story

Finaly! Bye.. bye fashion

sudah berapa banyak ya artikel fashion yang saya buat, dan fashion week itu selalu jadi inspirasi menulisnya...
sudah berapa banyak ya artikel fashion yang saya buat, dan fashion week itu selalu jadi inspirasi menulisnya…

Mungkin, . . ini pertama kalinya saya seneng di rolling liputan. Hampir lima tahun kerja sebagai reporter dan dua tahunan terakhir pegang rubrik fashion. Setelah sebelumnya rolling juga dari desk politik nasional yang news update banget.

Yeayy, now im report about food atau kuliner. Nampak nggak keren ya? Dibanding fashion atau reporter politik yang “nongkrong”-nya di gedung dewan Senayan. ZzzzzZzzzZ

Iya, dulu kepikirannya begitu. Tampak mudah, sepele, atau nggak menantang dibanding news tentunya. Tapi setelah masuk ke dalamnya, huuuu jangan salah saya justru menemukan banyak hal menarik dan makin mau belajar.

Oke, sesuai judulnya… fashion. Kenapa saja ingin rasanya “melarikan diri” dari tugas liputan ini? Kenapa… kenapa, padahal kesannya keren. Ketemu desainer, ikut ngeliput fashion show, bahkan udah sempet nyicip liputan fashion week di negeri orang ya walau itu baru Singapura. Apa sih, kenapa??

Sukanya, lihat mereka yang fashionable ini terus ikut buat review OOTD atau busana di lini terkenal.. ah seru sih sebenernya
Sukanya, lihat mereka yang fashionable ini terus ikut buat review OOTD atau busana di lini terkenal.. ah seru sih sebenernya
  1. Faktor paling dominan nggak betah di liputan ini adalah lingkungan yang menurut saya penuh dengan hura-hura. Iya, tiap kali liputan hampir pasti di tempat hits gaul lah, club, cafe, resto, hotel, apalah. Oke bukan masalah tempatnya, tapi atmosfer lingkungan yang ajib-ajib, nggak jarang juga saya terkecoh sama minuman yang disajikan. Hati-hati ya
  2. Nuansa glamor, yes! siapa yang nggak suka, tapi saya ngerasa jadi orang yang kurang humble dengan kondisi ini. Jauh sekali dari kepribadian saya yang kalem, lebih suka kesederhanaan, dan kejujuran (ini memuji diri sendiri ya jadinya, uhuk batuk). Eh bukan, intinya adalah saya merasa tak menjadi diri sendiri ketika berada di dalamnya
  3. Ikut jadi fashionable dalam outfit harian itu sebuah nilai plus dan pelajaran berharga dari terjunnya ke dunia liputan fashion ini. Tapi lagi-lagi berhubung kesederhanaan dan kesimpelan, terutama yang repot pindah liputan sana sini dengan berkendara belum dengan mobil pribadi itu agaknya kurang pas ya…
  4. Jam malam, nungguin fashion show itu bisa jadi sampai jam 23.00, bahkan bisa jam 24.00. Entah kenapa dulu bisa sebertahan lama itu untuk nggak move on dan sangat sangat sabar menjalani.. ya, karena kesabaran itu akan ada titik temunya. Yakin (now, terbukti!).

Dibalik itu, sebenarnya nothing to lose bagi saya dipindah di liputan atau desk apapun, bahkan ekonomi sekalipun. Karena sejak awal di-training dulu ingat kata-kata salah satu editor di kantor saya sekarang yang bilang kalau wartawan itu harus open minded, membuka pikirannya, tak membatasi dirinya dengan apapun, termasuk tak melabeli dirinya dengan julukan tertentu “saya wartawan ekonomi”, “saya wartawan lifestyle“, atau “saya wartawan politik”, soalnya setelah dipindah diberbagai bidang.

Saya pun merasakannya, benar kata-kata senior di kantor bahwa semua bidang liputan apapun itu akan membantu saya belajar dan mendapati ilmu baru, teman baru. Semua itu sangat berharga nilainya sampai sekarang, dan saya tak menyesali apapun dengan kejadian apapun masa lalu saya sebagai jurnalis yang terus berpindah dari satu liputan ke liputan manapun. I’m always feel grow up, so thankful ❤ ❤

Apa aja ya yang sudah saya buat selama itu? report empat fashion week terbesar yang dua musim dalam setahun di awali New York, London, Paris, Milan, belum yang Haute Couture. Lalu berbagai item fashion from head to toe, dari sepatu, topi, runway desainer Indonesia, wawancara berbagai desainer, sampai artikel fashion Instagram, fashion go green, sustainable fashion, fashion vegan, jeans dari berbagai angle, little black dress, soal model di catwalk, nggak kehitung sampai berbagai acara fashion di Indonesia mulai dari Jakarta Fashion Week (JFW) 2012, Indonesia Fashion Week (IFW) 2013, Islamic Fashion Week, terus acara grup sendiri macam iFashion Festival. Wheeewww

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s