Indonesia · Liputan · story · SUMATERA - Indonesia · The Journey · Traveling

Dibalik Kanibalisme Suku Batak di Huta Siallagan, Samosir

Rumah Bolon, khas dari Suku Batak di Samosir.. waktu datang hujan gerimis, bulan April musim penghujan masih berlangsung 

Kapal fery kecil mendarat ditepian Pulau Samosir dan gerimis pun seolah menyambut kedatangan ku. Sejak siang langit yang terlihat mendung memang sudah mengirimkan tanda-tanda akan hujan lewat sekawanan awan gelap, bahkan sejak ditengah perjalanan dari dermaga pinggir Danau Toba. 

Sebuah gapura besar dan lorong kios-kios tempat menjual souvenir membawa ku hingga menuju perkampungan yang dibatasi tembok besar setinggi dua meter. Disitulah Huta Siallagan, huta sebutan untuk desa bagi orang Batak, disini desa Siallagan merupakan tempat bermukim salah satu raja dan keluarganya dahulu. Ada rumah bolon khas Suku Batak berjejer di dalamnya yang kini masih ditinggali kerabat keluarga keturunan raja. Rumah aslinya berukuran 3 kali lipat lebih besar, sebab dulu bagian bawah rumah juga bisa memuat ternak sapi dan kerbau, tak hanya ayam saja. 

Uniknya rumah bolon memiliki seni ukiran dengan cerita filosofinya. Di bagian ujung ada singa sebagai penolak bala yang disertai dengan topeng-topeng. Di bawah ada motif gajah dan cicak boraspati yang dilambangkan sebagai orang Batak. Cicak ini hewan yang bisa menempel dimana saja, di atas dinding, di tembok seperti halnya orang Batak yang bisa beradaptasi hidup dimana saja. Tak heran, dimana berada orang Batak banyak yang berhasil jadi pengacara, jadi ahli hukum, dan profesi lainnya 😀. 

Rumah bolon dengan tanduk itu merupakan tempat tinggal raja, di depannya ada meja batu dan pohon yang katanya bersemayam roh leluhur

Tempat yang kini menjadi cagar budaya dan dikelola keluarga desa setempat ini sempat mengalami kebakaran hingga menghanguskan seluruh rumah di tahun 1940. kemudian perkampungan dibangun kembali namun dengan ukuran rumah lebih kecil. Di dekat salah satu rumah bolon ada pohon besar yang didekatnya ada batu persidangan. Sudah berlumut dan tampak tua, batu persidangan merupakan tempat raja dan penasehatnya mendiskusikan hukuman bagi warganya yang berbuat kejahatan.

Ya, benar. Perkampungan Huta Siallagan yang masih eksis ini memang memelihara cerita dan peninggalan yang menyatakan kebenaran tentang Marcopolo dan para misionaris yang datang ke Indonesia. “Dulu raja disini tidak beragama sampai datang misionaris hingga disini kanibalisme juga berhenti dilakukan,” ungkap Christiani, keturunan ke-18 dari penduduk Siallagan yang menjadi guide saat kunjungan kami.

Kanibalisme, terdengar seram dan ungkapan orang Batak Makan orang itu ternyata benar. Karena di Huta Siallagan ini cerita tersebut memang terjadi. Dahulu bila ada orang di kampung ini berbuat kejahatan besar seperti mencuri atau membunuh maka mereka akan dihukum berat.

Mereka dianggap seperti binatang bukan lagi manusia sehingga tak masalah jika dibunuh lewat suatu prosesi lalu dimakan. Kepala yang terlepas dari leher dibuang ke Danau Toba. Hati jantungnya dimakan para prajurit raja yang kabarnya akan membuat prajurit makin kuat bertarung. 

Sementara tubuhnya dibuang ke hutan agar bisa dimakan anjing atau babi hutan yang kemudian kembali lagi dua hewan ini disembelih dan dimakan warga sekitar yang berburu. Artinya betul bahwa orang “Batak Makan Orang” toh? Ini yang saya dengar langsung dari Christiani, kalau Googling ada versi lain bagian tubuh ikut dimakan juga atau memang dibuang semua ke hutan.

“Tapi jika pelaku adalah perempuan atau ibu, tidak ada hukuman untuk dihukum pancung. Hanya saja perempuan tersebut akan diasingkan dari kampung, tidak boleh tinggal disini lagi,” sebut Christina lagi. 

Alasannya karena ibu bagi orang Batak dianggap sebagai asal muasal manusia,, yang melahirkan anak. Ini penjelasan pemandu kami ketika ada yang bertanya. Menurut cerita juga zaman dahulu wanita Batak melahirkan belasan anak. Orang Batak percaya makin banyak anak makin bagus. Karena itu juga di Batak pria bukan memilih wanita yang cantik untuk dijadikan istri, tapi wanita berdada besar yang menandakan kesuburan. Kalau diperhatikannya lagi di ukiran rumah bolon Batak ada juga lambang wanita dengan empat payudara. Filosofinya seperti yang disebutkan tadi. 

Selama perjalanan dengan fery, akan disuguhi pemandangan cantik Pulau Samosir dari jauh.

Huta Siallagan baru satu dari banyak desa yang ada di Samosir. Selain mengetahui bagaimana sejarah kanibalisme dan kerajaan kecil di Batak, wisatawan juga bisa ikut menari Sigale-gale, sebagai patung yang digerakkan manusia untuk menari dan menghibur raja. 

Untuk mencapai Pulau Samosir, wisatawan dapat menggunakan boat lewat tiga dermaga di bibir Danau Tidak. Sebelum adanya Bandara Silangit, dulu untuk mencapai Parapat menuju Danau Toba dari Medan harus menempuh perjalanan darat sekitar 7 jam lamanya. Presiden Jokowi akhir tahun 2016 lalu sempat mendatangi Danau Toba sehingga fasilitas Bandara Silangit pun dibenahi. Di Parapat ada banyak akomodasi hotel juga homestay. Sepanjang jalan menuju Danau Toba kita akan melewati Tapanuli Utara hingga Desa Balige. Kita juga bisa memilih wisata trekking dan melihat air terjun.

 

Advertisements

4 thoughts on “Dibalik Kanibalisme Suku Batak di Huta Siallagan, Samosir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s