LIFE · MOUNTAIN · story · The Journey

7 Hal POSITIVE dari Mendaki Gunung yang Bisa Mengubahmu . .

Pernah nonton film berjudul wild? Kisah tentang seseorang yang depresi, kecanduan narkoba, seks bebas, berperilaku menyimpang dan kemudian memutuskan untuk mendaki gunung.

Dibintangi aktris Reese Witherspoon, film ini menuai komentar positif termasuk membawa sang aktris untuk nominasi aktris terbaik di Academy Awards. Wild yang masuk dalam genre sebuah film drama biografi, dirilis tahun 2014 silam, sutradara oleh Jean-Marc Vallée. Skenario film diangkat berdasarkan pada cerita Cheryl Strayed berjudul Wild: From Lost to Found on the Pacific Crest Trail.

Dalam satu ulasan seperti dikutip dari Telegraph, film ini memiliki pesan tentang kesepian, kelelahan, dan keinginan kabur, menyipitkan mata dari keterasingan dengan sebuah perjalanan.

By the way karena film-nya masih hangat saat itu, 2014 di saat-saat saya juga mulai suka naik gunung ketika dulu nonton saya nggak begitu mengerti. Apa asosiasinya dari seseorang yang depresi, memutuskan naik gunung lalu itu bisa mengubah pribadinya?

Pendaki dengan sarung, katanya sarung itu lebih bikin anget

Dan,… setelah 2 tahunan naik gunung, jalan dengan rombongan rame sampai solo traveling saya makin tahu kenapa sebabnya, hingga memang mendaki gunung itu sudah buat pribadi saya juga sedikit banyak berubah ke arah yang lebih positif.

Makanya saya bakal menyarankan, kalau seseorang dari segi fisik, tenaga mampu buat trekking jauh dan suka melakukannya, harus banget naik gunung. (Akan kerasa positif-nya mendaki kalau frekuensi-nya sudah sering, 2-3 bulan sekali, bukan cuma setahun sekali aja). Karena proses perjalanannya bisa jadi terapi dan saat-saat perenungan hidup. Yang paling terasa setelah 2 tahun mendaki gunung adalah ….

(1) Mendaki Gunung Akan Meluluhkan Ego Kamu

Kamu yang sebelumnya punya kepribadian sangat egois, lama-kelamaan bakal luluh dengan menempuh perjalanan jauh berhari-hari di gunung. Bertemu teman baru atau punya teman kelompok akan menekan keinginan untuk mementingkan diri sendiri.

Terlebih ketika mendaki memang tak bisa sepenuhnya sendirian. Butuh teman kelompok yang akan membawa tenda, perlengkapan masak, dan kebutuhan bersama. Biasanya dibagi-bagi untuk membawanya. Disaat seperti itu, akan timbul pribadi yang peka dengan orang lain. Nggak tega kalau temannya yang kelelahan tidak dibantu bawa perlengkapan kelompok.

(2) Lebih Menyerahkan Semuanya Kepada Tuhan

Perjalan ke gunung itu beda dengan ke pantai atau pulau. Bisa jadi mau pergi bulan depan, eh besoknya status gunung yang ingin didaki tiba-tiba berubah. Siapa yang akan mengira kalau Gunung Semeru ditutup sementara waktu karena ada pendaki hilang? itu kejadian waktu saya akan kesana, tepat sehari sebelum keberangkatan.

Tentu kamu akan belajar untuk tidak memaksakan kehendak, yang ada pendaki itu akan membiarkan alam semesta berbicara. Kehendak Tuhan seperti apa, lama-kelamaan seperti Dia berbicara ke kamu sendiri. Berkata di dalam hati kamu, memang seharusnya seperti ini, memang baiknya begini. So, kebanyakan anak gunung lebih slow, santai menghadapi apapun lebih tenang dan berserah kepada Tuhan. Nggak ngotot-ngototan dengan kemauan diri.

SONY DSC
Hayoo,… berani nggak kamu minta tolong logistik kalo kehabisan ke tetangga kemping?

(3) Jadi Lebih Pandai Bergaul dan Berbaur

Namanya di gunung, segala sesuatunya serba terbatas. Nah keterbatasan itu membuat seseorang jadi merasa aku ini apa kalau sendiri? Ternyata saya ini makhluk yang membutuhkan orang lain.

Di tengah keegoisan dan saling cuek ketika berada di kota besar, maka gunung adalah tempat dimana kamu akan menemukan orang yang tak mengenal kamu pun menyapa serta menyemangati. Saling berpapasan pun akan ada keakraban dengan seutas senyum di pipi, saling tegur dan berbagi makanan dengan tetangga tenda sebelah.

“Ayo kak tempat kemah udah dekat tuh, semangatttt!” keramahan yang akrab ditemukan di gunung.

Semakin banyak mendaki gunung, skill komunikasi kamu juga terasah. Kalau-kalau lagi kekurangan makan dan butuh gula misalnya, dengan senang hati pendaki tenda sebelah bisa sharing gula. Jangan khawatir kalau ke gunung nggak akan kehabisan makanan atau minum soalnya sudah terasah gimana ngobrol dan minta tolong.

(4) Lebih Filosofis Memaknai Hidup

Entah bagaimana, selama perjalanan yang melawan kantuk, capek lelah, juga disertai keceriaan itu ada filosofinya… di antara sejengkal dua jengkal kaki yang melangkah saya betul-betul merasakan secara mendalam filosofi dari proses mendaki gunung ini di kehidupan nyata.

Saat-saat beristirahat punya makna, kalau hidup itu juga perlu memiliki jeda. Ketika kamu harus melewati jalan di malam hari dengan penerangan headlamp saja itu ada filofosinya, lampu penerang di kepala diibaratkan seperti hati. Lalu jalan di kanan kiri mu yang adalah jurang ibaratnya kehidupan dengan segala resikonya. Hidup selalu dihadapkan pada pilihan, tapi kembali lagi hati kamu adalah penerangnya, kata hatimu sebagai petunjuk penerang titisan dari Tuhan.

(5) Memahami Bahwa Segala Sesuatu Ada Waktunya

Perjalanan mulai dari basecamp ke pos 1, pos selanjutnya, hingga ke tempat kemah itu ibarat perjalanan awal kehidupan manusia. Jadi ada masa berpayah-payahan dalam taraf yang masih sangat awal. Masih segar fisik dan kondisi mental kita disini.

Lalu saat harus summit ke puncak ibarat perjuangan terberat dengan medan pendakian terjal dan lebih bahaya. Menejemen diri menjadi sesuatu yang lebih karena sudah memahami kalau segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu istirahat, ada waktu berjalan lagi, ada waktu summit yang berat, lalu klimaks turun pendakian. Semua menejemen fisik, menejemen logistik makanan, dan menejemen waktu, kedewasaan seseorang akan berkembang lewat perjalanan yang tak bisa dibilang singkat ini.

plawangan-sembalun
Pemandangan mewah, dekat awan di Plawangan Sembalun Gunung Rinjani

(6) Mendaki Gunung Meluluhkan Rasa Sombong

Ini proses panjang juga. Karena lama- kelamaan kamu makin sadar dari sekian banyak perjalanan itu kalau kamu bukan apa-apa. Ada beberapa teman yang bilang kalau nggak hanya karena mendaki gunung aja kok, tapi traveling juga membuat kamu berpikir kalau kamu bukan siapa-siapa.

Tapi beda,… bukan karena semua kemegahan dari indahnya alam ciptaan Allah yang buat kamu nggak sombong lagi. Tapi perjalanan di gunung yang tidak mudah, sampai kamu berfikir memang tiada daya upaya kalau bukan karena pertolongan Allah kamu bisa sampai puncak dan kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

Karena bisa saja, dijalan ketemu hantu jahil lalu kamu diisengin dan disasarin entah kemana. Atau karena diperjalanan sering berkata kasar dan memaki-maki tiba-tiba kamu sakit menggigil dan harus tidur di tenda sementara teman mu ke puncak. Makanya juga banyak yang bilang kalau ke gunung niatnya harus bagus, jangan sembarangan ngomong, bertindak juga jangan seenaknya.

(7) Akan Merasa Materi Bukan Segalanya

Karena sudah pergi jauh dari kota, segala hal materialistis bisa jadi meluntur. Di gunung dengan semua keindahan disana kamu menganggap bahwa itulah kemewahan. Bahkan saat hanya makan dengan nasi dan telur goreng pun semua itu tetap terasa lezat. Kamu akan jauh dari sifat matre alias materialistis.

Rasanya nikmat aja tidur di tenda, tapi ketika lihat diluar langit di atas kamu penuh sama taburan bintang-bintang. Ini lebih mewah kan dari hotel bintang 5, ini hotel seribu bintang, hehehe…

 

Advertisements

21 thoughts on “7 Hal POSITIVE dari Mendaki Gunung yang Bisa Mengubahmu . .

    1. awalnya diajak temen, terus ikut open trip, terus barengan mulu perginya sama temen yg suka ngegunung juga, terus jd berani pergi solo ing ke gunung. Semuanya proses…

      kalau pertama enak ikut open trip aja dulu, krn ga perlu punya tenda atau barang kelompok dan nyoba yg deket atau ga trlalu tinggi ky Gn. Papandayan atau Gn Gede yg dkt jabar aja dulu. Info nya bisa di Instagram bnyk open trip

  1. setuju banget mbak sama pendapatnya, banyak hal yang bisa dapetin dari naik gunung, tapi mirisnya sama anak-anak ” yg katanya gaul” naik gunung cuma buat nambah post di sosmednya, jadi gak bisa ngerti mana yg boleh dan enggak, bukanya dapet pelajaran dari naik gunung malah ngotorin gunung, huhu 😦

  2. setuju banget mba Dyah … 7 hal positif bagi pendaki gunung

    sekarang makin banyak orang yang mendaki gunung …. tapi kenapa sampah jadi makin banyak ya di gunung … pasti ada yang salah … ada saja oknum2 pendaki gunung yang ga bener … mudah2-an mereka membaca tulisan mba Dyah ini sehingga mereka mendapatkan “hidayah” … hehehe

    1. iya miris sebenernya aneh, krn apa yg saya rasain maaf banyak pendaki yg cuma ikut-ikutan mendaki. Lebih peduli foto2 aja di atas sana buat update di soccial media, bukan pecinta alam sejati yang tdk bisa memaknai perjalanannya.

      cuma tipe pendaki seperti ini pun nggak kan lama bertahan

  3. Learning by doing …
    namun caranya harus benar, gak cuma mendaki,

    dulu pernah ikut kursus Navigasi Darat bisa 3 hari, sekarang mungkin sudah tidak digunakan lagi ya, sudah banyak teknologi canggih.

    dulu pernah ikut sekolah mendaki gunung, sekarang kalau mau naik gunung ya tinggal naik saja+bawa tas besar 🙂

    dan lereng selatan Argopuro yang masih ‘perawan’ benar-benar menjadi lokasi yang bagus untuk belajar…

    ma’af sedikit sharing waktu menjadi mahasiswa pecinta alam 🙂

    Terima kasih dan salam kenal Mbak Dyah.

    1. Wah senangnya bisa ngerasain pendidikan sepertia anak mapala, pernah dapat cerita senada dari sepuh yg mendaki waktu zaman dia muda tahun 1995 an.. memang sayang sekali zaman sekarang yang mendaki tidak dibekali lagi hal seperti ini.
      Saya juga belajar bagaimana survive di gunung otodidak saja.
      salam kenal juga ya, terima kasih sudah membaca blog ini

  4. entah ya mbak, kalo saya diajakin mendaki yang terlintas pertama kali adalah capeknya. tapi ketika cuma sampe 0mdpl alias pantai pun saya udah merasa bersyukur banget. berharap sih bisa merasakan mendaki bareng temen-temen saya yang doyan banget itu.

  5. pokoknya naek gunung itu asik, udah itu aja sih, gw mendaki mulai dari tahun 2005 dan gak pernah bosen2 mendaki.. pengen bgt bisa nyelesaein 7 puncak Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s