LIFE · story

Berbagai Cara Mengalihkan Kecanduan Social Media

Salah satu resolusi penting di tahun 2016 ini yang sedang gw jalankan adalah menghilangkan waktu kurang produktif dari kecanduan social media. Hal ini tidak mudah, butuh proses sedikit demi sedikit.

Kenapa kenapa kenapa? pertanyaan penting, soalnya makin sadar ternyata waktu banyak terbuang dan harus diakui deadline kerjaan harian keganggu akibat kecanduan ini (nggak gitu parah sih). Ah entah alasan kamu misalnya lagi cari perhatian gebetan atau kepo sama kehidupan di luar sana. Yang jelas HARUS tegas sama diri sendiri buat menggunakan waktu jadi lebih berguna dan menghasilkan “sesuatu”.

Step by step… mengatasi kecanduan social media versi blog gw….

(1) Deactive Facebook

Akhirnya di akhir tahun 2015 gw deactive akun Facebook. Tapi sempet diaktifin lagi 2 bulan ketika kepilih jadi peserta free trip ke Derawan, hehehe ya alasannya perlu banget buat promosi blog saat kegiatan trip itu berjalan.

Itu langkah pertama sih deactive FB, sebenarnya Facebook banyak manfaatnya juga, buat nambah statistik pembaca pembaharuan blog tentang traveling dan memang Facebook paling efektif meraup pembaca, ya temennya aja 800-an orang. Jangan ditanya berapa klik setiap hari, bisa di atas 100 pembaca dibanding kalau share di Twitter, Line, atau Path.

social-media-addiction
sumber : storyboarthat.com

(2) Delete Aplikasi Path dari Ponsel Pintar

Langkah kedua, makin jarang gw update di Path. Padahal temen-temen justru sangat aktif di Path. Tapi lama-lama sadar juga, buat apa nyari love dan likes, ahhh… Temen kita juga bakal kasih emotion karena balas emotion yang kita kasih.

Kadang apa yang di-share teman-teman kita juga hal kurang penting. Seperti cek in di sebuah tempat, lagi sama siapa, lagi ngapain. Hehehe buang waktu ya, kebayang di dunia nyata seberapa sibuknya merhatiin layar handphone. Terus lebih sering cuek sama sekitar.

Addictive gw sama Path akhirnya luntur soalnya lama-lama berasa capek dan ngabisin batere ponsel, FYI dalam sehari liputan bisa 2-3 tempat kebayang gimana update-an Path gw? Selain itu menimbulkan kesan “PAMER” cek in di hotel mana, makan di tempat keren mana, di mall mana… ya itu sih memang kerjaannya reporter lifestyle kerjanya bolak balik tempat seperti itu. Lalu, akhirnya Path tumbang juga gw delete.

(3) Delete Juga Twitter

Sekarang gw masih aktif buka twitter, tapi itu buat tahu update berita terbaru dari situs berita. Ya nggak lucu juga kalau jurnalis nggak tahu perkembangan dunia luar, apa jadinya kalau ketemu nara sumber nggak nyambung saat ngobrol karena nggak tahu update Pilkada DKI misalnya.

Senengnya sama Twitter itu, gw seolah bisa ngoceh apa aja disana seperti merasa nggak ada yang baca… padahal aib banget soalnya beberapa bos gw nge-follow gw dan ketika lagi kesel-keselnya twit gw bisa aja kebaca. Bagusnya karena di follow beberapa bos di kantor jadi ajang latihan menahan emosi dan menahan buat nge-twit yang aneh-aneh sih.Meski kadang suka lupa.

Suatu hari gw deactive akun Twitter gw, kirain Twitter tuh sama seperti FB yang bisa diaktifin lagi kalau pernah deactive. Tapi ternyata ada jangka waktu sebulan setelah deactive, akun gw secara otomatis memberi tahu ke followers kalau akun gw akan deactive. Gw tahu ini karena setelah itu banyak banget followers yang akhirnya ngirim direct massage (DM). Yaudah lalu gw aktifin lagi aja, sayang dong hampir 500 followers itu nggak mudah nyarinya.

Lalu aplikasi twitter juga dihapus dari ponsel gw, demi lepas dari kecanduan. Kalau mau nge-twitt gw harus buka di ponsel secara manual, memasukan password lagi dan loading-nya lama, so  ini buat gw males lagi buka Twitter.

(4) Hidup Hambar Tanpa Instagram

OKE, selanjutnya Instagram, satu aplikasi yang belum bisa gw lepasin sampai detik ini. Hobi dan suka fotografi, traveling tanpa fotografi hambar… ah hidup gw hambar tanpa fotografi. Ngumpulin followers secara bertahap sampai hampir 800-an orang tanpa curang juga bukan hal mudah.

Instagram itu favorit gw banget. Bahasa gambar juga lebih mengena di hati, dibanding audio atau sekedar kata-kata buat gw pribadi. So…. Jangan suruh gw lepas dari Instagram. Nggak sempat ke mall? gw udah punya online shopping langganan di Instagram dan karena Instagram punya banyak informasi destinasi wisata, apa-apa yang lagi hits, trend terbaru sampai inspirasi fashion harian.

Kebayang kan kalau hidup gw tanpa Instagram? Satu hal saja, gw tetap mem-filter apa yang tidak pantas dilihat di timeline. Pada akhirnya, Instagram dibatasi posting 1 foto per hari dan sekarang lebih jarang buka timeline. Kan sekarang juga ada tombol turn on notification buat akun tertentu, jadi kalau ada pembaharuan dari online shop langganan gw bakal tahu.

socmed
Sumber : socialmediatoday.com

(5) Delete BBM

Dari 2012 gw nggak pakai Blackberry, sekitar 2010 ponsel keluaran Blackberry sempat nge-tren banget. Ini mulainya buat orang kecanduan social media. Bayangin aja, email dan semuanya connect langsung ada notifikasi-nya. Berbeda dulu yang masih harus buka PC alias personal computer atau laptop buat online.

Yang namanya warung internet pasti penuh, zaman masih kuliah 2008-2009 saat bermula Facebook digandrungi buat sharing status. Nah, BBM juga cukup meresahkan bikin nggak bisa tidur. Recent update penuh sama status, personal chat bisa ganti profil picture yang semuanya mengandung “pesan”. Belum lagi rame group… hidup nggak jauh-jauh dari layar ponsel. Tapi sekarang alhamdulilah BB bisa dibilang tamat rihwayatnya. Ketinggalan zaman.

(6) Line Hanya untuk Hal Positif

Aplikasi line juga punya timeline yang isinya pembaharuan status, sharing emotion, gambar, blog, lagu, link video seperti social media lainnya. Kalau Line memang tidak bisa lepas begitu aja, soalnya salah satu yang favorit chat dengan Line itu. Ada banyak emotion lucu, grup yang dibuat temen-temen.

Dan,… senengnya sekarang Line juga ada update-an berita. Ini nilai lebihnya…. Akhirnya gw membatasi membuka Line hanya untuk update berita Line yang diambil dari banyak situs berita online. Beberapa akun positive SEPERTI @berdakwah dan @teladanrasul tetap dipertahankan, yah anggaplah itu buat pencerahan rohani.

So isi timeline yang positif aja, line bisa buat sharing blog walau tidak begitu terdeteksi di statistik. Cuma temen-temen yang nggak begitu kenal gw block, group yang tidak begitu produktif akhirnya gw hapus (keluar group) dan pengaturan Line gw batasi untuk mereka yang ingin mencari akun gw.

(7) Waktu Produktif dengan Nge-Blog di WordPress

Nge-blog jadi salah satu cara meluangkan waktu lebih produktif disamping bekerja tapi bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain. Dengan nge-blog segala inspirasi, hal-hal yang menurut diri sendiri patut dibahas dan paling utamanya sebagai dokumentasi moment traveling biar someday dibaca anak cucu gw hehe.

Dengan nge-blog itu juga melatih kemampuan berfikir, bercerita, menulis, mengemukakan pendapat dengan lebih terbuka. Paling kerasa nge-blog bisa piknik gratis ke Derawan.. hehe dan suatu saat kalau mau balik lagi buat diving bisa aja masih gratis kecuali tiket pesawat. Yah intinya apapun yang ada dibenak jangan disimpan sendiri, lebih baik dibagi. Gimana pun menulis itu menurut gw abadi 🙂

(8) Lebih Baik Luangkan Waktu dengan Baca Buku atau Olahraga

Minimal beli buku bacaan itu sebulan sekali, buku apa aja. Mau genre horor, novel sastra, atau sekedar buku bergambar humor lucu, buku motivasi dan lainnya. Selain bisa nambah kosakata, pengetahuan, cara pandang, ini juga bikin kamu berbeda sama lingkungan sekitar.

Sekarang perhatiin aja, lagi di kereta kanan kiri kalau nggak lagi sibuk lihat layar HP, ya paling dengerin musik. Mainstream kan? baca buku deh … coba, ya kalau nggak suka buku pilih alternatif lain selain harus buka gadget.

Ohya, olahraga! Semenjak 3 tahun belakangan rutin jogging waktu kosong jadi lebih bermanfaat. Dengan olahraga kamu bisa jauh dari stress, karena olahraga membuat tubuh menghasilkan zat endorfin yang bikin kamu bahagia. Tantang lah dirimu, kalau berani yuk gunakan waktu berkualitas dibanding dengan sibuk sama layar ponsel kamu.

Advertisements

13 thoughts on “Berbagai Cara Mengalihkan Kecanduan Social Media

  1. Ada satu cara lagi, fokus ke olahraga yg sudah pasti tidak memungkinkan utk ber-sosial media (berenang, atau yoga misalnya) atau jalan-jalan ke lokasi yg nggak ada akses wifi 🙂
    Memang media sosial itu bisa bikin kecanduan, jadi lupa dunia sekitar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s