Backpacker · Indonesia · JAVA - Indonesia · MOUNTAIN · story · The Journey · Traveling

Cerita Solo Traveling, Gunung Prau – Wonosobo

Ke gunung solo traveling, kenapa nggak? tapi lihat dulu kemana destinasi-nya, gunung apa. Soalnya beberapa gunung punya peraturan ketat, salah satunya tidak memperbolehkan mendaki sendiri.

Seperti Gunung Ceremai dan Gunung Gede  misalnya, cukup ketat peraturan disana. Gunung ceremai, harus minimal bertiga begitu juga Gunung Gede selain itu perlu daftar SIMAKSI online dulu di web.

Nah, berbeda dengan Gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung yang punya sebutan gunung artis karena selalu penuh pendaki ini boleh dijelajahi solo-ing. Banyak teman-teman saya sesama pendaki yang ke Prau sendiri, trekking pagi sebelum matahari naik dan tak memilih nenda atau kemping di atas sana.

instagram-prau
Seperti sesumbar para pendaki di Instagram, sunrise di Gunung Prau memang bagus banget…

Niat awal saya sebenernya kepingin ikutan acara Dieng Culture Festival (DCF) 2016 yang merupakan event wisata tahunan di Dieng. Sejak bulan Maret 2016 sudah prepare pesan tiket yang katanya terbatas hanya untuk sekitar 200 ribu orang saja.

Tapi sekalian aja kan, walau janjinya setelah Gunung Kerinci saya mau rehat dulu mendaki. Mengingat ongkos kereta PP kelas bisnis lumayan dan tak mau rugi juga perjalanan lebih dari 3 jam menuju Dieng, saya sengaja datang sehari sebelum acara DCF ke-7 itu.

Supaya nggak repot, perbekalan bawa yang penting-penting saja. Termasuk tenda yang untuk kemping di acara DCF saya titip di basecamp, begitu juga tas carriel untuk membawa baju. Jadi naik gunung hanya membawa day bag yang berisi air minum, nasi bungkus untuk sarapan, cemilan, dan kamera… hehe lumayan enteng. Pertimbangan ini juga yang buat saya mikir, kenapa nggak ke Prau solo traveling?

Sunrise 😘😘😘

Dan… niat itu pun tidak berubah hingga saya kemalaman di tengah perjalanan dari Wonosobo, belum sampai Dieng. Akhirnya demi sampai di basecamp prau, saya memutuskan naik ojek. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam, menembus kabut dan kedinginan, jalan tanjakan ke Dieng tau sendiri kan?

Sambil,… ah… bayangkan saja sendiri carriel di depan pak ojek, saya hanya pakai tas gemblok isi dompet dan kamera barang penting lalu nenteng tenda seberat 1,5 kg… cukup enteng πŸ™‚

Kalau bisa sebaiknya ke Dieng itu sejak siang, batasnya sekitar jam 12 sudah ada di stasiun Purwokerto karena bus engkel ke Dieng terakhir itu jam 5 sore. Engkel yang desak-desakan, cuma kalau naik dari Dieng dan situasi tak seramai event DCF baru bisa kedapatan duduk. Kebanyakan yang naik engkel juga penduduk sekitar, anak sekolah yang tujuannya deket-deket aja. Kamu masih bisa sabar sampai ada yang turun dan dapet duduk.

Sampai juga di basecamp Patak Banteng, jalur pendakian yang saya pilih buat naik Gunung Prau karena cukup 2-3 jam saja mendakinya. Sementara kalau lewat jalur Dieng itu akan memakan waktu 8 jam tapi dengan pendakian lebih landai. Pukul 21.00 cukup sepi, (mungkin karena hari Jum’at) hanya ada sekitar 3 rombongan kecil pendaki.

Bayar SIMAKSI pendakian cukup Rp. 10.000 saja, untuk penitipan barang gratis. Senangnya area untuk bermalam cukup luas dan bersih dengan 4 ruang toilet dan musholla kecil untuk sholat.

Di depan area basecamp juga banyak motor milik pendaki parkir. Di dekat basecamp juga ada banyak warung dan hampir semua juga menyediakan penyewaan tenda, sleeping bag, dan tas carriel… so, yang males bawa barang banyak bisa sewa. Harganya sleeping bag Rp. 20.000, tenda sekitar Rp. 45.000 untuk ukuran kapasitas 4 orang.

solo traveling blog
Nggak ngerti gimana, malah ketemu 3 cewe ini (Angel, Icha, dan Reni) dan niat solo traveling jadi barengan aja nenda di DCF-nya.

Sejak awal saya sudah bilang ke penjaga pos pendakian, kalau cuma naik sendiri. Nggak apa-apa katanya, nanti juga akan ada pendaki lain dan bisa barengan. Jam 02.30 pun saya dibangunin sama bapak-bapak pos penjaga,… bukan saya aja sih pendaki lain juga diberi tahu kalau mau dapet sunrise enaknya jalan sekarang.

Alhamdulilah, si bapak bilang ada 2 pendaki dari Bogor yang bisa ikut barengan sama saya. Yaampun jauh-jauh ke Wonosobo ketemunya orang Bogor juga orang deket rumah… So, saya barengan sama Irul dan Gilang. Mereka sabar banget nungguin saya buat nyeruput sereal susu dulu dan pesen makan buat brunch. Dan day pack yang enteng itu pun ditengah jalan dibawain temen yang mendaki tanpa tentengan.

You never walk alone,… ah bener banget kita memang tidak pernah berjalan sendirian, selalu ada temen selalu ada penolong yang dikirimkan Tuhan buat kita. God thank u, i’m so blesssed... jadi pendakian ini seru-seru aja. Dan… ditengah jalan selagi istirahat muncul lagi pendaki lain yang akhirnya barengan, Wisnu yang masih kuliah.

Namanya pendaki, anak gunung memang karakternya suka menolong, santai dan empatinya tinggi. Seperti semua teman pendaki yang saya temui ini, nggak ada yang akan ninggalin. Berbagi minum, berbagi makanan, saling nyemangatin kalo puncaknya udah deket.

Di atas, kami berempat juga ketemu sama tiga cewe yang nge-camp semalam di Prau, Angel, Icha, dan Reni. Aduh, mereka bawaannya berat tapi nggak ada cowo satupun di rombongan. Mereka baru pertama kali banget mendaki gunung. Untungnya ada satu cowo pendaki yang bantuin masak bantuin pasang tenda mereka pas malem mereka mau nenda.

Kami semua baru pertama kali banget ketemu tapi langsung gampang berbaur akrab. Foto-foto dan buat video di atas, makan bareng, masak bareng… dan beruntung, betul-betul beruntung entah gimana caranya Tuhan mempertemukan dengan para wanita ini juga, soalnya niat buat nge-camp berdua di acara DCF batal, karena teman ketinggalan kereta dan ada urusan mendadak di Jakarta.

DSCN9791
Langit biru cerah,…. di antara mereka yang nenda (tidak terlalu padat tenda di hari Jum’at (5/8/16)

Waduhh… anehnya, semua jadi terasa surprise dan seru buat dilewatin bareng orang-orang baru. Saya jadi nenda bareng dan ngelewatin acara malam Jazz Di Atas Awan (Jazztawan) berempat, termasuk random walking nyari candi tersembunyi di dekat pemukiman warga. Makanya bisa dibilang ini random journey..

Namanya wanita kan selalu nyambung kalau itu ngobrolin kosmetik hehehe. Dan julukan kami berempat adalah teletubis, pas banget soalnya main ke bukit-bukit teletubis Gunung Prau… terus grup tetemenan semua pendaki yang baru kenal ini dikasih nama Purwaceng, salah satu nama minuman khas di Dieng πŸ™‚

 

Advertisements

14 thoughts on “Cerita Solo Traveling, Gunung Prau – Wonosobo

  1. Asyik banget baca cerita pendakian mbak Dyah. Benar sebenarnya solo traveling itu gak ada karena di jalan akan ketemu saja dengan orang-orang baik Yang mau terkoneksi dengan kita ya Mbak

  2. Seru bgd yaaah kamu solo travelingnya .. Aku kangen prau .. Sayang bgd kmren gak ikutan ke dieng 😁😁😁
    Jadi kapan kita duet traveling bareng? Hehhe

    1. Iya seru Indah.. Oh pantes kt ga ketemu di Dieng. Tapi udah tenang lah kamu, udh sidang tinggal wisuda.. Kecapai deh thn ini targetnya. Kalo mau ke Dieng atau mendaki bisa kapan aja πŸ™‚

  3. Bagus karyanya.
    Koreksi dikit selain pendakian dr Patak banteng.
    Ada kali lembu (2km arah Dieng dr Patak banteng) pendakian sekitar 4 Jam landai yg nanti akan ketemu di pertigaan dekat tower dg pendakian dr dieng kulon bukan 8jam hanya 4 jam normal mendaki.
    Kalo boleh saran ,mendakilah dr kali lembu /Dieng kulon Krn prosesi keindahan Prau akan terasa mengalir menunggu lah terang tanah di bukit pertama dan baru turun menyusuri bukit Teletubbies dan wouw terhampar kemegahan puncak Prau.
    Dan baru turun via jalur Patak banteng Krn transportasi kembali ke basecamp awal mudah dan hanya sekitar 2km.
    Demikian juga kl mendaki gn.lawu.
    Tp kl bawa kendaraan pribadi
    Turun via jalur beda tdk disarankan Krn jauh boros di ongkos misal gn.merbabu.gn.sumbing.gn.sindoro.
    Sekian aja. Maju terus karyanya.
    Kl mau trip explore tpt lain misal yg ada di FB ku Edy Jadmiko dgn senang hati kubantu tips2nya.

    1. Oh bgtu ya, pernah baca di web katanya 8 jam hehe mngkin bnyk berenti apa gmn. Iya memang ada lagi jalur pendakian kalilembu.. Berhubung saya cuma punya sedikit waktu jadi lewat Patak Banteng deh.. Makasih sharring nya..

  4. Cuma pernah solo hiking di Merapi, dan memang bikin deg-degan. Kalo di Prau memang asik rame-rame, takutnya aku krik2 ga da temen ngobrol. hahaha…

    Minggu depan ke Prau, semoga cuacanya bagus kayak di atas. πŸ˜€

    1. Hahaha iya, takut krik.. Krik… Tapi banyak kok yg solo-ing mendaki tapi tetep aja bakal ketemu di jalan dan barengan. Have a great journey ya buat nanjak-nya, enaknya jgn weekend krn rame bgt.

    1. Sekali-kali harus coba berarti,… buat uji nyali sejauh apa survive di suatu tempat. Tapi mungkin kalo sudah 4-5 kali ke gunung ya, krn brti sdh tahu gmn tanda2 cuaca, karakter gunungnya, sampai gmn ngatasin hal2 kondisional disana πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s