Indonesia · Liputan · story · SULAWESI - Indonesia · The Journey

Cerita dari Tanah Poso

DSCN7449.JPG
Suasana di kota Tentena, sekitar 45 menit dari kota Poso. Saat konflik hampir satu dekade silam, Tentena menjadi tempat masyarakat mengungsi.

Kepergian saya ke Poso, Sulawesi Tengah mendadak sekali. Hanya dalam sehari setelah malam dikabari, langsung e-mail konfirmasi ke public relation yang mengundang lalu dibelikan tiket dan besoknya fix berangkat. Jumat (20/11/15) pesawat take off pukul 05.00 pagi, perjalanan 2 jam sampai di bandara Sultan Hasanudin Makassar, lalu perlu tambahan perjalanan udara sekitar 1 jam dengan pesawat kecil menuju bandara Kasiguncu di Poso.

Mendengar kota Poso, semua orang pasti akan mengingat bagaimana ngerinya tempat ini. Sebab dulu sempat terjadi konflik lintas agama dengan cerita pembunuhan dan orang hilang. Itu identitas kota Poso yang belum hilang sampai sekarang, sejarah kelam. Lantas dua cerita ini memang yang saya bawa pulang, tapi tidak seseram yang diberitakan selama ini kok.

Hampir di perjalanan, di mobil atau tiap kali kami singgah untuk makan pasti ceritanya soal pembantaian, pembunuhan, konflik, nggak jauh-jauh. Bahkan nara sumber saya Lian Gogali menunjuk salah satu ibu sambil cerita “Dulu keluarganya ada yang digorok lehernya dan beberapa tahun lalu kalau keluar rumah pasti ketakutan masih keingat peristiwa itu,” hiiiiiiiiiii bagaimana coba. (padahal kita lagi makan diceritain begini)

di Pantai Toini, tak jauh dari bandara Kasiguncu, Poso
pantai toini, tak jauh dari bandara Poso… sebelum lewat jalur lalu lintas Sulawesi

Tapi bukan karena diceritain aja, Mas Dadan humas dari CSR Bintang Nutricia (produk susu balita) dan rombongan wartawan (saya, Bu Nina dari Koran Republika, Fahmi dari Majalah Mix) malah banyak tanya.

Hahaha ya iya lah, tapi awalnya nanya kuliner apa yang menarik dan khas di Poso soalnya kita harus banget coba mumpung lagi disini. Mau coba Sogili, sejenis olahan belut tapi sayang lagi nggak musim, jadi kita makan Kaledo dan ikan-ikanan, juga sayur Gedi yang cuma ada disini.

Waktu akan ditugaskan ke Poso, sebenarnya ditanya editor dulu sih “Dyah kamu mau nggak liputan ke Poso,”. Tentu aja mau, kenapa nggak? Saya langsung jawab oke. Walaupun Poso sempat konflik, tapi kan sekarang sudah aman. Nggak ada kepikiran apa-apa di benak saya, takut pun nggak ada. Malah seneng bisa refreshing tiga hari traveling dan kulineran di luar kota.

Liputan kali ini pun acaranya menarik “Dongeng Damai Di Poso” untuk artikel soal parenting. Untuk liputan ini kami bolak balik dari Poso ke Tentena, karena acaranya di dua kota itu. Tapi lebih banyak menghabiskan waktu di Tentena, karena tempat menginap (losmen, berhubung memang tidak ada hotel) disini. Makanya saat semua liputan beres, juga mampir ke salah satu air terjun kece di Tentena.

Nyatanya saya malah lebih banyak dapat cerita lain soal konflik Poso dari nara sumber dan penduduk lokal. Lian Gogali, aktivis dan pendiri sekolah perempuan Moshintuwu di Tentena cerita banyak soal budaya, wisata, sampai cerita konflik, sekalian jadi cerita riwayat dirinya juga.

“Seluruh kampung tak ada yang tinggal di dekat danau Poso tadinya. Disini dulu daerah pegunungan dan hutan yang sangat berkabut anginnya juga kencang, tapi perubahan aktivitas masyarakatnya merubah juga alamnya,” cerita kak Lian.

DSCN7454.JPG
Ini di dekat Danau Poso, cuacanya agak mendung sekitar pukul 07.00 pagi

Saya salut banget dengan kak Lian. Dia single parents, cara dia menjelaskan sesuatu itu menyeluruh, gampang dimengerti dan kelihatan banget memang kalau dia bukan sekedar pintar tapi cerdas. Dia tokoh dibalik pemberdayaan perempuan di Poso, khususnya Tentena. Lewat tesisnya yang jadi bahan kurikulum sekolah di Moshintuwu Institute, ibu-ibu di Tentena dan Poso jadi bisa mengenyam pendidikan. Istilahnya jadi melek dan lebih berilmu. Cerita yang paling buat terkagum-kagum adalah perempuan disini sudah dilibatkan dan dapat bersuara tentang penganggaran desa.

Dulu katanya ada 10 ribu pengungsi di Tentena dari Poso akibat kejadian konflik. Kemudian karena konflik banyak masyarakat akhirnya kehilangan pekerjaan kan. Nah pengungsi yang dari Poso ini lalu kebanyakan menjadi Penyadap Getah Pinus akhirnya, tapi menjadi konflik lagi oleh penduduk asli sekitar Tentena. Semacam ada klaim profesi, namanya juga situasi panas kan. Padahal dulu warga asli Tentena menurut kak Lian, nggak berprofesi sebagai Penyadap Getah Pinus.

“Sebetulnya bukan konflik agama saja, tapi lebih soal tanah, lahan pekerjaan antara warga lokal dan pengungsi,” cerita kak Lian lagi.

Lalu ceritanya juga beralih soal suku dan desa yang ada di Poso dan Tentena, tentang cerita mistis batu jin yang seolah selalu terlihat seperti habis diasah parang di pagi buta tiap malam Jum’at. Kabarnya nggak semua orang bisa lihat bagaimana ada makhluk di dalam danau Poso yang perwujudan si pengasahnya.

Kota Poso dari atas
Pemandangan sebelum meninggalkan kota Poso, menggunakan pesawat kecil Wings Air (ini ngeri juga lama nggak naik pesawat kecil, suara mesin kedengeran jelas)

Poso dan Tentena juga punya banyak tempat bersejarah, pura tempat menyimpan benda purbakala. Ada juga cerita tentang Tampayau, pahlawan orang Pamora yang tak mau menyerah dengan semangat terkenalnya Tampayau. Dulumai juga jadi salah satu objek wisata menarik.

Ada kebiasaan penduduk disana tradisi Molimbu setelah panen kemudian makan bersama. Kalau trekking ke desa Dulumai kamu bisa makan di kebunnya masyarakat dengan kekayaan tanaman herbal yang jadi kekuatan tempat ini (Dulumai). Dulumai punya cerita tentang naga dimana hanya orang khusus yang bisa melihat dan mendengar suaranya. Desa lainnya Tolambo, desanya begitu panjang dan punya pasir pantai.

Pendolo termasuk kota Kecamatan yang banyak dikunjungi wisatawan. Ada Padang Marari, Taipa sebagai pantai yang bisa disinggahi serta istirahat makan. Disini ada pertanian organik, pantai Siuri, lalu air terjun Saulopa. Belum lagi ada Uedatu sebagai tempat pemandian raja yang tak pernah kering.

“Tentena itu ada banyak tempat yang bisa dieksplore kita juga kaya sejarah, di dekat persimpangan sebuah jalan  ada 12 batu penanda terpecahnya suku-suku. Pengingat bahwa dulu kita itu satu rumpun,” tambah kak Lian.

Sepanjang tiga hari di Poso, yang lebih saya perhatikan memang soal isu agama yang kental disini. Di wilayah pantai dekat bandara hingga ke bagian kota, saya menemukan banyak masjid dan perempuan berjilbab. Saat zuhur, bahkan masjid disana seakan berlomba-lomba memperdengarkan adzan. Cukup banyak masjidnya, setelah masjid dekat pemda, lalu adzan terdengar lagi di masjid lainnya.

Tapi saat mencapai Tentena yang wilayahnya lebih pegunungan, akan lebih banyak ditemukan gereja. Saat pagi subuh pun bukan kumandang adzan yang saya dengar, lapi lonceng gereja. Sesuatu yang jarang sekali di pagi ketika membuka mata.

Advertisements

14 thoughts on “Cerita dari Tanah Poso

      1. gampang kok, aku sempet nyatet nomor driver disana. Seharian carter mobil sekitar Rp.400-500 ribu, tapi disana juga ada bus untuk lintas propinsi Sulawesi kalau mau ke daerah Tana Toraja misalnya… dll

    1. Perlu keberanian bgt buat explore situs-situs sejarahnya, terbilang masih alami banget alamnya, relatif aman, tapi mungkin perlu aware juga. *btw bisa sekalian ke Toraja naik bus sepertinya seru, tapi butuh waktu perjalanan lama di bus, hahahaha.

    1. Iya jadi pas Zuhur, saking banyak masjid yang di satu wilayah berdekatan itu seolah mereka berlomba adzan, saut-sautan. Lonceng gereja pas subuh, karena di daerah Tentena lebih banyak jumlah gereja (mungkin mayoritas nasrani) dan losmen jauh dari masjid, jadi yang terdengar malah lonceng gereja, hehe.

      1. bukan masalah boleh atau nggak, tapi di Poso ternyata biasanya satu desa dominan agamanya, satu kampung, kampung lain, jadi beragam. Nah kesian juga yang misalnya di satu tempat yang ada beberapa desa hanya ada satu desa yang satu-satunya desa muslim dan punya satu atau dua masjid, sementara yang lain mayoritas nasrani dengan punya lebih banyak gereja tentunya, serasa dikepung jadinya.

  1. Pampam… Bukan merubah, tapi mengubah, karena dari kata dasar ubah, bukan rubah, yang mendapat imbuhan meng-, bukan imbuhan me- (maaf ya… diedit).
    Kalau jalan ke tenggara, ya… sekitar 10-12 jam bisa sampai di kampung kelahiranku, Sorowako. Rumahku dulu rumah panggung, di lereng gunung Verbeck, dekat danau Matano. Kami tinggal di kawasan tambang nikel (dulu namanya Inco, sekarang berubah menjadi Vale). Hahahaha… Jadi malah cerita sendiri.

    1. Ini sebenernya banyak kata yang nggak sesuai EYD lho Ti, berhubung kadang nulisnya “disempetin” atau biar cerita perjalanan nggak numpuk, hahaha (cari alasan aja). Nti mau di edit2 lagi pas sempet.

      Btw, whewww bukannya dirimu dari Malang ya, ternyata lahir di Sulawesi. Mungkin lama tinggal di Jawa jadi nada bicara alus ngejawa banget :)))

      1. Hehehehe… Njawani banget ya? Iya. Di sana numpang lahir dan masa kecil aja. Sisanya di Jawa. Jawanya diajarinnya Jawa alus, jadi ya gini. Hehehehehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s