Kita yang Sering Jumpa di Alam Mimpi

Ruang kamar ku yang tanpa temaran lampu itu berangsuran tampak. Sebutlah ini masih dini hari dan baru saja aku terbangun nggak sengaja. Pikiran kisut, masih melayang di alam bawah sadar sana.

Barusan aku mimpi dan melekat banget gambaran mimpi tadi. Mungkin kalau ada yang lagi ngeliat aku bisa diketawain, melongo bengong nggak jelas begini. Masih menerka-nerka adegan yang ada di mimpi tadi sambil menelaah apa maksudnya.

Bukan sekali dua kali aku terbangun seperti ini. Sewaktu kecil, kejadian di mimpi bukan cuma gurauan bunga tidur yang lewat. Ada sebuah tanda, seringnya begitu. Walaupun bukan, aku pasti tahu kalau kali itu memang hanya bunga tidur. Sebab beda rasanya. Beda antara orang wara wiri lewat tanpa tujuan dengan sebuah adegan yang memang terasa nyata.

Aku coba untuk mengingat-ingat lagi apa saja yang terjadi di mimpi tadi. Ada dia, lagi ketawa-tawa. Tawa khas-nya yang terasa lepas, ringan tanpa beban itu selalu jadi hal yang aku suka. Sebutlah parasnya biasa saja, tapi entah kenapa aku selalu bisa merasa tenang melihat wajahnya. Dia tuh, seringnya terlihat santai dan nggak gegabah seperti aku. Kulitnya sawo, khas Indonesia, postur tubuhnya tegap sedikit berisi dan tingginya kira-kira 180 cm.

Satu ingatan yang aku rekam, dia suka sekali pakai baju bola! Dulu waktu kami sering hang out bareng dia hampir selalu pakai baju bola. Hahahaha! Kadang nggak habis pikir juga kok bisa sih dia selalu pakai baju bola. Jadi ingat adik ku dulu waktu kecil favorit banget pakai baju bola bertuliskan Ronaldo, yang punya identitas nomor punggung 10. Duh, . . perlu aku sebut nggak ya club bola jagoannya?

Dia unik, entah kenapa wajahnya yang biasa-biasa saja jadi terlihat menarik. Apalagi kalau lagi ngobrol, bahasannya selalu ilmiah. Sepintas saja orang tak kenal pun juga tahu kalau dia cerdas.

“Gw bakal panggil lo sebutan bapak ilmu pengetahuan. Abiss.. lo kalo ngejelasin sesuatu mirip guru atau dosen, eh cocok lho jadi dosen.. mungkin bakat dari ortu menurun,” seloroh ku panjang tanpa jeda, biar orangnya nggak bisa balas..

Bebas lepas, candaan kali itu hanya dibalas tertawanya yang khas. Doyan becanda, mungkin ini yang bikin kita cocok. Tapi entah kenapa kita hanya teman. Sejak dulu kami hanya teman dan walau kadang aku berharap dia suka pada ku kita hanyalah teman. Hmm, tapi kenapa ya akhir-akhir ini aku sering banget mimpiin dia? Entah, nggak ngerti tau-tau kita lagi barengan mau makan, lagi ngobrol. Walau nggak mikirin juga, dia datang begitu sering ke alam bawah sadarku. Dia masih hadir dalam sosok seperti yang ku kenal dulu. Entahlah. Mungkin waktu bisa menjawabnya. Nanti, besok, atau lusa. . 😝

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s