Backpacker, culinary, Food, Kuliner, MOUNTAIN, story

Makanan Yang Bikin Kangen Ke Gunung

Cuma disaat-saat traveling saya bisa bebas makan apa aja, tanpa memikirkan berapa kalori yang tertera di label makanan ­čÖé .. Bahkan Indomie yang saya jarang makan (hanya semangkok mie instan itu 360 kalori, kan harus dibales lari 1 jam!). Kalo inget beberapa makanan ini, saya jadi inget gunung, apa aja coba?????

1. Mie Instant

Mie instant yang mereknya Indomie,… dan terkenal sampai mancanegara, nggak boleh lewat jadi logistik. Walaupun cuma bawa 1 aja… jelas makanan ini nggak sehat sih, karena bergluten, yang susah dicerna lambung kita. FYI, baru tiga hari mie instant bisa dicerna tubuh, oke tapi berhubung jarang-jarang kan,,, selamat datang konstipasi.

Walau wujudnya pas disaji nggak begini sih, mie instant favoritnya semua orang. Dokumen foto : indomie.com

2.Coki-Coki 

Bukan cuma jadi jajanan masa kecil, coki-coki ini juga cemilan iseng waktu di gunung. Tau kan gimana efek cokelat itu buat mood kita??? karena ketika mengkonsumsi cokelat tubuh pun menghasilkan hormon endorfin yang memunculkan rasa bahagia. Diemut-emut perjalanan di gunung jadinya nggak terasa.

Ngemut Coki-Coki itu ya inget masa kecil.
Ngemut Coki-Coki itu ya inget masa kecil.

3. Silverqueen Bites

Sebenarnya saya kurang suka makan cokelat yang kandungan kakao-nya dibawah 50%. Saya suka cokelat yang pait dengan kandungan kakao diatas 60%. Tapi tumben banget waktu terakhir ke gunung kemarin bawa cemilan Silverqueen Bites ini dan langsung suka. Pertama karena makannya nggak ribet, kedua karena bisa diemut, terus ketika di dalam cokelatnya ada kacang. Terutama kacang Almond saya suka banget, yang katanya juga menghasilkan hormon endorfin.

Kalau aku lebiih suka yang kacang Almond dan diketahui kacang Almond itu juga menghasilkan hormon endorfin.
Kalau aku lebih suka yang kacang Almond dan diketahui kacang Almond itu juga menghasilkan hormon endorfin.

4. Bubur Kacang Hijau + Roti Tawar

Merasa nggak sehat dengan menu mie instant?? ide lain bisa coba buat sarapan dengan bubur kacang hijau. Enak banget, pagi-pagi hangat di cuaca gunung yang dingin. Jangan lupa bawa roti tawar juga sebagai sumber karbohidrat penguat, walaupun roti tawar termasuk makanan bergluten, yang susah dicerna lambung, better lah daripada mie instant yang 3 hari baru bisa diproses tubuh.

aku suka kacang hijau yang hangat di pagi hari, terus dicelup roti tawar. nyummm
aku suka kacang hijau yang hangat di pagi hari, terus dicelup roti tawar. nyummm

5. Lauk Kering

Lauk kering seperti kering tempe dan kering kentang dipedesin atau dikecapin itu awet banget loh kalo dibawa ke gunung sebagai campuran nasi dan mie. Jadi inget pas ke Rinjani, hampir seminggu makan campuran nasi dan mie dengan kering tempe, kering kentang, bahkan ayam kering, dan daging kering serundeng. Tiada terkira bosennya…… (tapi tetep dimakan dan bisa buat di sharing ke tetangga kemping)

6. Pisang

Bagi saya buah yang awet, cepet bikin kenyang dan gampang dibawa itu Pisang. Hobi banget makan Pisang, apalagi buat pengganjal perut di waktu sarapan. Pagi-pagi itu enaknya makan dulu Pisang, terus setengah jam setelahnya disusul makan nasi. Pisang buah yang terjangkau, terus kalau bosen dimakan gitu aja, bisa juga dibuat jadi Pisang cokelat keju bakar. Nyum…nyummm

Selain bisa jadi buah di pagi hari, bisa juga dibuat Pisang Cokelat bakar :)
Selain bisa jadi buah di pagi hari, bisa juga dibuat Pisang Cokelat bakar ­čÖé

Ide makanan di gunung itu sebenarnya masih banyak lho…. bisa buat sarden ikan, kornet, dll. Kalau saya pasti prepare bawa kurma dan madu juga (tetep pilih yang sehat). Cuma ada yang heboh lagi waktu ke Rinjani, soalnya pendaki juga bawa sosis, nugget, bahkan niat bikin tempe atau bakwan.

Abis dari gunung dengan persediaan makanan di atas tadi saya tetep kangen dan histeris (dalam hati) kalau ketemu supermarket macam Indomeret atau Alfamart. Hehehehe, bukan apa-apa sih, saya cuma kanget makan ice cream ­čśÇ ­čśÇ

Advertisements
LIFE, Singapura - Asia Tenggara, story, The Journey, Traveling

Singapore (isn’t) a Boring Country

Pertama kali traveling ke Singapura, bukan sesuatu yang sangat terencana. Hanya tempat singgah, awalnya, tapi justru jadi satu catatan liburan yang unik. Kenapa unik? Karena saya berpergian bersama teman-teman seru dengan segala kejadian yang tak terencana tadi.

Singapura, negara yang katanya membosankan, dimana  segala tempat wisatanya cuma buatan saja. Seputar gedung-gedung megah di kawasan Merlion Park, Singapore Flyer, surga belanja di Orchard Road, atau taman bermain di Sentosa. Sebenarnya nggak bisa disebut membosankan juga, tergantung pergi dengan siapa dan berapa banyak uang saku kita. Ini bener loh, karena kurs dollar Singapura cuma beda tipis dengan dollar Amerika.

IMG_20130602_232321

Masih ada dalam ingatan hari itu, Minggu 21 April dini hari 00:35 AM. Pesawat kami mendarat di Changi Airport, Singapura. Perjalanan yang melelahkan sebenarnya, karena beberapa hari sebelumnya, saya bersama beberapa orang teman terlebih dahulu liburan keliling pulau di Phuket, Thailand. Dua teman melanjutkan perjalanan ke Jakarta via Bangkok, 2 kawan lainnya penerbangan langsung ke Jakarta via Phuket. Sementara saya dan Tiara, mampir dulu ke Singapura.

Malam-malam sebelumnya, jam segini sih kami sudah tidur karena capek seharian snorkling, main di pantai, dan keliling pulau. Tapi kali itu kita memang berencana untuk bermalam di airport, sebelum jam 8 pagi nanti dijemput Anant, teman kami. Changi Airport memang punya semuanya, wifi gratis super kenceng, televisi, DVD, sampai air minum gratis pun ada. Jadi semalam ini anggaplah Changi Airport adalah Changi Hotel. Singkat cerita saya dan Tiara malam itu tidur ala kadarnya.

Di bangku, awalnya, lama-lama tidak betah juga sampai kami memutuskan urat malu dan cuek saja menekuk badan diatas karpet. Kebetulan sepi banget saat itu, sampai kami merasa ada yang membangunkan, jam 5 pagi, setengah tidak sadar, dua petugas imigrasi menghampiri menanyakan paspor, tiket, dari mana mau kemana dan jam berapa keberangkatan pesawat kami. Saya lupa menyetel alarm, karena waktu subuh yang lebih lambat pukul 6 juga kantuk yang masih mendera.

Dengan bahasa inggris cas cis cus sengaja tidak dapat dimengerti dan membuat bingung petugas agar tidak lebih lama diinterograsi. lalu saya sedikit berbisik pada Tiara, “Kenapa sih mereka?,.. dalam bahasa Indonesia Tiara tampak bingung menjelaskan. Tiara secara singkat cuma bilang “Jadi ceritanya, gw pura-pura nggak ngerti bahasa Inggrisnya, dan lo yang ngerti,” ucapnya, sementara petugas imigrasi saat itu terlihat sembari mencuri dengar kalau-kalau itu bahasa melayu yang mereka paham. Intinya adalah kami berdua salah menjelaskan apa yang dimaksud kedua petugas tadi.

Beberapa kali saya bilang “i don’t understand,” mungkin karena kami berdua sama sekali tidak terlihat kere alias susah atau karena gadget kami bertebaran dimana-mana.┬áPetugas imigrasi seragam kecoklatan yang kelihatan galak ini hanya bilang untuk berhati-hati menjaga barang-barang kami. Sebelumnya mereka sempat terlihat berdiskusi, tapi untungnya ya kita tidak diinterograsi lagi.

IMG-20130421-00709
Dua teman yang super jahil

Fuiiiih ….. lepas insiden tadi, kami nggak berniat lagi untuk tidur, lekas bersih-bersih, menunggu teman kami jemput. Oh ya, beberapa minggu sebelum keberangkatan Tiara sempat nawarin untuk tinggal semalam di apartemen seorang temannya, pria berkewarganegaraan India. Sempat ragu awalnya, karena teman Tiara ini seorang pria, orang India pula.

Anant namanya, kebayang seperti apa orang India di film-film Bollywood?? berkulit gelap, berwajah murka, tinggi besar, galak pula bla..bla..bla. tapi dengan penjelasan kalau di apartemen itu juga ada beberapa kawan, yang juga Indian semua saya agak sedikit lega. lagi pula ada teman saya ini, orangnya pintar, cerdik dan sudah berpengalaman traveling. Pikiran-pikiran aneh saat itu saya kesampingkan.

Let see, ternyata memang yang saya duga tadi salah. Anant orang yang baik. Dia sopan, dan kelewat sopan. dia pria sopan ke- 4 yang pernah saya kenal. hahaha. That is true. Sejak sampai di bandara menjemput kami, dia sudah menawari untuk membawakan tas. Anant juga sudah membelikan tiket MRT untuk kami berdua dan membuatkan sarapan sesampainya di flat. diluar bayangan saya, Anant juga bukan Indian berkulit gelap atau berwajah murka, sebaliknya banget deh. Anant tinggal dan bekerja di Singapura sebagai profesional IT. Tiara mengenal Anant saat tugas menangani kliennya di Jakarta, akhir tahun lalu.

Sepanjang perjalanan dengan MRT seperti teman yang baru ketemu lama, mereka berdua mengobrol, apa saja jadi bahan becandaan. saya hanya sayup-sayup mendengar karena benar-benar mengantuk hanya tidur dua jam. Sampai apartemen kami langsung tidur hingga pukul 12 siang, mandi dan bersiap-siap jalan.  Sebelum pergi kami sempat searcing di internet dan berdiskusi kemana kami akan pergi.

“Museum ngebosenin, tadinya mau ngajak kalian ke kebun binatang, lokasi kita jauh dari mana-mana,” kata Anant sambil mikir sambil matanya menyipit. Saya cuma berguman dalam hati, mana sih disini yang nggak boring? terus dia bilang jauh, apalagi Jakarta kerasa jauh kemana-mana macet.

IMG_20130602_232802
Laksa SG $ 5,5

Diluar masih hujan deras, tapi tak mungkin untuk hanya tinggal di flat, akhirnya kami keluar dengan menyewa taxi. Tujuan pertama Marina Bay Sands, sebuah mall besar yang isinya toko-toko merek besar. Saya pasrah saja, tanpa exspektasi apapun untuk liburan yang berkesan. Bingung akan melakukan apa, Anant mengajak kami ke Casino.

Sebelum masuk Casino paspor dan tanda pengenal di cek, kami hanya minum kopi sembari melihat orang-orang menggantungkan nasib dari berjudi. Casino yang cukup besar, ada beberapa lantai. Menurut Anant di lantai paling bawah itu tempatnya berjudi orang-orang kelas bawah, semakin ke lantai atas maka semakin tinggi jumlah taruhan judinya. Sayangnya disini tidak diperkenankan memotret.

Sarapan tadi belum cukup membuat kenyang. Sepotong brownies dan masakan India aneh, banyak bawang dan tomat, betul-betul nggak cocok dengan lidah Indonesia kita. lama rindu dengan masakan pedas, juga lama nggak makan nasi. Kita cuma bilang ke Anant kalau pingin banget makan Laksa sementara Anant karena vegetarian hanya membeli dua bungkus kebab vegetarian. kita sering becanda dan saling ledek. Saya kadang cuma melakukan conversation dalam bahasa Indonesia dengan Tiara, tapi kadang Tiara ini suka iseng menyampaikan keingintahuan saya dalam Bahasa Inggris ke Anant.

“Temen lo masa nggak makan,” kata saya.┬á“Iya dia jarang makan, katanya sehari cuma makan sekali,” jawab Tiara.┬á“Kok dia nggak kurus,” kata saya lagi.┬áDan conversation tadi disampaikan ke orangnya.

“Kata Pom-pom lo jarang makan tapi tetep gemuk,” ujar Tiara ke Anant, sambil bermuka jahil. OMG

Oh My God dua orang ini memang sama-sama iseng, bahkan saat saya tanya berapa umurnya juga disampaikan. Anant langsung memperlihatkan kartu identitasnya, usianya masih muda 3 tahun dibawah saya dan 4 tahun lebih muda dari Tiara. Sepanjang jalan kita saling umpat tapi  sama sekali nggak ada yang kesal, kami bertiga layaknya seperti saudara sepupuan yang cuek begitu saja.

Selesai makan kami kembali naik bus, kali ini bus tingkat. mimpi apa saya, bisa naik bus tingkat lagi. Dulu waktu masih umur 2 tahun bus model ini masih ada. Dari Orchard Road kami menuju Sentosa, suatu tempat wisata bermain. transportasi menuju Sentosa menggunakan semacam Commuter seperti yang ada di Malaysia, tiketnya seharga Sing $ 3,50. sampai disana kami masih harus membeli tiket untuk beberapa wahana. harganya beragam mulai dari Sing $ 10 hingga tiket masuk Universal Studio yang kalau dirupiahkan harganya Rp. 500 ribu-an. jelas ini bukan ekspektasi kami pergi kesana. Selain kemarin kami sudah menghabiskan banyak uang di Phuket, kami masing-masing hanya membawa uang cash Sing $ 50 untuk perjalanan seharian itu.

Di Mall tempat transit sebelum ke Sentosa, kami bermain Time Zone, karambol dan segala permainan anak-anak. Song of The Sea, nama teater negeri laut yang kami tonton di salah satu perhentian Sentosa, tapi kalau di Jakarta nggak ada jenis pertunjukan seperti ini. Penuh cahaya lampu, kembang api, tarian anak-anak dan seperti melukis cerita di langit. Stupid show komentar Anant. Selepas show tadi Anant kembali mengajak ke wahana lain, tapi kami beralasan untuk main ke pantai saja, besok pukul 11:00 pagi harus sudah di bandara. Kami berdua yang sama-sama bekerja di media juga harus menyiapkan bahan tulisan sejak malam ini.  Akhirnya kami pulang, dengan rasa lelah sekaligus senang. Waktu yang singkat, untuk kebersamaan sepupuan yang akrab ini.

IMG-20130516-00825
Marina Promenade tempat berlangsungnya Asia Fashion Exchange 2013

Esok paginya, saya dan Tiara bersiap-siap ke bandara. Pukul 10.00, berangkat bersama Anant yang juga akan pergi ngantor hari itu. Seperti saat menuju ke Apartement Anant yang jauhnya minta ampun ini, saya dan Tiara naik MRT. Cepat, tepat waktu, cukup murah, dan mudah langsung sampai bandara. Seandainya saja di Jakarta ada moda transportasi masal macam ini, jauh-jauhlah saya dari stress akibat kemacetan.

Tak lama dari kunjungan saya yang pertama ke Singapura itu, ternyata kantor menugasi saya untuk meliput acara fashion terbesar Asia Fashion Exchange (AFX)  di negeri singa tersebut. Mimpi apa saya, betul-betul kesempatan langka. Sebagai jurnalis yang diundang, untuk tiket pesawat, hotel, dan restoran semua kelas satu. Selama 6 hari saya disibukan dengan runway, wawancara, konferensi pers, termasuk kunjungan ke butik-butik desainer ternama. Memori yang masih menggelayut adalah saat saya bertemu desainer legendaris asal Amerika Carolina Herrera, dalam benak, hingga kini saya masih terkesima dengan pembawaannya yang elegan dan low profile. Jadi bagaimanapun Singapura itu tidak juga membosankan, justru merupakan salah satu destinasi yang berkesan.