Pelajaran Berharga dari Mengikhlaskan

Apa itu Ikhlas?

Sesuatu yang tampak mudah diucapkan, namun bagi hati bisa saja terasa berat untuk menerimanya.

Mungkin iya, jika belum mengenal ilmu-Nya. Ilmu MENERIMA. Yang apapun tengah Tuhan perjalankan bagi makhluk-Nya adalah sudah kehendak terbaik-Nya.

Ikhlas? Seperti yang pernah saya dengar ketika mengaji. Dapat dikatakan ikhlas bila, kata ikhlas itu sendiri bahkan sudah tak terucapkan lagi. Seperti Surat Al-Ikhlas yang di dalamnya tidak ada kata Ikhlas sepatah pun. Tapi justu mengemukakan Ke-Esa-an Tuhan.

Tentang ikhlas ini.. Teringat saya dengan kejadian beberapa bulan lalu. Suatu siang, saya mendapat kabar gembira dari editor karena akan ditugaskan ke Jepang. Langsung terbayang bagaimana serunya liputan sekaligus tentunya ada agenda travel di Tokyo. Maklum memang belum ada dana untuk kesana.

Berselang sehari, saya dikabari bahwa redaksi sudah terlanjur memberikan liputan itu untuk desk nasional, karena desk saya terlambat merespon. Oke batal ke Jepang, tiada apa.. toh saya lagi nyiapin diri bekal ke Himalaya, pikir saat itu.. pasti walaupun ini business trip tapi saya tetap harus mengeluarkan uang pribadi untuk jajan, karena katanya kantor tidak ada hubungan kerja sama iklan jadi akomodasi hanya dari pihak pengundang.

Lantas soal Jepang ini saya lupakan. Ternyata editor saya masih teringat saya yang batal pergi dan selang 2 minggu ditawarkan lagi untuk pergi ke Bangkok. Pikir saya ya tidak masalah juga, apapun rejeki liputan saya terima. Panitia langsung menghubungi dan meminta scan passport untuk tiket dan semacamnya. Beruntungnya kali ini pengundangnya dari Instansi Pemerintah, jadi cukup terjamin segala macam keperluan di Bangkok nanti.

Tak disangka, ternyata seminggu sebelum keberangkatan ada email masuk. Kementerian Pariwisata mengirim surat permohonan maaf karena batal membawa wartawan untuk pameran di Bangkok saat itu. Kecewa kah? Entah mengapa saya santai saja, entah mengapa saya tak mengambil pusing.. toh saya sudah pernah ke Bangkok. Rasanya santai saja.. melepaskan dan mengerti bahwa itu bukan rejeki.

Dua kali tak jadi pergi tugas luar negeri lantas bukan membuat saya kecewa atau ngedumel. Mungkin ya karena setahun ini hasrat traveling saya agak kendor. Beda dari 5 tahun sebelumnya yang membabi buta. Rasanya malas saja, kalau perginya ke tempat yang memang nggak kepingin kepingin banget didatengin. Apalagi kalau cuma melepas penat, buang uang rasanya.. traveling bukan satu-satunya cara untuk memacu semangat baru. Itu sih alasannya.

Saya lupa soal Jepang, apalagi soal Bangkok. Tapi editor saya masih mempercayakan untuk berangkat bila ada undangan lagi. Katanya, cuma saya yang belum pergi di luar negara Asia Tenggara sementara reporter lain sudah berkali-kali ke Jepang, Korea, Taiwan… Tak disangka, sebulan kemudian REJEKI yang sebenarnya itu datang. Tugas peliputan ke Korea Selatan, sekaligus dua lokasi di Seoul dan Pulau Jeju.

Liputan ini juga yang rasanya cocok buat saya, beauty trip yang sekaligus nambah wawasan saya soal dandan. Jadi lebih terinspirasi juga sama temen jurnalis beauty yang kece-kece. Ilmu mahal bagi perempuan, soalnya bahkan ada yang rela ikut beauty class segala. Beda dengan liputan exhibition atau yang tak ada hubungannya dengan rubrik pegangan saya. Kepergian ke Korea juga terbilang lancar, walau hanya punya waktu seminggu untuk urusan Visa. Semua terasa dilancarin, mungkin ini namanya memang rejeki saya yang sebenarnya.

Alhamdulilah, dibalik merelakan, nggak ngedumel karena rejeki seolah yang lepas dari kita, ternyata Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Walaupun, saya berfikir ditugaskan kemana pun saya menerima saja, tidak pilih-pilih.

Satu hal yang saya renungi. Jika untuk pekerjaan saya bisa menerima, merelakan, berpasrah dengan mudahnya, begitupun dengan hal lain seharusnya. Mungkin karena pekerjaan yang tak terlalu saya kejar, membuat semua rasanya bukan prioritas. Justru hal prioritas lain dan saya kejar, sikap menerima ini masih harus lebih direlakan. 🙏🏻

قُلْهُوَٱللَّهُأَحَدٌ Qul huwallahu ahad (1)

 ٱللَّهُٱلصَّمَدُ allahu somad (2)

 لَمْيَلِدْوَلَمْيُولَدْ  lam yalid walam yulad (3)

وَلَمْيَكُنلَّهُۥكُفُوًاأَحَدٌۢ walam yakun lahu kufuwan ahad (4)

“Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa Allah yang Maha Esa.”

Allah merupakan tempat bergantung dari segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Dia (baca: Allah) tidak beranak dan juga tidak diperanakkan.

tidak ada seorang (atau makhluk) pun yang setara(sebanding) dengan-Nya.

Advertisements

4 Comments

  1. ikhlas mudah diucapkan .. tapi sangat sulit di lakukan .. esmosi soale
    ikhlas ilmu yang tinggi ya .. tulisan yang bagus mba … membuat kita untuk selalu ingat dan belajar terus agar bisa ikhlas dari setiap kejadian yang tidak menyenangkan dari sisi persepsi kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s