Backpacker · story · The Journey · Traveling

Galau Traveling Kemana? Ini Jawabannya

Katanya hati manusia itu paling cepat berubah. Kemarin mau itu, sekarang beda lagi. Besok-besok punya keinginan lain. Wajar-wajar saja kok, asal jangan hati perasaan yang gampang berubah bila sekarang suka pacar tapi tahu-tahu besok nikah sama yang lain ya.. 
Kalau ini soal galau traveling. Pernah kah kalian mengalami?

Belakangan dan dua tahun yang lalu Saya mulai mengalami galau traveling ini. Awalnya mau explore Nusa Tenggara Timur (NTT) di tahun 2015, tapi kok malah ke Gunung Rinjani dan Sumbawa? Di 2016 juga, sempat mau explore Flores kok ya malah ke Jambi, Gunung Kerinci dan Dieng?? Ini banyak pengaruhnya, karena sikon (situasi kondisi) pas Kerinci aman buat didaki dan kapan lagi kan?? Selagi muda yang susah-susah dulu, selagi kuat naik gunung. 

Tahun 2017 ini saya menahan diri untuk tidak traveling dengan biaya sendiri. Tapi kok rasanya kenapa susah ya??? Seperti butuh penyegaran sekali waktu ditengah kesibukan kerja dan selagi muda, belum berkeluarga kenapa enggak. Itu lagi jawabannya… So galau menentukan akan pilih destinasi, kemana, sama siapa ini masih berlangsung, apalagi kalau lihat postingan teman di Instagram.

Ahhh… tapi ternyata saya dapat kuncinya. Ini jawaban supaya tidak galau dan menyesal memilih destinasi dan supaya traveling menjadi berarti buat improve diri dan kehidupan. Berhubung uang saya masih ada nomor seri (tidak begitu banyak), waktu cuti juga tidak begitu banyak, harus pilih-pilih.

2015 Rinjani, 2016 Kerinci

(1) Tahu Apa yang Diinginkan

Ini paling penting menurutku, bagaimana pun traveling itu bukan ikut-ikutan teman. Mungkin di awal belum berani, jadi ikut saja teman ajak kemana. Tapi pada akhirnya akan ketemu apa yang kita mau. 

Suka gunung atau pantai, suka city tour atau explore budaya. Untuk tahu itu harus mencoba semuanya dulu,.. perlahan semuanya proses menemukan diri. Semakin sering traveling, semakin tahu apa yang lebih disukai. 

(2) Tahu Ada Dimana Tingkatan Traveling Kamu?

“Every expert was begginer,” – Helen Hayes …. Pepatah ini betul banget πŸ˜€

Apa baru mulai? Apa sudah sering? Atau sudah rutin sekali jadi agenda tahunan?. Kalau masih setahun keranjingan traveling, mulai saja dari yang terdekat dulu. Kepulauan Seribu, explore Bandung, ke Kota Tua Jakarta juga oke… yang penting kan maknanya, bukan tempat terjauh dulu. 

Waktu naik gunung saya juga coba yang paling mudah dulu. Pertama banget ke Papandayan di Garut, lanjut gunung yang gradien-nya curam, lalu ke Rinjani. Setelah itu nyoba juga ke Ceremai pendakian saat hujan Gunung Ceremai atau mendaki Gunung Gede oke, apalagi ke Kerinci yang astaga itu trekking-nya susah.. 😱 step by step aja.

Sebenarnya terserah juga, tidak perlu kaku, tapi start dari sini kamu juga bakal menyadari keinginan buat improve pengalaman traveling. Setelah banyak jelajah yang dekat-dekat dulu. . Dan makin tahu kamu sebenarnya tipe pejalan yang seperti apa? Semi backpacker, backpacker, atau koper?

(3) Berupaya Naik Tingkat Daya Jelajahnya

Kalau dulu baru coba-coba pergi semi backpacker sama teman ke Bali. Lalu keliling Asia Tenggara, salah satunya Vietnam sama kelompok kecil teman. Nah selanjutnya boleh explore hal lain, misalnya nyoba negara-negara Asia Timur atau dari Pulau Jawa-Bali mulai explore Indonesia Timur. Dari situ kan jadi naik tingkat pengalaman. Jadi traveling kamu tak hanya disitu-situ aja. 

Dream destination, Himalaya

(4) Lihat TimingBagi saya timing atau waktu itu jadi pertimbangan. Ini bisa menjadi ukuran prioritas hidup. Banyak yang bilang kalau naik gunung itu saat masih muda, karena masih bugar, fisik kuat, stamina dan sangat memungkinkan untuk itu. Makanya saya bela-belain selagi masih muda dan belum berkeluarga. Kalau diving sih, teman yang sudah om-om usia 50 tahun juga masih bisa nyelam, masih kuat. (Kalau saya ngos banget berenang)

Begitu pun explore negara yang sulit seperti India, katanya teman baiknya dibawah umur 35 lah ke India kalau backpackeran. Soalnya disana fasilitas transportasi tidak memungkinkan kalau sudah renta dan fisik tak sebaik usia 25-an. Sementara bagian negara yang mudah transportasinya seperti Jepang, Korea, Eropa di bagian ketika sudah mapan banget. Hehehe begitu sih prioritas saya :mrgreen:

Then…. Aplikasi di pengalaman traveling saya :

Karena mungkin terbiasa, sudah banyak melihat tempat WAH seperti Raja Ampat, Maluku, Aceh, misalnya… Contoh saja ya (sombong banget sih yg udah kesana 🙊🙈) Ketika ke tempat biasa seperti Pahawang jadi merasa… Oh.. ya..So so lah. Bukan tidak mensyukuri, semua tempat sebenarnya bagus tergantung pengambilan angle, sudut pandangan. Jadi enaknya kalau sudah ke Jepang, lanjut negara Timur Tengah lah. (Hehehe ke Jepang aja belum pernah bos… Kebanyakan explore Indonesia).

Karena tahun 2015 saya sudah sampai di Gunung Rinjani, jadi 2016 lalu saya keukeuh buat naik tingkat pendakian di MDPL yang lebih tinggi, Gunung Kerinci. Gunung Api Tertinggi di Indonesia jadi cita-cita banget, soalnya kalau mau ke Cartenz Piramid di Papua agaknya harus berpikir panjang biayanya.

Next plan, sebenarnya saya kepingin banget bisa sampai Himalaya juga. Walau tadinya tidak begitu terpikirkan, bahkan sepertinya lebih cenderung explore Gunung Fuji di Jepang. Tapi lewat informasi teman ternyata Annapurna Basecamp bisa dijelajahi 5-10 hari. Penerbangan Kuala Lumpur – Khatmandu (Nepal) pun sudah ada rute nya setahun dua tahun belakangan. So, sangat memungkinkan buat kesana jika Allah mengizinkan. Amiinnn

Tapi kembali lagi, saya berkeinginan untuk bisa umroh dulu di Ramadhan tahun 2017 ini atau akhir tahun ini, atau awal tahun 2018. Dua-duanya akan jadi perjalanan spiritual.

Finally :

So, karena tiga indikator di atas ini saya sudah tidak galau. Tadinya akhir tahun 2016 lalu saya niat ke India, bagian dari Negara di luar Asia Tenggara buat naik tingkat ke level traveling a la junkie dengan eksotisnya India. Sayang, buat wanita solo traveling kurang aman. Bye bye India sampai akhir tahun kemarin saya seleksi travelmate via email dan ngobrol di WhatsApp tidak ketemu yang cocok. 

Bagian seleksi ini lucu juga sebenarnya, karena dari sekitar 10 email yang respon ternyata satu diantaranya TKW di Hongkong, lalu ada ibu rumah tangga. Rasanya 2017 yang planningnya ke India memang tidak diizinkan Allah. Saya tidak yakin betul pergi kesana dengan tanda-tanda yang tidak baik sebelumnya. 

Entahlah, dibalik rencana-rencana sebenarnya saya pun berfikir, menyerahkan semuanya ke Yang Maha Kuasa. Karena pengalaman mengatakan “santai saja, kalau rejeki tidak kemana,”. Tidak tahu akan kedepannya rencana-rencana-Nya ternyata jauh lebih baik dari yang kita duga.

Advertisements

11 thoughts on “Galau Traveling Kemana? Ini Jawabannya

  1. kadang kita lupa bersyukur ya mba … kalau pergi ke suatu tempat .. padahal sudah susah2 untuk sampai ketujuan ,, dan ketika sampai disana malah complain … membandingkan dengan tempat bagus nan eksotis yang pernah kita tuju … jadinya dapat 2x kesusahan .. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s