story

Ada Cerita di Masjid Cut Meutia

Allah itu memang yang paling ngerti, paling paham keadaan hamba-Nya. Kenapa ada shalat 5 waktu? Kenapa jam-jam nya begitu pas dengan keseharian kita?

Zuhur misalnya, tepat dengan jam istirahat kantor sekaligus makan siang. Usapan air wudhu semacam pembawa kesejukan di tengah menumpuknya deadline dan keteganggan menyelesaikan target pekerjaan seharian itu. Disini seperti diberi jeda, buat refresh hati, pikiran dan jiwa dengan kembali mengingat Allah.

Mengingat-Nya yang akan memberi ketenangan. Mengajak buat berpasrah dan tawakal lagi sama urusan-urusan dunia. Pekerjaan kita yang sepertinya tak ada habisnya (akan ada lagi, ada lagi), atau berpikir target-target individual dan team di kantor. Air wudhu dan bacaan di sholat itu sejenak ngingetin dunia yang cuma fana ini.

Beruntungnya, saya ini lahir dan tinggal di Indonesia. Mayoritas muslim terbesar dunia, yang untuk menemukan sebuah masjid tentunya tidak susah. Mungkin yang susah kalau ada rasa enggan melangkahkan kaki ke dalamnya. Namun rasanya, bukan tentang enggan, wajib, atau takut akan berdosa, takut neraka-Nya. Ada rasa rindu dan membutuhkan lima waktu itu.

Masjid Cut Meutia, jaraknya hanya 500 meter saja dari gedung kantor tempatku sekarang bekerja. Dan.. sekitar 300 meter-an langkah kaki dari Stasiun Kereta Gondang Dia. Suara adzan yang cukup membahana itu pun pasti akan kedengaran kalau lagi nunggu kereta atau memang pas ada antrian kereta tertahan di peron yang ketinggiannya hampir sama dengan kubah Cut Meutia.

Nama yang tak asing. Cut Meutia diambil dari jalan dengan panggilan senada. Siapa yang tidak kenal sosok pahlawan wanita atau bisa disebut pejuang dari Aceh bernama Cut Meutia?

Sedikit mengutip dari situs Wikipedia, bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda. Yang membuat unik dan lain, Masjid Cut Meutia memiliki kubah atau mihrab yang miring ke samping kiri. Bangunannya tidak mengarah ke kiblat. Jadi shaf-nya pun miring tidak ditengah seperti lazimnya masjid.

Masjid ini bukan sekedar masjid biasa bagi saya pribadi. Ada kenangan dan cerita di dalamnya. Dulu saat kuliah dan masih magang di divisi news gathering sebuah stasiun TV nasional bareng reporter beneran + kameramen, sering banget mobil liputan kami mampir kesini. Satu dari beberapa masjid selain Masjid Sunda Kelapa yang masih seputaran daerah Menteng.

Masjid yang sama-sama nyaman buat istirahat sekaligus solat zuhur dan makan siang. Mungkin juga karena letaknya strategis di pusat kota yang kalau harus kejar agenda dekat kemana-mana dan disini ada banyak jajanan street food yang ramah dikantong dan pilihan macam jenisnya. Sate Padang, Bubur Ayam, Bakso, Ketoprak, Rujak, bahkan Tahu Gejrot ada! Hahaha

Saat itu sekitar 6 tahun-an silam dan tak menyangka kalau kantor saya sekarang juga bakal disekitar sini. Masjid Cut Meutia bukan cuma tempat yang ngingetin saya akan masa saat merintis impian hingga sekarang menjadi kenyataan. Tapi di tempat ini, hampir sebagian besar doa dan harapan saya akan kebaikan dunia akhirat itu naik ke suar-suar mihrabnya.

Advertisements

8 thoughts on “Ada Cerita di Masjid Cut Meutia

  1. Hai mba Dyah salam kenal. Idem memang masjid ini tmpatnya startegis juga banyak kegiatan yg mmbuatnya selalu makmur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s