LIFE · story · The Journey · Traveling

Refleksi Traveling 2016

Tiba di penghujung tahun…. akhirnya! Saya suka moment ini soalnya berganti kalender biasanya akan ada resolusi baru dan semangat baru. Betul kan? Daripada memikirkan hal-hal yang ternyata tidak tercapai sementara semuanya harus lewat saja.

Semakin kesini-sini, bertambah dewasa karena pengalaman dan usia, semakin banyak kesalahan yang dibuat jadi makin mengerti hidup kan? Seperti kata Paulo Coelho di salah satu kutipan novel berjudul Brida “Tak ada yang benar-benar salah. Bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam sehari,”.

Intinya “Take a risk, make mistake . . Be brave,” ini kesimpulan saya pribadi. Di novel lainnya berjudul Eleven Minutes, Coelho juga punya pesan yang sama, untuk tidak takut mencoba. Berani mengambil resiko hidup dan belajar, ya mungkin disitulah jalan untuk menemukan setiap makna .. Jalan yang diberi Tuhan mengenal diri dan belajar kehidupan. Selagi masih muda, wajar jika melakukan kesalahan, asal jangan dibawa-bawa lagi saat tua. (NOTE)

Oke ini panjang kali lebar sekali, soalnya traveling bagi saya bukan sekedar jalan-jalan, menghilangkan suntuk kerja (ah serius saya hampir tidak pernah merasa suntuk kalau kerja, saya suka kerjaan yang sudah sesuai cita-cita ini). Tapi traveling buat saya pribadi itu lebih ke pencarian jati diri, mengenal ke-Maha Kuasa-an Allah, soalnya di saat-saat traveling justru ada banyak perenungan dalam diri, belajar mensyuri nikmat Ilahi, dari tempat-tempat dan orang-orang yang ditemui.

Di Rumah Radank, Pontianak

Yuk ah cek, tahun 2016 sudah jalan kemana saja? Terus apa yang dipelajari dari perjalanan itu??? Disini bulan Januari dan Desember kosong alias nggak pergi kemana pun, soalnya bulan itu memang masa-masa rehat. Lalu Juni, berhubung bulan puasan dan Lebaran, jadi fokus ibadah.

(1) Februari 2016 : Pontianak , Kalimantan

Perjalanan ke Pontianak itu karena pekerjaan. Tapi tetep bisa piknik colongan ke Rumah Radank di dekat pusat kota Pontianak. Selain bisa mampir satu jam buat belanja cari kain khas dari Kalimantan buat kenang-kenangan.

Pontianak secara culture memang banyak juga etnis Tiongkok, makanya tradisi Imlek maupun Cap Gomeh disini lumayan ramai dirayakan. Pas saat Tahun Baru China itulah saya kesana dengan misi liputan event.

(2) Maret 2016 : Gunung Ciremai, Jawa Barat

Ini pertama kalinya saya pergi mandiri ke sebuah gunung, tanpa ikut open trip. Nekat juga, perginya bertiga dengan dua teman wanita. Pelajarannya, ketika mau naik gunung itu kamu bukan sekedar cari temen buat barengan naik gunung. Hal penting lain sebelumnya kenal dulu sama temen barengan supaya tidak terjadi hal-hal membahayakan.

FYI naik gunung itu butuh fisik dan stamina oke, tapi kedua teman saya betul-betul ternyata harus sangat di “tungguin”. So, naik gunung jangan musim hujan juga, kemungkinan buat sampai puncak juga bakal mungkin kalau kamu punya partner yang oke. Disini saya belajar menjadi sabar dan lebih mau mengalah tidak egois dengan diri sendiri.

(3) April 2016 : Gunung Gede, Jawa Barat

Ternyata akan lebih menyenangkan kalau pergi dengan orang yang memang klop sama kita. Destinasi seperti apapun atau suasana lelah bagaimana akan tetap fun!.. Ini saya rasain waktu pergi bareng Esti, Bonar, dan Uyung. Kita semua kalem tapi masih bisa lucu-lucuan.

Dari sini saya belajar, untuk lebih pilih-pilih teman buat naik bareng. Hanya ikut-ikutan atau memang pecinta alam?

(4) Mei 2016 : Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur

Tidak disangka, saya dapat kesempatan buat ke Derawan gratis lewat sayembara di Instagram yang diumumkan sejak April. Dari iseng-iseng ikutan repost flyer Derawan Fisheries. Dari sini makin semangat nge-blog, terus mencoba keluar kotak.

Pertama kali juga saya nyoba scuba diving. Di 2016 memang saya banyak sekali belajar mengenal laut, contohnya sampai mau les renang. Walaupun itu hanya bertahan 3-4 kali pertemuan dan tetep lebih menemukan feel traveling yang enjoy di gunung.

(5) Juli 2016 : Gunung Kerinci, Jambi, Sumatera Selatan.

Yeah! Di bulan Juli saya akhirnya bisa cek list salah satu resolusi penting yaitu ke puncak gunung api tertinggi, Gunung Kerinci. Dibalik perjalanan kesana saya merasakan banget ada “tangan Tuhan” yang menolong saat pendakian. SubhanaAllah tak bisa dilupakan dan jadi satu jalan bersyukur lebih dalam kepada Yang Maha Kuasa.

Meski entah saya yang terlalu fokus sama keinginan mencapai Kerinci, justru harus kehilangan peluang lain yang buat sedih di tahun ini… 😶. Entahlah atau memang takdir bukan rezeki saya bersanding dengan jodoh saya di tahun ini. (Masih sedih kakak) 

(6) Agustus 2016 : Gunung Prau dan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah

Di Gunung Prau dan saat perjalanan ke Dieng adalah bentuk lain kekuasaan Allah dengan mengirim pertolongan-Nya. Disini rasa makin bersyukur memaknai perjalanan dan makin belajar bahwa segala sesuatunya memang atas izin Allah.

(7) September 2016 : Bangka, Kepulauan Bangka Belitung

Nah! Selang sebulan kemudian, saya kembali tugas liputan luar kota. Masih dekat, cuma sejam dari Jakarta dan nyebrang pulau sebentar ke Bangka. Disini perjalanan kuliner luar biasa menyenangkan. Kilat semuanya, Alhamdulillah ya syukur lagi bisa mampir ke Bangka untuk kedua kalinya.

(8) Oktober 2016 : Yogyakarta dan Kediri

Bulan berikutnya saya izin cuti buat liburan keluarga, sebelum adik saya menikah sebulan setelahnya. Sekalian liburan keluarga ada perjalanan spiritual juga ke Kediri. 

Saya jadi berfikir bahwa liburan keluarga memang sangat perlu. Entah walau hanya ke taman safari pun, itu perlu buat lebih saling bersyukur. Kan tidak semua orang dilahirkan punya keluarga lengkap dan rukun. Makin banyak bersyukur, betapa berartinya keluarga. I love you mom and dad 😘.

(9) November 2016 : Banda Naira, Maluku Tenggara

Ini perjalanan tak disangka-sangka. Liputan yang lumayan jauh setelah sekian lama tidak ke Indonesia bagian Timur. Dulu terakhir banget ke Papua, Raja Ampat tahun 2011. 

Maluku itu salah satu kepulauan yang memang masuk wish list. Karena sudah semua pulau touch down. Jawa,Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Lombok, Bangka Belitung, Bali, tapi Maluku belum sama sekali. So, perjalanan ini berharga sekali terlebih Banda Naira, kepulauan yang saya datangi ini penuh cerita sejarah. Mencapainya juga cukup sulit, perjalanan darat, laut, udara dengan biaya yang tak sedikit. So, ini bagian dari izin dan rezeki juga dari Allah. 😀

Advertisements

6 thoughts on “Refleksi Traveling 2016

    1. iya soalnya nuntasin misi pas tahun kemarin, terutama gunung yg kepingin banget didaki, jadi 2016 kelar semua, 2017 mungkin pensiun dulu ke gunungnya. 2017 fokus masa depan better life better person, lebih khusyuk dekat ke Sang Maha Pencipta.

  1. wah kerennn … dalam setahun sudah melanglang buana jauh jauh …
    saya cuman bisa ngubek2 jabotabek aja .. hahaha
    mudah2-an bisa seperti mba dyah yang jalan kemana mana … aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s