kursi, banyak makanan gitu lagi di packing, tempat ini pokoknya mirip pantry modern tapi nggak ada kompor.

Terus mulai ditanya-tanya deh. Pewawancaranya ada 3 orang. Kelihatannya dari awal kantor ini kasual sekali dan orang yang bekerja disini suka bercanda. Itu kesan awal saya, jadi ketegangan melumat. Saya jadi santai, setelah sebelumnya tegang lalu duduk sambil merhatiin sekeliling.

Pewawancara 1, kelihatannya orangnya friendly, suaranya lucu kayak lagi ngajakin becanda, nggak bikin saya takut. Lupa apa yang ditanya. Sebagian besar hanya nanya bisa dateng setiap hari apa dan gimana nanti mekanisme kerjanya. Lalu pewawancara 2, juga santai orangnya, tapi tegas juga nanya ini itu. Nanya pandangan saya apa yang harus diubah dari blog nya.. bla bla bla.. gimana nulis content yang menarik bla bla bla.. gimana cara saya nulis blog.. bla bla bla.. pewawancara 3, datang nggak begitu banyak nanya. Yang saya ingat, dia nanyain berapa budget saya. Hehehe

Saya jadi inget. Ini mirip waktu saya wawancara di kantor dulu. Saya dapet banget chemistry sama pewawancaranya. Nyaman aja dan ada canda tawa, nggak serius-serius gitu. Intinya semua mudah, nggak terasa susah. Optimis. Feeling saya kayaknya InsyaAllah bisa join sama mereka. Dilihat dari lingkungan kerjanya (orang-orangnya) saya cocok.

Then.. sudah sebulan nih, saya kerja bareng dan kebukti feeling saya bener. Saya cocok sama tempat ini walau diawal menulis ternyata butuh penyesuaian. Saya yang sehari-hari nulis berita harus pindah mode seketika ke cara santai orang nge-blog. Kadang bahasa masih kecampur antara bahasa baku berita dan blog. 😂

Tidak pernah terbayang dipikiran bahwa tahun ini saya bisa punya income lain di samping kerja sebagai jurnalis dan suka iseng ikut lomba-lomba nulis. Sebelumnya pernah sih di hire jadi blogger juga, tapi serius tahun ini nggak nyangka banget tanpa mencari Allah ngasih jalan. Dengan kontrak setengah tahun Alhamdulilah InsyaAllah cita-cita saya mungkin bisa lebih cepat terwujud karena memang dimudahin Allah lewat jalan yang tidak disangka ini. Subhanallah 🙏🏻

JAVA - Indonesia, Liputan, MALANG - Indonesia, story, The Journey, Traveling

Trekking Santai Ke Coban Tengah, Malang – Jawa Timur

Naik jeep keliling Kota Malang, menyaksikan matahari terbit di Gunung Bromo. Saya juga sempat mencoba lagi bagaimana sensasi off road dan trekking ke Coban Tengah bareng teman-teman media Desember 2017 silam.

Perjalanan yang baru sempat saya tulis ini sebenarnya kurang data, kurang foto dan wawancara. Jadi jangan berharap ulasan saya lengkap dan jangan tanya juga gimana cara kesana ya.. hehehe. Sebagai undangan mediatrip dari Kalbe Farma, saya hanya mencoba untuk lebih menikmati perjalanan dan tidak kebanyakan memotret.

Soalnya selama ini menjadi media ketika dinas luar kota selalu terlalu sibuk wawancara sana sini, dan ngikutin konferensi pers. Berhubung ini media trip yang tidak ada embel-embel buat berita alias hanya murni diajak jalan-jalan dan makan saja ya saya nurut dong 😂.

img_4018
pintu masuk ke Coban Tengah, dari sini dimulailah trekking santainya

Kaget juga, diajak ke Coban Tengah, siang hampir sore sehingga pulangnya pas gelap sampai adzan magrib bergema. Di hutan saat itu minim sekali lampu, kondisi jalan cukup berlumpur karena memang khusus untuk off road.

Coban Tengah terletak di atas wisata Coban Rondo yang sudah lebih dulu terkenal. Sementara jalan menuju Coban Tengah sejalan dengan Coban Rondo, keduanya dikelola Perhutani. Kiri kanan jalan akan ditemui pohon pinus tinggi. Saat melewati hutan tanpa jalan beraspal alias licin tanah basah dengan jeep sekitar 1-3 Km Kamu akan sampai di gerbang bertuliskan Coban, kurang lebih sekitar 500 meter ada pertigaan, rambunya akan jelas memberi tahu arah ke Coban Tengah.

img_4016
off road, lagi di dalam jeep

Tentunya kesini harus dengan tour guide atau menyewa tour operator yang sekaligus sewa jeep dari awal Kamu sampai di Bandara atau Stasiun Kereta di Kota Malang. Biasanya satu paket harganya, dengan jumlah rombongan tertentu.

Yang saya lihat selama perjalanan, ada villa yang bisa disewa, cukup banyak. Tapi agaknya cukup terpencil lokasinya, meski saat di jeep saya bisa lihat ada beberapa tukang jualan bakso keliling dengan motor. Tapi soal makanan saya sama rombongan tidak khawatir, soalnya pihak Kalbe Farma sudah request sama tour operator juga soal restoran tempat kami makan dan camilan selama di perjalanan.

Setelah sampai pintu gerbang Coban Tengah, langsung disitulah dimulainya trekking santai. Ohya sebisa mungkin pakai sepatu trekking atau sandal gunung, karena jalanan licin dan naik turun. Saya bilang ini cukup ringan karena tidak terlalu jauh, trekking kurang dari satu jam saja. Tapi justru menurut saya disitu letak kesederhanaan tempat wisata Coban Tengah ini.

img_4015
off road yang menegangkan

Yang tidak biasa trekking pasti bisa melewatinya. Ada pemandangan indah alam yang apa adanya tidak diubah atau direkayasa. Ada aliran air sungai, gemericiknya dan hawa dingin masih cukup bisa ditoleransi, masih sekitar 20-an derajat di sore hari. Tidak banyak foto dan disini tak saya unggah, soalnya biar kamu penasaran dan coba sendiri. Bagus dilihat mata tapi di foto terlihat biasa. Namun menurut saya tidak rugi ke Coban Tengah, hitung-hitung saya waktu itu latihan trekking sebelum ke Himalaya. Jadi seneng-seneng aja.

Indonesia, MALUKU - Indonesia, The Journey, Traveling

Panduan Perjalanan Ke Banda Neira – Maluku Tengah

Di dekat dermaga, pemandangan kapal lewat

Di tulisan sebelumnya saya sempat cerita berbagai sisi menarik wisata yang ada di Banda Neira atau Banda Naira. Ada Bangunan kuno Rumah Pengasingan Bung Hatta, Sjahrir, dan Terusik Hantu di Benteng Belgica. Untuk wisata pulaunya saya juga sudah menulis tentang Sunset di Pulau Hatta dan Pemandangan Gunung Api Banda.

Kali ini saya akan menuliskan bagaimana cara mencapai Banda Naira, mulai dari booking tiket, pemilihan waktu pesawat sampai jadwal kapal serta nomor contacts yang bisa dihubungi untuk memudahkan kamu traveling. Yuk disimak 😀

Paling pertama tentu pesan tiket pesawat. Tapi jangan lupa cari tahu dulu jadwal kapal dari Ambon di Pelabuhan Tulehu menuju ke Banda Naira. Karena kapal hanya ada seminggu dua kali, yaitu keberangkatan dari Ambon ke Banda Naira tiap Sabtu. Sementara jadwal kapal pulang ke Ambon tiap Selasa. Makanya, biasanya di Banda Naira liburan waktunya sekitar 5 hari, beda ceritanya kalau mau pulang di jadwal keberangkatan yang lebih mundur.


Cussss pulang ke Jakarta… Terima kasih atas undangan liputannya di Banda Naira 😀

Agar efisien perjalanannya, pilih pesawat dengan jadwal tengah malam pukul 00.30 WIB dari Jakarta yang akan tiba sekitar pukul 06.00 WIT atau 07.00 WIT. Sehingga dari bandara ke Pelabuhan Tulehu kesahnya tak lama, biasanya kapal berangkat sekitar pukul 09.00-10.00 WIT dengan perjalanan di laut sekitar 6 jam lamanya.

Di bandara Pattimura Ambon, tanpa menunggu lama, kamu bisa pesan mobil jemputan, itu cara termudah ya untuk mencapai Pelabuhan Tulehu yang berjarak tempuh sekitar 1,5 jam.

Di perjalanan bisa sekaligus mencari sarapan, tapi hati-hati, walau sarapan hanya di warung pinggir jalan sebaiknya tanya dulu harga, supaya tidak kenal tipu. Karena pengalaman rombongan saya kena Rp. 500.000 buat sarapan ber-7 orang padahal kita cuma makan ikan bakar, nasi, dan teh manis saja dengan beberapa gorengan.

Seperti ini kapal yang akan kamu naiki ke Banda Naira

Pelabuhan Tulehu cukup padat (tapi dibanding antrian loket KRL Commuterline di Tanah Abang ya masih mendingan), beli tiketnya agak tak terkendali antriannya gak tertib. Lumayan ya harga kapal disini Rp. 410.000, tadinya ada penerbangan dengan pesawat kecil namun cuaca sering buruk dan perlunya subsidi harga tiket agar terjangkau masyarakat membuat penerbangan ditutup sementara rute nya. Kapal adalah satu-satunya cara mencapai Banda Naira.

Kapal cepat penumpang Express Bahari hanya ada 2x dalam seminggu. Tulehu – Banda Rabu dan Minggu, Banda – Tulehu Selasa dan Sabtu. Info kapal cepat : 081343292900. Dulu katanya ada pesawat kecil Merpati dan Susi air, dengan tarif Rp. 300-an ribu tapi sekarang yang ingin ke Banda Naira harus menempuh perjalanan laut 6-7 jam dari Pelabuhan Tulehu, Ambon.

Di laut yang tanpa sinyal sedikit pun sekitar 6 jam itu, enaknya apa ya???.Lumayan lama tanpa gadget, enak istirahat, walau bangku begitu tegak . Beruntungnya kapal walau kelas ekonomi tapi ber-AC. Ada tv layar lebar yang bisa digunakan menyetel film maupun DVD lagu, tapi itu sesuka kondekturnya.

Karena capek waktu 4 jam bisa dijadikan moment tidur siang mengganti tidur semalam yang kurang nyenyak di pesawat. Kalau tetap terjaga akan terasa bosan, soalnya yang ada cuma penampakan air sepanjang waktu. Disarankan untuk bawa bekal makan siang dan minum, soalnya tak banyak jajanan yang bisa dibeli di dalam kapal.

Tarian sambutan saat baru tiba di Banda Naira

PerkiraanbiayakeBandaNaira :

(1) Ojek Online dari rumah : Rp. 15.000

(2) DAMRI ke Bandara : Rp. 40.000

(3) Pesawat PP Jakarta-Ambon : Rp. 3 juta

(4) Taxi dari Bandara ke Pelabuhan Tulehu : Rp. 100.000 (perkiraan)

(5) Kapal dari Pelabuhan Tulehu ke Banda Naira PP : Rp. 820.000

(6) Biaya Menginap 3 hari 4 Malam : Rp. 525.000 (share berdua dengan rate rata-rata Rp. 350.000 per kamar) Tentang Penginapan di Banda Neira

(7) Biaya makan : sekitar Rp.500.000 (untuk 4 hari) rata-rata Rp. 50.000 sekali makan.

(8) Biaya Sewa Kapal keliling pulau Banda Naira : sekitar Rp. 1-2 juta tergantung lokasi dan share cost dengan teman.

Total sekitar Rp. 5-6 juta

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Pengalaman Kena Acute Mountain Sickness

Bisa jadi ini hal yang paling ditakutkan orang kalau naik gunung, kena penyakit ketinggian atau Acute Mountain Sickness (AMS). Saya pun, tak terkecuali.

Sangat wanti-wanti nggak ingin kena AMS, saya cari tahu penyebab dan cara mengatasinya di Internet. Hmm.. jadi gini jadi gitu, sebenarnya AMS ya tidak semenakutkan itu. Bahkan waktu nanya ke bule Spanyol yang seharusnya bareng dengan kami melalui email, soal AMS ini terkesan mudah sekali ditangani asal tahu caranya.

Supaya yakin saya juga nanya ke teman yang sebulan sebelumnya lebih dulu pergi ke EBC, gimana cara mengatasi AMS dan rasanya seperti apa.

“Sakit kepala tiap hari Pam!, jadi tiap pagi ya kerjaannya minum Diamox,” kata Debi lewat pesan Line..

Saya cari tahulah apa itu Diamox, ulasannya cukup buat bingung saya soalnya pakai istilah medis yang tidak mudah dimengerti, tapi ada kaitannya soal jantung gitu. Agak parno lah dengan obat ini, saya berfikir hanya akan minum bila keadaan memaksa.

Sebagai cadangan saya bawa obat-obatan pereda sakit kepala yang biasa diminum di Indonesia. Alesannya juga karena Diamox tidak ketemu di apotek mana pun disini. Tapi akan mudah mendapatkannya di supermarket di Kathmandu bahkan di Lukla juga ada.

Saya makin merasa kalau Diamox nggak perlu dibeli karena harganya 5 USD-an, kepikiran lebih baik uangnya buat bayar hot shower alias mandi atau untuk beli setangkup sandwich lengkap dengan kentang goreng, bakal mengenyangkan di cuaca dingin. “Sayang duitnya, mending buat makan,” kata Kobo Chan, temen trekking ke EBC.

Menurut si bule Spanyol via email :

“Mudah saja mengatasi gejala AMS, kita hanya perlu turun lagi ke ketinggian yang lebih rendah. Biarkan tubuh beradaptasi dengan kondisi ketinggian yang baru. Ya sebenarnya hanya perlu diajak jalan keliling desa saja untuk adaptasi ini”.

Makanya para pendaki yang akan ke Everest atau EBC pun disarankan untuk minimal sehari menjalani aklimatisasi, biasanya di desa Namche karena desa ini cukup besar dan ada kelengkapan fasilitas seperti internet yang lumayan, ada ATM untuk tarik tunai uang, juga bisa sewa helikopter kalau urgent mesti pulang. Makanya juga disini ada cafe, bisa nonton film dokumentasi sherpa untuk menghabiskan waktu, ada museum, bahkan ada tempat reparasi sepatu.

Dengan segala kekhawatiran soal AMS, jelas saya banyak doa juga. Sarannya juga jangan terlalu cepat untuk naik ke level ketinggian secara drastis. Makanya bertahap, sehari di desa ini, besok naik ketinggian ke 4000 mdpl-an, lanjut ke 5000 mdpl-an. Nah, disinilah mulai terasa gejala AMS.

Pengalaman saya, AMS memang agak sulit dihindari, namun tenang tak perlu panik, ternyata menanganinya juga cukup mudah. Saya mulai mengalami gejala AMS saat perjalanan menuju Lobuche, ketinggian 4900-an mdpl. Dingin disana minus 10 derajat celcius waktu itu, dan di toilet air semuanya sudah jadi es, benar-benar beku.

Keesokan paginya jalan dari Lobuche menuju Gorak Shep gejalan AMS ini semakin terasa. Saya merasa mual, ingin muntah. Itu pertama sekali, lalu selanjutnya yang belum pernah dialami seumur hidup saya, muncul rasa sakit kepala luar biasa, mungkin sampai ubun-ubun ya. Kedua gejala ini masih merupakan tahap awal AMS, belum begitu parah namun harus waspada. Saya masih sadar, sampai akhirnya menyerah. Matahari terik sekali, tapi cuacanya begitu dingin terlebih karena hembusan anginnya, pokoknya bikin saya harus pakai kupluk biar angin tidak tembus ke otak saya dan bikin beku juga.

Jalur dari Lobuche ke Gorak Shep cukup sulit dibanding perjalanan yang sebelumnya masih ada rumput hijau kering, maupun sungai dan pohon. Disini tandus sekali, hanya ada bebatuan putih, gletser dari sungai yang beku, jalannya pun naik turun beberapa kali. Sangat terik, dan betul-betul terasa sakit kepala luar biasa. Akhirnya saya minum pereda sakit kepala yang saya bawa dari Indonesia. Cukup mengurangi setelah 5 menit berhenti dan minum, makan sesuatu yang manis dan memulihkan diri.

Saya ingat belum makan siang dan memang selama perjalanan ke EBC saya hampir tidak pernah makan siang. Makan hanya 2 kali sehari, saat sarapan dan makan malam. Sarapan pun seringkali hanya toast dan teh dengan madu. Makan malam agak banyak, bisa nasi goreng, sandwich, atau sup ayam. Sisahnya di jalan saya lebih banyak ngemil cokelat.

Kemudian saat berhenti saya mengadu keluh kesah rasa sakit kepala saya dan keadaan ingin muntah. Ternyata sama, partner trekking saya juga. Cuma memang kemarin nggak ngeluh aja. Malu rasanya ngeluh sebagai orang dewasa, saya lanjutkan perjalanan. Sampai ada seorang bule yang mungkin melihat saya begitu kepayahan bilang. “Almost there (sudah dekat),”… percaya deh.. kalau ini nggak ngibul seperti di gunung Indonesia sudah dekat cuma nyemangatin aja, ini bener hanya 5 menit jalan karena sudah terlihat genteng lodge yang menandakan kalau saya sampai di desa tempat akan bermalam.

Gorak Shep! Saya langsung agak setengah berlari karena tidak tahan ingin muntah. Nggak tahan kedinginan juga mau cepet check in penginapan dan minum air teh hangat dan selimutan di kamar. Bodo amat rasanya waktu itu, pokoknya mau masuk ke lodge dulu, saya ninggalin partner saya… karena biasanya nunggu dulu di luar lodge untuk sepakat nginep dimana.

Saya khawatir dia kelewatan dan malah cari-carian. Lalu saya mutusin buat duduk dulu di restoran karena ada kacanya, saya bakal kelihatan dari luar dan bisa melihat kalau teman saya lewat. Dari jauh saya liat dan langsung melambaikan tangan supaya ngeh saya di dalem dan nyuruh dia masuk. Siap buat pingsan??? Saya duduk di bangku restoran dan ngeluh sakit, partner saya dengerin aja, nyuruh minum air anget dan bilang kemarin juga ngerasain gitu.

Pada akhirnya saya memutuskan tidak jadi menginap di lodge itu, karena saat lihat toiletnya kurang bersih.. yang justru buat saya makin mual ingin muntah. Akhirnya saya keluar dan mengecek lodge lain yang jaraknya cuma 200 meter saja berjalan. Tak lama check in saya benar-benar tidak sadar ketiduran, dan ternyata inilah cara mengatasi AMS. Cukup tidur, 1-2 jam saat bangun sakit kepala pun hilang.

Saya menunda langsung trekking ke EBC saat sampai di Gorak Shep sesuai jadwal itinerary hari itu. Walau kami sampai siang, jam 13.00, ngapain juga memaksakan? Intinya hari itu sampai malam saya istirahat. Besok paginya barulah saya mulai trekking ke EBC, tadinya terpikir tidak akan terasa sakit kepala lagi, nyatanya perjalanan ke EBC makin parah terpaan anginnya, panas teriknya, dan itu harus ditempuh dalam 6 jam perjalanan pulang pergi. Keleyengan di jalan rasanya seperti setengah sadar namun masih dapat berfikir.

Hal yang buat saya bertahan saat itu hanyalah, kalau pingsan disini siapa yang nolongin? Walau ada teman saya tapi nggak mungkin ngangkut badan saya. Dia pun pasti lelah juga seperti saya. Justru disitulah saya mempercepat langkah supaya bisa sampai di penginapan dan merebahkan diri. Keadaannya setengah sadar, sempat lupa jalan menuju pintu masuk lodge, tapi akhirnya ketemu. Di ruang tengah itu saya tidak peduli lagi. Saya setengah pingsan. Saya akhirnya tertidur dalam kondisi setengah duduk dan berbaring di sofa tengah dan ketika bangun si teman cuma bisa melihat prihatin.

Bukan apa-apa, untuk memutuskan tetap tinggal atau bermalam saya harus sepakat berdua.. tidak mungkin mengambil keputusan sendiri. Ada perasaan agak tidak enak karena khawatir menyusahkan atau memperlambat perjalanan pulang. Tapi beruntungnya dia pun tak masalah jika bermalam lagi di Gorak Shep untuk memulihkan diri.

Kadang perjalanan bisa jadi tak sesuai itinerary, tapi yang penting tujuannya ke EBC sampai. Walau jadinya malah 2 hari bermalam di Gorak Shep, walau telat sehari sampai di Namche, ya walau akhirnya jadi kemalaman juga sampai Lukla, walau ternyata harus 3 hari nunggu pulang ke Kathmandu karena penerbangan pesawat ditunda.

Saya bersyukur aja, sempat mencicipi yang namanya penyakit orang naik gunung…

Himalaya, LIFE, MOUNTAIN, Nepal, story, The Journey, Traveling

Hikmah-Hikmah Selepas Perjalanan ke Himalaya

Kali ini saya mau cerita.. tentang perjalanan jiwa saya setelah kepergian ke Himalaya. Kalau sudah baca blog saya ditulisan sebelumnya kamu juga pasti tahu cerita naik gunung yang bukan sekedar traveling biasa, . . Bahkan tiap gunung yang saya jelajahi di perjalanannya ada filosofi tersendiri.

Begitu juga perjalanan ke Everest Base Camp (EBC).. nggak kan kelupa dan ada banyak rasa syukur yang saya dapat ketika dan sepulang dari sana. Dalam hati juga saya janji beberapa hal sama diri sendiri, semuanya membuat saya ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

(1) Lebih Bersyukur Karena Tinggal di Negara Tropis

Namanya gunung pasti dingin! Indonesia yang negara tropis aja gunungnya juga dingin, ya iya lah di atas ketinggian 2500 mdpl. Angin gunung yang kencang di atas Rinjani padahal baru 3470 mdpl-an itu bukan apa-apa deh, waktu sampai Dingboche di EBC yang mulai 4900 mdpl badan saya mulai goyah. Angin bukan cuma nampar-nampar pipi, leher bahkan kepala badan rasanya bisa terbang 😂✌🏻.

Sedingin-dinginya Indonesia yang saya rasakan itu ya paling 13 derajat waktu ke Bromo. Tapi di Himalaya? Ibu Kota Kathmandu saja pada musim dingin suhunya paling tidak 5-7 derajat. Lalu masuk ke ketinggian 2500 mdpl mulai 1 derajat. Manusia tropis mana yang tahan? Panas terik tapi dingin dan anginnya nggak nahan. Saya lihat pegawai bank di Lukla pun pakai down jacket saat berkantor.

Percaya sama saya, lebih enak tinggal di negara tropis seperti di Indonesia. Nggak perlu pakai jaket tebal, nggak perlu jadi males solat karena air dingin banget buat wudhu, bahkan karena dingin saya nggak bisa lama-lama banget mau doa mau khusyuk, dingin banget itu nggak enak banget. Mau lama-lama duduk di restoran lodge liat pemandangan dari jendela pun masih kedinginan banget. Yang ada selimutan bed cover di kamar mulu kakak 😭. Mungkin karena ini desa tidak ada penghangat ruangan modern. Untuk merasa terus hangat saya mesti ke ruang tengah restoran dan duduk di perapian.

Ditengah meringkuk selimutan di kamar terus saya berguman dalam hati. “Janji kalau sampai rumah mau lebih khusyuk solatnya, disini nggak konsen banget kedinginan”. Di Jakarta sesekali mungkin kita pernah ngeluh, panas banget. Alhamdulilah sampai di Jakarta rasanya tuh saya benar-benar diberkahi, cinta banget sama cuaca Jakarta yang jadinya kerasa justru hangat, bukan panas lagi ☺️.

(2) Makin Percaya, Semua Hal Terbaik Sudah Allah yang Mengaturnya, Tenang dan Santai Saja. Jadilah Pasrah dan Lebih Ikhlas Menerima 🙏🏻

Mungkin saya terlalu serius atau mendalami perasaan yang saya dapat dari perjalanan di gunung. Tapi bener lho, ini nyata. Saya merasa apa-apa yang terjadi dalam hidup memang sudah Allah yang atur, bahkan hal sekecil apapun itu.

Saya mengalami sendiri keanehan-keanehan itu. Kadang kita suka merasa kecewa dan gagal akan sesuatu yang tidak sesuai rencana. Padahal di balik itu Tuhan sebenarnya justru menjawab kekecewaan atau kegagalan itu dengan sesuatu yang memang lebih baik untuk terjadi bagi seseorang.

Kadang kita suka menyalahkan diri sendiri. Hanya contoh saja ya, kenapa kamu sulit sekali lulus ujian CPNS? Padahal sudah bekerja keras belajar, jungkir balik atau apalah usaha terbaik. Jangan salah, di balik itu mana pernah tahu bila sebenarnya ada pekerjaan yang lebih cocok buat kamu dan lingkungan yang lebih tepat buat kamu.

Di Himalaya saya mengalami sesuatu yang kesannya sepele saja. Saya kesulitan untuk booking tiket pesawat pulang ke Jakarta. Problem pertama charger saya hilang ketinggalan di Dingboche… mau nangis rasanya karena itu charger asli iPhone, yang kalo beli original mahal. Problemkedua, setelahnya, alhasil handphone saya mati total walau ketemu listrik pun nggak bisa charger baterai. Sangat sering saya mengandalkan ketemu seseorang yang juga pakai hp dengan merek sama. Untungnya saja saya bawa hp satu cadangan yang jadul dan lemot. Problem ketiga, sinyal di pegunungan tidak selalu ada. Walau ada itu berbayar 2-4 Dollar per jam. Lumayan terbilang murah sih sebenarnya.

Singkat cerita hal absurd yang terjadi adalah walau ada hp cadangan tapi 2-3kali saya gagal terus untuk booking tiket pulang. Entah koneksi internet gagal, password salah ketik, atau kartu Jenius saya tidak merespon. Padahal sudah oke sama harga tiket yang kisaran Rp 2,9- Rp 3 juta.

Mencoba lagi untuk booking tiket, kali ke 4 dan 5 di Lukla saat nunggu pesawat pulang. Juga gagal, padahal saya susah payah bisa charger hp sampai cukup penuh. Gagal koneksi atau pembayaran. Bikin capek betul rasanya masalah booking tiket ini. Maunya beli 2 hari atau sehari sebelum pulang supaya lebih murah harganya dan lebih tenang nggak mendadak booking di hari H kepulangan. NAMUN… tahukah? Ternyata saya justru bersyukur, gagal booking tiket. Soalnya saya pun 3 hari gak bisa balik pulang sampai Kathmandu karena pesawat nggak bisa terbang kendala cuaca. Hufff.. bayangkan kalau saya bisa booking?? Hanguskah tiket saya yang lumayan harganya itu..

Di Kathmandu, setelah fix sampai penginapan, barulah saya booking tiket. Ya, walaupun harganya lantas melambung jadi Rp 4,1 juta pantas saja soalnya beli sore malamnya berangkat pulang. Cari tiket setelah 1-2 hari pun sama harganya sekitar Rp 4 juta jauh dari ekspektasi Rp 3-3,5 juta. Rugi dan kemahalan banget intinya untuk pesawat Malindo kelas ekonomi.

Cuma daripada nggak pulang juga kan? Lagi pula Tuhan sangat baik sama saya, tiket tidak hangus karena semesta sudah menggagalkan upaya booking tiket pulang yang akan sia-sia dan merugikan itu. Dipikir lagi nggak begitu rugi juga, kan saya dapet tiket promo naik Malaysia Airlines cuma Rp 2,7 juta saja untuk pesawat ke Kathmandu.

(3) Siapkan Lebih dari 1 Debit ATM Berlogo Visa atau Master Card

Kalau berpergian ke luar negeri, akan aman bawa mata uang Dollar. Tapi risih juga kalau kebanyakan bawa cash khawatir bakal kecopetan atau malah boros. Jangan salah nggak juga kok, asal hitung budget yang betul, lalu lebihkan sekitar 50 Dollar sebagai cadangan di dompet. Soalnya ngambil uang di ATM luar negeri itu lumayan kena biaya ATM sekali tarik 5 Dollar. Hehehehe, sudah begitu ada maksimal ngambilnya berapa puluh ribu uang lokal. Coba aja kalau berkali-kali, tahu-tahu di rekening potongannya banyak sekali.

Selain itu menghindari kejadian tidak terduga, sebaiknya punya lebih dari 1 debit ATM berlogo Master Card atau Visa. Ya jaga-jaga kalau ternyata nggak bisa kartu satunya ada cadangan. Seperti pelajaran buat saya karena masa visa saya habis dan kelebihan masa tinggal kena denda, di imigrasi saya dijegat untuk bayar denda sebesar 34 Dollar. Mau nangis rasanya, soalnya debit ATM berlogo Visa ternyata hanya satu-satunya (si Jenius) yang khusus memang saya buat untuk transaksi pengganti Credit Card (CC) di luar negeri. Hehe saya anti banget punya kartu kredit soalnya.

Sementara debit saya yang lain seperti BCA dan MNC bank itu tidak ada logo Visa maupun Master Card. Hehehe… dimana saya tidak bisa mengambil uang dari sana walau ada uangnya berapa milyar pun 😂. Panik?? Jelas iya, pesawat 1,5 jam lagi berangkat tapi saya ditahan. Untungnya ada m-banking, saya pun minta tolong adik yang punya akun m-banking untuk bisa transfer ke si Jenius yang full uangnya sudah saya belikan tiket.. sudah saya tarik tunai juga di Kathmandu, jadi sisa hanya recehan berapa ratus ribu saja. Ya untungnya masih ada m-banking yang dalam hitungan detik sampai 5 menitan langsung terkirim uangnya. Huff.. besok pastiin lagi debit ATM kamu ada logo Visa ya.