LIFE · story · The Journey · Traveling

Travelmate oh travelmate ….

SONY DSC
Punya partner narsis foto-foto-an, itu jadi lain soal… hahaha.  Location : Dusun Bambu, capture by : Harry Iswahyudi

Ketika punya rencana pergi ke suatu tempat kita suka ragu buat berangkat kalau nggak punya temen barengan. Apa kamu juga mengalaminya?……Bukan karena takut pergi sendirian, tapi saya ini jenis pejalan yang lebih suka kalau ada partner jalan alias travelmate. Apalagi kalau bisa group perginya (maksimal sih 4-5 orang). Seru, rame, pasti berisik, pasti nggak bosen.

Selain itu bisa sharing cost, jatuhnya lebih murah dong (teori ekonomi nih). Terus kita juga merasa nggak akan mati gaya kemana-mana. Tapi… ada juga loh yang sampai berantem dan bete gara-gara beda pendapat sama group trip atau travelmate. By the way saya pun pernah mengalaminya, bisa bikin bete saat-saat liburan. Beruntunglah saya ini kan tipe plegmatis si pencari damai bukan tipikal emosional dan pemarah.

Si damai … saya mungkin akan lebih banyak ngalah, tapi bukan karena lemah, hanya saja hal-hal kecil kenapa mereka berhak merusak mood saya ya (malah curhat). Syukur-syukur saya suka banget dan merasa dihargai kalau travelmate ngajak diskusi dulu kalau mau buat sebuah decision.

SONY DSC
Enak kalo pergi sama partner yang juga hobi traveling. Lokasi : Goa Pawon, Capture by : Harry Iswahyudi

Kasus 1 begini misalnya :

Travelmate : “Kita nanti ketemu temen gw ya, di Beach Walk, di Marina Bay, di Patong…. bla…bla ”

Saya : “Oh gitu, baiklah ……..” (cuma ngebatin)  pas di Jakarta nggak ngomong mau ketemu sama temennya.

Tapi abis itu dilupain aja, kan saya asik-asik aja nggak masalahin lagi. Kebetulan ya ketemu temen baru bukan suatu masalah, tapi hal nyenengin.

Kasus 2 misalnya :

Saya : “Gw mau belanja, nyokap nitip kain Bali. Gue juga mau beliin sobat gw daster, sendal, sama oleh-oleh buat kantor,”

Travelmate : kalo gw nggak belanja, paling beli cemilan dikit. (Ini namanya belanja juga kan). Taxi kita ntar susah parkirnya, terus kan mahal nanti nungguin.

Saya : gw belanja bentar, kan udah tau yang mau dibeli. Sepuluh lima belas menit kelar.

(Seriusan belanjanya cuma 10-15 menitan sama antri di kasir, tapi terus ada yang kelupaan dibeli) and by the way, sampai bandara kecepetan dong bosen. Hampir 5 jam nungguin pesawat karena delay.

Kasus 3 misalnya :

Suka banget sama fotografi. Sampai rela berat-berat bawa kamera DSLR. Nggak mau dong kehilangan moment foto-foto cantik. Pemandangan cantik. Lalu suka ketemu travelmate yang nggak pengertian, merasa terganggu karena sebentar-sebentar berhenti buat ambil angle foto doang. Fuiiiihhhhh

Gw : “eh elo sini gw fotoin,” pake bunyi ceklak ceklek.

(Hening maksudnya biar gantian difotoin juga) gubrak…. Tapi kita sulit berharap kalau semua travelmate kita punya cita rasa dalam pengambilan angle fotografi, ya walaupun dulu mata kuliah fotografi gw cuma dapet C (ini standart dosennya tinggi banget sih). Memotret itu gimana juga perlu banget hati (menurut gw).

Asik kalo travelmate kita itu sepenuh hati ngambil fotonya. Dan belakangan gw mikir, mereka yang suka traveling pasti suka fotografi juga, jadi kalo pergi sama mereka yang nggak suka-suka banget traveling mungkin cuek sama pentingnya mengambil moment. Oke liburan besok sepertinya butuh jasa fotografer buat bikin foto-foto keren. (Dikira lagi liputan) -__-

Kasus 4 misalnya :

Dalam sebuah group baru, yang tidak pernah kita kenali sebelumnya orang-orang di dalamnya, kadang kita suka ketemu hal-hal menyebalkan. Misal teman baru itu kekanak-kanakan, pelit hanya karena recehan 5000 perak misalnya. Jangan jadi traveler yang juga bertipikal demikian. Bila kita bersikap sama, tidak ada jauh bedanya kita dengan dia yang perhitungan.

Dari pengalaman saya belajar sih, kalau memang lebih enakan trip dengan group atau jumlah orang sekitar 4 hingga 5 orang. Kenapa? Entahlah saya cuma merasa lebih berbaur, lebih lepas, dan asik dan nggak bosan ngobrol dengan orang yang sama. Ya mungkin beda cerita kalau someday pergi sama suami… berdua saja (lagunya Payung Teduh dong ini)

Ohya satu lagi, ketika pergi dengan group apalagi mereka yang backpacker. Jangan tanya, jenis keluhan apa bagi seorang pejalan? Mereka akan lebih tahan banting, kuat, mau diajak susah sedikit, nggak manja, nggak tukang ngomel, terlebih kebanyakan lebih humble. Biasanya mereka juga nggak banyak maunya, jarang ngeluh, atau kepingin sesuatu yang terlalu menghabiskan isi dompet. Misalnya, mikir juga lah buat mengeluarkan Rp.100 ribu buat makan doang.

Pengalaman dulu-dulu saya punya travelmate yang nggak bisa diajak backpacker. Harus nginep di hotel atau naik taxi kemana-mana. Ohya dulu temen-temen saya memang nggak ada yang bisa diajak susah.

Advertisements

2 thoughts on “Travelmate oh travelmate ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s