Cita-Cita yang Berubah

Saya masih ingat, kata-kata seorang wartawan senior di salah satu Suratkabar Nasional nomor 1 di negara ini yang menasehati saya tentang profesi jurnalis.

“Sudah, ngapain kamu jadi wartawan. Mending kamu wirausaha, buka kedai kopi atau bisnis apa,” tukasnya dalam satu kesempatan kami berada di bus rombongan wartawan yang meliput sidak Ketua DPD RI awal 2012 silam.

Sontak rasanya dug… seperti kena hujaman apa ya? waktu itu masih sangat muda dan baru di dunia jurnalisme. Lalu ada yang berkata demikian. Saya cuma jawab seadanya, yang ada dipikiran saya waktu itu.

“Saya masih ingin mengali lagi pengalaman jadi jurnalis mbak,” balas saya.

“Saya ngerasa semua yang saya lakuin sejak dulu nggak ada pengaruh langsungnya ke saya, ngapain saya mengurus tentang politik dan bla bla bla…. nggak ada pengaruhnya buat kehidupan saya,” kira-kira begini balasannya…

Oh damn! saya buktikan ditahun-tahun selanjutnya, dan memang semua ini nampak jelas. Mungkin di awal saya merasa dunia jurnalisme itu sangat menarik, begitu menantang, banyak ilmu yang bisa diserap, hitung-hitung kerja sekaligus tempat saya juga belajar. Semua betul pada dasarnya, tetapi…. ada kecenderungan yang kemudian berubah setelah saya melihat industri ini menjadi tidak sehat ketika kamu sebagai wartawan di dalam sebuah media korporasi yang bergantung pada iklan dan tidak sepenuhnya terlepas dari pemilik modal dalam memberitakan.

Saya yakin, pun orang-orang bisa membaca kecenderungan ketika media cetak akan benar-benar bergeser. Oke, saya bekerja di perusahaan besar yang bisa saja merubah jenis media tempat sekarang bekerja menjadi lebih digital atau apapun. Tetapi pada dasarnya, pekerjaan sebagai jurnalis menurut saya tak terlalu mendapat apresiasi yang lebih. Ohya mungkin memang saya punya banyak privilege untuk banyak hal, ini sih yang agaknya berat.

Kadang sharing dari wartawan senior tadi tak sepenuhnya benar. Dari dunia jurnalisme justru saya bisa mengenal dari dekat banyak orang penting, orang hebat, bertanya langsung, tahu langsung, dapat ilmu langsung dan saya belajar banyak dari mereka. Apa yang saya liput selain politik dan sosial kemasyarakatan di awal juga akhirnya berganti dengan liputan yang lebih bermakna dan bermanfaat untuk hidup saya. Parenting, kesehatan, dan yang terakhir tentang fashion dan kecantikan. Nothing to lose sih buat saya.

Kesadaran yang belum terlambat berhubung usia saya belum mencapai kepala tiga. Tapi dari sini saya merasa ada keinginan untuk move… punya karir lain dan bebas dari hari-hari mengurusi hal-hal yang kurang penting saya urusi. (i hope u understand what i mean). Akhirnya saya berpikir sudah saatnya punya karir lain dan harus membangunnya dari sekarang. Pilihan lainnya saya tetap bekerja di dunia jurnalisme, tetapi juga membangun bisnis juga. Agaknya kurang bijaksana bila cita-cita yang sedari SMP dan sudah dikabulkan pemilik jagad raya tetapi saya tinggakan.

Kedepan sampai batas waktu itu, mungkin saya akan terus belajar jadi penulis, sesuai dengan passion saya, punya buku?? (bisa saja) tapi mungkin saya hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah dibangun ayah saya. Semuanya sudah terlihat nampaknya kedepan akan seperti saya. Seperti halnya saya mau ke puncak Rinjani kemarin. Pemandangan puncak itu sering tertutup awan dan kabut, tapi dia sesekali muncul terlihat. Dengan kesadaran menunggu moment itu,… i just have to prepare that moment dan percaya kalau sebenarnya jalan hidup kita sudah ada yang menulis. Don’t worry about that. Kamu bisa lalui pasti bisa lalui dan sekarang persiapkanlah… agar jalan itu lapang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s