LIFE · story · The Journey

Life as Journalist – Sekelumit Ceritanya

Deru ketikan keyboard. Suara yang terdengar nyaring tiap akhir sore di ruang redaksi, dengan sekian banyak bilik kubikel berwarna biru. Sekat yang memisahkan meja satu sama lain. Ah… Saya kangen dengan suara itu yang bertahun sudah lama tak menggangu desibel kuping lagi.

Kini jarang terdengar denting keyboard yang bising seperti sahut-menyahut itu. Karena kecanggihan teknologi telah membuat penghuni tiap kubikel lebih sering berada di luar kantor. Sisahnya hanya editor, penjaga “kandang” yang juga harus me-layout naskah dengan foto. Rapat, diskusi berita apa yang di angkat sebagai headline besok.. mengkordinasikan penugasan reporter juga tentunya.

Beda cerita bagi reporter lapangan. Berita kiriman hari itu bisa dikirim via email. Tanpa tatap muka, paling laporan dan telpon saja, bagian mana yang kurang jelas atau perlu tambahan kutipan nara sumber. Hanya waktu tertentu saja ke kantor, mengingat macet Jakarta dan banyaknya agenda per hari tak mungkin terkejar dengan singgah lama dikantor. 

Kesibukan yang harus nya luar biasa sibuk. Bila ada saat-saat genting kondisi negara atau ibu kota, juga bisa terasa pada bagian menambahi beberapa paragraf lagi lewat sambungan telpon. Kiamat lah rasanya dunia bagi reporter desk yang saat itu piket atau memang “pegangannya”.

Jika ada yang bertanya. Pilihan kah ini? Hidup dengan ritme seperti itu. Hampir-hampir tanpa jeda.. rasanya harus selalu berfikir ide baru, angle apa yang menarik, belajat terus, menyimak isu isu baru tanpa melupakan isu yang bisa kembali bergulir.

Masuk dalam lingkungan yang berganti-ganti, menempatkan diri sebaik-baik di institusi yang beda-beda berusaha seperti teman kepada nara sumber,  Ritme yang berjalan cepat… seperti tiada henti. Tapi karena jam terbang bisa teratasi. Ah memang biasa saja bila sudah terbiasa. (Sombong ni? Kan biasa aja sudah dibilang)

Beberapa tahun silam. Dengan satu alasan saja, jatuh cinta dengan dunia menulis. Saat lulus SMA, saya memilih kuliah di Fakultas Komunikasi, Ilmu Jurnalistik. Kampus kecil yang di bagian pintu masuknya sempat terpampang poster besar Andy F. Noya.. salah satu alumninya. 😶

Mendekati akhir masa kuliah, saya sempat magang di sebuah stasiun tv berlogo biru rajawali. Kakaknya Suratkabar tempat sekarang bekerja. Berbeda dengan tv, tentu saja.. saat itu sudah tergambar kalau saya yang “orang dibalik layar” kurang masuk dan menjiwai kerja tim di tv. Hehehe, perlu koordinasi dengan camera person, kordinator lapangan, sebenarnya bukan itu saja.. tapi proses mengedit video hingga di input menjadi berita serta menghitung berapa durasinya perlu waktu tak sebentar. 

Belum ritme bekerja di tv yang ada jam malam, rolling penugasan, bisa mulai jam 07.00 pagi, 12.00 siang, 17.00 sore, bahkan baru keluar liputan jam 21.00 malam.. bisa dibayangkan, bisa bisa saya jarang pulang. Dan betapa kehidupan pribadi dan pria yang ingin menikah dengan saya mungkin berpikir lebih jauh dengan jam kerja saya ini. Yah biasanya sih Tuhan itu kalau kasih jodoh pastinya yang pengertian sama jodohnya ya.. bisa jadi karena hidup di lingkungan yang sama dan merasakan ritme yang sama.

Pada bagian lain, reporter tv yang kordinasi dulu dengan kordinator lapangan juga harus jeli apa berita sebaiknya dibuat dengan Sound on Tape (SOT), hanya narasi lalu gambar atau lain lain? Dengan tambahan rekaman wawancara di lokasi mungkin?

Sementara reporter media cetak dan online memang lebih individual dalam bekerja. Hampir 70% adanya selentingan isu maupun angle eyecatching berasal dari kejelian si reporter. Tapi seorang editor saya dulu sempat bilang, ada 2 tipe kerja reporter.. liputannya bagus tapi tulisannya jelek, atau meliputnya tidak bagus tapi tulisannya bagus 😅😅

Saya tambahin, bisa jadi keduanya ..meliput dan menulisnya tidak bagus atau meliput dan menulisnya bagus… Atau karena sang editor yang kurang bisa “memoles” lagi bahan yang sudah dituliskan reporter.. 


Banyak bagian yang patut disyukuri. Karena profesi jurnalis, saya jadi bisa ngerasain gimana fashion week di negara lain wlw masih tetangga deket. Karena profesi jurnalis saya bisa ke tempat-tempat yang tak semua orang bisa masuk, misalnya ikutan rapat kerja dan sidang anggota DPR atau berada pada barisan depan penonton di sebuah event fashion show. Dan merasakan gimana gala dinner atau makan malam fine dinding yang mewah. 

Finally ga terasa juga, ternyata sudah 5 tahun bergelut dengan dunia kerja yang seperti ini. Adakah impian lain? Jelas ini impian saya dulu sejak SMP.. walau ketika itu jadi jurnalis di Majalah yang ternyata justru ilmu nya lebih luas di Suratkabar. Iya dong, majalah spesifik apa itu lifestyle atau ekonomi? Sementara Suratkabar terbitan nasional luas bidang bisa pindah-pindah desk liputan ke politik nasional, ekonomi, olahraga, internasional, lifestyle, atau budaya?? 

Akankah saya berpindah karier. Seperti teman-teman yang kini sudah mulai kuliah S2 lalu berniat jadi dosen, atau ada yang kemudian tahu-tahu jadi humas di Kementerian. Rasanya memang keterlaluan karena Tuhan sudah baik sekali mewujudkan mimpi cita-cita saya sedari SMP. Lalu apa? Hidup terus berjalan dan kita tidak tahu pasti apa kejutan ke depan šŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s