Backpacker · Indonesia · NUSA TENGGARA BARAT - Indonesia · SUMBAWA - Indonesia · The Journey · Traveling

Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

IMG_6500
Penampakan Istana Dalam Loka, bangunan ini sudah direkonstruksi menjadi lebih baik. Di dalam kita bisa melihat foto-foto raja Sumbawa dulu dan aslinya Istana Dalam Loka dahulu kala.

Istana Dalam Loka sebenarnya tidak ada dalam deretan destinasi yang niat buat dikunjungi saat ke Sumbawa Besar. Tapi ini jadi bonus aja, perjalanan hari terakhir di Sumbawa Besar, sehabis nyebrang dari Pulau Moyo.

Niatnya hanya keliling kota Sumbawa Besar buat beli oleh-oleh macam madu dan kopi. Bang Ian, penduduk asli sana yang secara kebetulan jadi guide dadakan kami (baru kenal 2 hari) bilang bisa mampir sebentar ke Istana Dalam Loka. Ah,… beruntungnya ketemu Bang Ian terus diantar kesana-kesini. Eh kamu bisa contact dia juga kalau mau ke Sumbawa, nanti kukasih info contact-nya pm aja ya.

Dibangun tahun 1885, Istana Dalam Loka dulu merupakan tempat tinggalnya Raja di era kesultanan. Berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M2, Istana Dalam Loka terlihat sangat megah. Istana yang dibangun dengan bahan kayu ini memiliki filosofi “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”, yang berarti semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan tau Samawa (masyarakat Sumbawa) harus bersemangatkan pada syariat Islam.

IMG_6496.JPG
Istana Dalam Loka tampak samping, panas banget lho di Sumbawa itu. Mataharinya ada 5 saudara-saudara, tapi alhamdulilah ya langit cerah awan-nya pun bagus  🙂

Kabarnya Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389).

Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597).

Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan. Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang. Pernikahan silang antar kerajaan ini dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antar kerajaan Goa dengan kerajaan Sumbawa.

Ini keterangan yang saya ambil di situs sultansumbawa.com, berhubung di dalam bangunannya banyak juga dijelaskan informasi yang hampir sama. Jadi kalau kamu kesini, pastinya mirip kalau lagi ke museum yang ada foto-foto raja dan silsilah keluarganya. Nambah pengetahuan, tentang kesultanan yang ternyata sempat ada di Sumbawa.

IMG_6498.JPG
Anak-anak Sumbawa, diluar pintu masuk bangunan Istana Dalam Loka. Masuk ke dalam harus membuka alas kaki, karena lantainya parkit alias kayu bukan ubin keramik.

Adapun Raja Sumbawa yang berkaitan langsung dengan pembangunan Istana Dalam Loka adalah Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (1883-1931), yang merupakan Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III ini mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Lokasi Istana Dalam Loka padas saat ini terletak di dalam Kota Sumbawa Besar, menunjukkan bahwa kota ini memang sejak dahulu kala merupakan pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. Kerajaan Sumbawa telah beberapaa kali berganti istana, antara lain pernah dikenal “Istana Gunung Setia,” “Istana Bala Balong dan Istana Bala Sawo”.

IMG_6497
Bangunannya sudah banyak yang diperbaiki, termasuk pondasi.

Bala Rea (Graha Besar) yang terletak di dalam komplek istana “Dalam loka” berbentuk rumah panggung kembar, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan lurus kedepan alun-alun, ke arah bukit Sampar yang merupakan situs makam para leluhur. Disebelah barat alun-alun terdapat Masjid kerajaan, Masjid Nurul Huda yang masih berdiri hingga sekarang, dan di sebelah timur komplek isatana megalir sungai Brang Bara ( sungai di sekitar kandang kuda istana).

Bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Timung, sedangkan atapnya yang terbuat dari seng didatangkan dari Singapura.

Advertisements

2 thoughts on “Mampir Sebentar ke Istana Dalam Loka, Sumbawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s