Backpacker · LIFE · story · The Journey

Gaya Traveling, Ngedusun atau Ngekota?

backpackeranMenjadi pemilih saat traveling, agaknya ini kesimpulan yang gw ambil setelah wara wiri kesana-kesini (Seolah udah kemana-mana, padahal sih kesitu aja). Pemilih terhadap siapa teman pejalan, yang bakal ngaruh ke gaya traveling termasuk destinasinya ala-ala kota atau yang ngedusun di desa menikmati alam.

Iya, kalo dianalisa (Hmmm gw orangnya gitu, apa-apa dianalisa.. melankolis saking pemikirnya). Dari awal banget tiga tahun-an pergi dengan berganti-ganti travelmate, pada akhirnya gw tahu mana yang gaya gw banget. Ala ngedusun atau ngekota? Istilah yang gw buat sendiri untuk mendefinisikan ransel atau koper.. walau kurang tepat sih sebenernya. (biarin kan blog gw)

Inget gimana tahun 2013 pertama kali menjejakan kaki di Malaysia? atau debut gw solo traveling? lalu ke wilayah lokal Indonesia macam menikmati liburan ke Bali dengan modal beli tiket murah dengan fasilitas nyaman, boleh hunting di Garuda Travel Fair, plus voucher hotel dari doorprice.

Lama-kelamaan gaya traveling gw tuh ya semi backpacker cocoknya. Nggak nyaman-nyamanan di hotel seperti dulu harus share cost buat dapetin kamar ber-AC dengan kamar mandi berporselen bagus atau yang harus ada kolam renangnya. Lebih fleksibel banget sekarang, malah kalo bisa nenda atau kemping deh yang nggak bayar. (Hehehe padahal nggak bisa diriin tenda sendiri) 😀

Pulangnya naik Batik Air, karena harganya nggak jauh dari Lion. Traveler juga harus smart kalo banding-bandingin fasilitas dan harga. (belajar dari seorang teman)
Pulangnya naik Batik Air, karena harganya nggak jauh dari Lion. Traveler juga harus smart kalo banding-bandingin fasilitas dan harga. (belajar dari seorang teman)

Mau ketawa rasanya, dulu sebelumnya ya bisa nyaman-nyaman berpergian karena dibiayai sponsor A.K.A liputan, lalu membiayai edisi jalan-jalan tanpa kerja (nulis berita) maunya juga fasilitas yang nyaman. Emang wartawan kebiasaan banget dimanjain jadi gitu… ngelunjak. Alhamdulilah, gw sudah bisa keluar dari zona nyaman atau ngelunjak itu.

Cara traveling yang berubah ini juga setelah menemukan kenyamanan jalan bareng temen SMP dan SMA gw Ika Chan, hihihi. Waktu itu tahun 2013, pertama kali banget jalan ala backpacker ke Kepulauan Seribu naik kapal bau ikan terus duduk dibawah lantai dan tidur nggak pakai alas. Salah kostum pula ditempat seperti itu gw lagi pakai maxi dress feminin (walau berbahan katun kasual).

Dalam hal post pengeluaran hampir-hampir mirip antara gw sama Ika Chan. Nggak boros-boros banget juga nggak pelit. Gw juga cocok sama temen sesama kuli tinta A.K.A Tiara Maharenjong, secara dia juga berhemat pengeluaran seperti gw tapi nggak kaku juga buat share hotel bintang sederhana. Selain itu kedua temen gw ini easy going, nggak tukang ngambek alias juga bisa diajak becanda dan masih diskusi buat decision tertentu. Temen-temen yang belakangan pergi bareng pun mirip-mirip kedua karakter ini. So so lah, jadi lebih enjoy kalau pergi dengan orang yang fleksibel.

Nah kan jadi kelihatan karakter kita dan tahu diri kita, seperti apa menejemenen diri gara-gara traveling. Termasuk traveling yang cara ngedusun ini . . Belajar banget semua itu dari travelmate, so yang tadinya nggak paham reservasi atau bandingin hotel dan tiket pesawat jadi tahu. Sampai bersosialisasi pun, cara berbaur dengan pendaki lain di gunung. Belajar keluar zona nyaman yang ternyata lebih seru. Lalu ngerasain juga seperti apa share ruangan sama traveler lain di tipe guesthouse atau dorm (8-12 orang dalam satu kamar). Semua karena keluar dari zona nyaman liburan ala ngekota itu.

Jadi ngikik juga keinget pengalaman traveling di Vietnam, share kamar yang cuma dibatasin sama hordeng. Nggak sadar kalau pilih bed yang sebelahnya cowo bule, beeehhh! Itu sih akhirnya nggak jadi terlalu masalah, karena bule biasanya malem-malem kelayapan, beda sama gw yang jam 22.00 udah siap-siap tidur. Nyaman tetep, . .yang penting kamar mandinya ada shower, terus bersih… (wajib banget ini kalo hunting guesthouse liat foto kamar mandinya)

By the way gaya traveling yang ngedusun ini juga bisa jadi perbandingan bagaimana bergaul di dunia nyata. Dimana gw nggak begitu nyaman deket atau berbaur dengan geng-geng high end yang ala reporter fashion itu. Gw lebih nyaman ketika jadi diri apa adanya, jujur dan sesuai dengan apa yang gw bisa, nggak diada-adain atau nggak maksa.

So, belakangan ketika dapet ajakan traveling gw selalu milih-milih banget. Nggak seperti dulu mauan ikut open trip yang pesertanya 20-an orang. Walaupun lebih banyak akan cuek dan tetep welcome sama orang baru. Sekarang, nyaman pergi hanya dengan sedikit teman yang juga udah kenal karakternya. Minim drama, minim konflik dan nggak ada lagi namanya niat liburan jadi kacau karena satu dua orang yang kurang menyenangkan.

 

Advertisements

4 thoughts on “Gaya Traveling, Ngedusun atau Ngekota?

  1. gw sih gayanya ngedeprok hahaha…pertengahan antara ngekota dan ngedusun, walaupun muka gw dusun tapi hati dan pikiran gw udah melalui tahapan tahapan inteligent tinggi *preet apaan sih nih gw malem-malem hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s