LIFE · story · The Journey

Off The Record Ngopi Bareng Andrea Hirata

IMG_1990
Kami dibawain dua buku terbitan terbarunya Laskar Pelangi edisi bahasa Inggris plus dibubuhi tanda tangan langsung 🙂
Suatu sore, bareng my best friend Wury Puspitasari di kedai kopi bilangan Kuningan Epicentrum, Jakarta Selatan. Mall yang lebih sering terlihat sepi pengunjung di antara mall ibu kota lainnya. Kami berdua janjian dengan penulis novel terkenal Laskar Pelangi.
Janji bukan sembarang janji, karena Bang Andrea Hirata sendiri yang sms Wury buat ketemu, mumpung lagi di Jakarta katanya. Ihhh, siapa yang nolak diajak ketemuan dengan penulis terkenal. Saat masih kuliah semester akhir saya sudah dibuat begitu terkagum-kagum dan terinspirasi dengan cerita seorang Ikal yang anak Belitong bersama kawan-kawannya di SD Muhammadiyah.
Lagu “Rayuan Pulau Kelapa”, Raja Dangdut Rhoma Irama, lalu Penyakit gila nomor 9, dan susunan kata ciptaannya langsung muncul di ingatan. Beruntung, tahun 2011 silam saya sempat juga mampir ke Belitung melihat secara langsung lokasi syuting film Laskar Pelangi. Lalu semua seri bukunya sudah dibaca, jadi pas ketemuan nggak kan habis bahan obrolan.
Ada apa? Kenapa Andrea Hirata bisa ajak kami ngopi bareng? Ini bukan konferensi pers, bukan liputan, bukan ketemuan wawancara tapi teman saya memang sebelumnya sempat ketemu Bang Andrea waktu liputan di Belitung. Wury sih memang gampang akrab dengan nara sumber. “Dibanding wartawan lain dia yang terlihat paling tidak canggung dan luwes pembawaannya,” ujar Andrea Hirata waktu kami ketemu.
Semua pasti setuju kalau Andrea Hirata itu orang cerdas. Buku-bukunya hampir semua tamat saya baca. Mengena di hati termasuk cerita tentang Maryamah Karpov di seri buku terakhir Laskar Pelangi, juga baca Padang Bulan, Cinta Dalam Gelas yang masih ceritanya soal orang-orang Belitong, sekaligus mengambil banyak budayanya. Terakhir saya juga baca novel “Ayah”, itu waktu ketemu dan ngobrol belum terbit lho.
IMG_1984.JPG
Fotonya sudah lama banget, dari rambut pendek tahun 2014,.. panjang, pendek, sampai panjang dan pendek lagi ,… zzZzzzzZzzZZZZz
Hanya lewat novel Andrea telah sukses meng-influence orang-orang untuk datang ke Belitung dan terkenal lah wisata Belitung. Siapa sih yang nggak tahu Pantai Tanjung Tinggi itu dimana atau Pulau Mercusuar? Terlebih-lebih setelah novel-nya pun di film kan.
Kalau membaca novel-novelnya kamu juga tahu dong kalau dia bisa sekolah tinggi karena beasiswa, berbagai penghargaan internasional salah satunya untuk winner general fiction New York Book Festival 2015 di USA pernah diraih-nya, ini membuktikan kalau dia itu “seseorang” yang bukan biasa-biasa saja.
Bang Andrea tak datang sendiri, dia mengajak pemeran Ikal saat remaja dalam film Laskar Pelangi jilid 2 “Sang Pemimpi”. Sepanjang ketemuan yang sekitar 2 jam iku kami ngobrolin tentang membuat novel, hehehehe. Berhubung Wury, teman saya itu sebenarnya dari dulu juga kepingin nerbitin novel dan pernah suatu kali saat dia patah hati saat-saat terberat-nya nge-twitt cerita yang menurut saya bagus banget kata-katanya.
“Obatnya patah hati nulis,” kata Wury.
By the way, akhirya pertanyaan yang membuat penasaran kami lontarkan. Gimana sih, seorang Andrea Hirata bisa menembus penerbit luar negeri hingga buku-bukunya bisa terbit di ratusan negara?.. Kanada, Belanda, Portugis, Jepang, Taiwan, belum lagi 17 negara berbahasa Arab ah sudah tak terhitung. Menurut Andrea antara bahasa dan jumlah penerbit itu sulit dijumlahkan berapa totalnya. Karena berapa banyak bukunya terbit dari jumlah bahasa itu tidak identik dengan jumlah penerbit.
Tapi rahasianya apa bukunya bisa diterima pasar internasional? Andrea bilang, ketepatan dalam penerjemahan. Artinya harus menemukan translator yang tepat. Nah, Bang Andrea memercayakan untuk itu kepada temannya yang jago dan menurutnya secara tepat menerjemahkan seperti kalau kita lagi baca novel-novelnya di versi Bahasa Indonesia.
Bang Andrea bilang dan menyemangati agar penulis Indonesia bisa menembus pasar penerbitan luar negeri. Selain kami berdua juga disemangatin buat bisa menerbitkan novel. Wong jurnalis kan pekerjaan sehari-harinya nulis masa nggak bisa nulis novel?? mungkin itu pikir Bang Andrea. Apalagi topik tulisan ada banyak banget di sekitar kita. Contoh kecil bahan-bahan dari liputan, kehidupan malam, orang-orang lifestyle ibu kota. Hmmmm iya Bang, belum sempat dituntaskan saja ini.
FYI,…. Akhirnya saya tulis juga off the record ngopi bareng Bang Andrea Hirata karena suatu kali rekaman pertemuan itu ditemukan. Kurang lebih membahas film terakhir Laskar Pelangi dengan judul Edensor itu, yang sudah tak diproduksi dan disutradarai oleh orang yang sama. Karena sudah janji, nggak saya bocorin disini juga ya.
Advertisements

One thought on “Off The Record Ngopi Bareng Andrea Hirata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s