Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Ada sebuah obrolan absurd. Di penghujung perjalanan saya ke Himalaya kemarin. Putus asa (agak lebay padahal gak segitu banget perasaannya), jadwal pulang ketunda karena pesawat kami nggak bisa terbang dengan alasan “cuaca buruk”, menyebabkan saya nginep 2 malam lagi di Lukla.

Habis mandi dan keramas tentunya, melepas penat setelah sedari pagi (pukul 06.30) di bandara, dalam ketidakpastian menunggu flight sekitar 5 jam dan ternyata dikabari gagal terbang (lagi) untuk kedua kalinya, . Kami angkat bagasi. Nenteng lagi 6-13 kg backpack yang supergede itu ๐Ÿ˜‚.

Pasrah, jelas. Saya juga jadi berfikir. Tuhan, kok waktu berangkat mudah, pulangnya agak terhambat, semacam Tuhan lagi bilang “jangan pulang dulu” atau saya dikasih teguran. Menilik dalam lagi, ohya solat saya bolong-bolong., magrib terlewat, biasanya nggak pernah menjamak, lalu jadi menjamak. Selagi ada air seharusnya berwudhu dengan air, tapi karena merasa tak tahan dingin saya ganti tayamum. Apakah saya begitu menggampangkan?

“Haduh, lagi banyak-banyak berdoa nih, biar bisa pulang,” kata Kobo Chan waktu buka pintu.

“Doa? Solat aja enggak..,” kata saya cuek, bodo kalo dianya marah (abis jarang lihat dia solat๐Ÿ˜‚)

“Eh jangan salah, gw solat, tapi sehari 3 kali, dijamak,” balesnya..

Habis itu saya diam dan mikir saya juga gitu, selama 2 pekan ada beberapa solat yang ketinggalan. Apalagi pas saya kena AMS, seketika ketiduran mau pingsan. Lalu Zuhur dan Ashar bablasss.

Banyak yang dipikirin waktu agendanya harus pulang malah stuck di Lukla. Ngapain coba? Akhirnya baca buku ke ruang tengah dekat perapian, terus kalo nggak makan ya di kamar tidur. Di Lukla saya dapet sinyal lumayan kenceng, disaat itulah what’sApp dari kantor, email kerjaan mulai masuk bertubi-tubi. Termasuk omelan-omelan karena cuti saya melebihi yang diijinin.

“Chan, SP 1 tuh prosedurnya gimana sih? Tanya saya sambil selimutan.

“Ya kayak diomongin aja, cuma dipanggil terus dikasih peringatan. Kenapa lo?, Tanya Kobo Chan diujung sana.

“Engga… (Nggak terus ngadu ngomong kalo abis dikasih SP 1),” bales saya..

Lalu entah kenapa saya malah nanya hal lain. Ya dasar orangnya random kan, nggak pernah ngerencanain kalo ngobrol nanyain apa, sama halnya kalo wawancara narsum mengalir aja, tanpa buat daftar pertanyaan.

“Eh gw nanya dong. Menurut lo apa benang merah dari perjalanan ke EBC, ke Himalaya?” Tanya saya (masih dari balik selimut, karena kedinginan, suhunya di Lukla masih sekitar 1 derajat celcius).

“Oh ternyata fisik nggak sekuat dulu ya. Ini lho, sudah kesini.. tabungan nggak habis begitu aja tapi dipakai buat perjalanan kesini,” jawab Kobo Chan

“Sesimpel itu doang nih,? Tanya saya sedikit mendelik.

Yaampun saya inget ini lagi ngobrol ceritanya, tapi nggak saling liat muka. Selimutan di kamar. Sepanjang jalan mau ke kaki Everest dingin brrbbrrr

“Ya tadinya kan mau ke India, budget nyampe kesana, terus ganti mau ke Cina. Eh searching baca tulisan orang jadi tertarik ke Nepal, yaudah.. tadinya city tour aja, eh malah mau sampai ke basecamp Annapurna. Tapi malah jadi ke Everest biar nggak nanggung,” Sambung Kobo Chan lagi.. (yang alesan ini sudah pernah diceritain ke saya sebelumnya).

“Nah lo kenapa Himalaya,” balik nanya dia

“Karena gw suka gunung,” singkat jawab haha.. lagian sudah pernah saya jelasin juga ke dia, masa diulang. (Panjang… bukan sekedar karena suka gunung atau mau naklukin dan ngejadiin ini the best of the best pendakian).

Namun akhirnya saya ngomong gini… meluapkan isi pikiran soal perjalanan ke Himalaya.

“Gw kan lagi baca buku ya, bukunya Jalaludin Rumi. Jadi salah satu nya ada kata-kata di buku. Saya lanjut bilang kurang lebih seperti yang di buku..

Di dunia ini ada satu hal yang tak boleh dilupakan. Jika kau lupa banyak hal, tapi masih ingat satu hal tersebut, maka tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Namun jika kau mengerjakan banyak hal, tapi lupa satu hal tersebut, berarti engkau dianggap tidak mengerjakan apapun. Demikian sejatinya manusia datang ke dunia ini untuk mengerjakan tugas tertentu.. dari buku Fihi Ma Fihi – Jalaludin Rumi.

“lah nggak ada yang nyuruh ke Himalaya kok, nggak kesini juga nggak apa-apa,” kata saya.. ๐Ÿ˜‚ serius banget ya

Cuma intinya saat itu jadi inget, saya orang yang penasaran sama Kaki Everest seperti apa lalu nekad pergi.. akhirnya mendapati jawaban dari Allah seperti ini.. saya malah beberapa kali ninggalin solat dan semacam lagi ditegur tapi lewat cara lain. Entah itu tegurannya termasuk pesawat yang delay karena gangguan cuaca.

Tahu dan sadar itu tapinya sampai sekarang rasanya tidak menyesal sudah nekad pernah pergi. Bahkan ngorbanin uang tabungan cukup banyak. Rasanya puas. Paling gak penasaran sudah terjawab.

Mungkin saya terlalu serius. Perjalanan, yang proses bagi setiap orang itu berbeda-beda, ada hujan, badai, terkena terik matahari, sampai ibaratnya yang terkecil pun dihempasan angin. Traveling itu personal. Tapi alasannya paling tidak mencakup karena kamu suka destinasi itu. Bukan sesimpel alesannya Kobo Chan ke Himalaya, saya agaknya terlalu mendalam.

Advertisements

10 thoughts on “Kenapa Himalaya? Sebuah Alasan Khusus Memilih Destinasi Liburan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s