story

Dibalik Media VS Blogger

Baru-baru ini gw baca berita soal editor mode di Inggris yang komentar betapa menyebalkannya blogger. Kalau boleh jujur hampir semuanya bener juga celotehan si editor mode dari Vogue ini. Entah sebelumnya dalam bentuk berita apa pernah ada juga pihak media yang merasa terganggu dengan kehadiran blogger-blogger ini?

Aduh postingan kali ini cukup emosional ya, seperti ngajak berantem? Seberapa sebelnya editor mode sama blogger fashion? cek link ini Editor Mode Sebut Blogger Fashion Mengganggu dan Menyebalkan

Mendadak blogger merasa seperti artis (utamanya blogger fashion, gatau kalau blogger lain). Sampai sekarang ketika lagi undangan makan di sebuah tempat terus ada si blogger fashion itu, salah satu narsum gw yang pemilik brand jam tangan asal Prancis langsung nyeletuk, “Tuh ada si … (aduh nggak usah sebut nama),”. Siapa yang nggak kenal, selain blogger juga selebram dengan follower puluhan ribu, jadi influencer, juga dibayar dan di PINJEMIN baju sama desainer-desainer buat pakai bajunya.

Semenjak marak fashion week juga, aduhh mereka betebaran pamer baju (kesannya yang komen gini tuh sirik ya). Blogger yang memang tenar dan punya kenalan artis ada di deretan kursi depan. Oke gw nggak semendalam banget juga sih merhatiin mereka. Baca tulisannya pun nggak (ngapain, mending baca ulasan editor mode Vogue atau Telegraph, lebih terpercaya!).

Satu fashion blogger yang sering ketemu itu Diana Rikasari, blogger fashion pertama Indonesia. Secara pribadi nggak begitu kenal sama Diana, jadi rasanya kurang pas juga ya kalau komentar soal dia. Satu hal sih yang bisa gw komen, dia itu PEDE abis, mau bajunya menurut gw kadang lebih sering bikin sakit mata. Tapi tetep kita nggak bisa menyamaratakan selera tiap individu, bakal menghakimi jadinya.

blogger-for-blog
pic from : inspihero.com

Terakhir Diana sudah punya 2 buku dan itu semua best seller. Helloooo!!!! Suatu kali gw tanya temen gw yang kerja bareng Diana di Kompas Gramedia buat proyek buku itu.

“Kenapa sih bukunya itu bisa best seller?” (cuma dalem hati gw merasa siapa pun bisa buat buku macam itu, inspirasi dari quote-quote pengalaman pribadi). Ya memang si Diana punya daya memengaruhi anak muda sih. Ya menurut gw itu udah takdir, semacam memang rezekinya Diana punya buku best seller diluar kemampuan dia nulisnya bagus atau nggak. Satu hal daya pikat orang melihat sosok nya yang punya karakter itu yang bikin bukunya laku. Hahahaha sekedar pendapat aja.

Terus temen gw jawab …. “Karena orang Indonesia itu butuh dimotivasi,” yesss… ternyata ini perpaduan cara memotivasi lewat gambar dan kata-kata yang dibuat oleh orang yang memang punya magnet sebagai influencer. Yah, tapi ketika gw dateng di peluncuran bukunya, yang dateng anak seumuran SMP dan SMA atau masih kuliah. Tapi di Instagram, penyanyi Andien pernah memposting sesuatu dengan quote dari buku Diana ini.

Ah udah, cukup soal Diana. Yuk balik lagi kenapa kadang blogger itu menyebalkan?

Pertama berasa artis, seperti haus popularitas … dengan bahasa tubuhnya semua mata tertuju dengan busana si blogger, gw tahu banget itu rancangan desainer siapa. Tas brand apa, karena kerjaan gw juga mantau fashion week dari Paris, Inggris, New York, sampai Milan…yang jelas yang mereka pakai bukan brand murahan. Cuma masalahnya antara dipenjemin dan setengahnya mungkin beli sendiri ya. Belinya bisa ngabisin gaji wartawan kamu setahun.

Tapi sekedar sharing,  gw nggak ada di pihak manapun. Temen-temen gw banyak blogger juga kok. Keseharian gw pekerja media dan suka nulis juga sebagai blogger. Jelas keduanya beda, dan gw semakin nggak ngerti kenapa kemarin waktu ke Bangka liputan opening Hotel terus penyelenggaranya juga mencampur antara media dan blogger.

Huffttt, jadi kemarin gw liputan luar kota bareng Anak Jajan sama Eat & Treats, dua food blogger yang cukup terkenal lah. Gw pun follow mereka di Instagram. Cuma entah kenapa positive feelings sudah, tapi kami memang nggak bisa menyatu ya, semacam ada kubu walau kami nggak musuhan juga.

Pada akhirnya tetep, gw milih satu meja sama temen-temen media dan diseberang meja lain blogger yang cuma 4 orang juga. Anak-anak blogger baik semua, kita tegur-teguran, tapi ya gitu seperti ada pembatas. Hai gw media dan hai gw blogger.

journalist
pic :rmadisonj.blogspot.com

Tapi sempat juga suatu kali review restoran seafood di daerah BSD Tanggerang, kami dijadiin satu dan gw ketemu kakak food blogger yang pernah satu acara. Dia bareng sama temen bloggernya Kompasiana. Nggak pernah ada sesi memusuhi semua baik-baik aja, tapi kenapa kadang blogger suka kurang rasa sopannya kalau dikasih goodie bag dan protes ke penyelenggara dibeda-bedain isinya. Oh pleeasse tolong, kan malu gw aja sering nggak dipake vocher diskon dan makan gitu, malah dikasih anak kantor dan temen.

Di lain waktu, gw pernah memposisikan diri sebagai blogger. Ya tidak masalah kalau kepilih kan buat nulis review destinasi wisata. Hitung-hitung piknik gratis, tapi masih memegang sifat sebagai media apapun hal yang gw review itu jujur, nggak dibuat-buat walau dapet gratis.

Adanya blogger karena social media yang meluas dan punya efek besar membuat banyak pihak menggunakan mereka untuk budget yang lebih rendah dibanding mengundang media. FYI, temen gw yang mau buka restoran kasih bocoran gitu demi menekan budget katanya.

Dan banyak temen juga tahu kalau zaman sekarang dengan media maupun blogger pun khalayak juga harus skeptis. Pernah temen bilang, “ya mending gw liat review makanan di Zomato dong, kan jujur isinya,”. Dibanding baca ulasan blogger yang kadang di-setting, media juga beberapa ada yang nggak seimbang memberitakannya. Artinya sebenarnya zaman sekarang masyarakat sendiri makin kritis, melihat sebuah ulasan itu fakta atau yang dilebih-lebihkan hanya untuk keuntungan.

truth-or-lie

Terus, suatu kali gw diundang meliput menu baru sebuah restoran (nggak usah disebut namanya ya) di Plaza Indonesia gerai pertamanya. Menu baru yang kolaborasi dengan BLOGGER. Whatttt? temen-temen media langsung komentar pada males, bukan satu dua orang aja. Katanya ngapain banget menu kolaborasi dengan blogger? dan serius nggak representatif makanannya.

Komen terakhir gw, hasil pengamatan aja. Melihat situsnya Anak Jajan yang ngebahas kuliner dalam bahasa Inggris terus punya follower puluh ribuan orang itu hasil dari mengkhususkan diri sebagai food blogger. Mereka rapih dan speciality banget nggak random temanya.

Lihat aja postingan-nya di IG, nggak habis-habis, berarti kan dia laku buat di-endorse review resto. Tarifnya paling nggak di atas Rp. 1 juta per artikel. Makanya gw pikir kalau memang niat mau jadi blogger sebagai mata pencaharian ya dikhususin aja. Kalau cuma iseng nulis blog sharing seperti gw ya,.. memang bukan buat cari duit atau bisnis.

Daripada jadi blogger berbayar tapi kurang jujur tetap mending cari job lain yang lebih bagus buat masa depan, tanpa hati nurani ini menolak. Ya kalau kamu blogger jujur bagus aja, terserah juga sih kan yang jalanin hidup kamu. Kalau gw udah kesel dan lebih nggak menghiraukan juga sih sama para bodrek (wartawan palsu) yang lebih banyak ngejatuhin harga diri jurnalis dengan nodong uang atau sekedar cuma numpang makan dan tindakan tidak terpuji lainnya.

Karena hati nurani gw berbicara, kalau nulis harus jujur, jangan karena dibayar terus bagus-bagusin yang sebenarnya biasa aja. Ini kebiasaan gw di media harus seimbang nulisnya, apalagi nulis merek dibatasi, kan bukan iklan. Wartawan punya kaidah menulis, menempatkan sesorang nara sumber yang kompeten, yang jelas kata-kata dan struktur paragraf nulisnya juga tidak seperti bahasa blog gw ini.

Advertisements

4 thoughts on “Dibalik Media VS Blogger

  1. wah sampai seheboh begitu dunia per-blogger-an dan media ya ….
    sampai ada pengkotak kotakan, grup grup-an begitu … weleh weleh … maklum saya ga pernah gabung atau kumpul2 jadi ga tahu sama sekali ..
    saya hanya nulis saja yang saya suka, niat awalnya hanya untuk dokumentasi pribadi hobi saya, dan ternyata ada yang suka dan suka mampir .. allhamdulillah

    Akhirnya kembali ke diri2 masing ya mba … mau blogger, mau jurnalis .. kalau punya sikap dan attitude yang baik pasti akan berguna serta memiliki harga diri dan martabat di mata orang.

    1. iya, hehehe tulisannya ky ngajak berantem ya,… saya pun nge-bloog cukup buat dokumentasi dan sharing supaya tulisan bisa bermanfaat buat traveler..
      itulah kenyataanya perkembangan social media termasuk blog membuat media tak jadi satu-satunya sumber informasi. Tapi bnyk blogger yang santun juga kok tdk bisa diratakan semua.

  2. Emang beda kalau blogger berbayar sama blogger karena senang nge-blog. Saya kadang terima order-an nulis, tapi gak nyari..suwer..hihihi. Kalau ada yg nawarin dan kebetulan cocok baru ok. Tapi gak kepikiran buat hidup dari nge-blog..

    Soal media vs blogger, sebenernya penasaran, media itu merasa tersaingi ndak dengan keberadaan blogger?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s