Asia, Backpacker, The Journey, Traveling, Vietnam - Asia Tenggara

Pasir Berbisik di Mui Ne Sands, Vietnam Selatan

 

Padang Pasir Muine untuk blog 1
Payahnya, batere kamera saya di detik-detik nyawa,, padahal banyak moment yang belum saya capture. Hanya beberapa foto termasuk matahari sebelum naik tinggi
Saya belum pernah ke wilayah padang pasir, makanya waktu tahu kalau di daftar itinerary selama 5 hari di Vietnam juga termasuk mengeksplore Padang Pasir Mui Ne, langsung excited banget. Ujuk-ujuk cussss buka youtube dan cari tahu lokasinya seperti apa….. rekaman video kan gambarnya terasa lebih nyata. Hmmmmm.

Ternyata nggak banyak yang posting soal Mui Ne di youtube maupun blog dan memang tempatnya jauh bermil-mil dari kota Saigon. Saya aja harus 6 jam menggunakan slepper bus, belum lagi mesti menyewa mobil Jeep sebab medannya yang cukup sulit, walau ada berkilo-kilo jalan beraspal setelahnya merupakan jalanan berdebu, berpasir, turunan, tanjakan, berbatu. Ini mirip dengan jalanan yang saya lewati ketika 6 jam melalui darat dari Phenom Phen ke Siem Riep, Kamboja…. debu dimana-mana.

Memang perginya kan ala backpacker, nggak nginep di hostel atau guest house (lagi tanggung juga, kan tujuan utamanya juga mau liat sunset). Slepper bus sampai di Muine sekitar jam 2 pagi. Ngapain coba??? untungnya batere handphone masih menyala, modal iseng pencarian wifi di tempat pemberhentian bus yang dekat restoran itu ternyata jaringan tanpa password. *langsung joget* nge-Path lah ketibaan di Mui Ne…. mondar-mandir sambil dengerin lagu. Sementara temen-temen (Ika, Wendra, Hatni, Prita) masih bisa tidur dalam kondisi duduk di perhentian bus Sinh Tourist. ZZZzz zZZZZzzz puk-puk-puk baru dijemput sama driver jam 4 subuh. Syalala banget.

Padang Pasir Muine untuk blog 2
Jalan di pasir memang butuh usaha lebih, lebih baik nyeker atau naik ini….. Zzzzz (backpacker nyeker aja)
Sambil nunggu, di pemberhentian bus yang ada restorannya ini (yang udah tutup) kita juga bisa numpang ke toilet, sekedar cuci muka (nggak mandi), ada satpamnya sih tapi aman nggak ditanya-tanya. Yang lebih seneng toiletnya bersih, terus gratis!!! huahaha *tawa pahlawan bertopeng*. Masih berasa lama, ada kejadian unik. Selama nunggu Jeep datang, beberapa kali bule lewat sambil ketawa cekikikan. Kirain di Mui Ne juga ada kunti…. ada lagi dua bule naik sepedahan, sambil ketawa-tawa, terus tiba-tiba jatoh. Kayanya dia mabokk deh,,, Zzzzzzzz.

Akhirnya Jeep tiba, langit masih gelap pas kita dijemput kendati jarak ke padang pasirnya sendiri lumayan. Nyatanya kita agak melewatkan moment sunrise, sebelum sampai di puncak padang pasir. Dari kejauhan nampak sekumpulan titik-titik kecil (tentu saja itu orang diatas gundukan pasir yang lagi menantikan sunrise) dan kami masih berada dekat danau. Yasudahlah, lanjut motret dulu moment kemunculan mataharinya yang bulat besar dari kejauhan.

Nggak lama kita sampai di gerbang, sedaratan sekitar lokasi ini memang terlihat tandus. Pepohonan yang tumbuh juga jenis yang mungkin hanya hidup di daerah bertipikal kering. Yellow Sands, mereka menyebutnya karena pasir cenderung berwarna kuning, bukan kecokelatan. Kalau dari dekat mirip pasir di pantai tapi yang ini kebangetan halusnya, lalu kalau diperhatikan baik-baik tampak bening.

Seketika saya membayangkan seperti apa padang pasir di Mesir, yang di baliknya ada Piramida dan Sphinx terkenal itu. Pasti yang membuat indah adalah background kedua bangunan bersejarah ini. Sementara Mui Ne hanya memiliki pemandangan lain berupa danau. Melihat sunrise di Mui Ne adalah satu rasa takjub yang lain. Beruntunglah mereka yang rajin bangun pagi. ๐Ÿ™‚

Padang Pasir Muine 1
Sisi lain diantara kumpulan pasir yang hidup pepohonan diatasnya
Pasir lalu berbisik, lewat hembusan.. kalau wilayah sejenis padang pasir dengan angin kencang, entah karena masih pagi, di Mui Ne anginnya tidak terlalu kencang. Sayang cuacanya juga agak mendung, potret yang saya dapat jadi terkesan melow. Nggak bagus juga….

Diatas sana, ngapain lagi kalau bukan selfie??? saya bertiga Prita dan Hatni jadi bahan tertawaan turis di ujung sana, yang ajaib dengan tongkat narsis. Pas dekat rombongan orang asing disebelah sana, mereka penasaran dari mana kami. Lagi-lagi kita dikira turis dari Malaysia. Dan mereka yang wajahnya mirip China kebanyakan adalah orang lokal di bagian Vietnam lain. Tak berapa lama, kita bisa melihat beberapa orang juga menyewa kendaraan khusus mengelilingi gundukan pasir. *Iri mode on*

Jadi inget masa kecil yang suka main-mainan di lapangan pasir, atau pas ketemu gundukan tanah. Silahkan disini kamu bebas main perosotan. (Kalau urat malunya nggak putus sih). Tadinya yang kebayang saya mau guling-gulingan di pasir *ehhhh….

DSCN0378
Jeep yang mogok, untungnya ini bukan Jeep yang mengantar kami ke Muine
Saya sudah merasa kesiangan untuk melihat sunrise, tapi ternyata ada gerombolan yang lebih telat datang. Kelihatannya bukan backpacker, soalnya penampilannya seperti turis.

Perjalanan lanjut ke site Yellow Sands lainnya, lalu ke Fisherman Village yang bagi saya mirip dengan kampung nelayan di Pantai Pangandaran. Seolah dekat dengan kehidupan masyarakat nelayan, hamparan perahu dipinggirannya itu jadi pemandangan cantik. Sambil numpang nge-cas batere handphone, saya perhatiin aja mereka bapak-bapak dan ibu muda yang lagi sibuk cari pengisi perut alias sarapan. Makanannya, saya nggak berani coba, aneh sih mirip serabi tapi dicelupin di kuah sayur, takut itu pork juga.

Fisherman Village
Fisherman Village mirip sama yang di Pangandaran, Jawa Barat ๐Ÿ˜€
Lalu yang anehnya dan nggak saya tahu sebelumnya kalau ada di itinerary kita juga melewati aliran air, yang kalau di Indonesia mirip luapan banjir ๐Ÿ˜€ bernama fairy spring (kalo nggak salah itu namanya). Semacam aliran sungai yang diatasnya juga terdapat gundukan pasir merah.

Jalannya panjang banget, ada mungkin 2 kilo meter. Sebelum turun ke aliran airnya, yang melewati rumah warga (mirip di kampung-kampung) kita bakal dimintai retribusi tanpa karcis, 2 ribu Dhong sama ibu-ibu yang jaga. Lucunya penjaga di sini punya doggy lucu yang lagi mainan pasir.

Saya jadi tahu kenapa tidak banyak traveler yang mengulas soal Mui Ne. Soalnya untuk kesini butuh usaha yang lebih, waktu yang lebih. Biayanya juga ekstra, dengan menyewa Jeep $20 yang bisa patungan lalu sewa mobil untuk kembali ke Saigon yang harganya hampir Rp.1 juta (meski patungan ber-5). Tapi nggak rugi kok, sebelum ke Mesir yang keren dengan Piramida dan Sphinx-nya. Kapan ya bisa kesana??? *** TANYAKAN SAYA PADA PASIR, Hembusannya apakah mereka benar berbisik :’p


Advertisements
LIFE, love, story, The Journey, Traveling

Never Bored to Have a New Experience, Traveling!

image

Hobi yang bernama traveling, tiba-tiba aja jadi trend dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir. Promo tiket low cost budget mungkin itu salah satu yang jadi penyebabnya. Benarkah? Bisa jadi! Bahkan pernah ada salah satu maskapai yang menerapkan Rp. 0 alias gratis. Siapa yang nggak mau gratis. Satu kata yang sangat laku di negara tercinta.

Tapi sebenarnya orang yang hobinya jalan-jalan pasti sudah dari dulu-dulu, sebelum ada tiket pesawat murah itu. Nggak usah jauh-jauh, contohnya gw. Dari kuliah waktu itu tahun 2004 dan sesudahnya gw suka banget baca bukunya Trinity “Naked Traveler” jilid 1 sampai jilid terakhir pun punya. Meski hanya membaca, tapi angan-angan selalu membawa gw terbang kemana-mana. Bahkan lucunya, di buku diary waktu SMA ada klipingan iklan dari koran untuk trip ke Jepang. Maklumlah saat itu kan gw pengemar berat drama dan kartun-kartun Jepang.

Selain Naked Traveler, ada banyak buku traveling yang gw baca. Terakhir aku membaca buku traveling yang berbau-bau religius “99 Cahaya di Langit Eropa” karangan Hanum Salsabila, putrinya Amien Rais. Gw buku ini, isinya cerdas karena tak hanya soal menjelajah bumi eropa, seperti kebayakan buku taveling. Didalamnya si penulis juga membumbui cerita sejarah kejayaan Islam dan pengetahuan-pengetahuan yang selayaknya diketahui sebagai muslim. Ada traumatis bagi sekalangan penduduk Eropa, hingga akhirnya mereka tidak memiliki agama.

By the way, waktu berjalan hingga beberapa lama lepas wisuda mimpi dan angan-angan jadi kenyataan, yap! bekerja sebagai wartawan. Ternyata profesi inilah yang mengantarkan ke banyak tempat. Memang sih, belum dari Sabang sampai Merauke, tapi pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, tentu saja Jawa, Nusa Tenggara dan yang paling indah, Papua sudah pernah disingahi. Padahal my dreams come true ini dijalani bukan karena iming-iming ke berbagai tempat tadi.

Waktu itu sebatas jalan-jalan sekalian tugas meliput, namun sekarang tugas meliput ke luar kota atau luar negeri (baru juga satu kali) jarang-jarang. Hehe, tapi sekalinya tugas pasti itu acara penting.ย Suatu kali saat meliput kunjungan kerja Ketua DPD, Irman Gusman ke Lampung gw ketemu mbak Elok Dyah Meswati, wartawan Kompas. Barangkali itulah pertama kalinya gw disusupi hembusan baru bernama backpacker ke luar negeri.

“Jalan-jalan ke luar negeri itu bukan barang mahal, saya pernah dapat tiket kurang dari Rp.100rb an ke S’pore,” sesumbar mbak Elok, waktu mengobrol di bis yang membawa kami ke sebuah pasar di Bandar Lampung.

Selagi makan siang di rumah jabatan Gubernur Lampung, obrolan itu berlanjut diikuti beberapa reporter lain seumuran gw yang ikut nimbrung. Dalam sekejap, kami seperti terhasut. Pintar mbak Elok ini. Sambil membuka komputer wanita paruh baya yang kira-kira seumuran redaktur gw ini kembali bercerita. Tentang dia yang menulis buku traveling hematnya ke Australia dengan menjadi anggota Couchsurfing. Nggak cuma menulis buku, mbak Elok ternyata adalah ketua dan pendiri dari Komunitas Backpacker Dunia. Setiap bulan pasti mengadakan pertemuan, saling sharing tentang perjalanan ke luar negeri. Makin terbuailah kami, reporter-reporter muda dengan cerita mbak Elok. Lalu melalui Facebook kami di tambahkan sebagai anggota Komunitas Backpacker Dunia.

Gw nggak cuma dapat cerita soal traveling, tapi berbuntut cerita lainnya. Soal kerja wartawan dan nasehat hidup. Gw juga jadi tahu kalau Pimred Koran tempat gw kerja dulu sering demo demo bareng mbak Elok. Hahaha mengejutkan ceritanya.

“Kamu mau jadi wartawan terus? mendingan juga wirausaha,”

“Saya banyak belajar mbak, untuk sekarang saya masih suka jadi wartawan,” jawab gw polos

Waktu itu bulan Februari 2012, sebulan kemudian, Maret, gw niatin buat pasport. Taraaa, pasport itu jadi dalam dua hari. Bulan-bulan selanjutnya gw nggak langsung pergi, karena baru saja mengambil cuti.

Traveling itu nggak selamanya menyenangkan. Itu kesimpulan yang gw dapat diawal-awal, meski begitu bukan berarti kapok. Disitulah letak kesenangannya, heran ya kita-kita yang suka jalan-jalan ini justru tak kenal lelah tersasar atau merasa kecapekan hingga rasanya betis kami mau meledak. Karena suka jalan-jalan, gw jadi punya banyak kawan, makin bersyukur dan mencintai negeri sendiri, dan hikmah lainnya. Salah satunya, karena traveling gw juga makin semangat untuk belajar bahasa Inggris. Juga makin menghargai waktu shalat, tahu sendiri betapa perjuangannya untuk mencari masjid, memilah milih makanan halal. Waktu di Malaysia yang penduduk muslimnya relatif banyak saja, gw kesulitan. Dan perlu diketahui, gw hanya menemukan musholah terbaik di sebuah mall ya hanya di negeri sendiri. Ruangnya luas, ber-AC, dan tidak akan diusir-usir oleh ibu-ibu Indian muslim karena tidak pakai hijab saat ke masjid.

Traveling itu juga belum tentu mahal dan traveling bukanlah milik mereka yang berkantong sangat tebal. Coba bandingkan dengan kebiasaan kita untuk makan sushi atau belanja barang-barang yang kadang kurang penting. Adakalanya kita harus lebih menghargai jerih payah hasil bekerja dengan bijaksana saat menabung. Salah satunya juga menabung untuk traveling. Nggak perlu banyak-banyak sampai harus puasa senin kamis. Hitunglah bila kita suka menghambur-hamburkan uang. Bandingkan dengan konversi mata uang Dollar, misalnya 1 Dolar sama dengan hampir 10 ribu rupiah. Itu seperti kita kalau patungan dengan teman saat naik taxi dan 1 Dollar atau 1 Ringgit yang kurs nya mencapai 3500 Rupiah bisa untuk beli tiket commuterline. Bisa untuk membeli segelas teh tarik. Cara ini pasti akan membuat kita berpikir ulang menggunakan uang untuk sesuatu yang lebih baik.

I am traveler

(Dyah Ayu Pamela)