Asia · story · Thailand - Asia Tenggara · The Journey · Traveling

Menyelami Phuket, Mutiara Laut Andaman

Sekumpulan pulau di antara biru dan hijau turquoise laut yang terbentang, seolah saya selalu ditemani oleh warna cerah matahari. Berkeliling pulau-pulau kecil, bertemu ikan cantik berwarna-warni, memori saat berkunjung ke Raja Ampat, Papua Barat, menjadi pengalaman yang nggak bisa lepas dalam ingatan.

Inilah yang mengilhami saya pergi ke Phuket, satu lokasi di Thailand yang di kalangan wisatawan asing sangat terkenal wisata baharinya. Berbekal selancar di internet, saya juga jatuh hati dengan hampir semua cerita dan objek foto orang-orang yang pernah ke tempat yang pernah menjadi lokasi syuting film The Beach itu. Jadilah awal Januari 2013 lalu bersama beberapa teman pecinta traveling, membeli tiket pesawat  tujuan Jakarta-Phuket.

Dengan jadwal pergi yang cukup lama, pertengahan April dan memilih untuk pergi saat low season, bukan musim liburan atau perayaan hari besar. Trik yang biasa digunakan traveler budget untuk melancong. Biaya sewa hotel jelas lebih murah, karena ada potongan diskon melalui situs http://www.agoda.com .

Hari itu akhirnya tiba, dengan rencana matang bersama 5 teman lainnya kami akan memesan jasa travel agent untuk 2 hari menyambangi berbagai pulau dan pantai di Phuket. Kami tidak pergi kerbarengan dari Jakarta, tapi janjian untuk ketemu di Patong. Karena masing-masing punya agenda sendiri sebelumnya. Seperti Prita dan Ido yang lebih dahulu pergi ke Bangkok, juga dua teman lainnya. Sementara Tiara sehari lebih dahulu sampai di Patong, Phuket daripada saya, berhubung jadwal cuti kami berbeda.

Setibanya di Bandara Internasional Phuket, saya memilih untuk naik minivan yang mirip dengan kendaraan travel. Harganya cukup terjangkau sekitar Rp.50 ribu, tapi harus menunggu penumpang hingga 7 orang. Menurut saya ini kendaraan yang paling aman dan nyaman untuk sampai ke hotel karena luas dan dilengkapi AC, selain itu turis juga tidak perlu khawatir tersasar, driver akan mengantar sampai depan hotel. Berdoa saja agar diantar paling awal.

Seperti yang saya baca sebelumnya memang penunpang van pasti akan diantar ke travel agent dan ditawari berbagai macam paket wisata. Kalau sudah begitu sebagai pelancong cerdik, baik-baiklah menolak karena banyak turis tertipu harga yang lebih mahal. Kisaran harga untuk seharian diantar ke berbagai lokasi satu paket dengan makan siang dan peralatan snorkling biasanya 800 – 1500 bath atau setara Rp. 290 ribu sampai Rp. 540 ribu (rate 1 bath Rp.360) tergantung seberapa jauh dan kapal yang dipilih. Seperti turis lainnya, kami memilih hotel yang agak dekat ke pantai, cukup berjalan 500 meter sudah sampai ke Patong Beach, Bangla Road, dan Jungceylon Mall tempat yang akan memanjakan wisatawan dengan pusat kuliner, oleh-oleh dan hiburan.

IMG-20130427-WA002
canoeing dan masuk ke dalam goa-goa karts itu pengalaman yang menarik banget

Adapun Pantai Patong terletak 20 kilometer dari kota Phuket dengan lama perjalanan kurang lebih 30 menit atau 45 menit dari Bandara Internasional Phuket. Pukul 7 pagi kami sudah bersiap di hotel menunggu dijemput minivan dari travel agent. Kami sangat beruntung, karena akan menggunakan speedboat yang hanya akan membawa tidak lebih dari 20 wisatawan. Cukup private dan lebih cepat sampai dibandingkan menyewa kapal besar.

Tour guide kami sangat ramah, memang tidak terlalu fasih berbahasa inggris, pengucapannya pun agak aneh, saya bisa maklum, apalagi saat menyebut James Bond Island, salah satu pulau di Taman Nasional Khao Ping Kan yang dipilih sebagai tempat persembunyian salah satu musuh James Bond, Fransisco Scaramanga di film Bond berjudul The Man With The Golden Gun (1974).

Saya kira Thailand memang sangat baik dalam menejemen pariwisatanya. Pelancong tak perlu bingung untuk menuju berbagai tempat, karena sejak sampai bandara sistem transportasinya pun seperti sudah memanjakan mereka. Para turis akan di antar dan dijemput di depan hotel, bahkan bila pergi dengan rombongan bisa memesan minivan sehari sebelumnya dan dijemput juga diantar ke bandara, betapa mudahnya. Saya dan teman-teman sempat berkenalan dengan seorang ibu petugas travel agent di dekat hotel dan karena sebelumnya membeli paket travel kami mendapat diskon 20 bath untuk biaya minivan ke bandara.

Jauh dari perasaan khawatir, kami juga diberitahu agar berangkat lebih awal 3 jam meski take off pagi. Karena kepulangan kami saat itu weekend sungguh ramai dengan wisatawan. Selain mudah untuk sarana transportasi, penduduknya juga lebih ramah. Kalau di Phuket ini masyarakatnya cukup banyak yang memeluk agama Islam. Saya menemukan ada 1 mesjid yang cukup besar, yah meski tidak sebagus yang ada di Jakarta.

Di Phuket, juga ada satu perkampungan muslim terapung yang ternyata nenek moyangnya orang Indonesia. Kabarnya asalnya merupakan nelayan-nelayan Indonesia dari wilayah Sumatera. Ini lokasi pertama yang saya datangi, saya dan rombongan berkesempatan makan siang disini, sebelum akhirnya ke Viking Cave dan Pileh Cave, mengunjungi Pantai Monyet kemudian mampir ke Ao Phang Nga dan James Bond Island.

Sebenarnya di Kota Phuket sendiri ada banyak tempat wisata sejarah yang juga layak dikunjungi. Misalnya kawasan kota tua layaknya di Jakarta dengan gaya bangunan Chino-Portugis, Taman Saphan Hin. Masih berhubungan dengan laut ada Perkampungan Laut Gypsy, Pantai Rawai, dan Tanjung Promthep.

Menurut wisatawan lain yang sempat kami ajak ngobrol, sebenarnya tempat yang harus dikunjungi Phi Phi Lay (Teluk Maya dan Teluk loh Samah) lokasi syuting The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio. Tapi kabarnya ada lokasi yang lebih cantik lagi, namun tidak mungkin ditempuh hanya dalam satu hari, harus dengan menginap.

Bagian paling menarik di hari pertama itu adalah kegiatan canoeing. Satu kano diisi 2 turis dan 1 guide yang akan mengayuh dan membawa kami ke dalam goa-goa dan dinding karts. Satu kata menurut saya “Amazing” karena kelihaian guide kami untuk masuk ke dalam goa-goa yang sempit. kemudian pada suatu waktu kami berhimpun didalam goa itu yang ternyata adalah sebuah ruang besar dan terhubung dengan bagian lain, hingga kami menemukan Pulau James Bond yang kedua.

Sesekali kami harus membujurkan badan dan telentang agar kepala kami tidak menyentuh dinding karts. Saya berpikiran betapa kreatifnya pemerintah Thailand membuat semacam tour seperti ini, sangat berkesan. Dalam benak saya muncul banyak sekali pertanyaan. Sejak kapan goa-goa karts ini menjadi objek wisata dan sejak kapan ditemukan. Namun kendala bahasa membuat saya menyimpan pertanyaan tadi, karena guide saya ini sama sekali tidak mengerti bahasa inggris.

IMG-20130419-00634
Di dekat dermaga Pulau Phi-Phi

Hari semakin sore dan perjalanan dilanjutkan ke sebuah pulau lain, cukup jauh dari Viking Cave tadi. Speedboat yang membawa kami menaikan laju kecepatannya. Sepanjang perjalanan gugusan pulang tadi menjadi pemandangan menawan dari jauh. Mirip dengan gugusan pulau di Raja Ampat, namun dengan keriuhan dari turis yang berseliweran datang ke tempat ini. Semacam ada perasaan kurang eksklusif karena tak hanya satu atau dua kapal yang akan mencapai ke penghujung kumpulan pulau di Phuket.

Ada berbagai macam jenis kapal dari perusahaan- perusahaan travel agent. Mulai dari perahu kecil long boat, speed boat, big boat, sampai kapal pesiar. Begitu banyak turis dan pundi-pundi uang yang dihasilkan dari satu tempat yang dijuluki sebagai mutiara laut Andaman ini. Itulah yang saya ungkapkan sejak awal, bahwa Pemerintah Thailand sudah cukup baik mengelola pariwisatanya.

Meski begitu saya sangat bersyukur, Raja Ampat tidak menjadi seperti Phuket. Raja Ampat tetaplah akan menjadi Raja Ampat yang sulit dijangkau dan terkesan eksklusif. Seperti kepulauan di Phuket yang juga merupakan taman nasional, dengan minimnya fasilitas mencapai gugusan pulau akan membuat Raja Ampat tetap terjaga dari sampah dan tangan jahil manusia. Guide kami sering mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Untuk penduduk Thailand, mungkin mereka sangat menghargai dan merasa kepulauan ini sebagai salah satu sumber nafkah mereka.

Namun saya meragukan masyarakat di negara saya sendiri yang kurang peduli dengan kepunyaannya. Cukup beralasan bagi saya, sebab Raja Ampat sendiri pun pada beberapa lokasi telah dikelola asing. Saat saya mengunjungi salah satu dermaga tempat diving, yang menjajahkan barang-barang souvenir khas Papua pun diberi label harga mata uang Euro. Seperti menelan pil pahit saat mengetahuinya.

IMG_20130420_175819
Di sebuah pantai yang cantik banget tapi jelek isi habitat di dalamnya

Hari berikutnya, ternyata kami harus menumpang big boat, jenis kapal yang jauh lebih besar dan mengangkut 100 orang lebih. harganya pun jauh lebih murah 1000 bath. Kendati begitu, tetap terasa nyaman. Tak ingin melewatkan pemandangan spektakuler di depan kami, barisan depan didekat ujung kapal kami pilih sebagai tempat memanjakan mata. Makan siang disediakan di kapal, dengan menu prasmanan, terlihat berbeda dengan hari pertama saat kami makan di restoran di perkampungan muslim. Selain itu tidak ada tour guide yang akan bercerita mengenai apapun informasi dari tempat yang kami kunjungi.

Kali ini tanpa canoeing namun kami sempat snorkling di sebuah pantai yang cantik sekali. Saya cuma heran, kenapa pantai secantik ini tidak memiliki pemandangan bawah laut yang juga menawan. Saya kecewa, tidak menemukan apapun dibawah laut sana kecuali ikan belang-belang dan terumbu karang dan bulu babi jauh di dasarnya, saya juga menemukan kaleng coca cola. Sangat berbeda dengan salah satu pulau di Raja Ampat yang di bibir pantai pun dapat ditemui ikan berwarna-warni.

Tak perlu merasa lelah berenang dengan pelampung seperti yang saya lakukan di Phuket, hingga berkali-kali saya terbawa ombak terlampau jauh dari rombongan. Saya sempat membaca ada banyak berita yang menyebutkan untuk berhati-hati saat snorkling di Phuket. Mungkin untuk jenis big boat petugas travel tidak bisa memperhatikan satu-persatu turis. Pernah ada insiden dimana wisatawan yang meninggal karena terbentur bagian kapal saat snorkling.

Advertisements

2 thoughts on “Menyelami Phuket, Mutiara Laut Andaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s