NEPAL TRIP (2) : Absurd – Unknown Feelings After 17th Days

Sampai sekarang semuanya terasa seperti mimpi.. perjalanan di Himalaya seperti tidur sekejap.. Ada perasaan aneh dalam hati, tapi tidak tahu itu apa..

Pada jam seperti ini biasanya aku sudah ada di alam mimpi. Pukul 8-9 malam, sesudah makan malam biasanya aku telah tertidur karena tidak ada televisi, mungkin efek kecapekan juga.. trekking seharian, sebab fisik yang memang butuh istirahat.

Sejujurnya aku senang sudah ada di rumah (sekarang). Merasakan tiap hari trekking itu rasanya, semacam derita sekaligus kesenangan tapi bukan masokis ya hehe. Aku nggak bisa mendefinisikan secara tepat perasaan seperti apa ini. Ada rasa riang hati memandangi deretan pegunungan indah, ada rasa puas telah melampau mimpi, karena telah jadi nyata.

bridge at Everest Base Camp (EBC)
Kamu akan banyak melewati jembatan seperti ini di sepanjang pendakian ke Everest Base Camp (EBC)

Trekking hari pertama setelah penerbangan extreme 30 menit dari Kathmandu, Ibu Kota Nepal. Langitnya ketika itu biru, perjalanan dari Lukla ke Monjo memakan waktu sekitar 5-6 jam trekking. Melewati jembatan yang ku pikir akan seram karena takut ketinggian ternyata tidak. Hari selanjutnya juga, dari Desa Monjo ke Namche Bazar sekitar 3 jam trekking. Lalu ada salju di saat satu hari aklimatisasi di Namche Bazar. Trekking ke landasan helikopter, yang walaupun sebenarnya karena kami mencari museum sherpa, siangnya nonton film sherpa di sebuah Cafe sambil memesan cappucino, makan, bengong, tidur lagi, sambil ada sedikit khawatir bahwa cuacanya memang sangat dingin.

Ada experience makan steak yak, tanpa pikir panjang saat makan malam pesan menu itu. Termasuk sup bawang putih, sup ayam yang ternyata encer tapi kaldunya asli, lalu nyobain sandwich dengan keju khumbu, asli dari Nepal sini. Ohya setelah tidak mandi saat menginap di Monjo, akhirnya bisa mandi di Namche dengan membayar 400 Rupee Nepal atau setara 4 U$D. Aku menginap di Himalayan Lodge, sesuai dengan keinginan banget, ternyata lodge-nya memang recomended.

Di Namche aku juga memutuskan untuk membeli sarung tangan yang lebih hangat, termasuk untuk leher. Sayang sekali harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 10 U$D untuk 2 benda itu, untung saja tidak jadi membeli sleeping bag yang ternyata di Namche harganya bisa mencapai 100 U$D.

Jembatan lagi, di awal trekking menuju Desa Monjo 

Di suatu waktu nafas yang terengah-engah juga perasaan lelah muncul. Terlebih dingin yang lebih daripada perkiraan. Belum pernah ku rasakan sedingin ini. Minus 5 hingga minus 7 derajat celcius. Betul-betul beku saat akan ber-wudhu, hingga aku menyerah di Dingboche, aku memutuskan untuk bertayamum saja. Karena suhunya semakin mendekati minus 10 derajat.

Fase kedua dari pendakian yang sulit memang terasa sekali setelah melewati Dingboche (ketinggian sekitar 4000). Perjalanan dilanjutkan masih dengan padang savana berhampar pegunungan Himalaya disekeliling, Tabuche 4620 adalah titik barunya dimana sepanjang perjalanan anginnya kencang sekali bahkan aku perlu memakai penutup kepala bandana.

Disini kami melewati sungai yang sebagian juga sudah menjadi gletser. Airnya begitu mencapai titik beku tapi aku tetap mengambil air minum disini untuk bekal perjalanan, daripada harus membeli air kemasan yang harganya mencapai 350 Rupee Nepal atau 3,5 U$D di Lobuche.

Everest Base Camp Trek
Terik cuacanya, tapi ini hampir sekitar 5 derajat celcius lho… bahkan sudah hampir ke atas turun salju rintik

Rasanya berat sekali, rasanya ujung perjalanan tak nampak di pelupuk mata. Dimensi yang buyar, kepala terasa pening, perut begitu mual, nafas agak tersengal, sejak kemarin aku juga batuk dan pilek. Hampir tiap berapa menit harus berurusan dengan ingus. Pagi itu sarapan ku hanya roti toast, entah rasanya memang kurang nafsu makan. Dan,.. minum ku hanya sekitar 1-2 liter saja. Yang ku tahu, ini gejala Acute mountain sickness (AMS).

Aku tak ingat tanggal maupun hari, apalagi kapan pulang. Yang ada dibenak hanya “Apapun itu jangan menjadi lemah, sedikit lagi sampai, di depan sana sudah dekat desa selanjutnya,”. Benar saja, seperti sayup sayup fatamorgana ada suara seorang bule menyebut kata “almost there”. Tak jauh, agak turun ke bawah memang kelihatan ada atap rumah. Disanalah, seolah tenaga yang tersisa, tak menghiraukan lagi terik sekaligus terpaan angin dingin pegunungan tak kenal ampun. Kali itu tak mampu lagi untuk tak berbagi keluhan dengan teman seperjalanan. Aku sampai di Gorak Shep. (Ketinggian sekitar 5164 mdpl). Selangkah lagi dalam sehari 3 jam trekking ke Everest Base Camp (ketinggian 5364 mdpl).

Rasa mual makin menjadi-jadi. Kami duduk di sebuah restoran yang ada di dalam lodge paling pertama di Gorak Shep. Namun aku memutuskan tak jadi menginap di lodge ini karena melihat toiletnya makin membuatku ingin muntah. Sudahlah jangan ditanyakan lagi.

Ku putuskan untuk jalan beberapa ratus meter lagi, walau tenaga yang tersisa hampir habis. Di seberang sisi kanan jalan sana terlihat ada dua penginapan lodge lagi. “Chan aja deh yang pilih lodge-nya,” sahutku agak putus asa setelah sampai di depan penginapan.

Akhirnya kami memilih Budha Family Lodge. Kelihatan lebih bersih, pikirku setidaknya untuk toiletnya tak basah lantainya dan tak begitu bau. Meski air di gentong besar tetaplah beku. Sambil merasa kedinginan tak sempat membereskan barang, aku tidur cukup lelap menghilang bersama rasa sakit kepala yang amat sangat. Sorenya aku baru terbangun, bersama hilangnya AMS. Ternyata ini saja obatnya. Tidur…

Karena tak ingin malamnya sulit tidur, aku pun bangun. Mengambil buku bacaan dan membacanya di ruang restoran, di perapian tempat berkumpulnya orang-orang yang menginap. Mereka memesan makanan, makan, berbincang satu sama lain walau tadinya tidak saling kenal. Tak ada perbedaan ras, mata sipit, rambut pirang, kulit sawo atau pucat seperti bule, kami yang sama-sama kedinginan berkumpul di perapian.

Baru tersadar, teman seperjalanan tidak ada, ternyata dia trekking ke Kalapathar yang letaknya lebih tinggi dari Everest Base Camp (EBC). Katanya begitu kepayahan untuk menjangkaunya. Bahkan pendaki lain menyarankan untuk turun. Sakit kepala, nafas terengah-engah. AMS.. sangat ingin berteman dengan kami.

Aku minum air hangat untuk meredakan sakit. Rasanya itu adalah teh paling enak, padahal itu kantung teh yang ku bawa dari rumah. Memang sisah teh waktu perjalanan ke Korea Oktober silam. Namun di Gorak Shep ini, dengan tambahan gula, kebekuan cuaca itu sedikit mencair. Aku merasa baikan…

Besok adalah tiga jam trekking menujuEBC. InsyaAllah bisa dilalui. Benar. Entahlah, rasanya biasa saja ketika sampai tempat itu. Hening saja. Ada gletser dimana-mana. Tak berlama-lama, hanya 10-15 menit begitu sampai, aku memutuskan turun lagi. Teriknya matahari di luar jangkauan ku, bukan hanya itu, angin menerpa sangat kencang, dingin membeku.

Aku memilih hanya meminum larutan madu dengan air hangat. Tidak ingin makan sama sekali setelah malam sebelum memesan vegetable roll dan honey toast. Tapi ternyata semua makanan itu harus keluar secara paksa diperjalanan setelah turun dari EBC.

Gorak Shep masih jauh, aku tahu itu. Setidaknya 1,5 jam lagi jaraknya, melewati kerikil besar batu, meski menurun. Lalu ada jalanan mendaki dan turun lagi, sampai pada padang luas, dari kejauhan genteng rumah penduduk menyambut. Aku masih linglung, ingin pingsan rasanya, tapi tidak boleh, ku tahan dan ku simpan tenaga tersisah sampai di lodge aku membaringkan diri, tak berdaya.

…. BERSAMBUNG dengan cerita di tiap desa dan bagian tersendiri berbelanja dan kuliner di Kota Thamel 😊

8 Comments Add yours

  1. Evi says:

    Mbak Dyah beruntung sekali dirimu sudah berhasil tracking di Himalaya. Walau berat tapi di ujungnya kan berhasil. Aku ikut membayangkan saja perjalanan yang diceritakan. Itupun sudah ikut mountain sickness 🙂

    1. Alhamdulilah ada banyak hikmah dari perjalanan Tan Ev 🙏🏻.. pengalaman pertama kena mountain sickness

  2. bersapedahan says:

    kalau saya sih masih sebatas mimpi untuk sampai disana .. hehe
    kebayang seru dan asyiknya trekking disana … cape lelah ga mandi … terbayar dengan keindahan alam dan pengalaman yang tidak ada harganya … bagai pengalaman sekali dalam hidup

    1. Mimpi tiap orang berbeda-beda… rasanya tak bisa terbayar kan apapun perjalanan disana, it’s a great moment.. pengalaman ga terlupakan 🙏🏻… terima kasih sudah membaca

  3. Wildan says:

    Mba untuk trekking EBC wajib pake guide apa bisa solo trekking?

    1. Tidak wajib. Saya tidak pakai guide dan tidak sewa porter. Jalannya ada petunjuk, tidak akan kesasar, tetap bisa tanya warga lokal di jalan, mereka baik.

    2. Ega says:

      Kak doakan supaya bisa ke EBC ya. Biarpun pernah keluar pulaunya cuma sampai bali & lampung heheh
      Gak tau, ada semacam perasaan kangen yang nggak bisa dipahamin, memanggilmanggil buat ke everest, minimal sampai ke base camp nya aja udah bersyukur heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s