Backpacker · Indonesia · MOUNTAIN · story · The Journey · Traveling

Jatuh Cinta dengan Gunung!

IMG_6114
Awan dan anginnya, di gunung itu betulan serasa deket banget..

Mungkin ini berlebihan, judul yang saya kasih untuk postingan kali ini. “Jatuh Cinta dengan Gunung!”. Iya, . . padahal saya tahu pepatah yang mengatakan, jangan kamu terlalu mencintai sesuatu karena suatu kali bisa saja jadi benci. Sebaliknya juga jangan membenci sesuatu karena bisa jadi cinta.

Ini sih bukan pepatah ya, apalah saya istilahnya lupa… heheh ngeselin. Kenapa bisa jatuh cinta? nggak pernah kebayang di angan-angan saya bisa beberapa kali punya kesempatan naik gunung. Waktu kuliah sih cuma bisa mimpi, dapet izin orang tua buat piknik ke gunung. Gunung yang saya pernah singgahi ya paling Tanggupan Perahu. Tahu sendiri lah Tanggupan Perahu, itu memang gunung tapi bukan perjalanan dengan petualangan dan jerih payah betul-betul.

Perasaan pertama yang membuat jatuh cinta adalah segarnya menghirup udara. Maklum saya kan hampir tiap hari berkeluh soal asap kendaraan di Jakarta. Disini udara jernih, lapang untuk dihirup, sebagai vitamin untuk paru-paru saya. Lalu, pemandangan yang awesome luar biasa! Saya pikir ini lebih indah dari sekedar melihat laut.

Saya dapetin semua ketika ke gunung, tatanan bukitnya, bentuk pohon-pohonnya, padang ilalang, lalu tanah yang saya jejak tiap langkah terasa berbeda-beda, termasuk awan-awan, hembusan anginnya yang sayup-sayup kencang. Mereka semua seakan berkata-kata dengan indahnya dibenak saya.

Mendaki gunung tentu tak bisa dibilang mudah, makanya nggak semua orang suka gunung. Dulu, waktu pertama kali menjelajah gunung, Papandayan di Garut, Jawa Barat dan Lembu di Purwakarta kira-kira hanya butuh seharian atau sehari semalam dengan nginap di tenda untuk mendaki puncak tertingginya.

SONY DSC

Sebagai pemula terbilang masih berat. Lebih dari tiga jam jalan meski istirahat sedikit-sedikit… berhubung juga ketika itu sudah mulai rutin jogging, jadi justru pengalaman mendaki ini nggak jauh beda dari olahraga lari, ya sebutlah ini olahraga hiking (biar keren!).

Rasanya fit aja ketika jalan mendaki, dan sebenarnya nggak semua orang bisa suka perjalanan semacam ini. Terlebih kita harus membawa carrier, tas backpack yang cukup berat. Soko sama N.Ira yang awalnya ke gunung karena suka traveling seperti saya aja cukup sekali ngerasain Papandayan dan habis itu ogah diajak ke gunung lagi. Alesannya ya karena bawa beban berat itu punggung rasanya sakit.

Aneh ya, tiap orang akan beda kesukaan. Dan diantara teman-teman traveling, saya yang bertahan untuk suka gunung dan berkeinginan mendaki gunung sejauh saya bisa nanti. Setelah Papandayan, saya berniat ke Gunung Gede karena dari SD pemandangan Gunung Salak dan Gunung Gede itu jelas-jelas ada di depan mata, tinggal naik ke lantai 2 pun kelihatan.

2100427
Nah, fotonya dari tadi edisi “just me”

Sayangnya, belum berjodoh. Dua kali mencoba jadwal pendakian akhirnya kesempatan itu diganti dengan mengunjungi Gunung Lembu di Purwakarta. Nampak kurang spesial?

Iya,.. tapi perjalanan ke Lembu ini jadi pemanasan saya sebelum ke Gunung Rinjani. Tepatnya seminggu sebelum ke Rinjani.

Dan memang, pengalaman paling indah sejauh empat kali mendaki adalah ke Gunung Rinjani. Semua hampir berjalan menyenangkan, hanya pergi dengan sedikit teman. Sebuah journey yang berkualitas dan tanpa drama!… Dari perjalanan ke Gunung Rinjani saya juga semakin mengenal diri, bahwa yang saya suka itu berpergian dengan sedikit orang, setelahnya memang agak pilih-pilih teman untuk traveling.

 

Advertisements

4 thoughts on “Jatuh Cinta dengan Gunung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s