LIFE · story · The Journey

Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau Nampaknya

IMG_7372
Rumput, di bukit-bukit berubah warna tapi tetap indah dari jauh di Gunung Semeru. photo taken by me

Ada pepatah lama, “Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau nampaknya”. Siapapun yang mengarang kata peribahasa ini keren lah. Di zaman aktualisasi social media maupun pergaulan jagad raya, masih terus berlaku adanya rumput tetangga yang nampak lebih hijau.

Iya, kepikiran aja nulis tentang pepatah ini karena belakangan lagi sering mendengarkan beberapa teman yang banyak ngeluh soal pekerjaannya. Ini jadi bikin ku mikir kalau betapa beruntungnya menjadi aku yang bisa melakukan sesuatu yang disuka, pekerjaan yang jadi hobi juga. Walaupun sebenarnya nggak banyak orang yang tahu juga gimana perjuangan buat survive sampai fase ini. Pekerjaan yang pada akhirnya walau disukai tetap bakal ditinggalin nanti pada masanya. Who knows?

Sebutlah seorang public relation di sebuah hotel berbintang empat di Jakarta atau account manager di perusahaan swasta. Perfect! siapa yang nggak mau punya posisi itu di antara para pencari kerja yang kesusahan di luar sana? bahkan setelah keterima jadi reporter dulu dan menjalani hari-hari bising rutinitas keredaksian dan sempat ada satu titik penat ku masih ngebayangin bisa jadi PR. Mau pindah jalur ke posisi pekerjaan yang lebih dihargai dari sisi finansial. Hehehe, ternyata semua kurang berguna juga, kalau melakukan sesuatu yang tidak kita sukai.

foto 1 (4)

Well, ternyata dua profesi kece ini pun tetap punya keluhan. Menurut ku apapun profesi, dengan latar belakang pendidikan sesuai atau tidak dengan jenis pekerjaan itu balik lagi bagaimana menyikapinya.

Suka mikir nggak? keluhan kamu itu tidak sebanding dengan apa yang dialami orang lain. Terjadi disekitar kita misalnya kasir swalayan. Kepikiran nggak kalau kamu jadi dia yang hampir seharian berdiri saat harus kerja? boring for me. Di tanggal merah pun mereka tetep kerja bahkan sampai malam..

Suatu kali saat ngantri di rumah sakit juga jadi mikir. Betapa membosankannya jadi resepsionis dan melayani orang daftar. Apalagi kasir yang harus hitung teliti uang dan kebanyakan di dalam ruangan aja kerjanya. Btw beda sama kamu yang bisa kerja lebih cerdas atau mungkin aku yang bisa kerja lapangan ketemu orang banyak, punya waktu luang kesana kesini bebas kamu yang atur yang penting berita kirim beres, foto-foto beres. Tanggal merah pun masih bisa mensiasati liputan atau buat stok berita sebelumnya supaya bisa libur. Kalau mikir begini kerasa Allah super super baik bangetssss.

Sejak saat itu mengerti lah, apapun yang ada sekarang syukuri. Melihat enaknya hidup orang belum tentu itu sesuatu yang nyata, cuma dia nggak ngeluh aja jadi kelihatan adem ayem. Gw pun jarang ngeluh dan banyak yang nggak tahu aja gimana keseharian menerobos jalan Jakarta, pulang malem, kehujanan, nyetir sendiri, atau belum lagi pas nggak dapet libur weekend karena harus ke luar kota.

Dulu sebelum ditempatin di desk yang cukup bisa dikendalikan rutinitasnya, aku pun nggak punya pilihan. Disuruh kesana kesini sama editor, bahkan sampe Bogor pernah ngejar-ngejar nara sumber. Kalau nggak sabar mana mungkin, pasti nggak betah mau keluar, tapi berhubung ini menantang, sudah jadi pilihan, dan suka melakukannya. Selagi masih muda pikir ku lagi, pengalaman yang banyak buat diceritain ke anak cucu nanti.

Nggak tahu juga kan gimana dulu di awal gw harus piket malem, kalau-kalau ada kejadian berita besar di Jakarta. Belum lagi jam tidur yang acak-acakan, nungguin DPR rapat sampai malam. Itu nggak setiap hari, tapi bayangin paling nggak cukup sering dulu dadakan di BBM atau ditelpon editor suruh pindah lokasi geser sana-sini. Berita harus langsung jadi.

Ah,… dulu ngebayangin kepingin jadi PR aja yang duduk cantik, bikin press rilis terus ngundang-ngundang wartawan. Hhahahah ternyata menjadi PR tak gampang juga, banyak harus ngadepin wartawan iseng.

Bukan soal pekerjaan aja, di kehidupan apapun. Seperti yang Diana Rikasari bilang “Put Love in everything we do. Only love makes everything feel better,”. Jangan banyak ngeluh, kerjain apapun dengan cinta. Hahaha jogging penuh cinta karena cinta sama body gw, nulis karena seneng cerita dan berbagi kalau dianggap lain sama yang baca yasudahlah, terus traveling juga semua karena cinta dan menghargai ciptaan Allah. Mumpung masih muda banyak kerjakan hal berguna, hal menyenangkan, btw sekarang rasanya lagi kebanyakan energi buat main. kepingin pinter berenang, naik gunung lebih jauh lagi, traveling ke Yunnan. Hhehehehe kalau nyokap baca pasti dimarahin.

foto 2 (3)

 

Advertisements

4 thoughts on “Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau Nampaknya

  1. sesuai pepatah .. manusia tidak akan pernah puas ..
    rumput tetangga memang selalu terlhat lebih hijau … kuncinya kata pak ustadz harus lebih banyak bersyukur .. setuju pak ustadz .. hehehe

  2. Ada yang bilang nadi boss mah enak, ga mikir. Nyatanya, kebanyakan dari mereka yang ga susah tidur kalo malam. Apalagi kalo bukan mikirin kerjaan. Hihi…

    Mungkin, yg enak itu owner kali ya. Ga masuk jajaran manajemen, tapi terima uang dari saham. Haha 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s