Umroh atau Pergi Haji? Alasannya …

Perjalanan spiritual orang tuh beda-beda. Ada yang sedari kecil sudah ditanamkan pemahaman agamanya oleh orang tua tapi ada juga yang harus menjalani berbagai macam ujian dulu lantas justru di situlah menemukan cara mengenal Tuhan nya. Aku yakin tiap orang pun pasti mengalami tes buat sampai ke tingkatan level keimanan tertentu. Sampai ketemu yang namanya rasa tenang, enggak takut atau khawatir sama apapun yang ada di depan sana karena iman atau yakin sama Allah. Percaya kalau sama sekali enggak ada hal buruk dari semua yang menimpa, kecuali ada hikmah.

Well, aku selalu bertanya-tanya dan rasa skeptis tentang hal-hal yang berbau spiritual atau ketauhidan semacam jadi sesuatu yang selalu bikin aku haus. Ingin tahu, sampai aku juga penasaran kisah ashabul kahfi dan suka bacanya. Ada pertanyaan juga kenapa ya ada anjuran baca surat Al-Kahfi tiap malam jum’at, katanya bisa buat wajah kita seperti disinari bulan.

Teraweh di kala pandemi covid-19

Pertanyaan-pertanyaan ku seputar ini terus berlanjut bahkan untuk urusan umroh aja aku bertanya ke dalam hatiku. Aku ke sana karena apa? Apa hanya ingin supaya doa dikabulkan? Kok waktu itu 3 tahunan yang lalu belum ada panggilan hati buat ke sana ya?

Aneh rasanya padahal aku banyak membaca buku-buku Jalaluddin Rumi dan dibuat takjub dengan kata-katanya. Hatiku terpanggil buat belajar pemahaman mengenal Allah namun belum sampai menggugah buat menabung serius dan pergi ke Baitullah. Malahan aku mendahulukan pergi naik gunung sampai Nepal. Keengananku buat serius pergi umroh juga karena ortu pun belum pernah ke sana.

“Di sini pegawai Papa sama lingkungan kita masih banyak yg perlu dibantu, daripada uangnya untuk pergi umroh atau haji,” begitu kata Papa.

Dalam hati sebenarnya aku agak malu karena bahkan rumah harus dibobol untuk tempat parkir mobil dan engga sedikit tetangga yang bertanya juga. Kenapa mobilnya berjejer di garasi tapi pergi umroh enggak bisa? Ya memang mobil itu selain buat dipakai urusan pribadi juga dipakai sebagai operasional usaha tapi memang Papa mendahulukan urusan karyawannya dan “tanggungan lain”, terus masa itu alasannya untuk menunda pergi umroh atau haji?

“Kamu kalo umroh jangan pamrih, niatnya ke sama bukan mau doa minta jodoh atau minta-minta yang lain. Berdoa bisa di mana aja dan terkabul tidaknya doa karena memang takdirnya,” ucap Mama nambahin.

Kira-kira itu wejangan ortu, Mama Papa sepaham. Rasanya aku benar-benar enggak didukung dan ya sudah sampai akhirnya walau aku sudah pergi traveling kemana-mana aku belum umroh. Sampai sekarang orang tuaku belum juga umroh, lalu suatu waktu aku bilang ke Mama.

“Mah gimana kalau Mama pergi umroh pakai uang tabungan ku?, tanyaku suatu kali.

“Kamu kenapa sampai begitu?” … lalu perdebatan tentang doa dan keikhlasan ibadah kembali jadi pembicaraan kami. Ya enggak sampai ngotot sih, cuma keinginanku patah aja gitu juga dilema.

Masa aku pergi lebih dulu dan bukannya mengajak mereka atau nabung agar mereka bisa umroh/haji. Keadaan yang dilematis sih, selama bertahun-tahun. Teringat juga dengan cerita si Fulan yang mendadak tidak jadi pergi haji/umroh karena memberikan uang untuk biaya haji/umrohnya untuk makan tetangga yang kelaparan. Namun ada percakapan dari malaikat kalau ibadah haji/umrohnya diterima Allah sementara orang yang pergi ke sana justru tidak mendapat pahala haji/umrohnya.

Aku kepingin banget berbakti ke ortu dengan sesuatu yang lebih dari aku memberikan sekian persen uang bulanan sebagai balasan aku, ya tapi aku bertanya lagi ke dalam hati apa ada maksud lainnya? Diam lama, aku juga ingin ortu ridha sama aku dan doain aku biar keinginanku terkabul. Wesss, ada embel-embel sedikit pamrih ternyata. Hatiku terasa berdesir, ya Allah Engkau bisa tahu apa isi hati ku, tiada yang tersembunyi, bahkan niatanku buat membayar biaya umroh ortu. Aku ini masih pamrih minta didoain dan biar doanya kabul, aku kepingin ortu berdoanya di rumah Allah. Padahal Allah itu dekat, kita enggak perlu sampai jauh ke sana buat berdoa.

Well.. teman-teman dan follower blog aku doain ya supaya aku murni karena Allah buat pergi umroh. Aku merasa sudah saatnya, karena bisa saja usiaku enggak kan lama lagi. Apalagi setelah Pandemi Covid-19 dan berbulan-bulan karantina di rumah campur aduk perasaan mencekam karena virus corona. Aku ingin sebelum itu sudah menyempatkan diri menunaikan ibadah umroh/haji karena Allah sudah sangat memampukan aku. Selain daripada niat untuk merasa bersyukur, aku akan berdoa namun bukan semata-mata berdoa agar dikabulkan. Karena soal waktu dikabulkan doa sudah seharusnya kita pasrahkan ke pemiliknya yang maha mengetahui segala-galanya karena Dia paling tahu hal terbaik untuk umatnya.

So, umroh atau haji? Ya kalau bisa langsung haji aku mah, tapi nanti kelamaan nunggu antrian jadi umroh aja dulu. Yang penting niatnya murni semurninya bukan buat pamer foto di depan ka’bah separah-parahnya. Inginnya ke sana karena Allah semata-mata, berdoa boleh tapi jangan pamrih …

Aku malu terkadang, aku malu kalau aku susah aku bangun malam, tapi dalam keadaan bukan mendesak ga pernah bangun malam. Bukankah itu menandakan kita hanya mendekat hanya di saat butuh? Aku inginnya bukan sekedar itu, tapi menjalani kapatutan ke Allah karena memang wujud cinta, panggilan hati dan juga salah satu bentuk rasa syukur karena banyak karunia serta kecukupan rezeki.

One Comment Add yours

  1. Setiap perjalanan itu ada waktunya kok, jadi ya mungkin aja Dia membuatmu keliling-keliling dunia dulu, atau membantu yang lain sampe waktunya tiba untuk Umroh/Haji yang tidak akan membuat dirimu berpikir lain selain untukNya. Mungkin itu, seperti yang saya alami 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s