Asia · Eastern & Oriental Express Luxury Train · Liputan · overland by train · Singapura - Asia Tenggara · story · Thailand - Asia Tenggara · The Journey · Train · Traveling

River Kwai Bridge – Wisata Sejarah Thailand Burma Railway

di Death Railway Museum dok dyah ayu pamela.JPG
Pintu masuk Death Railway Museum

Sebenarnya agak aneh, ketika saya pergi traveling dan itu pada masa penugasan liputan (diluar extand). Soalnya semuanya sudah disiapkan panitia dari transportasi, hotel, makan, dan ke mana-mana mengikuti jadwal. Gregetnya beda dengan traveling tapi menyiapkan segala sesuatunya sendiri.

Hufffft! Kabar baiknya saya memang fokus buat report perjalanannya itu, walau disisi lain jadi  serasa ikut open trip yang sudah di atur ini itu. Enaknya semuanya santai karena tanpa bawa backpack super gede dan nggak terlibat susah payah meng-arrange itinerary. Nah ini kejadian saat liputan perjalanan kereta melintasi Singapura – Malaysia – Thailand.

Tiga negara dalam perjalanan 3 hari dan saat menuliskannya seperti terbawa langsung perjalanan ketika itu. Ngebayangin bagaimana saya tidur di kereta Eastern & Oriental Express Luxury.(Kalau cerita itu sudah pernah di post, bisa dibaca-baca dulu) di link ini https://dyahpamelablog.wordpress.com/2015/08/18/overland-singapura-bangkok-by-train-perjalanan-dengan-kereta-mewah-eo-express/

River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
River Kwai Bridge, berapa biayanya ke situs ini? saya lupa bertanya

Kalau bukan karena undangan media mana mungkinlah orang biasa-biasa saja seperti saya bisa naik kereta mewah ini. Iya mewah soalnya kamu harus mengeluarkan budget sekitar U$D 2000 untuk perjalanan ini. Kereta serupa juga ada yang beroperasi di Eropa. Mirip-mirip kereta yang ada di film Harry Potter. Klasik banget.

Rangkaiannya trip ini ada panjang sekali karena itu wajar kalau harganya mahal. Tiap negara mengunjungi destinasi wisatanya. Pelayanan kelas luxury, gerbong kamu private dengan kamar mandi shower dan sofa empuk yang kalau malam bisa diubah menjadi tempat tidur super nyaman selayaknya di hotel berbintang 4. Tiap pagi sarapan diantar, sama pelayannya yang kebanyakan orang berwarga negara Thailand. Lunch maupun dinner sepenuhnya fine dining di salah satu gerbong kereta khusus sebagai restorannya.

Ah sudahlah ini kan cerita soal Burma Railway…. kembali fokus ke cerita apa itu Burma Railway? Burma Railway atau juga dikenal sebagai Death Railway, Burma-Siam Railway, Thailand-Burma Railway merupakan jalur kereta api sepanjang 415 kilometer (258 mil) antara wilayah Ban Pong, Thailand, dan Thanbyuzayat, Burma, yang dibangun oleh Kekaisaran Jepang pada tahun 1943 untuk mendukung pasukan dalam kampanye Burma di Perang Dunia II.

Perjalanan menuju River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
bus tingkat yang membawa saya dari stasiun ke kota Kanchanaburi

Saya melakukan perjalanan ke River Kwai Bridge di hari ke 3 sebelum sampai di kota Bangkok. Sampailah di sebuah stasiun menuju salah satu kota di Thailand, namanya Kanchanaburi. Menuju River Kwai Bridge menempuh waktu sekitar satu jam menggunakan bus tingkat yang disediakan panitia.

Burma Railway sebagai jalur kereta api pada saat itu berhasil selesai hingga dapat menghubungkan antara Bangkok, Thailand dan Rangoon, Burma (sekarang Yangon). Jalur ini ditutup pada 1947, tetapi bagian antara Nong Pla Duk dan Nam Tok dibuka kembali sepuluh tahun kemudian pada 1957.

Kerja paksa digunakan dalam membangun konstruksi. Lebih dari sekitar 180.000 lebih atau mungkin banyak buruh sipil Asia dilibatkan dalam kerja paksa atau Romusha ini dan ada sejumlah 60.000 tawanan perang Sekutu (POW) bekerja pada rel kereta api.

Dari jumlah tersebut, perkiraan kematian akibat Romusha ini sekitar 90.000 orang meninggal. Sebanyak 12.621 orang dari Sekutu POW meninggal selama konstruksi. POW mati termasuk 6.904 personel British, 2.802 warga Australia , 2.782 Belanda, dan 133 orang Amerika.

IMG_6867.JPG
rombongan bersama Jonathan Phang baru menyebrang dari River Kwai Bridge

Makanya di dekat museum setelah mengunjunginya ada lahan yang merupakan kuburan dari korban pembangunan jalur kereta ini. Beruntungnya ya bukan kuburan massal seperti yang ada di Phenom Phen 😀 jadi nggak serem.

Ketika melewati River Kwai Bridge dengan perahu penumpang sepanjang perjalanan, turis yang kebanyakan para bule diberi penjelasan sejarah River Kwai Bridge dan Burma Railway.

Kami termasuk ada 4 media dari Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filifina dengan sisanya yang satu rombongan bersama saya adalah pemenang kuis acara Asian Food Chanel Gourmet with Jonathan Phang. Semuanya skitar 20 orang bersama Public Relation yang mengurus acara, termasuk Jonathan Phang yang ramah luar biasa diajak ngobrol.

Sampai diujung sana, menuju sebuah daratan lagi kami mendapati kuil budha dan anak-anak sekolah Thailand yang lagi piknik. Nggak lama kami naik bus lagi menuju Museum Burma Railway.

IMG_6882.JPG
Celementary yang merupakan kuburan dari korban pembangunan Burma Railway

Ini sebenarnya nggak enaknya ikut trip yang itinerary-nya dibuat orang, kurang leluasa mau ngobrol-ngobrol dulu sama penduduk sekitar.

Pembangunan rel kereta api ini telah menjadi subyek dari sebuah novel dan film pemenang penghargaan, The Bridge at River Kwai yang juga diambil dari novel, The Narrow Road to Deep North oleh Richard Flanagan ditambah sejumlah besar pengalaman pribadi tawanan perang Sekutu.

Baru-baru ini, gambar bergerak The Railway Man (berdasarkan novel dengan nama yang sama) juga memberikan pengetahuan tentang kondisi barbar dan penderitaan yang menimpa para pekerja yang membangun rel kereta api.

Semua keterangan ini ada di dalam museum. Sayangnya saya tidak diperbolehkan memotret ketika di dalam. Saya cuma bisa bilang ini museumnya keren banget, mungkin kamu bisa kesana dengan cara backpacker lewat darat ke kota Kanchanaburi. Ah seru, selain masih ada banyak lagi atraksi di kota Kanchanaburi.

melintasi River Kwai bridge dok dyah ayu pamela.JPG
Nah selama di kapal turis diberi penjelasan soal sejarah pembangunan Thailand – Burma Railway

Ini tak kalah keren dari apa yang dibuat oleh Kamboja dan vietnam untuk wisata perang mereka. Bisa jadi referensi banget. Sebab di dalamnya ada edukasi soal sejarah pembuatan rel kereta api di masa itu, kenapa dibuat, kenapa ada korban jiwa, ada wabah penyakit juga, lalu betapa kurusnya pekerja paksa saat itu, bahkan ada kejadian semacam busung lapar. Ini terjadi di masa Jepang sedang berkuasa dan Sekutu menjadi tawanan perang.

Di museum juga akan diceritakan bahwa proyek Burma Railway merupakan sebuah prestasi mengesankan. Sebagai seorang insinyur Amerika mengatakan setelah melihat proyek, apa yang membuat teknik yang digunakan saat itu sebagai totalitas dilihat dari akumulasi faktor.

IMG_6885.JPG
kuburan korban pembangunan Burma Railway

Total panjang mil, jumlah total jembatan – lebih dari 600 buah, termasuk enam sampai delapan jembatan bentang panjang – jumlah orang yang terlibat (satu-seperempat juta), waktu yang sangat singkat di mana mereka berhasil mencapainya, dan kondisi ekstrim mereka capai di bawah.

Mereka para pekerja juga memiliki sangat sedikit transportasi untuk mendapatkan barang-barang ke dan dari pekerja, mereka hampir tidak ada obat, mereka tidak bisa mendapatkan makanan membiarkan bahan saja.

Mereka tidak memiliki alat untuk bekerja dengan kecuali untuk hal-hal dasar seperti sekop dan palu, dan mereka bekerja di kondisi yang sangat sulit – di hutan dengan panas dan kelembaban. Semua itu membuat kereta api ini merupakan prestasi yang luar biasa.

IMG_6870.JPG
Anak sekolah di Thailand lagi piknik, sayang ya bukan piknik di gunung 😀

 

Advertisements

4 thoughts on “River Kwai Bridge – Wisata Sejarah Thailand Burma Railway

  1. Aku baru tahu di asia ada luxury train semahal itu. Btw asyik bener sih kerjaannya, gapapa lah ikut open trip yang penting pengalaman sama perjalananya asyik. Nice post kakak:)

  2. wah sama seperti di indonesia ya .. jalan mobil atau KA di bangun pada masa penjajahan dengan ratusan atau ribuan nyawa2 …. tapi disini ga jelas dimana kuburannya
    btw … asyik banget dapat naik KA mewah begitu .. pengennn ,, tapi gratisan juga ga mau bayar 😀

    1. Iya, Jepang bukan bikin romusha di Indonesia aja, tapi saat berjaya Jepang juga buat kerja paksa di Thailand-Burma buat mendukung pengaruh di Asia Raya yang itu melibatkan tawanan perang Sekutu. Dan naik E&O Express sayang kalau bayar sendiri, hehe mungkin kalau yg beroperasi di Eropa akan lebih eksotis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s